RSS

Arsip Tag: Diam

Episode 19 : Diam juga Bahasa Cinta

Ini hatiku,

Seperti telaga, meski dengan selaksa riak-riak kehidupan di dalamnya

aku harus tetap menghadapi dan memberi pantulan keindahan Cinta

(penCinta)

.

.

Kawan, setujukah bila Cinta tidak cukup hanya diucapkan dengan kata? Cinta seorang ibu telah termanifestasikan melalui pengorbanan dan dukungan tanpa henti bagi anaknya. Cinta seorang ayah terwujud dalam perlindungan dan bimbingan yang diberikan menuju jalan yang benar. Dan adakah sosok-sosok penCinta itu hanya berucap dengan janji-janji? Jelaslah bagi mereka bahwa Cinta merupakan kata kerja.

Standing in…

Aku teringat dengan salah satu diskusi menarik di kampus dengan kawan-kawan. Saat itu kita sedang seru mendiskusikan tentang bagaimana caranya menunjukkan Cinta, atau mengubah Cinta menjadi sebuah aktivitas. Saat itu sebagian besar dari kita menyatakan setuju bila menCintai lebih membahagiakan daripada diCintai. Itu karena ketika menCintai kita tidak perlu menunggu waktu kapan, you can do it whenever you want! Kita menjadi subjek yang aktif bukan objek yang pasif. Sementara diCintai kita menjadi objek yang tergantung/menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain.

Lalu aku berpikir tentang makna AKTIF. apakah maksud menCintai secara aktif? memberi terus-menerus? bagaimana jika yang kita beri tidak mau, atau tidak ikhlas? Maka, kitapun harus kembali pada tujuan menCinta itu sendiri. membahagiakan yang kita Cintai. Bagaimana caranya kita membahagiakan bila kita tidak tahu apa yang membuatnya bahagia? Maka, sebaiknya mulailah dengan mencari tahu apa yang membuat mereka bahagia, need assessment.

Diam…

Dan diam sesungguhnya juga bisa menjadi aktivitas AKTIF bagi penCinta. Diam yang dimaksud disini bukanlah diam karena merasa lelah untuk memberi, bukan pula karena bosan dan jenuh dengan yang kita beri, seolah-olah kita terpaksa untuk diam agar terhindar dari rasa sakit. Tapi Diam yang aku maksud disini adalah diam karena PILIHAN. Bukankah terkadang seseorang butuh waktu dan ruang untuk mencari jati diri? Atau kita MEMILIH diam karena diam merupakan alternatif lebih baik daripada aktivitas menCinta yang lain? Bayangkan seorang penCinta yang berkomitmen untuk menCinta seorang laki-laki/perempuan. Namun ternyata pilihannya itu memilih untuk menikah dengan orang lain. Lalu apakah si penCinta kita harus tetap menunjukkan Cintanya meski dengan konsekuensi merusak rumah tangga orang lain? Dalam bukunya Ust. Salim A. Fillah ; Jalan Cinta Para Pejuang menuliskan, karena Cinta harus bersujud di mihrab taat. Ya! Karena memberi-pun ada batasan-batasan benar dan salahnya. dan bagi si-penCinta yang aku ceritakan di atas, maka diam menjadi PILIHAN terbaik baginya bukan? Aku jadi ingin mengutip sebuah puisi seorang kawan blogger, Muhammad Rum. Puisi yang menggambarkan bagaimana aktivitas DIAM seorang penCinta sesunggunya menjadi aktifitas yang benar-benar super sibuk dan ramai di dalam hati. Karena DIAM bukan hanya aktifitas fisik tapi menjadi Aktifitas Spiritual bagi Cinta.

Ini Hatiku, Caverna!

Rum Muhammad


Ini hatiku,

Juga pernah jadi stasiun keberangkatanmu

Di sini ada tawa dengan lebih banyak tangis

Orang meninggalkan tempat ini tanpa menengok lagi

Bertemu dan berpisah hal yang biasa


Saat pagi meninggalkan kita

Maukah kau hirup udara segarnya?

Sebelum deru siang yang sibuk datang

Sebelum ramai penumpang hilir mudik


Dalam laju gerbong keretamu

Juga kelak di tengah peristiwa bahagiaanmu

Adakah kau masih pemilik sapa itu?

Sudikah melambaikan tangan ke arahku?


Dan, ketika kubacakan kembali tentang kita

Maukah kau tersenyum lagi, maukah?”

(Rum)


Direkomendasikan untuk membaca postingan Ini Hatiku, Caverna. ada banyak penjelasan tentang perbedaan falling in dan standing in

Lalu, menambah sedikit tentang DIAM sebagai bahasa AKTIF dalam menCinta ini. Pertanyaan selanjutnya adalah, sampai kapan? Apakah selamanya kita harus melulu DIAM demi kebahagian yang kita Cintai??? Tidak. Itulah yang membedakan DIAM karena PILIHAN dan karena terpaksa. Dan disinilah sebenarnya tantangan dari menCinta itu, merasakan saat yang tepat. Ya, saat yang TEPAT. Saat dimana dengan Cinta membuat yang kita Cintai lebih bahagia. Saat dimana dengan Cinta semakin mendekatkan kepada kebenaran dan SANG MAHA CINTA. Cintailah orang tua dengan membuat hidup mereka lebih bahagia, dan Cintailah orang tua dengan jalan-jalan yang membuat semakin dekat dengan-Nya. Bolehkah membuat kedua orang tua bahagia dengan kuseksesan yang didapat melalui kecurangan dan kebohongan? tentu tidak bukan? Dan Cintailah ia yang telah menjadi PILIHAN-mu di saat yang BENAR dan cara yang TEPAT.

………………………………………………..

Cinta dititipkan untuk dikembalikan lagi pada-Nya,

percantiklah Cinta dengan menyedekahkannya di jalan-jalan taat

karena sedekah menyucikan Cinta, dan itulah harta

.

Dan ketahuilah

pada dasarnya kebutuhan setiap orang adalah sama;

berdamai dengan Tuhan-Nya, maka

Kebahagian sejati adalah saat bisa dekat dengan Sang Maha Cinta.

.

Dan setiap Cinta pasti diuji…


……………………………………………

ps : Alhamdulillah, untuk semua yang telah menginspirasiku menulis tulisan ini, Jazakumullah 🙂


Itu Sudah

(na)

Iklan
 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Rabu, Oktober 22, 2008 in Mind, Tentang Cinta

 

Tag: , , , ,