RSS

Arsip Kategori: Serial Miss Li

Serial Miss Li Chapter 2 : Sabar Iku…

Pertama

Banyak orang memiliki kesan kuat pada pertama. Pertama kali jatuh cinta, pertama bertemu, hari pertama di sekolah, pertama kali bekerja, uang pertama yang didapat dari keringat sendiri, kado pertama, ciuman pertama, cinta pertama. Ahh. Di dunia orang akan selalu ingat siapa yang pertama kali pergi ke bulan, tapi ingatkah mereka dengan yang kedua? Pertama, Pertama, Pertama. Begitu pula dengan yang kurasa pada hari pertamaku di SD Tegar Insani, perkenalanku dengan anak-anak. Aku merasa, luapan semangat memuncak hingga ke ubun-ubun, perutku sedikit mual menahan gejolak keyakinan bahwa, Aku bisa menjadi guru terbaik! Aku punya ilmu, bakat dan semangat. Aku sangat optimis dengan hari-hariku kedua, ketiga dan selanjutnya di sekolah ini. Hingga kenyataan di esok hari mengaburkan semangat itu dan bila engkau bertanya hari keberapa yang menurutku paling berkesan di SD Tegar Insani. Dengan mantap aku akan menjawab;

Kedua

05.00

Aku telah berpakaian rapi! Celana kain cokelat, kemeja krem dan jilbab senada dan kacamata. Ku buka lagi bahan ajar yang sudah kususun rapi semalam dalam map plastik berwarna biru. Aku tahu, masih ada satu setengah jam lagi waktuku untuk berangkat. Matahari pun belum bangun dari peraduan. Tapi pikiranku tak bisa lepas dari sekolah itu. Bahkan aku bermimpi bertandang ke sekolah itu, membersihkan papan tulis dan menyiapkan meja-meja. Dalam mimpiku datang seorang anak perempuan mungil ” Miss Li, kenapa Miss Li pake piyama?” . Waityaaa,,, untung hanya mimpi! fiuuuh… Sambil tersenyum mengingat mimpi anehku semalam, aku baca-baca lagi Lesson Plan yang sudah kusiapkan untuk kelas hari ini. Hari ini aku akan mengajar di kelas dua. Setelah ku-cek buku pelajaran mereka, seharusnya materinya tentang Fruits. Aha! aku bisa memakai games who am i untuk kelas ini. Sudah kusiapkan kertas warna-warni dengan nama buah tertulis satu-satu yang rencananya nanti akan kutempel di dahi masing-masing murid dan meminta teman-temannya untuk memberi kata-kata kunci, lalu si murid ini menebak apa yang tertulis di dahinya. Anak-anak akan duduk melingkar agar lebih interaktif, karena memang aku ingin mementingkan metode belajar aktif dalam menggunakan bahasa inggris. Jadi speaking dan komunikasi dalam bahasa asing adalah target utamaku untuk mereka. Toh buat apa hapal rumus grammar dan ribuan vocabulary jika tidak bisa digunakan kan?

06.30

Voilaaa… this is it! saatnya berangkat ke sekolah yg jaraknya 10 menit dari kostku. Motor listrik warna merahku sudah menunggu di garasi. Aku pastikan chargenya penuh dan memeriksa pedalnya di bagasi. Sampai sekolah aku langsung menuju ruang administrasi guru dan mengisi presensi. Aku sapa Mbak Ina, yang ternyata staff administrasi di sekolah ini dengan senyum.

Good Morning Miss Listia, sampun siap mengajar hari ini? ” serunya dengan logat jawa yang kental

Good Morning mbak Ina. insyaallah, saya coba yang terbaik hari ini. Ibu Yulia dan Ibu Yeni ada?”

— dia beranjak ke pesawat telepon sejenak dan seolah berbicara dengan suara perempuan di seberang, lalu mbak Ina kembali ke arahku.

“Ibu Yulia sedang ada urusan di Magelang dengan pengurus Yayasan yang lain, Ibu Yeni mengikuti rapat kepala sekolah di Dinas kabupaten. Ibu Yeni berpesan,  Miss Listia silahkan langsung ke kelas dua saja dan mulai mengajar. alat-alat sudah disiapkan di kelas… hmm, oya! untuk kelas dua ini ada dua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), Wafi dan Kiki, tapi karena Kiki baru saja kena cacar jadi dia izin selama seminggu. Bu Yeni bilang, tolong berikan perhatian khusus ke Wafi dan jangan lupa untuk memperhatkan murid yang lain juga”

hmmm… satu kelas dengan satu anak ABK dan murid lainnya.. not a big deal batinku.. “Baiklah mbak, terima kasih ya. saya akan ke kelas sekarang”

07.00

Teng..teng..teng..

Langkah pertamaku di kelas langsung disambut desisan murid-murid yang berbisik “guru baru..guru baru”. Aku mencoba tersenyum lebar dan menyapa mereka semua seramah mungkin

“Assalamu’alaikuum, good morning everyone”

Waaaalaikumumsalaaaaaammm…. good morniiiiiiiiing” jawab mereka serempak layaknya anak anak seusia mereka.

Pandanganku menyapu seluruh ruangan kelas. Ruangan ini dindingnya terbuat dari bambu yang dicat cokelat mengkilat. Ada banyak gambar warna-warni anak-anak menempel di dinding. Ada sebuah tulisan berbahasa jawa yang menempel dan menarik perhatianku sejenak

“Sabar iku ingaran mustikaning laku”

Cukup lama aku termangu menatap dan mencoba mengartikan tulisan itu, karna bahasa Jawaku masih amatir, sampai akhirnya sebuah suara mungil mengagetkanku ;

” Bu Guruuuuuu,,, jadi mau belajar ndaaaaaak??”

Ehiya! aku jadi malu dan nyengir sendiri hehe.

“Maaf anak-anak, ibu sedang kagum dengan tulisan yang ditempel di belakang kalian itu. Kalian tahu siapa yang menulis? “

Semua anak-anak menunjuk sesosok bocah laki-laki yang duduk di bangku tengah paling belakang,, bocah itu sedang tertunduk dan memainkan sesuatu di bawah bangkunya.. aku tersenyum melihat bocah itu, dia Wafi..

Aku dekati dan berlutut di depan mejanya agar kami setara ” Wafii, kamu yang menulis tulisan itu? bagus sekalii..kalau boleh tahu mengapa kamu menulisnya??”

Wafi “eeh ada miss Listia,, dari Bali kan..? hehe…” *nyengir

Aku “iya, pintar kamu masih ingat dengan ibu..Wafi,bisa tolong ibu menjelaskan apa maksud dari tulisan itu? “

Wafi – *nyengir lagi….

Aku : diam menunggu

Wafi – *nyengir tak berhenti…… *krik!

Suara anak perempuan : “Kata Wafi, itu kalimat ibunya setiap malam jam 3 pagi bu..Wafi sering kebangun dan suka nguping ibunya hahahaha… “

————————–

Aku kembali ke depan kelas, aku sadar kami belum sempat berkenalan. Sekitar 15 menit kami menghabiskan waktu untuk bermain game berkenalan dalam bahasa inggris.. Anak-anak suka dengan permainan itu, dan semangatku semakin bertambah.. Mungkin ini akan menjadi kelas yang menyenangkan hari ini, yay!! 😉

Tiba saatnya aku menjalankan Lesson Plan yang telah aku persiapkan semalam. Bismillaaah…aku menatap murid-muridku satu persatu, ada 10 anak di kelas ini. Arif dan Rudy si chubby, Fauzan yang kurus bermata cokelat, Intan berkerudung dan berkacamata , Devi si rambut kuncir kuda, Aisya si mata bulat dan kulit putih, Eko si “jagoan” dan baju yg lepas dan tidak dimasukkan celana, Abid kaki tangan Eko, Wafi si unik dan Latifa si pendiam.

“hayoo anak2, siapa yang hari ini mau main game lagi??”

Segera semuanya serempak berteriak dan mengacungkan tangan “akuuuu miss, akuuuuu miss, akuuuuuuuuuuu”

“baiklah kalau begitu, kita akan bermain games “siapakah aku?” nanti miss Listia akan menempelkan nama buah di dahi kalian, lalu kalian bertugas untuk bertanya pada teman kalian “who am i?” dan nanti teman kalian akan memberi ciri-ciri buahnya. misalnya kalau teman kalian bilang “yellow, long, sweet, monkey food” itu buah apa hayoooo???”

“pisaaaaaaaaaaaaaaaaaaang miss”…semua menjawab, tentu saja suara Eko yang paling dominan dan lantang diantara semuanya, diikuti suara Intan yang tidak mau kalah.. 😀

“bahasa Inggrisnya??”

“bananaaaaaaa…” kali ini suara Eko kalah dengan Intan karna dia berteriak hingga suaranya melengking dan membuat yang lain harus menutup telinga.. aku hanya nyengir melihat kelakuan mereka ini..

“Oke, sekarang kita pindahkan meja dan kursinya dulu ya, supaya kita bisa duduk di bawah dan membuat lingkaran.. ayo, ,1,2,3”

————————————-

10 menit berlalu, dan bukannya bagian tengah kelas menjadi kosong malah menjadi berantakan. ada meja dan kursi berhamburan, kertas dan krayon berjatuhan dimana-mana. Aku Panik. Saat aku berusaha membujuk Wafi yang tidak mau duduk di lantai karena dia trauma dengan cacing, Eko dan Abid mulai membuat ulah. Mereka mulai mengerjai Latifa yang pendiam, kuncirnya ditarik-tarik dan dahinya ditempel dengan “kertas nama buah” yang aku taruh di meja guru di depan kelas. Intan dan Devi terpanggil rasa solidaritas keperempuanan mereka membela Latifa, mereka mulai berusaha meninju Eko dan Abid. Eko dan Abid kabur mengelilingi kelas, menghamburkan meja, kursi dan barang-barang di atas meja.

Saat aku berusaha melerai keempat bocah ini, Wafi histeris.. dia teriak karna habis diledek Fauzan “autiss..autis”.. Aisya berusaha memarahi Fauzan. 2 anak menangis dan histeris, 6 bocah berantem dan dua lainnya saling berpandangan dan ngobrol “kita jadi main game ga ya? “

Aku mulai kehilangan semangat dan kebingungan. Entah apa yang harus aku lakukan. Seharusnya ini menjadi momen yang indah, saat mereka semua belajar nama-nama buah dalam bahasa Inggris dan aku menjelaskan apa manfaat penting buah dalam kesehatan, dan keanekaragaman buah yang ada di dunia. Ini tidak seperti yang kuinginkan.. duh Gustiiiii… 😦

————————————–

Tiba-tiba dari luar kelas ada suara berdehem yang berat. Aku menoleh dan melihat Bu Yulia sedang memandang kami. Tangannya berlipat di depan dada, dan sebilah penggaris kayu panjang sudah bertengger di tangan kanannya.

Anak-anak tiba-tiba terdiam dan kembali ke tempat duduknya. Tinggal Wafi yang masih menangis histeris.

Bu Yulia mulai mendekati meja Wafi dan dengan suara yang agak keras berkata

“Wafi! kenapa kamu menangis? “

“Saya dibilang autis bu…”

“Lalu, apa itu benar? “

“iyaaaaa…” suara tangisnya mulai melemah. jujur aku mulai merasa iba saat itu

“Wafi, walau kamu autis,bukan berarti kamu tidak bisa menjadi anak pintar dan orang yang sukses di masa depan kan?”

…..

tiba-tiba wajah sedihnya menghilang dan dia kembali nyengir “hehe..iyaa Bu Yulia.. Wafi mau jadi anak pintar dan pengusaha yang sukses nanti…”

“bagus!” jawab Bu Yulia singkat

“anak-anak, ayo lanjutkan belajar walau Miss Listia masih baru disini..kalian harus tetap menghormati beliau sebagai guru dan mengikuti apa yang beliau ajarkan…mengerti? “

‘iyaa bu’ semua anak menunduk takut… akupun ikut menunduk memandang beliau dan berkata lirih “matur suwun bu Yulia” yg dibalasnya dengan singkat

“hemm”

—————————

Pukul 9 kurang lima menit…

Kelas hari itu berjalan sungguh di luar rencanaku. Games “who am i” tetap berjalan, tapi semangat anak-anak sudah menurun. Semangatku pun mulai turun, dan membuatku kebanyakan melongo di kelas. Anak-anak mulai menguap dan mengerjakan hal-hal sendiri.

Bel tanda akhir pelajaran berbunyi. Dengan lunglai aku berjalan menuju ruang administrasi untuk mengisi presensi kehadiran dan pulang ke kos. Entah kenapa, aku sedang tak ingin berada di sekolah ini. Saat aku mendekati pintu keluar aku bersitatap dengan Ibu Yulia, aku gugup… tak tahu harus berkata apa. Aku khawatir beliau menganggapku sudah gagal dan memecatku dari sekolah. Padahal ini masih hari pertama aku mengajar di sekolah inklusi ini.Aku mendekati beliau

“Bu Yulia, saya mohon maaf..di kelas hari ini saya gagal menjadi guru dan memberikan pelajaran untuk siswa…” saya tertunduk,, air mata mulai menggenang dipelupuk mataku.

Bu Yulia menarik nafas sejenak dan berkata “Miss Listia, anda merasa gagal karena anda memandang diri anda sebagai guru yang memiliki  lebih banyak ilmu dari siswanya. Pandangan itu keliru Miss, seharusnya kita tidak melihat diri kita sebagai guru karena itu akan menutup keinginan kita untuk belajar dan menyerap ilmu darimana saja. Kalau seandainya kita memposisikan diri kita sebagai murid dalam kehidupan tentu kita akan bisa belajar dari mana saja dan siapa saja bukan? termasuk belajar dari siswa-siswa anda di kelas. Mungkin sebagai guru anda belum berhasil hari ini tapi sebagai pelajar anda baru saja memulai petualangan belajar yang saya yakin akan anda ingat selamanya. Saya yakin Miss Listia sudah belajar banyak hal di kelas hari ini kan, Mereka (murid-murid di kelas) adalah guru-guru yang istimewa walau sedikit kelebihan energi.. sayapun dulu begitu..”

Aku mengangkat wajahku. Aku melihat Bu Yulia tersenyum sekilas dan kembali pada wajah tegasnya. Aku menarik nafas. Aku merasa sedikit lega, walau masih merasa kecewa dengan diri sendiri. Tapi, kata-kata Bu Yulia barusan benar-benar meresap dalam hati. Ya, di sekolah ini siapapun bisa jadi guru dan aku ingin belajar dari mereka semua….

“Baik bu, terima kasih atas nasihatnya.. akan selalu saya ingat.. Saya akan berusaha dan belajar lebih baik lagi”

Bu Yulia ” yang sabar ya Miss… sabar itu adalah perilaku yang indah..” . Beliau berlalu kembali ke kantornya. Tinggal aku berjalan pelan ke arah parkir motor listrikku. Ku ambil helmku dan menatap sekolah itu sejenak… Ini adalah hari keduaku di sekolah. Hari yang tak akan pernah kulupa. Hari ini dimata aku sadar dan mengubah mindsetku selama ini. Aku datang bukanlah sebagai guru, tapi aku datang sebagai pelajar yang siap menyerap ilmu dan hikmah dari siapa saja.Termasuk murid-muridku. Tentu akan ada banyak tantangan untukku dalam belajar “kehidupan” di sekolah ini, tapi semangatku bangkit kembali. Aku tersenyum mengingat tulisan yang tertempel di dinding belakang kelas 2 tadi.

Sabar iku ingaran mustikaning laku/

bertingkah laku dengan mengedepankan kesabaran itu ibaratkan sebuah hal yg sangat indah dalam sebuah kehidupan

**************

.:geknana:.

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Sabtu, September 24, 2011 in Serial Miss Li

 

Tag: , , , ,

Chapter 1 : SD TI

Februari 2009, 07.00

Yogyakarta

Aku melangkahkan kakiku melewati gerbang setinggi bahu berwarna kuning. Hari ini cuacanya sedikit mendung, bulan januari baru saja berakhir menyisakan banyak kenangan, pendadaran yang menghebohkan teman-teman satu kosan, pertanyaan-pertanyaan keluarga tentang masa depan, pertemuan pertamaku dengan sekolah inklusi yang begitu berkesan, pontang-panting menyusun arsip-arsip lamaran guru bahasa inggris dan sampailah aku disini sekarang.

Di depanku berdiri kompleks 3 gedung yang salah satunya berlantai dua dan terbuat dari  bambu. Bangunan depan adalah rumah mungil warna-warni penuh gambar anak-anak tempat administrasi dan play group. Di ujung atas temboknya ada satu speaker yang setiap pagi melantangkan lagu-lagu gembira. Bangunan tengah berbentuk memanjang terdiri dari tiga ruang. Dua ruang untuk TK dan satu ruang untuk Laboratorium Komputer. Bangunan belakang adalah gedung bambu dengan 7 ruang kelas, 1 ruang guru dan 1 hall serba guna. Itulah kampus kehidupanku berikutnya, Sekolah Inklusi SD Tegar Insani. Sekolah Inklusi adalah sekolah yang diprogram untuk anak-anak normal dan berkebutuhan khusus (ABK) , dengan tujuan memperluas sosialisasi anak-anak ABK dan meningkatkan empati anak-anak normal.

Tahukah teman, aku percaya bahwa rencana Tuhan adalah yang terbaik. Begitupun dengan pekerjaanku sekarang. Mulanya aku hanya sering diminta berdiskusi tentang skripsi Sari, sahabat saya, yang menulis tentang metode mengajar anak berkebutuhan khusus. Lama-lama aku malah tertarik sendiri mendengar ceritanya, dengan sedikit memaksa aku bujuk Sari untuk mengajakku melihat sekolah tempat ia meneliti, SD TI.

“Tapi kamu ga boleh kaget lho liat sekolahnya, soalnya ini bukan sekolah bonafif kayak SD BM yang terkenal itu” ujar Sari.

Tanpa pikir panjang lagi akupun mengangguk-angguk dan tersenyum lebar. Entah mengapa aku merasa begitu penasaran dengan sekolah ini. Memang, sejak dulu khayalanku tidak pernah lepas dari dua kata, pendidikan dan anak-anak. Mungkin karena pengaruh kakekku mantan kepala sekolah sebuah SD di Bali, begitu pula ‘uwak’ (kakak dari ibu) pertamaku yang seorang guru matematika SMP. Seolah-olah pendidikan itu its in my blood…

Teng..teng..teng..

Aku tersentak! Khayalan tentang bulan januari membuatku lupa untuk menemui Ibu Yulia, kepala yayasan. Bergegas aku menuju gedung depan dan mengetuk pintunya, “Assalamu’alaikum, saya Listia ingin bertemu dengan Ibu Yulia” sapa saya pada seorang akhwat berjilbab biru muda. “Wa’alaikumsallam, ooo Listia njiih saya Ina.. jenengan sudah ditunggu Ibu di ruangannya, mari silahkan masuk..”

Aku mengikuti mbak Ina menuju sebuah ruangan kecil sederhana dengan 2 rak buku berjejer dan satu meja kerja. Dibelakang meja itulah duduk seorang perempuan paruh baya tapi berwajah tegas dan menurutku jarang tersenyum, Ibu Yulia. “Selamat pagi mbak Listia, kedatangan anda sudah saya tunggu, silahkan duduk. Ina, tolong panggilkan Ibu Yeni”. Mbak Ina mengangguk dan beranjak keluar dari ruangan. Tinggal aku dan Ibu Yulia.

Aku tarik nafas dalam dan mencoba mulai pembicaraan ” Sebelumnya saya berterimakasih pada Bu Yulia, karena ibu sudah memberikan saya kesempatan sebagai guu….”

Omonganku disela Bu Yulia “To the poin saja ya mbak Listia, ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, menjadi guru bahasa inggris dan membuat anak-anak menyukai bahasa inggris itu tidak gampang, apalagi anda harus menghadapi bukan hanya anak normal tapi juga ABK dalam satu ruangan yang sama! Anda dituntut untuk kreatif, peka dan tidak membeda-bedakan perhatian. Keputusan saya menerima anda, karena saya melihat anda sangat antusias saat interview dan micro-teaching tapi kita lihat saja apakah anda masih tetap antusias setelah terjun langsung ke lapangan.. ”

“saya akan melakukan semampu saya, Bu” jawabku memantapkan hati.

Ibu Yulia menurunkan kepala sejenak dan selama 5 detik menatapku lamat tanpa suara, aku jadi semakin tegang. “Kedua, seperti yang sudah saya tekankan saat interview, sekolah ini bukanlah tempat yang tepat untuk mencari harta dan hidup yang mewah. Saya tidak mengharapkan Mbak Listia akan berdiskusi tentang honor setelah anda menandatangani kontrak. Lebih baik jika anda keberatan dengan anda bisa resign sekarang, tapi jika tidak silahkan tandatangan di bawah ini” Lanjut Bu Yulia sambil menyodorkan selembar kertas dengan tulisan hitam tebal di atas Surat Kontrak.

Sambil menelan ludah, aku memejamkan mataku dan bergumam Bismillah.. tanganku bergerak mantap di atas kertas menulis namaku Listia.

Tok..tok..tok

“Assalamu’alakum Bu Yulia, jenengan memanggil saya?” Sapa seorang perempuan semampai berkacamata yang tiba-tiba sudah hadir di belakangku. “Oya bu Yeni, perkenalkan ini mbak Listia guru bahasa Inggris kita yang baru. Dia memang mulai mengajar besok tapi saya minta tolong Bu Yeni untuk mengenalkan mbak Listia ke anak-anak dan staff guru” Permintaan Bu Yulia itu langsung disambut dengan anggukan hormat Bu Yeni dan dia langsung menjabat hangat tanganku sambil tersenyum “Mari mbak Listia, saya sudah mengumpulkan anak-anak di hall, mereka pasti senang ada guru baru”

Selama perjalanan menuju hall kami banyak mengobrol dan saling mengenal.Bu Yeni ternyata orang Yogya asli, masih tinggal dekat dengan lingkungan keraton. Mungkin itu mengapa tutur katanya lemah lembut sekali.

“Mbak Listia, jika tidak keberatan bagaimana kalo selama di sekolah jenengan dipanggil Miss Listia, supaya anak-anak terbiasa dengan bahasa inggris”

“hmm boleh juga Bu, ide yang bagus…” dalam hati aku mencoba untuk meresapkan panggilan baruku, Miss Listia..

.Di hall.

“Assalamu’alaikum, selamat pagi anak-anak” sapa Bu Yeni penuh senyum pada gerombolan anak-anak berseragam merah putih yang sedang membentuk lingkaran dan ditemani beberapa guru yang ikut duduk melingkar.

” Wa’alaaaaaikuumsallaaaam,, Bu Yeniiiiiiiiiiiiiiiiiiii..” sapa mereka kompak dan khas anak-anak.

“Hari ini Ibu Yeni, ingin memperkenalkan guru baru, langsung saja kita sambut ya..” lalu sambil mendekat ke arahku Bu Yeni berbisik ” Silahkan mbak perkenalkan diri anda”

Aku menarik napas dalam sambil bergumam, Bismillah, “Assalamu’alaikum, Good Moooorzzning everyoneeee, let me introduce my self ,my name is Miss Listia and from tomorrow I will be your English Teacher” teriakku lantang yang diikuti dengan wajah melongo sebagian besar murid-murid itu. duh gustii… >.<

Akhirnya ada satu anak laki-laki kecil dengan permen lolipop di tangan kirinya berkata “Ora mudeng , bu!” dan yang lainnyapun langsung tertawa terbahak-bahak sambil mengangguk “Iyoooo..iyoooo”.

Hehe…aku hanya bisa nyengir sambil memperbaiki kesan pertamaku ” oo maafkan saya ya, yang barusan itu bahasa Inggris, yang artinya Selamat pagi, perkenalkan nama saya  Miss Listia dan mulai besok saya akan menjadi guru Bahasa Inggris”  jawabanku ini langsung disambut dengan

” oooooooooooooooooooo……” 😀

Prok.

Bu Yeni menepuk tangannya sekali “Baiklah anak-anak, sekarang saatnya kalian masuk kelas dan belajar. Perkenalan dengan Miss Listia bisa dilanjutkan besok saat pelajaran Bahasa Inggris. Sekarang kalian maju satu-satu dan perkenalkan diri kalian dengan rapi”

Bak anak ayam yang dilempar beras, anak-anak itu berhamburan dan berusaha meraih tanganku dan menyebutkan nama mereka satu-satu. Terus terang, tak ada nama yang bisa kuingat, karena anak-anak itu sangat ramai. Hingga tersisa satu bocah laki-laki, rambut cepak, sawo matang dengan pipi agak tembem. Matanya mengarah kemana-mana seakan sedang memikirkan sesuatu, dia meraih tanganku

“Aku Wafi, kamu siapa? kamu autis ga?”

Aku kaget! sampai tidak bisa berkata-kata lalu Bu Yeni dengan sigap memberitahuku dengan lirih “Wafi adalah salah satu murid ABK disini..”, mendengar itu aku mulai paham perlahan dan menatap Wafi

” Aku Miss Listia, aku tidak autis kalau kamu? ”

Sambil tersenyum riang dan dengan mata menatap kemana-mana dan tidak pernah menatapku dia menjawab

“Aku autis lho. Aku ga boleh makan tepung sama cokelat. Miss Listia darimana?”

Masih takjub dengan jawabannya yang lugu akupun menjawab ” hmm..Miss Listia dari Bali”

“Bali ya…yang ada pantai Kuta itu kan??” tanyanya dengan mata masih menerawang “iya benar..kamu pintar ya Wafi” Senyum bocah itu langsung tambah lebar dan cepat ia berlalu menuju kelas.

Dalam hati aku berpikir, mengapa dia ABK ya? Selain karena matanya yang selalu menerawang menurutku dari cara dia bertanya dan membuat obrolan tak ubahnya seperti anak biasa. Sampai beberapa detik kemudian, aku dikagetkan karena anak itu kembali, masih dengan senyum riangnya.

” Miss Listia kamu autis ga? kamu darimana?” mataku membesar kaget campur bingung, “Wafi, bukannya tadi sudah Miss Listia jawab ya? ” anak itu hanya nyengir dan menunggu jawabanku ” hehe….”

Bagai ruang gelap yang dihidupkan lampu, pemahaman itu seolah-olah langsung ada di depan anakku. Wafi memang anak berkebutuhan khusus, itu karena dia istimewa dan tidak seperti yang lainnya.

Aku tersenyum dan mengarahkan wajahnya dengan pelan hingga matanya menatap ke arahku ” Wafi, coba diingat ya, Miss Listia dari Bali dan tidak autis..Wafi bisa kan mengingatnya?”

“Iya Miss Listia yang dari Bali dan tidak autiiiiis..”

Itulah hari pertamaku di kampus kehidupanku yang baru, dan baru saja aku bertemu dengan salah satu gurunya,

Wafi.

*****


.:geknana:.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Senin, April 26, 2010 in Serial Miss Li

 

Tag: , , , ,

Opening

Dear Pengunjung blog semua… ijinkan nana mengenalkan seorang Guru yang sangat menyayangi dan peduli dengan pendidikan dan anak-anak. Namanya, Miss Listia.  Pengalaman-pengalaman Miss Listia atau yg akan sering dipanggil Miss Li ini, sebagian terinspirasi dari pengalaman saya sendiri dalam mengajar di sebuah sekolah inklusi.

Nama Listia muncul begitu saja ketika saya menutup mata dan berusaha memikirkan sosok perempuan muda yg penuh rasa sayang, bersemangat dan berpikiran terbuka. Listia, sarjana sastra inggris yang kini mengajar di sebuah sekolah adalah sahabat karib saya sejak SMA. Tidak pernah berhenti tersenyum. Tahi lalat yg ada di hidung mempermanis wajahnya saat ia tersenyum. Listia adalah seorang sahabat yang rela mengorbankan waktu dan tenaganya demi kebaikan sahabatnya. Peduli adalah kata yang melekat padanya. Sifat lembut dan feminimnya inilah yang membuat saya ingin sekali menggunakan nama sahabat saya ini dalam miniseri yang ingin saya kembangkan.

Miniseri ini adalah proses belajar saya dalam menulis. Semoga para pembaca menikmati dan menemukan kebaikan di dalamnya 🙂 Silahkan mengikuti perjalanan Miss Li dalam menemukan jati diri dan bintang terangnya di dunia pendidikan. Saya akan dengan senang hati bila ada pembaca yang mau bertukar ide, informasi atau apapun tentang pendidikan. Untuk semua pelajar di dunia,,,,,

We don’t need no Education! 😉


ps : dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada sekolah tempat saya mengajar, maka saya memutuskan untuk tidak menyebutkan nama asli sekolah ini. tidak lebih karena saya tidak mau realitas membatasi imaginasi saya tentang sekolah impian.

.geknana.

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Kamis, April 22, 2010 in Serial Miss Li

 

Tag: , ,