RSS

Arsip Tag: Jejaring Sosial

Merayakan Perdamaian dengan Jejaring Sosial

Merayakan Perdamaian dengan Jejaring Sosial

Suci Lestari Yuana*

 

Jejaring sosial dalam internet atau Social Media seperti; Friendster, Facebook, Twitter, Koprol, dll sangat populer di kalangan masyarakat dekade ini. Jejaring sosial ini telah berhasil menyentuh hampir seluruh kalangan masyarakat, tua-muda, pelajar-karyawan, lebih-lebih dengan adanya persaingan ketat provider selular untuk memberikan layanan internet tanpa batas dengan biaya yang cukup murah, sosial mediapun bisa dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke bawah.

 

Mulanya banyak yang beranggapan bila sosial media ini hanyalah ajang untuk pertemanan dan narsis. Tapi, fenomena-fenomena belakangan ini menunjukkan peran yang lebih besar dari sosial media. Akhir-akhir ini banyak yang menggunakan sosial media sebagai alat untuk kampanye politik, membentuk komunitas-komunitas sosial bahkan untuk protes via dunia maya. Tidak terkecuali isu perdamaian, ada banyak fenomena tentang isu perdamaian yang telah diangkat oleh sosial media.

 

Insiden Freedom Flotilla akhir Mei lalu adalah salah contoh terjadinya komunitas sosial di dunia maya. Twitter merupakan salah satu media tercepat yang memberitakan terjadinya insiden penyerangan kapal Mavi Marmara oleh tentara Israel secara mendetail. Bahkan Twitter menghadapi protes besar-besaran ketika menghilangkan kata “Flotilla” dan “Gaza” dalam Trending Topics sementara kata “Israel” tetap disebutkan dalam Trending Topics. Hal ini menunjukkan dukungan pengguna sosial media terhadap korban relawan yang terluka dan terbunuh saat insiden itu. Di Facebook juga gencar di buat fan-page, profile atau diskusi tentang isu kekerasan terhadap kelompok Freedom Flotilla ini. Ada dua manfaat yang bisa dilihat dari fenomena ini, pertama; akses informasi yang lebih cepat dan multiperspektif, kedua; mempermudah akses bantuan, donasi dan atau dukungan sikap anti-kekerasan.

 

Twitter, sebagai layanan microblogging yg meskipun terbatas 140 karakter tapi mampu berperan untuk menyebarkan pesan-pesan perdamaian. 19 Mei 2009 lalu misalnya, Deepak Chopra (@Deepak_chopra) menulis via Twitter “Please take the vow of non-violence with me today: http://www.itakethevow.com/ Please RT!” Pesan ini mengajak semua orang berikrar (take the vow) untuk mendukung gaya hidup nir-kekerasan. Komitmen berlaku seumur hidup. Layaknya multilevel marketing ikrar ini juga menganjurkan anggotanya untuk mengajak dua orang baru, sehingga pesan ini cepat tersebar dan mencapai target minimal 100 juta orang. Diharapkan semakin banyak orang yang berikrar, dapat mencegah eskalasi insiden kekerasan. Saat ini jumlah anggotanya telah mencapai lebih dari 270 ribu. Selain itu, pesan-pesan perdamaian juga sering dicetuskan oleh Dalailama yang sejak Maret 2010 lalu membuka account baru di Twitter (@Dalailama) dan saat ini telah memiliki lebih dari 800 ribu followers.Selain pesan-pesan perdamaian, Dalailama juga berbagi tentang aktivitasnya menyebarkan perdamaian.

 

Bila kita mengetik kata peace, perdamaian, non-violence pada search engine di setiap halaman jejaring sosial, maka akan ada banyak sekali profil, diskusi, halaman, komunitas atau aksi perdamaian. Perdamaian tidak hanya mengenai ketiadaan perang, tapi perdamaian menyangkut ketiadaan kekerasan baik itu fisik, struktural dan kultural. Aksi Koin Prita yang mulanya berasal dari mailing list dan Facebook pada Desember tahun lalu merupakan salah satu contoh gerakan anti kekerasan struktural. Penggiat sosial media kecewa akan ketidakadilan yang harus dialami oleh Prita Mulyasari, beberapa membuat komunitas pendukung Prita dengan cara mengumpulkan koin keadilan untuk membantu proses pengadilan Prita. Komunitas ini yang berawal dari mailing list, semakin berkembang cepat melalui Facebook dan Twitter.

 

Teknologi yang ada saat ini semakin mempersempit ruang dan waktu. Informasi sangat mudah didapat dan setiap orang bisa lebih mudah menyampaikan apresiasi. Keunggulan ini sebaiknya disadari dan dimanfaatkan dengan optimal untuk hal-hal yang positif. Perdamaian adalah keinginan universal dan setiap orang berusaha untuk hidup damai, namun tidak semua pihak menyadari kontribusi yang bisa dikerjakan untuk menciptakan perdamaian. Jejaring sosial sesungguhnya bisa menjadi sarana untuk menyebarkan budaya perdamaian dan menjadikan perdamaian itu sebagai gaya hidup.

Inti dari budaya damai adalah menolak kekerasan dan mengedepankan dialog. Menurut UNESCO, budaya perdamaian adalah nilai-nilai, sikap, tingkah laku dan gaya hidup yang <span>menolak kekerasan</span> dan mencegah konflik dengan cara menangani akar permasalahan  serta mencari solusi yang tepat melalui dialog dan negosiasi baik individu, kelompok maupun negara. Sesuai dengan tagline UNESCO ”Peace is in our hands”, keterlibatan semua pihak merupakan kunci utama untuk mencapai perdamaian.

 

Menyambut momentum hari Perdamaian Internasional, berbagai pihak telah menyiapkan program dan acara-acara. Saat ini Facebook telah tergabung dalam program Peace Innovation yang dirancang oleh Stanford University. Program ini berusaha membuat database perdamaian negara-negara di seluruh dunia sehingga mempermudah penyebaran informasi perdamaian dan meningkatkan sikap saling pengertian. Jika anda membuka www.peace.facebook.com maka anda akan bisa mengetahui kontribusi apa saja yang telah dilakukan Facebook untuk mempromosikan perdamaian. Selain organisasi, individu atau komunitas apa saja bisa berkontribusi dalam Peace Innovation ini dengan cara menambah subdomain peace dot pada website anda.

 

Perdamaian mungkin akan terlihat muluk-muluk jika dipandang sebagai suatu keadaan tenang, sejahtera dan gemah ripahloh jinawi. Namun bila perdamaian dipandang sebagai gaya hidup anti-kekerasan dan mengutamakan dialog, maka setiap orang pasti bisa melakukannya. There is no way to peace, peace is the way (A.J Muste). Jejaring sosial adalah salah satu sarana yang mampu mempromosikan budaya perdamaian. Akses yang luas dan cepat bisa menjadi sarana belajar untuk memahami perdamaian dan juga menyampaikan pesan perdamaian. Jika anda mengimpikan perdamaian, sampaikanlah pesan perdamaian anda hari ini, esok dan seterusnya serta jadikan anti-kekerasan dan dialog sebagai gaya hidup anda. Mari kita rayakan dan promosikan perdamaian melalui jejaring sosial!

 

Selamat Hari Perdamaian Internasional.

 

*Penulis adalah Asisten Peneliti di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UGM, anggota Divisi Riset Institute of International Studies UGM dan salah satu penggiat jejaring sosial Twitter ( @geknana )

 

Tulisan ini dimuat di KOMPAS segmen Yogyakarta –> FORUM Selasa, 21 September 2010


Iklan
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Selasa, Oktober 19, 2010 in Belajar HI, Isu Perdamaian

 

Tag: ,