RSS

Arsip Kategori: Tentang Perdamaian

Episode 38 : Berdamai (3)

MenCintai itu, Berdamai dengan kelebihan dan kekurangannya

.


Lagi-lagi nana memikirkan tentang satu aktivitas, Berdamai. Kalo di tulisan nana sebelumnya (Berdamai 2), nana menggambarkan berdamai sebagai aktivitas untuk diri sendiri, maka kali ini nana ingin mengutarakan aktivitas berdamai kita ke orang lain. Tapi ingat! ini adalah pendapat nana pribadi semata. Read the rest of this entry »

Iklan
 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Selasa, Januari 27, 2009 in Mind, Tentang Perdamaian

 

Tag: , , , ,

Episode 32 : Deteriorasi Budaya Perang

I am tired and sick of war. Its glory is all moonshine…War is hell.

William Tecumseh Sherman (1820 – 1891)

Pahlawan, sudah menyimak berita penyerangan Israel ke Jalur Gaza yang dimulai hari sabtu yang lalu? Apa pendapatmu? Terus terang, waktu nana menyimak berita2 itu melalui TV dan media cetak, semuanya mengatakan hal yang serupa. It’s Terribly Hell !!! Nana gak abis pikir,, mengapa sebegitu mudahnya si pilot2 pesawat Israel melontarkan bom2nya ke daerah Gaza, meski dengan alasan serangan balasan terhadap serangan Hamas sebelumnya, tapi apa mereka gak abis pikir??!! Siapa aja yang ada di bawahnya, apakah semuanya adalah petarung Hamas, siapa aja yang akan jadi korban…bukankah disana masih banyak warga sipilnya, orang tua, , perempuan bahkan..anak-anak??!! KETERLALUAN!

Nana jadi teringat dengan kata2 dosen yang na kagumi , Pak Mochtar : Read the rest of this entry »

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Rabu, Desember 31, 2008 in Mind, Tentang Perdamaian

 

Episode 17 : Berdamai (2)

Karena Cinta sesungguhnya akan membuatmu Berdamai dengan dirimu dan dunia

.

Kali ini, sekali lagi aku ingin menyegarkan kembali kenangan sekitar 1- 2 tahun yang lalu. Saat itu adalah tahun dengan tikungan-tikungan tajam dalam hidupku. Namun aku bersyukur , karena perjalanan itu mengenalkanku akan sebuah rasa yang baru. Berdamai. Rasa inipun pernah aku uraikan dalam sebuah tulisan –> Berdamai. Dan kini setelah beberapa waktu berlalu, dengan segala rentetan peristiwa yang aku alami hingga detik ini, rasa itu seolah-olah berkembang lebih lebar di dalam hati.

Berdamai.

Aku yakin seorang PenCinta tidak hanya merasakan damai dan ketenangan di dalam jiwanya tapi juga bergerak! melakukan aktivitas menCinta. Salah satunya adalah berdamai. Bagaimana mereinkarnasikan berdamai dalam sebuah wujud tindakan? Pemahamanku saat itu mengidentitaskan berdamai dalam tiga wujud tindakan nyata = Sedekah, Sabar, Syukur (3S). Satu demi satu mari kita telaah bersama kawan…

Sedekah

Ada beberapa definisi mengenai sedekah ini. Al Jurjani memberikan definisi sedekah ialah suatu pemberian yang diberikan oleh seorang kepada orang lain secara sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Suatu pemberian, iya sedekah adalah aktivitas memberi. Apa yang diberi? apapun yang kita punya, harta, tenaga, pemikiran, rasa bahkan senyumpun bisa dikategorikan sebagai sedekah. Seorang PenCinta seharusnya selalu memberi apapun yang bisa ia beri bagi orang lain. Lalu kata kunci kedua adalah ; sukarela. Iya, seorang penCinta seharusnya bisa memberi dengan rasa suka dan rela. Apa itu suka? ketika ia merasa lebih bahagia bila memberi daripada meminta. Lebih suka tangan di atas daripada di bawah. Lalu apa itu rela? menurutku rela bisa diartikan, tanpa harapan mendapatkan balasan. seorang PenCinta akan memberi tanpa mengharapkan apa-apa, karena memberi itulah karakter seorang PenCinta. Kata kunci ketiga ; tanpa batas waktu dan jumlah. Ya,,, penCinta tidak pernah memperhitungkan untung dan rugi tentang apa yang ia lakukan. Tidurnya adalah sedekah, belajarnya adalah sedekah, makannya adalah sedekah, kerjanya adalah sedekah, rasa sayangnya pun adalah sedekah. Masih ingat kawan,, tentang kisah para sahabat ketika diajak Rasulullah untuk mengikuti perang melawan perbudakan dan ketidakadilan? Apa yang mereka sedekahkan? Semuanya! Hartanya, raganya, keluarganya, jiwanya, semuanya mereka BERIKAN tanpa mengharapkan balasan apa-apa. Saat itu sudah yakinkah mereka akan kemenangan dan keuntungan yang menanti di depan mata? Belum. Sudah yakinkah mereka akan masa depan mereka? Belum. Karena yang mereka tahu, ini adalah wujud pengabdian, sedekah laiknya telah menjadi karakter mereka. Maka untuk Rasulullah dan para sahabat ,pantaslah kita memberi gelar Si PenCinta.


Dan kata kunci terakhir ; untuk diri sendiri. Adakah yang pernah mendengar pepatah ini : Berbuat baik bagi orang lain berarti berbuat baik bagi diri sendiri. Lama aku memikirkan, maksudnya apa kalimat ini?? Secara logika mungkin bisa dirunut seperti ini; pada dasarnya setiap manusia memiliki suara hati yang mewakili sifat-sifat kebaikan. Salah satunya adalah sifat memberi yang sebenarnya dihembuskan ke dalam ruh kita oleh ALLAH YA WAALII (ALLAH Yang Maha Memberikan) dan adalah sesuatu yang melegakan jika kita mengeluarkan sifat memberi itu bagi kebaikan orang lain. Analoginya, mungkin sama seperti kita bersin. Sesaat sebelum bersin pasti kita merasakan ada sesuatu yang menyesak dan tak tahan untuk dikeluarkan di dalam hidung kita bukan? Dan saat akhirnya bisa dikeluarkan, Hatsyiii!!! Bagaimana perasaanmu kawan? Lega bukan? Dan saat itulah kita dianjurkan mengucapkan pujian pada Tuhan , Alhamdulillah..karena berkat kuasa-Nya kita bisa mengeluarkan bersin. Bayangkan! Jika bersin itu tidak bisa keluar dan tertahan selama bertahun-tahun?? Pasti rasanya sangat menyakitkan bukan? Mungkin begitupulalah adanya dengan sifat-sifat kebaikan yang dihembuskan ALLAH ke dalam ruh kita. Sebaiknya dikeluarkan daripada dibiarkan tersesak. Dan ketika akhirnya berhasil kita keluarkan, maka alangkah baiknya jika kita mengucapkan Alhamdulillah. Saat kita bersedekah pada fakir miskin, alangkah indah bila kita untaikan dengan kalimat, Alhamudulillah. Karena berkat kuasa-Nya kita bisa memberi. Dan karenanya kita bisa merasakan ketenangan dan kedamaian, karena sudah tidak ada lagi rasa-rasa yang menyesak dan belum dikeluarkan. Maka setujukah kamu, jika rasa di dalam dada itu tidak cukup diungkapkan hanya dalam kata-kata? NO ACTION TALK ONLY ? Bayangkan kawan, jika selama bertahun-tahun kita tidak bisa mengeluarkan sifat-sifat kebaikan kita, karena ego, emosi, nafsu dan semua belenggu di dalam hati. Bayangkan bagaimana kita sedang menyiksa jiwa kita sendiri. Seperti bersin yang tidak keluar selama bertahun-tahun, maka sesungguhnya penyakit hati dan jiwa jauh lebih perih. Akhirnya, kembalilah kita pada kesimpulan : Sedekah kita pada orang lain, adalah sedekah kita bagi diri sendiri.

Sabar

Aku sepakat dengan pendapat yang menyebutkan jika sabar tidak cukup diartikan dengan diam dan mengelus dada. Menurut sabar mencakup lebih banyak kekuatan jiwa dari sekedar diam. Jika kita harfiahkan sebagai aktivitas mengelus dada, maka sabar seolah-olah selalu berkaitan dengan kesusahan hidup, penderitaan. Kita bersabar hanya saat kita sedih. Bagaimana jika hati kita sedang senang, tak perlukah kita bersabar juga? Karna menurutku kita harus bersabar setiap waktu, di kala susah atau senang. Karena sabar tidak kita lakukan secara terpaksa untuk mengobati luka hati, tapi justru sabar perlu kita nikmati sepanjang hidup. Dari hasil jalan-jalan ke blog tetangga, aku sepakat dengan definisi sabar di blog yang ini Secara jelas, penulis mendeskripsikan makna sabar dalam wujud beberapa tindakan nyata. Pertama, sabar adalah menyatukan badan dan pikiran di satu tempat. Sabar bukanlah kita menahan diri dan berharap keadaan yang lebih baik saat kita ditimpa musibah, tapi sabar adalah MENGHADAPI KENYATAAN yang ada di depan mata. Orang yang sabar seharusnya menikmati setiap proses perjalanan hidupnya. Kedua, sabar berarti menunda respon. Orang yang sabar adalah orang yang bukannya diam, tapi bisa memberi respon yang tepat di saat yang tepat. Dalam blog itu dijelaskan secara ilmiah tentang sistem kerja otak kita.

otak kita mempunyai dua unsur, yaitu neokortex dan amikdala. Neokortex berfungsi memberikan respon positif. Prosesnya amat cepat, sekitar 5-7 detik. Sedangkan amikdala reaktif dan cenderung negatif. Dalam praktek, amikdala sering mengambilalih atau membajak neokortex, sehingga tindakan atau respon kita sering negatif yang wujudnya bisa marah, dendam dan sebagainya. Dalam soal ini, Arvan mengungkapkan, orang yang sabar mampu mengendalikan dirinya dan menunda respon jangka pendeknya untuk mendapatkan kenikmatan jangka panjang.

Ketiga, sabar berarti lebih menikmati proses daripada hasil. Kemarin adalah sejarah, besok adalah misteri, hari ini adalah Anugerah. Setujukah kamu, apapun yang kita lakukan kita tidak akan pernah tahu hasilnya seperti apa? ada beribu kemungkinan tentang hasil dari usaha kita bukan? Maka, bukankah hal yang bisa paling tidak bisa kita kendalikan adalah hari ini? Orang-orang yang bersabar menurutku adalah orang-orang yang menghargai hari ini. Menikmati setiap hari sebagai proses menuju masa depan yang penuh ketidakpastian. Bukan menanti saat yang indah itu akan tiba, tapi menjadikan saat ini menjadi saat-saat yang paling indah. Karena tak ada yang tahu secara pasti, masih adakah hari setelah hari ini? Aku jadi teringat dengan sebuah email forwardan dari milis tetangga tentang kisah seorang suami yang menCintai istrinya. Bahkan ketika mereka bertengkarpun sang suami tetap menyelipkan secarik kertas bertuliskan ungkapan sayang kepada istrinya. Setelah berbaikan sang suami-pun berkata ” Istriku, aku hanya ingin kau tahu bahwa saat marah, sedih, senang dan bagaimanapun perasaanku kepadamu, aku tetap menyayangimu ” Subhanallah, indah ya?

Keempat, sabar berarti menyesuaikan tempo dengan orang lain. Sering ngak dalam sebuah tim atau kerja kelompok kita ngerasa agak kesel kalo ngeliat partner kita bekerja tidak sesuai dengan ‘standar’ yang kita inginkan? Agak lemot lah, gak disiplin lah, ‘masa segini aja gak bisa?’, dll. Kawan, jika jawabanmu iya, mungkin ada baiknya jika kita mengganti kacamata kita. Instropeksi diri. Mungkin sebenarnya mereka sudah memberikan usaha paling maksimal mereka, mungkin itulah saatnya kita yang ‘menyesuaikan’ diri dengan cara kerja orang lain. ” One Man can be a crucial ingredient on a Team, but one Man cannot make a Team” Kelima, sabar berarti menikmati kekalahan. Apakah kita termasuk orang-orang yang tersenyum ketika kita kalah? Pernahkah kita mengapresiasi kemenangan orang lain? Tampaknya proses ini perlu kita jalani kawan. Aku teringat dengan cuplikan kisah Arai dalam novel Sang Pemimpi. Masih ingat kisah Cintanya pada Zakiah Nurmala, bidadari di hatinya? Aku sangat suka cuplikan dialognya yang ini :

“Nurmala adalah tembok yang kukuh Kal…,” kilahnya diplomatis.
“Dan usahaku ibarat melemparkan lumpur ke tembok itu,” sambungnya optimis.
“Kau sangka tembok itu akan roboh dengan lemparan lumpur?” tanyanya retoris.
“Tidak
akan! Tapi lumpur itu akan membekas di sana, apa pun yang kulakukan,
walaupun ditolaknya mentah-mentah, akan membekas di hatinya,”
kesimpulannya filosofis.

Kita belum tahu, bagaimanakah akhir cerita Arai dan Zakiah ini. Tapi bukankah saat itu sebenarnya Arai sedang mengalami kekalahan karena tidak berhasil mendapatkan Cintanya Zakiah? Namun, aku sangat terharu dengan pilihannya yang tetap menikmati saat-saat paling menyedihkan atas Cintanya pada Zakiah. Cintanya begitu agung hingga tak terusik oleh keraguan, kekalahan bahkan waktu. Akhir-akhir ini bila aku berkendara di sepanjang jalan dan melihat pemuda-pemuda jalanan, ataupun para pekerja di jalanan aku membayangkan kehidupan Ikal dan Arai. Arai, adakah kamu disana? Aku kagum pada komitmenmu, hey PenCinta.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

( Q.S. Al-‘Asr (103) : 1-3)

Syukur

Syukur berarti berterima-kasih atas nikmat yang kita rasakan. Dan dari semua nikmat yang ada bila kita runut lebih dalam maka semuanya bermuara pada satu sumber. ALLAH YA WAHHAAB (ALLAH Maha Pemberi Karunia) Dan sebagai seorang penCinta maka karunia yang patut disyukuri setiap saat adalah, Cinta itu sendiri. Bukankah kita yakin jika Cinta itu fitrah, titipan ALLAH? maka selama Cinta itu masih terbenam dalam sanubari kita, sedekahkanlah… Masih ingat analogi menahan bersin? bagaimanakah keadaan jiwa yang menahan Cinta? Namun tentu saja, sesuai dengan ketentuan si penyewanya. ALLAH.

Pertanyaan lain yang muncul, apakah benar Syukur hanya berterima-kasih pada saat kita mendapatkan nikmat? Lalu bagaimana dengan yang bukan nikmat, disyukuri juga? Hmm… menurutku kita tidak perlu memperjelas batas antara nikmat dan tidak nikmat itu, tapi malah semakin memperlebar ruang definisi Nikmat itu sendiri. Ada pepatah yang mengatakan Saat kau sedih lihatlah ke bawah, masih banyak orang-orang yang tidak beruntung dari padamu, bukan untuk membuatmu sombong, tapi untuk membuatmu berterima kasih atas keadaanmu yang sekarang. Sungguh indah ya, bagaimana ALLAH memelihara makhluk-makhluknya dengan Kasih Sayang… Tak ada yang tidak dikasihi. Bahkan bagi mereka yang patah hati dan terpuruk-pun sebenarnya tengah dikasihi oleh ALLAH. Jadi teringat dengan lirik lagu Rascal Flatts – Bless The Broken Road ;

Every long lost dream lead me to where you are
Others who broke my heart they were like northern stars
Pointing me on my way into your loving arms
This much I know is true

That God blessed the broken road

That led me straight to you

Alhamdulillah…. panjang betul euy 😛 Tapi hingga detik ini, menurutku ketiga aktivitas berdamai inilah yang membuat Cinta itu hidup. Dari kata benda menjadi kata kerja. Dari Cinta menjadi menCinta. Dan menurutku ada dua hal yang menjadi ciri khas seorang penCinta yang berdamai :

Senyum…

Semangat!!!

” Berdamai adalah membahagiakan diri sendiri dengan membahagiakan orang lain”

Sedekah,Sabar,Syukur,Senyum,Semangat…!

………………………………………………………………………………….

Kamu : Na, sudahkah kamu kamu berdamai?

Aku : Aku sudah memikirkan, aku telah menuliskan, kini saatnya aku melakukan…

……………………………………………………………………………………


Itu Sudah

(na)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Jumat, September 26, 2008 in Mind, Tentang Perdamaian

 

Tag: , , , , , , ,