RSS

Arsip Kategori: Tentang Cinta

Episode 41 : Cemburu dan Roller coaster

https://i2.wp.com/lh3.ggpht.com/_iRCt-m6tg6Y/SnaxmZ6fbgI/AAAAAAAALNw/Jt1dcVBzcvY/craziest-roller-coaster-1.jpg

Cemburu dan Rollercoaster

Kawan…Kalau kamu bisa,coba berikan aku satu nama orang yg kamu kenal yang tidak pernah merasakan cemburu di dunia ini. Ada??Yakin?? Coba dipikir ulang, apakah dia pernah cemburu pada pasangannya? Tidak. Oke, bagaimana kalo cemburu pada kelebihan orang lain? Tidak. Baiklah, gimana kalo cemburu pada kesuksesan atau kemenangan orang lain? Tidak. Wow..!! tapiii gimana kalo cemburu pada kesempurnaan dan merasa dirinya tidak pernah puas untuk mendapatkan sesuatu?? hmmm….susah kaaann?? hehehe.. I gotcha 🙂
Tulisan ini adalah opini nana bahwa semua orang pernah mengalami cemburu. cemburu itu manusiawi. justru, cemburu itu adalah puncak humanisasi seseorang. Why?
Iklan
 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Senin, November 23, 2009 in Mind, Tentang Cinta

 

Tag: ,

Quote 24 : Lover is like a shoes

“I wouldn’t bother my time to find my PERFECT shoes, because all I need is my RIGHT shoes

which keeps my feet warm and protect it from any harm…

and it’s not far, it’s here! right beside me..

it’s YOU.

thanks for being such a RIGHT shoes for me 🙂 “

(geknana)

 klo ada yg mw ngopy boleh kok...tp gak jamin ya efek sampingnya gimanaa hehehe 😛

spaceball

Menurut nana, kekasih itu seperti “Sepatu”… biasanya kalo lagi window shopping kita sering silau dengan banyaknya sepatu yang cantik dan lucu, namun biasanya akan ada satu yang membuat kita berhenti sejenak depan sepatu yang menurut kita gayanya “its so me..!” dan pingin nyobain, trus pas kita coba2 bentar rasanya pas,meski kadang2 keinginan untuk melihat yg lain juga masih ada tapi kesan pertama yg ia berikan menjadi pembanding yang lumayan berat dari yang lain, lebih-lebih kalo harganya “cocok” dengan kita. nah, pertimbangan2 itulah yg akhirnya bikin kita mutusin untuk memilih sepatu itu. dan biasanya awalnya kita yakin, its just so perfectly fit on me. 😉 Read the rest of this entry »

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Senin, September 28, 2009 in Mind, Tentang Cinta

 

Episode 40 : Gelar dan Cinta

“Don’t Judge People by Their Title”

Prelude ;

Someone : bu, kok gak ditulis gelarnya disini??

Aku            : aduh ribet bu, ndak usah aja ya?

Someone : lhoo..gelar itu penting lo bu, biar orang tahu siapa ibu sebenarnya…!!!

Aku           : ……..

Itulah yang akan menjadi latar belakang tulisanku hari ini. Gelar. Terus terang secara pribadi, gelar bukanlah hal yang patut na tonjolkan kepada orang lain. Biarlah orang tahu kapasitas na dari apa yang nana lakukan. Namun tulisan ini bukan pula sebuah penolakan mutlak untuk menggandengkan gelar (status, agama, kependidikan, dll) dengan nama kita. Biarlah tulisan ini menjadi sebuah rangkaian memori dan pemikiran na tentang Gelar, maklum soalnya sedang mengalami masa-masa pasca-kuliah. hehe 😛 Read the rest of this entry »

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Senin, September 7, 2009 in Mind, Tentang Cinta

 

Episode 34 : Arti Sahabat

To me, bestfriend is a life-changing friend

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; bila ia memanggilmu penuhilah; bila dia meminta nasehat kepadamu nasehatilah; bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (artinya = semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)”. Riwayat Muslim.

Pahlawan, tahukah kalo hari ini cuacanya begitu cerah… Langit biru seluas samudera dengan awan seputih kapas terus memayungi gerak perjuangan yang kita lalui hari ini.  bahkan dari jendela kamarku di lantai dua, nana masih bisa menikmati suasana ceria sabtu ini.  Dan lebih senangnya, setelah tadi pagi dibombardir dengan asap2 pengusir nyamuk aides aegypty akhirnya burung2 kenari tetap mau bertengger dan berkicau menemani saat-saat soreku yang penuh  dengan kedamaian ini. Sebenernya gak terlalu damai-damai banget sie, karna masih banyak  tugas-tugas yang menumpuk dan menjerit untuk diselesaikan…Yah, buah dari kemalasan dan menunda-nunda.  Tapi, sejenak…nana ingin berdamai dengan sore ini dan memikirkan tentang 22 x 365 yang telah  nana lewati ini.Hari ini, di tengah-tengah kesendirian nana dan diri nana sendiri, muncul satu pertanyaan.

Am I a lonely person?

Read the rest of this entry »

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada Sabtu, Januari 3, 2009 in Mind, Tentang Cinta

 

Episode 31 : Aku akan terus membopongmu

the_love_omen_by_gilad

“Sometimes we don’t need to find Love, but to FEEL it…”

Pada hari pernikahan, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti di depan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia. Dan ia sangat tahu itu.

Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu. Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening: Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. setiap pagi kami berangkat kerja bersama dan sampai di rumah juga pada waktu yang bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka…

Read the rest of this entry »

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Kamis, Desember 18, 2008 in Mind, Tentang Cinta

 

Tag: , , ,

Episode 19 : Diam juga Bahasa Cinta

Ini hatiku,

Seperti telaga, meski dengan selaksa riak-riak kehidupan di dalamnya

aku harus tetap menghadapi dan memberi pantulan keindahan Cinta

(penCinta)

.

.

Kawan, setujukah bila Cinta tidak cukup hanya diucapkan dengan kata? Cinta seorang ibu telah termanifestasikan melalui pengorbanan dan dukungan tanpa henti bagi anaknya. Cinta seorang ayah terwujud dalam perlindungan dan bimbingan yang diberikan menuju jalan yang benar. Dan adakah sosok-sosok penCinta itu hanya berucap dengan janji-janji? Jelaslah bagi mereka bahwa Cinta merupakan kata kerja.

Standing in…

Aku teringat dengan salah satu diskusi menarik di kampus dengan kawan-kawan. Saat itu kita sedang seru mendiskusikan tentang bagaimana caranya menunjukkan Cinta, atau mengubah Cinta menjadi sebuah aktivitas. Saat itu sebagian besar dari kita menyatakan setuju bila menCintai lebih membahagiakan daripada diCintai. Itu karena ketika menCintai kita tidak perlu menunggu waktu kapan, you can do it whenever you want! Kita menjadi subjek yang aktif bukan objek yang pasif. Sementara diCintai kita menjadi objek yang tergantung/menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain.

Lalu aku berpikir tentang makna AKTIF. apakah maksud menCintai secara aktif? memberi terus-menerus? bagaimana jika yang kita beri tidak mau, atau tidak ikhlas? Maka, kitapun harus kembali pada tujuan menCinta itu sendiri. membahagiakan yang kita Cintai. Bagaimana caranya kita membahagiakan bila kita tidak tahu apa yang membuatnya bahagia? Maka, sebaiknya mulailah dengan mencari tahu apa yang membuat mereka bahagia, need assessment.

Diam…

Dan diam sesungguhnya juga bisa menjadi aktivitas AKTIF bagi penCinta. Diam yang dimaksud disini bukanlah diam karena merasa lelah untuk memberi, bukan pula karena bosan dan jenuh dengan yang kita beri, seolah-olah kita terpaksa untuk diam agar terhindar dari rasa sakit. Tapi Diam yang aku maksud disini adalah diam karena PILIHAN. Bukankah terkadang seseorang butuh waktu dan ruang untuk mencari jati diri? Atau kita MEMILIH diam karena diam merupakan alternatif lebih baik daripada aktivitas menCinta yang lain? Bayangkan seorang penCinta yang berkomitmen untuk menCinta seorang laki-laki/perempuan. Namun ternyata pilihannya itu memilih untuk menikah dengan orang lain. Lalu apakah si penCinta kita harus tetap menunjukkan Cintanya meski dengan konsekuensi merusak rumah tangga orang lain? Dalam bukunya Ust. Salim A. Fillah ; Jalan Cinta Para Pejuang menuliskan, karena Cinta harus bersujud di mihrab taat. Ya! Karena memberi-pun ada batasan-batasan benar dan salahnya. dan bagi si-penCinta yang aku ceritakan di atas, maka diam menjadi PILIHAN terbaik baginya bukan? Aku jadi ingin mengutip sebuah puisi seorang kawan blogger, Muhammad Rum. Puisi yang menggambarkan bagaimana aktivitas DIAM seorang penCinta sesunggunya menjadi aktifitas yang benar-benar super sibuk dan ramai di dalam hati. Karena DIAM bukan hanya aktifitas fisik tapi menjadi Aktifitas Spiritual bagi Cinta.

Ini Hatiku, Caverna!

Rum Muhammad


Ini hatiku,

Juga pernah jadi stasiun keberangkatanmu

Di sini ada tawa dengan lebih banyak tangis

Orang meninggalkan tempat ini tanpa menengok lagi

Bertemu dan berpisah hal yang biasa


Saat pagi meninggalkan kita

Maukah kau hirup udara segarnya?

Sebelum deru siang yang sibuk datang

Sebelum ramai penumpang hilir mudik


Dalam laju gerbong keretamu

Juga kelak di tengah peristiwa bahagiaanmu

Adakah kau masih pemilik sapa itu?

Sudikah melambaikan tangan ke arahku?


Dan, ketika kubacakan kembali tentang kita

Maukah kau tersenyum lagi, maukah?”

(Rum)


Direkomendasikan untuk membaca postingan Ini Hatiku, Caverna. ada banyak penjelasan tentang perbedaan falling in dan standing in

Lalu, menambah sedikit tentang DIAM sebagai bahasa AKTIF dalam menCinta ini. Pertanyaan selanjutnya adalah, sampai kapan? Apakah selamanya kita harus melulu DIAM demi kebahagian yang kita Cintai??? Tidak. Itulah yang membedakan DIAM karena PILIHAN dan karena terpaksa. Dan disinilah sebenarnya tantangan dari menCinta itu, merasakan saat yang tepat. Ya, saat yang TEPAT. Saat dimana dengan Cinta membuat yang kita Cintai lebih bahagia. Saat dimana dengan Cinta semakin mendekatkan kepada kebenaran dan SANG MAHA CINTA. Cintailah orang tua dengan membuat hidup mereka lebih bahagia, dan Cintailah orang tua dengan jalan-jalan yang membuat semakin dekat dengan-Nya. Bolehkah membuat kedua orang tua bahagia dengan kuseksesan yang didapat melalui kecurangan dan kebohongan? tentu tidak bukan? Dan Cintailah ia yang telah menjadi PILIHAN-mu di saat yang BENAR dan cara yang TEPAT.

………………………………………………..

Cinta dititipkan untuk dikembalikan lagi pada-Nya,

percantiklah Cinta dengan menyedekahkannya di jalan-jalan taat

karena sedekah menyucikan Cinta, dan itulah harta

.

Dan ketahuilah

pada dasarnya kebutuhan setiap orang adalah sama;

berdamai dengan Tuhan-Nya, maka

Kebahagian sejati adalah saat bisa dekat dengan Sang Maha Cinta.

.

Dan setiap Cinta pasti diuji…


……………………………………………

ps : Alhamdulillah, untuk semua yang telah menginspirasiku menulis tulisan ini, Jazakumullah 🙂


Itu Sudah

(na)

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Rabu, Oktober 22, 2008 in Mind, Tentang Cinta

 

Tag: , , , ,

Episode 18 : Bicara dgn Bahasa Hati

Bicara Dengan Bahasa Hati

….

.

Tak ada musuh yang dapat ditaklukan oleh Cinta

Tak ada penyakit yang dapat disembuhkan oleh kasih sayang

Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan

Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan

Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran

.

Semua itu haruslah berasal dari HATI

.

Bicaralah dengan bahasa HATI maka akan sampai ke HATI pula

.

Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan

betapa tajam otak, namun juga betapa lembut HATI

dalam menjalani segala sesuatu

.

Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya

dengan merengkuhnya dengan lengan yang kuat

atau membujuknya dengan berbagai gula-gula dan kata-kata manis

Anda harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang

jauh di dalam dada anda

.

Mulailah dengan melembutkan hati sebelum memberikannya

pada keberhasilan anda

.

catatan : Tulisan ini aku dapat dari tulisan seorang teman di bulletin Friendster yang ini. Semoga memberi manfaat bagi semua.

“Ingatlah di dalam jasad manusia itu ada sepotong daging, tatkala sepotong daging itu baik, baiklah jasad keseluruhannya dan tatkala rusak (sepotong daging itu), maka rusaklah jasad keseluruhannya. Ingatlah dia itu hati”

(Hadits Riwayat An Nu’man bin Basyiir – Mustafaqu alaih)

Itu Sudah

(na)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Minggu, Oktober 19, 2008 in Mind, Tentang Cinta

 

Tag: , ,