RSS

Arsip Kategori: Tentang Berita Sekitar

Episode 28 : Fashion Freak

“Are we going MAD???”

….

.


Fashion Freak!

Tulisan ini dimulai dengan diskusi seru menjelang rapat dengan kawan-kawanku di yayasan. Awalnya dimulai dengan obrolan seputaran cuaca yang dingin-dingin romantis 😉 lalu mulai berlanjut ke obrolan tentang fashion hingga fashion freak! Fashion, bila aku tanyakan pada bu’de Encarta secara simpel bisa dimaknai sebagai ‘gaya masa kini’, namun fashion juga bisa dimaknai sebagai kata kerja transitive yang berarti “mempengaruhi sesuatu”. Sedangkan Freak menurut bu’de, berarti fanatic atau “terlalu”, “berlebih-lebihan”

Nah, mengapa tulisan kali ini aku beri judul Fashion Freak? Itu karena pada diskusi menjelang rapat tersebut ada beberapa contoh fashion freak yang sempat menjadi topik obrolan. Awalnya aku menanggapinya dengan tertawa, karena terus terang kasus-kasus fashion freak yang kita obrolkan ini menurut saya, ANEH! namun semakin lama aku pikirkan semakin membuatku merinding, geli, khawatir bahkan sedih. Kok bisa ya? Dan inilah beberapa topik fashion freak itu

Read the rest of this entry »

Iklan
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Rabu, Desember 10, 2008 in Mind, Tentang Berita Sekitar

 

Tag: , , ,

Quote 20 : STOP AIDS

Musuhi Penyakitnya

Musuhi Kebiasan Penyebarannya

Sayangi orang-orangnya

Sayangi kesehatan daripada kenikmatan sesaat

.

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Senin, Desember 1, 2008 in Mind, Tentang Berita Sekitar

 

Tag: , ,

Quote 17 : Menolak Sinetron…!!!

 

MENOLAK SINETRON INDONESIA…..!!!

.

.

“Entertaining is good,

but Enlightening is more important…”

 

 

 

Catatan : kata-kata ini diinspirasi oleh kuliah Pengantar Ilmu HI yang dibawakan oleh Pak Mochtar Mas’oed. Wow…!karena beliau saya menyadari bahwa Education is not only a transfer of knowledge but also a transfer of Value. salut buat pak Mochtar…! 🙂

Itu Sudah

(na)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Selasa, Oktober 21, 2008 in Mind, Tentang Berita Sekitar

 

Episode 14 : Tentang The ESQ Way 165


Assalamualaikum, wr, wb

semoga selalu dilimpahkan keselamatan dan kedamaian untuk semua saudaraku….
Bismillah, dimulai dengan niat yang tulus mencari Ridho ALLAH

Sesungguhnya Training ESQ memberikan banyak pencerahan dan pendangan yang baru dalam kehidupanku. Jika aku diminta untuk menceritakan kesan-kesanku, mungkin satu minggu diskusipun gak bakal abis buat dibicarakan.  Tapi sekarang tulisan ini dilatar belakangi oleh beberapa pendapat dan masukan tentang mahalnya biaya ESQ yang pernah aku baca di sini. Hmm boleh aku juga ikut nimbrung memberikan pendapat ??? oya, untuk informasi aku alumni Training ESQ Mahasiswa 7 Yogyakarta.

Menurutku mengikuti training ESQ laiknya seperti memilih salah satu jalan ke Roma (meski belum pernah kesana :P) namun Roma disini adalah, hidayah. Pertanyaanya, apakah jalan menuju Roma (hidayah) hanya ada satu??

tidak.

Menurutku training ESQ merupakan salah satu jalan menuju Roma.

pertanyaan selanjutnya : apa bisa menggunakan jalan yang lain?

tentu.
mengikuti pengajian, tafakur, training yang lain. pernah mendengar Training Shalat Khusyuk, atau Shalat Tahajjud

bagaimana dengan biaya yang mahal?
kembali ke perumpamaan jalan ke Roma, bukankah tidak semua jalan juga mulus, ada jalan aspal yang baru dibuat yang membuat penggunanya merasa nyaman, ada jalan berkerikil dan sempit yang butuh lebih banyak tenaga. kita bisa pergi kesana dengan mobil mewah di ruangan ber-AC, atau bisa juga dengan berjalan kaki. begitupun dengan petualangan menemukan kebenaran-Nya. namun perjalanan ini unik kawan, tidak berarti yang kendaraannya lebih mewahlah yang lebih cepat sampai dan bahagia, karena semuanya hanya ditentukan oleh niat yang tulus dan gigih.
bisa jadi dia bermobil mewah, namun niat yang tidak kuat membuatnya singgah disana-sini, bisa jadi dia hanya berjalan kaki di jalan yang terjal dan berbatu, namun niat yang tulus telah memacunya untuk berlari secepat kilat.

intinya : saudaraku, untuk yang sudah mengikuti training ESQ alhamdulillah kita telah diberikan rezeki dan kesempatan untuk mengikutinya, namun semoga kita terjaga dari mengagungkan suatu golongan dan memandang rendah golongan yang lain. Bukankah ALLAH melihat kita berbeda hanya dari amalannya? namun, tanpa menafikan hidayah yang telah kita dapat dalam training ini, mari kita sebarkan nilai-nilai 165 tdak hanya untuk diri kita ataupun para alumni, namun untuk semua, semuanya! mari kita jihadkan amalan kita untuk mengaungkan asma-Nya.

saudaraku, untuk yang belum mengikuti ESQ dan ada niat untuk ikut namun masih ada beberapa hambatan,, saya ucapkan selamat berjuang kawan! semoga ALLAH bisa memberikan jalan-jalan pilihan yang bisa kita tempuh karena niat kita memang tulus untuk mencari Ridho-Nya

saudaraku, untuk yang kurang menyukai ESQ. anggaplah ini hanya salah satu jalan, terkadang memang ada orang yang tidak menyukai jalan-jalan mewah yang menawarkan nuansa ketenangan, kedamaian yang mendukung konsentrasi untuk mencari pengalaman spiritual. Namun kawan, semoga rasa itu tidak menghalangi atau menggentarkan niatmu untuk tetap mencari kebenaran di balik misteri keagungan ALLAH ^_^

ikut atau tidak, marilah bersama-sama kita niatkan dengan tulus untuk mencari hidayah ALLAH dan marilah kita sama-sama berdoa semoga terhindar dari sifat Raja Namrud yang berbuat ingkar setelah diberikan hidayah oleh ALLAH…karena perjuangan ini belum selesai, belum, hingga nanti… saat kita dipertemukan oleh Dzat yang menganugerahkan kehidupan ini.

akankah saat itu kita tersenyum atau tersedu menyesal?? astagfirullah…

mohon maaf atas kesalahan kata yang menyinggung, itu adalah kekhilafanku sebagai manusia yang tak sempurna. Namun jika ada kebenaran yang menyentuh anggukan universal di hati, itu hanya datang dari ALLAH.

wa’alaikumsallam ya akhi ya ukhti


Itu Sudah

(na)

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Jumat, September 19, 2008 in Mind, Tentang Berita Sekitar

 

Tag:

Episode 6 : Layang-Layang

 

kuambil buluh sebatang
kupotong sama panjang
kuraut dan kupintal dengan benang
kujadikan layang-layang
berlari… bermain…
bermain layang-layang
bermain kubawa ketanah lapang
hati gembira dan riang….

Kawan… musim layangan sudah tiba. Tak peduli harga BBM melambung tinggi menyaingi layangan, tetap saja senda gurau anak-anak bermain layang-layang masih sering kudengar setiap sore hari.

Meski aku bukan seorang pelayang (pemain layangan -red) tapi terkadang aku suka memperhatikan orang-orang bermain layangan. Ingat! Layang-layang tidak mengenal batas umur, jenis kelamin, ataupun status. dari anak kecil yang lagi ingusan sampai orang tua yang kumisan pernah aku lihat bermain layang-layang. Dan saat ini aku merasa tidak cukup jika hanya menjadi penonton atau penggembira saja, aku sedang ingin menulis tentang mainan yang satu ini!

Let’s talk about it dear folks!

Udah pada tahu kan bagaimana cara membuat layang-layang?? Ini aku kasi contekannya sedikit, tapi maap tidak disertai penjelasan detailnya, karena eh karena, panjaaaaaaaaaang, hehe. Kalo mau lihat klik aja di-sini

 

Cara membuat layang-layang

Dari sumber yang sangat bisa aku percaya, layang-layang bisa dibedakan menjadi dua. Layang-layang hias dan layang-layang untuk diadu. Dari penampilannya, layang-layang aduan memiliki bentuk yang sangat khas , segi-empat-polos atau bahasa matematikanya : ya, Layang-layang !!!(fufufu :P) sementara layang-layang hias biasanya lebih banyak improvisasi dalam bentuk, bisa berupa ikan, burung, naga, segi-empat-berekor atau mungkin bentuk topeng, de el el (sayang belum pernah aku melihat layang-layang bentuk binatang kesayanganku, pinguin! ) Menurutnya lagi, ada dua tipe pelayang. Yang pertama adalah mereka yang menerbangkan layang-layang dan hanya ingin menikmati sensasi seni membuatnya terbang dan menikmati pemandangan saja. Sementara tipe yang kedua adalah mereka yang ingin bersaing dengan pelayang lain dengan cara mengaitkan benang layang mereka dengan layang yang lain, menarik ulur, dan jika benangmu lebih kuat maka kamu akan bisa menjatuhkan layang-layang lawanmu dan kamu menang! Mungkin tipe yang kedua ini lebih mencari sensasi persaingan dalam bermain layang-layang.

Layang-layang itu ternyata juga memiliki kasta ya?

Kastanya diukur dari seberapa panjang ekor layang-layangmu dan seberapa tinggi kamu bisa menerbangkannya. Hal ini terjadi di desaku, Bajera (Kabupaten Tabanan, Bali). Dulu aku ingat banyak anak laki-laki memotong-motong tas plastik dan menempel-nempelkannya di layang-layang mereka. Berlomba-lomba mereka pun pergi ke tempat-tempat yang lapang hingga mereka bisa mengulur benang mereka sepanjang mungkin sehingga bisa mencapai ketinggian layang-layang yang maksimal. Jika ingatanku tidak salah, bahkan pemuda-pemudapun turut berpacu dalam kompetisi-siapa-paling-tinggi ini.

Layang-layang itu gak kalah seru dengan sepak bola!

Setahuku, dibeberapa tempat di Indonesia setiap tahunnya diadakan festival layang-layang. Di Bali misalnya, festival ini biasanya diadakan di daerah pesisir pantai. Mengapa gak kalah seru dengan Bola? karena aku mengukur ‘seru’ dengan indikator animo masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam acara ini. Seperti sepak bola, banyak pemain banyak pendukung, begitupun layang-layang. Bahkan warga satu desapun bisa saling bekerjasama untuk membuat layang-layang sebesar,seindah,semegah,seunik mungkin untuk ditampilkan di dalam festival. Beramai-ramai dan berdesak-desakan di atas truk mereka menggotong layang-layang kebanggaan mereka untuk diperagakan dengan warga desa yang lain. Kepuasan tertinggi mereka tentu saja bila layang-layang “ter—-” mereka itu bisa terbang tinggi melebihi yang lain. Take the positive side, tanpa sadar mereka telah bersatu dan bekerjasama dalam kesatuan visi-misi menciptakan layang-layang paling indah dan paling tinggi.BUkankah akan lebih baik kalau kita juga selalu bisa merasakan “feel” yang sama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita? Memiliki cita-cita yang sama, Pancasila!


Pengalamanku bermain layang-layang?

Yah,,, aku mengaku kalo aku belum pernah sekalipun berhasil menaikkan layang-layang melebihi tinggi pohon kelapa. Belum tahu tekniknya. Pengalaman terakhir bermain layang-layang,,, kira-kira beberapa minggu yang lalu. Saat itu, aku sedang senggang di kampus dan sedikit suntuk dengan rutinitas. Kuputuskan untuk bertandang ke kantin UPT Unit I UGM, kantin Ibu Halimah, tempat biasanya aku nongkrong. Salah satu comfort zone-ku dalam kesendirian. Seperti biasa, aku pesan makan, ngobrol dengan Ibu Halimah, dan menggoda Dewi (anaknya bu Halimah-red) gadis kecil kelas 2-3 SD (aku lupa) yang setiap kedatanganku selalu marah-marah tapi mau (hehehe), bikin aku tambah gemes buat godain dia. Tapi tumben, saat itu dia sedikit lebih bisa diajak ngobrol dari biasanya. Ya sudah, kuputuskan untuk mengajaknya bermain di lapangan-rumput-hijau-kecil di depan kantin perpus. Saat itu dia membawa layang-layang dan mengajakku untuk bermain bersama. WHAT??? Layang-layang??. Dalam hatiku, aku sedikit malu, takut ketahuan kalo gak bisa main layang-layang (:P fufufu). Tapi untung gak bisa dicegah, malang lagi gak berpihak (;)) dia-nya juga gak bisa main layang-layang (horayyy :d). Jadi,,, yaaa sesama bukan pelayang dilarang saling mengejek!

Sayangnya, benang layang-layang kita terserabut-seliweran-kusut-gak-karuan. Akhirnya kita menghabiskan 15 menit untuk menguraikan benang kusut itu. Tapi, benangnya ternyata tidak terlalu panjang, kalo coba kuukur-ukur mungkin tidak lebih dari 5 meter. Awalnya kita pakai cara konvensional, Dewi memegang layang-layangnya, aku pegang ujung talinya, dan ketika benangnya sudah tertarik kencang aku hitung sampai tiga, dan secara bersamaan aku menarik benangnya dan Dewi melepaskan layang-layangnya. Tadaaaaaaaaaaaaa. Layang-layang kami hanya mengudara selama 3 detik! gak kurang gak lebih. Kita coba tukar posisi, tapi hasilnya sama saja. Akhirnya, karena hasrat kita untuk bermain layang-layang sudah tak terkendali (ck ck ck bahasanya aneh ya!) akhirnya kita memakai metode kita sendiri. Menerbangkan layang-layang dengan tetap berlari. Jika aku lelah membawa terbang layang-layang kuserahkan benangnya ke Dewi, begitu terus , teruuuus, teruuuus, hingga kita lelah karena berlari. Meski sedikit tidak nyambung, tapi aku ingat sebuah dialog yang diucapkan Jenny pada Forrest Gump ” Run Forrest, runnnn…”

Sensasinya??

Narsis tak dapat dicegah, jari-jari ini tak berhenti menekan tuts tuts keyboard, sejenak aku merasa seperti bintang iklan sebuah produk body lotion yang sedang berlari dengan anak-anak di tepi pantai dan bermain layang-layang, tapi bintang iklan yang ini tidak memakai baju tipis yang merumbai-rumbai dan sesekali memperlihatkan bagian tubuh yang terlihat mulus….putih….mulus…putih… (kumat…kumat…. 😛). Tapi yang pasti saat itu aku berada di salah satu puncak tertinggi kenyamananku bisa tertawa lepas,,,, berlarian bebas,,, gak peduli dipandangin ‘aneh’ oleh orang-orang yang lewat,,,,, mengenal sebuah ungkapan ‘tak acuh’,,,,,dan lepas dari semua suntuk dan kepenatan dalam rutinitasku…. sensasinya, LUAR BIASA!! ^_______^

Ngomong-ngomong tentang layang-layang nie,
Ada sebuah kalimat bijak tentang layang-layang yang aku tahu dari seseorang yang kujuluki ATYPK…

“Layang-layang dimainkan dengan kepala tegak, bukan menunduk! Layang-layang diterbangkan bukan dengan wajah menatap ke bawah, tapi dengan menatapnya ke angkasa! Sama seperti hidup, layang-layang adalah tanda agar kita selalu percaya bahwa optimisme dimulai dengan membangun harapan, bukan dengan kesedihan…Terus Kepakkan sayapmu, biatkan cobaan itu membuatmu kuat, biarkan jiwa-jiwa sabar menjadi penyejuk bagimu, jangan putus asa dan lemah hati!”

…………..

………..

Nah Kawan, gantian nie…
Kalo kamu,,,,
apa ceritamu tentang layang-layang ?
adakah kata-kata bijak yang kau tahu tentang layang-layang?

Kawan,,,
saat kau pandangi langit beserta seluruh isinya…
saat kau pandangi layang-layang terbang di angkasa dengan gemulainya…
saat kau bisa tersenyum hanya dengan memandang itu semua
masih adakah nikmat Tuhan yang Engkau dustakan ???

—tetap memuji-Mu dalam setiap degup yang berdetak—

 

 

……………………………………………………………………………………………..

Kamu : apa kata-katamu tentang layang-layang, na?
Aku :” Cintailah ia seperti layang-layang, kau ulur dan biarkan ia bebas terbang bahagia menggapai cita-cita dan menjadi dirinya sendiri…namun tetap mengingatkan dan menariknya kuat bila ia kehilangan arah dan hampir terjatuh. BUkankah saat kau temukan dirinya, kau berharap dia bisa terbang setinggi mungkin dan hal itu membuatmu bahagia ???

Cinta seorang pelayang adalah Cinta yang Ikhlas…

……………………………………………………………………………………………….

 

Itu sudah.

(na)

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Minggu, Juni 1, 2008 in Mind, Tentang Berita Sekitar