RSS

Arsip Tag: masjid

#HijabTravel Masjid Arab di Freiburg, Jerman

Dear reader

Saya suka dengan Freiburg, kota di sebelah selatan Jerman ini. Kota ini digadang-gadang sebagai green city karena satu, kota ini merupakan basis terbesar dari Green Party Jerman dan kedua kota ini memang sangat pro-lingkungan. Saya paling suka berjalan kaki mengitari kota ini, karena selain sejuk ada banyak sekali spot-spot indahnya.

(Staufen)

Masjid kedua yang saya kunjungi di kota Freiburg. Saat kunjungan pertama saya bersama Ali untuk melanjutkan penelitiannya tentang muslim di Eropa. Lalu saat saya berkunjung ke tempat jamaah perempuan di lantai dua saya berkenalan dengan muslimah Freiburg bernama Aisyah. Ia menawarkan saya untuk ikut kajian muslimah setiap selasa dan jumat pagi jam 10.00. Saya merasa tertarik untuk ikut kajian mereka walaupun saat itu saya tidak bisa berbahasa Jerman dengan baik, beruntung Aisyah bisa berbahasa Inggris.

 (masjid Arab, Freiburg)

Hari Selasa saya datang ke masjid ini untuk ikut kajian, saya heran karena diantara perempuan yang datang ada seorang perempuan Jerman berambut pirang. Saya dekati dan saya ajak berkenalan namanya Hanna dan dia ternyata mahasiswi Freiburg University. Saya iseng bertanya padanya mengapa dia datang ke masjid dan akhirnya diapun bercerita bahwa saat ini dia sedang berhubungan jarak jauh dengan lelaki muslim di Maroko yang ia temui di Paris dan pasangannya ingin mengajak dia untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Akhirnya dia memutuskan untuk belajar Islam dan mengetahui agama pasangannya itu karena dari keluarga lelaki tidak mengijinkan jika anaknya menikah beda agama.

Seusai sesi belajar Al-Quran kami menghabiskan waktu beberapa jam untuk minum kopi dan mengobrol tentang Islam. Dia bercerita dia cukup bingung dengan pilihan pindah agama karena belum pernah ada tradisi demikian di keluarganya. Sayapun menyampaikan pendapat saya bahwa Islam bukanlah agama yang memaksa, saya menyarankan Hanna untuk meluruskan niat belajar tentang Islam bukan hanya karena ingin menikah dengan pasangannya tapi juga untuk menemukan kedamaian dengan Tuhan.

Hanna cukup tertarik ketika saya bercerita tentang pilar-pilar menikah yang saya pelajari dari mentor saya di Yogyakarta, Ustadz Lilik Riza (Fadly) , Trainer Mindstruction dan konsultan pernikahan. Sebelumnya dia tidak terpikir untuk berdiskusi dan menemukan kecocokan prinsip-prinsip dalam menikah dengan pasangannya. Saking seriusnya ia mengirim pesan di Facebook dan meminta saya menyebutkan kembali pilar-pilar menikah itu; kecocokan visi misi, strategi finansial, konsep pendidikan anak, konsep berkehidupan sosial dan konsep hiburan.

(suatu sore di festival muslim Freiburg July 2011)

Selama sebulan kami menjadi sahabat saat mengaji di Masjid Arab Freiburg.  Saat saya mulai sedih karena harus berpisah dengan kota ini saya mendapat kabar gembira bahwa aplikasi beasiswa saya diterima. Saya akan berangkat ke Paris untuk melanjutkan Studi Master di Sciences Po. Alhamdulillaah Ya Rabb.

Saya menyampaikan kabar gembira itu pada Hanna, kami berjanji kami akan saling mengunjungi saat kami luang. Waktu demi waktu berlalu, kehidupan di kampus baru cukup menyita waktu dan energi saya untuk beradaptasi. Tiba-tiba di awal tahun 2012 lalu saya mendapat pesan dari Hanna di Facebook. Ia bercerita baru saja kembali dari Maroko untuk menemui pasangannya dan keluarganya. Dan ia memberi kabar yang membuat saya haru

nana i got converted, i m a muslim now. most about the time i am happy about it, but there are also some doubts sometimes. my faith is not yet very strong. but i hope that will come inshallah

 

Subhanallah, Alhamdulillah wa Laa Illa Haillallahu, Allahu Akbar!

Selamat datang Ukhti, barakallah, semoga ALLAH selalu menjadi pembimbing terbaik untuk kita semua mencapai Nuur dan Salaam di dunia dan akhirat.. aamiin :’)

(Nadja, saya dan Hanna)

Itu sudah

(na)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Jumat, September 14, 2012 in #HijabTravel

 

Tag: , , , , , , , ,

#HijabTravel Masjid Turki di Freiburg, Jerman

Dear reader,

Alhamdulillah pada bulan Juni 2011 saya mendapat kesempatan untuk menemani siswa UGM mengadakan penelitian selama satu bulan di Freiburg University, Jerman. Sebelumnya saya belum pernah menginjakkan kaki di tanah Eropa. Salah satu mimpi saya bisa menuntut ilmu di sini.

Selama satu bulan ada banyak sekali pengalaman yang membuat saya belajar tentang kehidupan orang muslim di Eropa. Di kota ini saya belajar bahwa kehidupan umat muslim tidak sebebas di Indonesia. Sangat susah untuk mendapatkan ijin membangun masjid lengkap dengan menaretnya, sehingga biasanya masjid-masjid yang saya temui berbentuk seperti gedung apartemen dan tidak diijinkan untuk mengumandangkan adzan.

Salah satu mahasiswa bernama Ali mengadakan penelitian tentang kehidupan umat muslim di Freiburg. Saya mencoba ikut dengannya berkunjung ke masjid Turki dan berbicara dengan Imam masjid. Masjid ini selain menjadi tempat ibadah juga menjadi salah satu pusat pendidikan untuk anak-anak muslim belajar membaca Al-Quran. Sayangnya saat itu kami datang di siang hari dan kelas mengaji baru buka di sore hari.

Masjid-masjid di Freiburg biasanya didirikan oleh kelompok-kelompok imigran dan diberi nama sesuai dengan negara asal mereka, misalnya Masjid Turki, Masjid Maroko, Masjid Arab. Biasanya sangat sulit untuk menemukan muslim Turki yang berkunjung ke masjid Maroko, muslim Arab di Masjid Turki ataupun sebaliknya. Teman saya orang Indonesia yang sedang kuliah disana pernah berguyon

“Hanya orang Indonesia yang ngak perlu bikin masjid soalnya orang Indonesia bisa kemana-mana, hehe”

Itu sudah

(na)

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Jumat, September 14, 2012 in #HijabTravel

 

Tag: , , , ,

#HijabTravel Masjid di Bern, Swiss

Dear reader, 

Bila mendengar kata Bern apakah yang terlintas dipikiranmu kawan? Nama ibukota Swiss kah? Atau bangunan kota tua ala eropa kah? Itu pula yang terlintas di benak saya ketika sampai di kota ini. Tapi semenjak memutuskan untuk berkunjung ke masjid-masjid selama travelling saya seperti merasa selalu dimudahkan dan diingatkan untuk menjaga sikap dan kata-kata.

Seperti ada tur hari kedua (tur hari pertama bisa dibaca disini) misalnya pagi itu ada dua orang mahasiswa yang terlambat dan diminta untuk menyanyi di depan bis. Sambil merekam mereka menyanyi saya berbisik ke Ainun

“Aduh, kasian ya mereka dihukum,,moga aku gak kena hukum ya..”

Tiba di Bern saya dan Ainun mendengar bahwa kami harus berkumpul jam 1 siang dan saat itu baru jam 9.30. Lalu kami berjalan-jalan sebentar dan mulai hunting masjid lagi. Kemarin malamnya saya sudah browsing di Internet tentang masjid di Bern dan ada satu masjid Masjid-ul-Khair yang beralamat di Wylerstrasse 115 Bern.

Setelah keliling di dalam kota dan mengambil foto2 di landmark terkenal seperti  Zytglogge (Menara Jam) Lalu saya bertanya pada polisi setempat untuk mencari cara menuju ke masjid. 

Kesan pertama saya tentang orang-orang Swiss, mereka orang yang ramah terutama orang-orang lansianya. Pernah sekali saya membuka peta di jalan untuk menunjukkan Ainun lokasi tempat kita berada, tiba-tiba kami didekati perempuan lansia yang bertanya “may I help you dear?” saya kaget dan akhirnya pura-pura mencari alamat..hehe

Kami turun dari bis di Jalan Nording Standstrasse. Ternyata dari sana kami masih harus berjalan jauh dan kami tidak tahu ke arah mana. Lalu saya bertanya pada seorang perempuan lansia yang ternyata tidak bisa berbahasa Inggris, dengan bahasa Jerman yang terpatah saya berusaha bertanya apakah dia bisa berbahasa Prancis. Untungnya Ainun mengambil S1 sastra Prancis, jadi dia bisa bertanya. Ibu itu bernama Monica, setelah melihat alamat yang ingin kami tuju dia bilang ingin mengantarkan kami kesana. Ternyata jalan menuju masjid itu cukup jauh, saya dan Ainun sudah khawatir kami ketinggalan bis.

Di tengah jalan Monica bertanya pada orang lain, ternyata dia juga tidak tahu alamatnya! Saya cukup panik takut kami kesasar, dan saya mencoba untuk bertanya pada orang lain. Akhirnya kami sampai di masjid dan ngobrol sebentar dengan sang Imam yang kebetulan sedang disana. Monica berinisiatif untuk memotret kami dan kamipun mengabadikan kenangan kami bersama Monica.

Dalam perjalanan pulang Ainun bercerita apa saja yang ia bicarakan dengan Monica dalam bahasa Prancis, berhubung bahasa Prancis saya masih belum bagus. Ainun bercerita bahwa Monica hidup sebatang kara, ia tidak menikah dan tinggal sendirian. Sebenarnya ia tidak tahu pasti alamat yang kami tuju dan tidak tahu pula jalan pulang dari masjid itu tapi dia berkata pada Ainun

“Sewaktu kalian bertanya, saya ingin mengantarkan kalian sampai ke masjid karena ingin mengambil foto kalian di depan masjid” Sesederhana itu.

Subhanallah, saya berjanji pada diri saya untuk mengirimkan surat pada Monica untuk menyambung silaturrahmi. Sekarang,kalau saya mendengar tentang Bern kesan yang ada dipikiran saya hanya satu, the Monica’s town.

———– 

Ps: ternyata saya dan Ainun salah mendengar pengumuman, bis berangkat pukul 12 dan kami tiba pukul 12.30. Panitia tur sudah berkali2 menelpon kami,, marah-marah tapi untung mereka masih berbaik hati menunggu kami. Setiba di bis sebagai permintaan maaf bagi peserta tur yang lain yang sudah menunggu akhirnya kami menyanyi. Saya memilih lagu mandarin untuk menghargai usaha panitia tur yang sudah bekerja keras, karena lagu mandarin yang saya ingat Cuma lagu Putri Huanzhou jaman SD dan itupun Cuma sepatah-patah.Jadinya saya menyanyi ala kadarnya, yang penting pede hehe :p

Pps : bulan september 2011 lalu laptop saya kena virus dan saya kehilangan semua data dan foto2 perjalanan saya di Eropa. Untuk itu mohon maaf saya belum bisa mengunggah foto saya bersama Ibu Monica. Saya sedang mengontak Ainun, semoga ia punya *aamiin* 

Itu sudah

(na)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Rabu, September 12, 2012 in #HijabTravel

 

Tag: , , , ,

#HijabTravel : Masjid di Geneva

Dear reader

Masih ingat posting saya tentang Trip ke Lille dan Swiss? Berikut ini cerita saya di kota tujuan pertama di Swiss,Geneva. Rencananya ini juga sebenarnya tidak disengaja. Saat itu saya sudah merencakan mengikuti fieldtrip kampus ke Maroko untuk liburan mid semester musim semi. Tapi karena keterbatasan waktu mengurus visa akhirnya saya membatalkan rencana liburan itu. Lalu, Ainun Nazriah, rekan sesama pelajar Indonesia di Prancis mengundang saya untuk datang ke kotanya di Lille dan ikut tur yang diadakan organisasi mahasiswa Cina di Lille, CICE (http://petitprixvoyages.com ). Tur ini diadakan selama 5 hari 4 malam mengunjungi beberapa kota besar di Swiss, saya sangat tertarik dan langsung mengiyakan undangan Ainun.

Sabtu, 25 Februari 2012 saya berangkat ke Lille untuk bertemu Ainun dan rekan-rekan pelajar Indonesia lainnya. Kami memulai tur hari Senin 27/2 pagi, malamnya saya menghubungi sahabat saya Dinna Pratiwi yang sedang mengambil studi S2 di Geneva. Awalnya saya pikir panitia tur akan menyediakan penginapan di Geneva, jadi saya berniat mengajak Dinna untuk reunian di malam hari karena siang hari Dinna harus kuliah. Tapi ternyata, kami menginap di kota perbatasan Prancis-Swiss karena harga penginapan di Geneva sangat mahal. Sedikit kecewa terpaksa saya membatalkan janji reunian kami.

Selasa pukul 9 pagi kami tiba di Geneva, bis yang isinya sekitar 40an mahasiswa berhenti di dekat Jet d’Eau , air mancur yang terkenal di Geneva. Kami diberi waktu hingga pukul 2 siang sebelum akhirnya bis akan berangkat menuju kota lain di Swiss. Saya menyampaikan niat saya untuk mengunjungi masjid-masjid ke Ainun. Alhamdulillah dia mengerti dan akhirnya kami sepakat untuk mencari Turis informasi untuk bertanya alamat masjid.

(peta untuk turis di Geneva)

Petugas informasi menunjukkan jalan dan kami harus naik bis untuk ke masjid. Mesin tiket di Swiss harus dibayar menggunakan koin, jadinya kami harus mencari toko terdekat dan menukarkan uang Euro kami dengan beberapa koin Franc. Setiba di masjid saya kagum dengan bangunan masjid yang mungil tapi indah ini. Subhanallah.

(Masjid Geneva)

Saya bersyukur bisa masuk masjid dan melihat-lihat ke dalam.

Masjid ini juga berfungsi sebagai pusat kebudayaan dan pendidikan Al-Quran dan Islam. Di lantai dua ada beberapa ruangan yang terlihat seperti kelas.

Setelah selesai berkunjung kami buru-buru kembali ke kota untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata di Geneva. Tak disangka saat kami hendak menyebrang kami berpapasan dengan ibu-ibu yang langsung menyapa kami ‘Indonesia?’. Senang sekali rasanya bisa bertemu orang Indonesia di Geneva, lalu kami ngobrol sebentar dan saya bercerita punya sahabat yang sedang belajar di Geneva. Tiba-tiba di belakang kami ada suara yang memanggil nama saya “nana!” . Saya menengok ke belakang ternyata itu Patricia! Adik kelas saya waktu SMA di Bali dan dia bersama, Dinna! Subhanallah.. saya merasa kunjungan ke masjid Geneva benar-benar memudahkan perjalanan kami. Saya senang sekali akhirnya jadi reunian dengan Dinna dan Patricia. Kami makan siang bersama dan menghabiskan waktu di danau Geneva. Alhamdulillah

(surprised reunion with my bestie Dinna, love it! ^^)

(Ibu2 Indonesia, Patricia, Dinna, nana)

(Ainun, Dinna dana nana di Geneva, EPIC MOMENT!)

Itu sudah

(na)

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada Jumat, Agustus 24, 2012 in #HijabTravel

 

Tag: , , , , , , ,