RSS

Arsip Kategori: Tentang Ilmu

Episode 24 : Make a Difference

“There are good people, who are in politics, in both major parties, who hold this at arms’ length,because if they acknowledge it, if they recognize it, then the moral imperative to do big changes would be unescapable.” Al Gore

Lagi pingin berbagi ilmu yang kudapat di kelas Pak Mochtar Mas’oed hari ini nie. Seperti biasa, setiap kelas beliau pasti menuntun mahasiswa untuk melihat arti sebuah ungkapan dari asal katanya.

Misalnya, dulu beliau pernah mengungkapkan arti kata dari “Development”. Secara harfiah Develop berarti “enlarge on something” atau dalam Bahasa, berkembang. Lawan katanya adalah Envelope atau berarti “Enclose”, semakin tertutup. Beliau menggambarkan dalam envelope/amplop; merupakan selembar kertas yang dilipat sedemikian rupa sehingga bentuknya semakin menyempit dan setiap sisinya saling menutupi. Maka, develop seharusnya kebalikan dari analogi tersebut, selembar kertas yang semakin dibuka dan dibuat semakin lebar/luas. Apa hubungannya dengan ilmu HI? Menurutku secara cerdas, Pak MM menjelaskan konsep Development di dalam negara-negara berkembang. Beliau tidak setuju dengan paradigma Development di negara yang miskin dimana distribusi kekayaan dan sumber daya semakin menyempit hanya bermuara pada satu golongan, seharusnya bila memang Development, kesejahteraan itu akan semakin melebar menyentuh golongan-golongan yang lebih luas, rakyat. Lebih cerdasnya lagi, Pak MM juga menyambungkan konsep Development dalam unsur kejiwaan manusia. Menurutnya, manusia yang develop atau dewasa adalah manusia yang semakin bertambah umur, semakin luas pemikirannya tentang dunia, semakin terbuka terhadap perbedaan. Bukannya malah semakin menyempit dan menjadi kaku serta memiliki pemikiran yang tertutup. Saya setuju dengan yang ini Pak! ūüėČ

Nah, balik ke kelas hari ini

Ditengah-tengah kelas Pengantar Ilmu HI tadi, tiba-tiba Pak MM membahas sebuah ungkapan “Makes a Difference”. Kali ini beliau menjelaskan pendapatnya, bahwa yang dimaksud Difference disini bukan hanya sesuatu yang berbeda dari yang lain. Tapi lebih dari itu. Perbedaan yang signifikan, yang solutif, yang manfaat. Makanya, kalo kita cuma mengganti penampilan (misal warna rambut) itu kemungkinan besar hanya menjadi berbeda. Bukan membuat perbedaan. Kecuali jika kita memilih untuk botak dan mengajak yang lain dengan alasan menghemat shampoo dan sebagai bentuk penolakan terhadap produk-produk korporat. Dan akhirnya 220 juta orang Indonesia menjadi botak dan membuat Korporat2 asing bangkrut karna kehilangan konsumen. Well, that’s probably makes a differences ūüėõ

Intinya, makes a differences bukanlah sesuatu yang sepele hanya dengan menjadi berbeda. ¬†Beliau mencontohkan mantan calon presiden Amerika, Al-Gore. Dia adalah salah satu tokoh yang mau berkeliling dunia mengkoar-koarkan tentang sebuah kenyataan yang tidak menyenangkan di masa depan (An Inconvinienth Truth) awalnya hanya dari state ke state untuk menyadarkan masyarakatnya yang menjadi bagian dari Negara yang paling bebal menolak isu global warming, Amerika. Kini, telah banyak pihak yang mengembangkan teknologi dan tatanan kebijakan yang lebih ramah lingkungan. Satu hal yang menarik adalah perkataanya :¬†Ultimately, this is really not a political issue so much as a moral issue. If we allow that to happen, it’d be deeply unethical. Ya, Al Gore telah membuat perbedaan bahwa isu lingkungan hidup sebenarnya bukan hanya isu politik dan perebutan kekuasaan, ini adalah isu moral dan tanggung jawab kemanusiaan.

Nah sekarang, sudah jelaskan perbedaan antara Be Different and Make a Difference? Yang satu mencoba menjadi berbeda di segala hal dan bahkan kadang-kadang dengan alasan yang kurang masuk akal. Misal, seorang laki-laki yang berhias ala perempuan dengan alasan ingin lebih memahami perempuan (duweeengg!!! apa gak cukup dengan membaca dan berkomunikasi tuh? ) atau seorang anak kecil yang memilih untuk merokok supaya terlihat lebih keren dan gaul (istigfar dik…) atau sekelompok orang di Amerika yang membentuk pedesaan tanpa busana dengan alasan kebebasan berekspresi, (mau balik jadi primitif lagi kayaknya ūüėõ ) dll. Makes a differences bukanlah hal yang seperti itu. Tidak ada kemanfaatan yang bisa dipetik dari hal-hal seperti itu bukan? Sia-sia (Naudzubillah)

Makes a Difference adalah “membuat” perbedaan yang signifikan. Dan bahkan sebenarnya tantangannya lebih besar. Misal nie, di sebuah kantor tempat kita bekerja sudah ada kebiasaan untuk membawa pulang properti-properti kantor yang kecil (misal pensil, bolpoin, stopmap, dll) seandainya giliran kita yang memperoleh kesempatan itu, apa yang akan kita lakukan? membawa pulang saja karna toh juga itu hal yang wajar dan biasa dilakukan, atau tidak membawa pulang dan menjadi ejekan rekanan karna kita berbeda dengan mereka? Itu hanya contoh kecil, masih banyak tantangan-tantangan yang harus dihadapi untuk makes a Differences. Jika saat ini semua orang terbiasa dengan baju yang ketat dan kurang bahan, maka akan menjadi sangat aneh bagi mereka yang memilih untuk menutupi tubuhnya dengan kain yang lebar dan longgar. Jika saat ini semua orang terbiasa membawa dan membaca buku-buku ilmiah, novel yang tebal-tebal, maka menjadi sangat aneh bagi mereka yang membawa dan membaca kitab suci kemana-mana. Jika saat ini sudah tidak ada batasan lagi bagi pergaulan laki-laki dan perempuan, maka…

Seseorang pernah mengungkapkan “Differentiate or Die”. Menurutku itu sebuah ungkapan optimis dengan kekuatan jiwa yang positif. Ya, bagiku yang penting adalah bukan menjadi berbedanya yang harus ditekankan, tapi kemanfaatan dan kebaikan yang dibawanyalah yang harusnya diperjuangkan. Karna itulah hidup, membuat perbedaan atau hanya mengikuti arus dan menjadi apa yang diungkapkan Pink Floyd “Another brick in the wall”

So, ready to makes a Difference?

Tetap Semangat!


Itu sudah

(na)

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Senin, November 24, 2008 in Mind, Tentang Ilmu

 

Tag: ,

Episode 16 : Kisah Ramadhan

BOCAH MISTERIUS!

.

*** Kisah ini merupakan saduran dari email seorang sahabat, Sani. Ketika membacanya, terus terang aku merasa sedang disentil dan diingatkan. Semoga cerita ini juga memberikan manfaat buat kawan-kawanku semuanya. Selamat menunaikan ibadah di bulan Suci Ramadhan, sudah 25 hari kita lalui, mari kita maksimalkan hari-hari yang masih ada,,, tetap semangat semua!;)

****************************************************************************

.
Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan  orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging  yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air  dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya. Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.

Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani  melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian  dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.

************ ********* *
Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!

Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,¬† bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. “Bismillah.. .” ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu. Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah.

Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya. “Ada apa
Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang
kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman. “Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga¬† berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu..”


Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia¬† menatap Luqman lebih tajam lagi. “Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa?

Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?! Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian…!?”


Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. “Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.

Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula¬† Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami…!

Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta¬† secara berlebih? Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan¬† orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan…, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak….”

************ ********* *


Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah¬† sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.

Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman!

Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi  irrasional,  tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.


Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang  berlebihan. Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar. Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.

Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan
kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang. Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

Selamat menjalankan ibadah puasa…..

*************************************************************************

Sudahkah bersedekah hari ini kawan???

Itu Sudah

(na)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Kamis, September 25, 2008 in Mind, Tentang Ilmu

 

Tag: , ,

Quote 10 : Intellectual

karena mereka menerangi

Every person is intellectual, but not everyone has an intellectual function

……..

.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Sabtu, September 6, 2008 in Mind, Tentang Ilmu

 

Tag: ,