RSS

Arsip Kategori: Prosa

Prosa : Catatan Seorang Istri

Menunggu

Banyak yang meragukan mengapa kita harus menunggu. Bahkan lebih banyak lagi yang tidak menyukai menunggu. Menunggu adalah perpaduan antara rindu dan pasrah yang tak menentu. Mungkin ketidakpastian adalah duri dari semua penantian. Tak ada orang yang ingin terluka, hingga tak ada orang yang mau bersabar menghadapi sakit dalam menunggu.

Aku adalah orang yang terlalu banyak menunggu dalam hidupku. Hingga lucunya, mungkin tubuhku telah terbiasa dengan rasa sakitnya dan kini aku menikmati setiap ketidakpastiannya. Mau mencoba?

Hari-hariku berjalan dengan menunggu. Setiap pulang kerja, aku mampir ke minimarket terdekat mencari bahan masakan dari resep baru yang aku cari di pagi harinya. Di kasir aku menunggu, mataku terbiasa menatap iklan baru yang biasanya terpampang di dekat pintu keluarnya. Atau telingaku sudah hapal pembicaraan ringan para penjaga minimarket hingga kadang mulutku ikut nimbrung dengan mereka. Sekedar mengisi waktu saat menunggu.

Tiba di rumah, aku bergegas menyiapkan makan malam spesial dan merias diriku. Hari ini menunya adalah ayam presto. Aku menunggu ayam yang sedang dipresto hampir satu jam. Jemariku refleks menekan tombol radio dan badanku terbiasa untuk bergoyang kecil mengikuti irama. Sekedar menikmati waktu saat menunggu.

Jarum jam sudah di angka tujuh. Seharusnya dia sudah pulang. Tapi belum ada tanda-tanda sama sekali. Kenyamananku menunggu sedikit terusik. Kali ini rindu telah mengaburkan keseimbanganku dalam menunggu. Tanganku menekan tuts-tuts handphone:

“Hari ini pulang jam berapa sayang, makan malam spesial uda siap nie 🙂 “

Lima menit aku menunggu. Belum ada jawaban. Tujuh menit, keseimbanganku terusik lagi. Sabar,, aku mencoba menenangkan hatiku. Saat seperti ini, hatiku refleks mengulang kalimat dzikir. Semoga semua baik-baik saja. Sepuluh menit kemudian handphoneku bergetar

” ini baru aja keluar kantor, see you soon pumpkin 🙂 ”

Hatiku makin berdegup. Entah mengapa, menunggu selalu membuatku rindu. Padahal kami telah bersama selama sepuluh tahun, tapi tetap saja saat aku mengantarnya berangkat ke kantor di pagi hari, saat itulah hatiku memulai menunggu saat kami akan bertemu kembali. Sesungguhnya bukan karena aku terlalu mencintai dia, karena menurutku cinta itu adalah rasa yang hilang timbul. Jangan pernah menunggu cinta, bila tak ingin kecewa. Tapi menunggulah dengan cinta karena engkau ingin menghargai setiap detik dalam prosesnya.

Bagiku hidup ini adalah menunggu. Menunggu untuk tidak hidup lagi. Menunggu untuk rahasia hidup selanjutnya. Ada banyak sikap yang bisa kita lakukan saat menunggu. Dan setelah bertahun-tahun berlatih menunggu aku belajar untuk mengisi waktu dan berdamai saat menunggu. Dan dia, suamiku, adalah pasanganku dalam menunggu kejutan-kejutan yang diberikan hidup. Menunggu ketetapan Tuhan bersamanya adalah anugerahku.

tok..tok..

Itu dia. Aku berlari kecil ke depan cermin mematut diriku sebentar. Senyumku mengembang, perlahan membuka pintu. Mencium tangannya, mengecup ringan pipinya, dan berbisik ditelinganya.

Selamat datang, telah lama aku menunggumu… kekasihku”

————-

Itu Sudah

(na)

source gambar : http://redragonfly.files.wordpress.com/2010/05/waiting-for.jpg


Iklan
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Senin, September 26, 2011 in Heart, Prosa

 

Tag:

Prosa : Secret Admirer

Untukmu,

Hai, kita pernah bertemu dua kali, di bulan Agustus dan Juni. Tapi aku yakin engkau tak pernah tahu bahwa aku sudah memikirkanmu setahun sebelum pertama kita bertemu. Ajaib ya! sejak pertama aku mendengar cerita tentangmu aku tahu engkau adalah orang hebat yang aku kagumi. Iya, kamu hebat dengan kebiasaanmu dan apa yang telah engkau arungi. Sudah aku katakan padamu? Iya, aku kagum padamu, kagum setahun sebelum kita bertemu…

Agustus

Ini adalah hari yang paling aku tunggu selama setahun. Tiga bulan sebelumnya aku pernah mendengar suaramu dalam telepon, hanya 5 detik. Iya, 5 detik yang berarti untukku karena akhirnya aku bisa mendengar suara orang yang kagumi. Sedari pagi aku coba mematut diri lama di depan cermin, aku bukan orang yang pintar berpenampilan tapi hari itu aku ingin memberikan penampilanku yang terbaik. Aku pakai baju pinjaman dari saudaraku karena tak ada satupun bajuku yang bagus di lemari. Dalam setiap langkah menuju tempat kita bertemu aku hanya bisa berdoa, kakiku gemetar tak karuan. Aku memang orang yang berani bertemu dengan siapa saja, tapi kalau sudah bertemu orang yang aku kagumi penyakit bekuku keluar. Tuhan, mengapa rasanya harus seperti ini…

11.15

Iya itu dirimu dibawah pohon , sedang bersama dia kesayanganmu. Dari jauh aku tersenyum, tidak ada rasa cemburu dalam hatiku karena bagiku kesayanganmu, kesayanganku pula. Aku coba dekati dirimu dengan langkah malu-malu, gemetar tanganku bersalaman dengan tanganmu. Dan dari puluhan paragraf yang sudah aku siapkan untuk bersamamu aku hanya bisa berucap “se..nang..bisa..bertemu dengan..mu” lalu aku kehilangan akal dan merasa kepalaku sangat nyeri dan aku berbalik arah menjauhi mu. Sekilas aku lihat ada senyum kecewa di matamu dan aku tahu saat itu aku telah gagal.. iya aku gagal…aku telah gagal menyampaikan perasaan kagumku padamu, justru malah berlaku tak sopan mengecewakan perasaanmu. Adakah pencinta yang lebih buruk dariku?

Aku pulang tanpa akal. Dan seperti yang aku duga engkau tak mau bertemu denganku lagi. Engkau bahkan menolak keberadaanku dalam hidupmu. Engkau menganggapku penganggu. Iya penganggu.

Kau tahu, tak ada sehari pun aku lewatkan tanpa mendoakan kesehatanmu, kebaikanmu. Aku masih mengagumi dan kerap mendengar cerita tentangmu saja itu tak mengapa bagiku, meski selalu ada yg menyayat bila mendengar namamu.

Juni

Aku bertemu lagi denganmu dan kesayanganmu. Kali ini aku berpenampilan lebih rapi dan berusaha lebih tenang. Aku senang akhirnya aku bisa berbicara denganmu, meski aku tahu senyummu itu bukan untukku tapi untuk menyenangkan dia tak mengapa. Aku bersyukur telah bertemu denganmu. Tapi, aku masih melihat guratan kecewa itu di matamu, sungguh! bagaimana caraku menghilangkannya?

Kini

Telah setahun semenjak pertemuan kita terakhir. Aku dengar engkau telah menutup pintu untukku.benar-benar menutupnya. Apa lagi yang harus aku lakukan. Aku tahu engkau menutupnya bukan karena engkau dendam, sungguh engkau adalah orang berhati tulus yang pernah aku tahu. Tapi engkau hanya ingin menjaga dunia kecilmu bersama dia, kehadiranku bisa mengganggu kalian.

Selama setahun aku tertidur dan terbangun dengan air mata. Berharap rasa bersalah yang menyiksaku menguap. Aku adalah pencinta terburuk. Mengecewakan orang yang paling dikagumi. Bodoh!

Kau tahu, doa-doaku tak pernah berubah untukmu. Selalu sama, untuk kesehatanmu dan kebahagianmu. Hanya sebulan ini aku meminta padaNYA, kalau boleh aku mengetuk hatimu sekali lagi, izinkan aku meminta maaf. Saat itu aku masih belum bijak melihat hidup dan terlalu mementingkan perasaanku. Sejak pertama aku mengagumi hingga sekarang ada banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan dari kebisuanmu. Kalau boleh aku mengetuk, aku hanya ingin meminta maaf dan berkata “semoga engkau selalu berbahagia dengan dia kesayanganmu”. Kalau memang aku hanya pengganggu dalam dunia kecilmu, tak mengapa aku akan pergi walau sesungguhnya hatiku selalu ingin bersamamu.

Kamu,

Mungkin engkau tak kan pernah membaca suratku ini, karena aku hanyalah pencinta buruk yang pengecut. Aku hanya punya Tuhanku dan meminta agar suratku ini dia hembuskan dalam relung hatimu. Bersama angin musim panas dan lantunan ayat suci.

Dari,

Pengagum Rahasia

(anak yg tak kau inginkan)

source gambar : https://geknana.files.wordpress.com/2011/06/secret-admirer.jpg?w=261

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Kamis, Juni 2, 2011 in Prosa

 

Tag:

Prosa : Saat Tak Bersamamu

Love is like a landscape which doth stand
Smooth at a distance, rough at hand.

(Robert Hegge)


Jarak, adalah definisi yang absurd dari sepi dan ketiadaan. Ribuan mil membentang antara dua insan yang saling menyayangi tetap saja bagi mereka begitu dekat. Begitu juga beberapa inchi bagi mereka yang saling mengacuhkan tak pernah bersapa. Hahh.. mungkin seharusnya kita tak harus menyalahkan jarak itu, tapi ketiadaan yang tak sanggup kita kubur dengan air mata dan kepedihan lebih lagi kepalsuan.

“Mau sampe kapan lo nunggu hal yang ga pasti, Anna?”

Pertanyaan Rina,sahabat satu tim risetku di Bosscha 4 hari yang lalu selalu menghantui benakku. Ah Rin,andai saja kau bisa menggunakan teleskop bintang favorit kita, yang selalu kau seka bersih seminggu sekali itu, untuk menerawang jauh ke dalam hatiku, pastilah kau tidak perlu menanyakan pertanyaan bodoh itu. Aku sedang tidak menunggu, tapi inilah jalan sedang aku pilih Rina, jarak.

Untuk merasa dekat, bukankah kita harus menyelami apa itu jauh? Untuk merasa kebersamaan, bukankah kita harus menghadapi ketiadaan? Itulah jalan yang aku pilih Rin, menghargai kedekatan dan meyakini kebersamaan. Mungkin aku masih terlalu dini untuk mengenal Cinta, seperti katamu yang selalu membuatku tersenyum

“Klo lo mau ahli urusan Cinta, lo harus kenyang ma pengalaman sis, come on di dunia ini laki-laki bukan cuman dia!”

Tapi aku hanya ingin seperti rembulan Rin, yang dengan setia mengitari bumi dan hanya bumi saja. Kukira ialah bumi yang layak aku ikuti, bersamanya aku ingin berotasi mengitari pusat gugusan planet kita, mentari.tapi apalah yang kau bisa mengerti sahabatku, pertanyaan-pertanyaanmu selalu saja membuatku mati kutu.

“Pernahkah ia mengatakan sayangnya padamu? atau ingin hidup disampingmu?”

“Anna, yang namanya Cinta itu ya harus dikatakan lah, mana ada orang yang ketemu aja jarang bisa saling mencintai. Lo yakin, di Helsinki sana dia ga bareng sama cewek seksi yang kerja sekantor ma dia, atau jangan-jangan malah dia cuma nganggep lo kayak sodara dan ga pernah nganggep lo sebagai perempuan An!” aku cuma bisa tertunduk memainkan penaku mendengar kata-katanya.

Dengan terbata-bata aku cuma bisa bilang “ak-u per-ca-ya ma di-a Rin,ta-pi ga se-gam-pang i-tu ki-ta bi-sa bi-lang sa-yang, Rin, se-mu-a-nya ud-a be-ru-bah…”

Berusaha meredam emosiku, Rina berkata pelan “Anna, gue tahu apa yang lo hadapin berdua itu berat banget. mungkin aja gue ga bisa kuat kayak lho. tapi ini uda berapa tahun kalian kayak gini An, saling sayang tapi ga ada satupun yang berani bilang sayang, sebagai sahabat gue kadang sedih ngeliatin lo.. lo ga harus tersiksa dengan keraguan dan ketakutan , suatu saat lo harus berani mengutarakan apa yang lo yakinin. karena lo tahu, bila apa yang lo yakinin sama dengan yang dia yakinin maka seluruh galaksi akan mengaminin keyakinan lo bedua An, dan itu dimulai dengan satu langkah, Berani

“apa yang bisa gue lakuin Rin?” sahutku sambil beranjak menuju jendela. langit Bosscha malam ini sangat terang, esok adalah malam purnama dan bulannya malam ini bersinar lembut kekuningan.

sambil memegang lembut pundakku Rina berbisik pelan “gue mau turun ke bawah dulu nyiapin kopi buat nemenin kita jaga malam nanti, sementara itu gue berharap lo uda ketemu cara buat ngilangin ‘jarak’ lo ma lelaki perantau  itu..”

sepeninggal Rina, tak ada yang terlintas dibenakku selain menuju teleskop raksasa itu dan memandang langit lebih dekat. aku lihat bulan yang berotasi sangat pelan, aku pandang miliaran bintang seolah berkedip-kedip lembut kearahku dan saat kupandang mentari hatiku berdegup, bagai tersengat listrik pikiranku terpaku pada satu ide gila yang selalu takut aku lakukan, namun entah mengapa malam ini aku sudah tak sanggup lagi menahannya. biarlah, biar semua ketakutan itu aku hadapi.aku pejamkan mata ,tarik nafas pelan dan berdoa..

tanganku meraih handphone merahku, dan terpatah-patah aku tulis sebuah pesan yang amat singkat. tiga kata. tiga suku kata yang setiap detik melintas di benakku namun tak sanggup aku ungkapkan, tiga suku kata yang aku takut bila terungkap hanya akan menambah jarak yang membentang diantara kami.

From : Annaelis
To : Riza

I miss you...

sent!

5 menit aku menatap kosong ke layar handphone. entah apa yang kurasakan, semuanya seperti tercampur, takut, cemas, berharap. Bodoh! ini semua gara-gara Rina, seharusnya tak kuikuti sarannya. Bagaimana jika akhirnya jarak itu semakin jauh? atau malah terputus? Ahhhh.. sudahlah, setidaknya aku telah mencoba dan kini aku hanya bisa memandang langit dan menenangkan diri dengan kedipan lembut miliaran bintang. Iya, aku yakin, aku yakin padanya. aku yakin pada diriku sendiri. kututup mataku dan berdoa..

drrttt….drrrttt…

deru getar handphoneku menambah deras degup jantungku.aku buka pelan-pelan pesan singkat darinya.. nafasku terhenti sesaat dan air mataku muncul tak kuasa,

From : Riza
To : Annaelis

I miss you more…

seolah tak percaya, aku baca berulang-ulang pesan singkat itu. Dia pun merasakan hal yang sama. tiga suku kata itu juga ada di sudut bibirnya. Aku beralih ke teleskop dan melihat miliaran bintang-bintang. selama beberapa menit itu aku merasa jarak antara dia dan aku menghilang. seperti rembulan dan bumi, saling terpaut dengan gravitasi dan selalu berputar mengelilingi mentari. selalu. mungkin balasan yang ia kirimkan itu seperti pasang laut yang hendak menggapai rembulan di kala purnama. apapun itu, jarak itu tiada dan entah untuk berapa lama, aku tak bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan, tapi untuk saat ini, cukup aku nikmati kebersamaan tanpa jarak ini.

langkah kaki Rina mendekat menaiki tangga, sambil membawa dua cangkir kopi panas ia bertanya

” gimana An?”

sambil tersenyum aku jawab pertanyaan sahabatku ini

“enough for now..”

…….

.

Itu Sudah

(na)

ps : Kunjungi Bosscha di http://bosscha.itb.ac.id/

Tetap Semangat untuk para LDRers, Love will find its way 🙂

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Jumat, Juli 2, 2010 in Prosa

 

Prosa : TU Delft

Fatimah

Akhirnya, sampai juga aku disini. Di menara tonggak pengetahuan berbentuk kerucut, TU Delft Library. Tersenyum aku membayangkan bagaimana aku harus membujuk keras Kak Toni, Presiden PPI London untuk mengijinkanku ke Den Haag menjadi perwakilan di konferensi PPI sedunia. “Tapi kamu kan sedang thesis Imah…bagaimana kalau nanti Prof. Anderson menagih progres thesismu??” sergah Kak Toni saat aku mengajukan diri di tengah rapat pengurus. “Tak apa kak, konferensi ini tidak akan mengganggu proses thesisku InsyaAllah” jawabku mantap. “.. dan kakak lah yang paling tahu, ada sesuatu yang membuatku harus ke Netherland” aku berusaha memandangnya tajam sebelumnya akhirnya dia mengangguk dengan pelan “kamu tahu yang terbaik untukmu, jaga dirimu Imah..”

Brrr…

Angin musim gugur mulai bertiup kencang..sayup-sayup suara daun-daun cokelat kemerahan mengusik keheningan kampus bersejarah ini. Aku merapatkan jaket ungu tuaku dan menatap langit yang penuh daun-daun berguguran itu “Tuhan, aku dan dia sedang menginjak kota yang sama…” Aku melangkah mengitari TU Delft Library, mengambil gambar kerucut nan eksotis itu dan memutuskan diri untuk duduk di atas rumput dekat kerucut itu.

Kini Davy Jones diary telah ada di pangkuanku, terinspirasi dari kisah bajak laut Davy Jones yang mengunci jantungnya di sebuah kotak, aku pun mencurahkan semua hati dan jiwaku pada diary ini. Diary ini mulai terlihat lusuh, mungkin karena terlampau sabar menemani Fatimah kecilku dan mimpi-mimpinya. Saat ini, Fatimah kecil ingin mengungkapkan lagi mimpinya;

***

” Tuhan, ini aku.

Sedang berada di sebelah gedung kerucut kampus impiannya dulu. Berada disini membuatku ingat akan obrolan-obrolan kami tentang mimpi dulu. Ia dengan matanya yg menyala bagai kilat menceritakan mimpinya untuk mengambil program MoT disini. Ia yang aku yakin, meski kenyataan selalu terlalu berat untuknya, tidak pernah sekalipun ia memadamkan mimpi-mimpinya. Ia yang bermimpi meraup selaksa ilmu disini dan mengamalkannya di kampung halaman kami. Mimpi-mimpi yang dulu pernah membakar semangat kami, meski akhirnya kenyataan tidak mengijinkan kami untuk bersama.

Tak sedetikpun pernah kulupa tautan waktu yang kami jalani bersama. Dukungannya saat aku harus menyelesaikan skripsiku, senyum bahagianya saat menemani sidangku dan menyambut diriku dengan toga. Tawa kerasnya saat iapun mengenakan toga dan menunjukkan pada dunia AKU BISA. Keteguhan akan pilihan hidupnya untuk berdiri di atas kaki sendiri. Senyum letihnya saat cobaan datang bertubi-tubi dalam hidupnya. Dan kesetiannya pada diriMU dan rasulMU,walau itu kepahitan yang harus ia telan…

Dulu, aku selalu meminta padaMU, ijinkan aku menemaninya di saat senang maupun susah. Ijinkan aku merawatnya di saat sakit dan mengingatkan untuk selalu tawaqal di saat sehat dan bahagia. Namun, aku dan ENGKAU tahu, aku telah melakukan kesalahan yang membuatMU berpaling dariku dan memisahkan kami karena saat itu bagiMU ini yang terbaik dan ENGKAU menagih janji taubatku untuk memperbaiki diri. Kini, saat seluruh hidup ini untukMU, masih bolehkah aku menyimpan rasa ini untuknya, dan tentu dengan seijinMU ya Rabb? Aku telah berusaha membuka hati dan memberi kesempatan laki-laki lain untuk masuk di dalam hidupku. Namun, sampai sekarang, ruang hatiku masih belum bertemu si pembawa kuncinya. Sudah adakah perempuan lain menghiasi ruang hatinya Rabb??

Astagfirullah..apapun itu, bantu hamba untuk menjaga ketulusan ini Tuhan. Hanya karena aku tahu, ENGKAU tak suka hambamu yang dirajai emosi. Hanya karenaMU Tuhan.

Pagi tadi, aku membuka lagi email-email yang ia kirimkan tentang berita diterimanya ia di sini, tentang bisnisnya yang kini sudah mulai berkembang, klien-klien yang menyenangkan dari luar negeri, bahkan ia berhasil membuka kantor cabang di ibukota dengan nama perusahaanya sendiri, tentang rencana belajarnya untuk mengembangkan usaha dan menyerahkan manajemen perusahaanya pada seorang yang ia percayai dan ia akan tetap mengontrolnya dari luar negeri. Sungguh air mataku tak dapat tertahan, sujud syukur padaMU Tuhan, ia berhasil melompat lebih tinggi. Mulanya tak kuasa, aku ingin membalas dan menceritakan bagaimana aku begitu bahagia dengan kesuksesannya. Bagaimana aku begitu bangga melihat fotonya di bandara yang didampingi oleh Ibunya tersayang. Senyum lebarnya tak pernah berubah..tapi saat jari-jariku hendak menekan tuts-tuts keyboard hatiku seolah berteriak “Jangan Imah! Jangan biarkan harapanmu menghalangi langkahnya lagi. Ia sudah sangat bahagia, jangan kau kurangi dengan harapan-harapan semumu lagi. Doakan saja dan lakukan tanpa ada harapan”

Tuhan, ini aku

Memilih untuk datang ke kampus impiannya, sebagai tanda syukur dan kebahagiaanku untuknya. Tolong jaga dia Rabb, moga ia mendapat teman-teman yang baik, guru-guru yang perhatian dan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Moga ia selalu menjadi anak yang berbakti dan membahagiakan Ibunya.  Jika rasa ini sudah ENGKAU ijinkan untuk hadir menghangatkan dirinya, tolong sampaikan padanya “I always feel you..”

Itu sudah.

***

Aku tutup Davy Jones diary dan beranjak pergi menuju Den Haag. Seorang laki-laki kulit putih, tinggi dan berambut kecokelatan menyapaku ” Hallo, are you a student here?” aku tersenyum ” Hallo, I’m not a student, I just sightseeing here. You got very artistic library building here. I took lots of pictures around” . Sesaat dia menatapku dan bertanya ” Are you from Indonesia?? you look a lot like my Indonesian friend” , ” Yes, I am Indonesian what’s your friend name”. Dengan mata yang berbinar ia meraih tanganku dan mengajakku masuk ke dalam gedung ” His name is Ali, we have an appointment here. He must be glad to meet Indonesian people here!!, I’m James by the way” Aku kaget, dan hatiku berdegup kencang. Nama itu. Nama yang meraung-raung di relung ini. Tidak! Hatiku bingung, di satu sisi aku ingin sekali bertemu dengan orang Indonesia itu, tapi di satu sisi aku tak ingin air mata ini tumpah dan melukai hatinya lagi. Lalu aku tarik tanganku dan berusaha menjelaskan pada James “James, sorry I know your friend Ali and I really want to meet him. But I can’t meet him now… please tell him, Congratulations I am happy for him” Lalu aku berpaling dan melangkah terburu-buru. “Hey wait!! at least tell me your name….” teriak James, yang aku balas hanya dengan senyuman..

Sore itu, angin musim gugur menemani langkahku menyisiri kampus impiannya. Kali ini tak ingin ada air mata, cukup dalam hati saja. Aku tersenyum.

*******************************************

Ali

Haaah….aku lepas kacamata dan menggosok-gosok mataku. Capek juga rasanya harus di depan komputer seharian, chatting bareng mama yang selalu khawatir apakah aku cukup makan disini, bagaimana dengan cuaca, etc. membalas email tangankananku, mengontrol cash-flow perusahaan, membaca laporan bulanan dan mengirim proposal-proposal proyek. Namun, mataku tak luput dari reply email darinya, gadis itu. balasan yang sangat singkat

From : Fatimah

To : Ali

Subject : Alhamdulillah

Alhamdulillah, I always know you can make it. Meet you on the top and never give up Ali.

Salam buat mama.

Fatimah

Meet you on the TOP. kata-kata yang seolah-olah berbusa karena terlalu sering ia katakan. Seharusnya aku bersyukur ia masih mau membalas emailku. Tapi sesungguhnya aku rindu dengan email-email panjangnya, cerita-ceritanya, humor-humor jayusnya, manjannya, perhatiannya dan semangatnya yang kadang aku ejek dengan bawel lalu ia akan mengerutkan bibirnya kedepan dan membentuk raut muka yang lucu itu… Fatimah

Mungkin ini memang yang terbaik, tapi setiap namanya melintas di pikiranku, hati ini seolah tersayat perih hanya karena mengingatnya. Rabb, dimanapun ia berada tolong jaga dan sayangi dia, melebihi aku yang selalu ingin melindungi dan tak rela melihat air matanya jatuh…

Huff!.. Aku harus kuat, inilah jalan yang kupilih. Kalau memang kami berjodoh biarlah Tuhan yang mengatur jalannya, aku hanya bisa melakukan yang terbaik. Menjadi anak yang berbakti, menjaga silaturrahmi dan tetap tawaqal.

Aku bergegas turun tangga menuju lobi, menunggu James sahabat belanda totokku. Hari ini kami akan mendiskusikan laporan tugas proyek yang kami kerjakan bersama. Belum 10 menit aku duduk, datanglah ia laki-laki kulit putih itu dengan napas yang tersengal-sengal ia memborongku “Ali!! You know what, i met a girl outside and she said she know you. I asked her to come and meet you but she said No. She just said, congatulations and she is happy for you..hahh hahh.. do you know who is she?? ” ..sambil mengajaknya duduk aku berusaha membuat sohibku ini tenang “calm down James, tell me how is she looks like, did she tell her name? ” “no unfortunately, she didn’t. she’s shorter than me, and looks just like you with veil dan dark purple jacket with white feathers around her neck just like a rabbit”

Jaket ungu tua dengan bulu putih?? Deg!! bagai kilat yang datang di siang bolong, aku kaget dan berdiri. Tak ada nama lain selain namanya yang terlintas sekarang. James mengamit tanganku ” hey, what happend Ali. Do you know her? “

“Not just know James, I feel her …. she is Fatimah”

************************

*Tetaplah menjadi bintang di langit,Agar cinta kita akan abadi,Biarlah sinarmu tetap, menyinari alam ini,Agar menjadi saksi cinta kita,
berdua… berdua…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Jumat, Mei 14, 2010 in Prosa

 

Tag: , ,