RSS

Arsip Kategori: Heart

Coretan : Tentang Tangan

“Tanganku, Cintaku, Komitmenku”
(geknana)

.

Tangan

Kali ini aku ingin bercerita tentang tangan. Sebuah mozaik di masa lalu yang tiba-tiba hari ini muncul lagi. Aku yakin, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua yang telah terjadi adalah takdir, dan beruntung bagi mereka yang belajar dan memperoleh hikmah darinya.Wallahualam

Saat itu aku kelas dua smp, kami mendapat tugas menggambar tangan dari Pak Guru Suwarna. Akupun yakin nama beliau bukan kebetulan membuat beliau menjadi guru kesenian di sekolahku. 🙂

Seminggu menjelang hari mengumpul tugas aku masih belum tahu bentuk tangan seperti apa yang akan aku gambar. Dua hari aku termangu memandang tangan kiriku. Aku gerakkan sedemikian rupa mencari bentuk yang pas dengan hatiku, hingga membuatku semangat menggambar. Lalu, aku membantu ayah mengangkat kardus yang cukup berat. Berat hingga aku merasa hampir tidak sanggup mengangkatnya. Ayah menasehatiku

dilemesin aja tangannya, biar ga cepet capek. klo berat banget istirahat dulu, trus angkat lagi. kalau sabar, semua terasa ringan”

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Saat aku mulai mengangkat lagi kardus itu, aku melihat tangan kiriku. Aha, ini dia! Bentuk tangan yang aku mau gambar. Saat itu pikiranku masih lugu, aku hanya mencari bentuk tangan dan mulai menggambarnya. Saat aku menyerahkannya, aku cukup puas dengan hasil karyaku. Pak Suwarna memberiku nilai 7.5. Lebih 0.5 dari nilai rata-rata menggambarku. Hehe.. Pak Suwarna adalah guru yang tidak pernah memberi angka 10 pada nilai kesenian. Kata beliau

“kesempurnaan seni itu hanya milik Tuhan, murid-muridku”

Jadi angka 7 adalah angka rata-rata. Tidak pernah ada angka 5 kebawah dalam kamus beliau, karena menurutnya setiap karya itu memiliki nilai seni. 6-6,5 berarti engkau ngerjainnya ngasal. 8 berarti luar biasa dan 9 berarti kamu dewa! haha… Dulu, cinta monyetku adalah dia yang tidak pernah absen mendapat 8 dan 9 di pelajaran seni lukis Pak Suwarna 🙂 .

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini

Sebenarnya itu adalah memori yang biasa saja, tapi hari ini aku belajar banyak dari memori itu. Beberapa hari lalu aku berdiskusi dengan my soul sister . Dia menunjukkan sebuah halaman yang menarik tentang cinta dan komitmen. Berikut kutipannya ;

Love is not using the person for your own pleasure. Much pleasure comes through it, but that is a by-product. You love the person as an end; you are committed………….

Attachment and love never go together; commitment and attachment never go together. Love goes with unattachment. Then love has a purity of the other world. Then love is absolute essence, absolute pureness, innocence. And then there is a commitment. That commitment is eternal.

source : Osho Book “Come Follow to You, Vol4”

Ahh.. Tuhan, kau membuatku memahami lagi, dari memori 10 tahun lalu yang hampir terkubur. Kali ini kata-kata hanya akan memudarkan makna dari hikmahNYA. Mendefinisikan adalah membatasi ketidakpastian dan imaginasi. Untuk sekarang, cukup dinikmati saja di antara benang merah sebuah gambar, kepingan memori dan kutipan buku.

Dan kau, yang membaca tulisan ini, kau juga tahu kan apa yang sedang aku pahami hari ini? 🙂

………..

Itu Sudah

(na)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Minggu, Oktober 2, 2011 in Coretan Saja, Heart

 

Tag: , , ,

Prosa : Catatan Seorang Istri

Menunggu

Banyak yang meragukan mengapa kita harus menunggu. Bahkan lebih banyak lagi yang tidak menyukai menunggu. Menunggu adalah perpaduan antara rindu dan pasrah yang tak menentu. Mungkin ketidakpastian adalah duri dari semua penantian. Tak ada orang yang ingin terluka, hingga tak ada orang yang mau bersabar menghadapi sakit dalam menunggu.

Aku adalah orang yang terlalu banyak menunggu dalam hidupku. Hingga lucunya, mungkin tubuhku telah terbiasa dengan rasa sakitnya dan kini aku menikmati setiap ketidakpastiannya. Mau mencoba?

Hari-hariku berjalan dengan menunggu. Setiap pulang kerja, aku mampir ke minimarket terdekat mencari bahan masakan dari resep baru yang aku cari di pagi harinya. Di kasir aku menunggu, mataku terbiasa menatap iklan baru yang biasanya terpampang di dekat pintu keluarnya. Atau telingaku sudah hapal pembicaraan ringan para penjaga minimarket hingga kadang mulutku ikut nimbrung dengan mereka. Sekedar mengisi waktu saat menunggu.

Tiba di rumah, aku bergegas menyiapkan makan malam spesial dan merias diriku. Hari ini menunya adalah ayam presto. Aku menunggu ayam yang sedang dipresto hampir satu jam. Jemariku refleks menekan tombol radio dan badanku terbiasa untuk bergoyang kecil mengikuti irama. Sekedar menikmati waktu saat menunggu.

Jarum jam sudah di angka tujuh. Seharusnya dia sudah pulang. Tapi belum ada tanda-tanda sama sekali. Kenyamananku menunggu sedikit terusik. Kali ini rindu telah mengaburkan keseimbanganku dalam menunggu. Tanganku menekan tuts-tuts handphone:

“Hari ini pulang jam berapa sayang, makan malam spesial uda siap nie 🙂 “

Lima menit aku menunggu. Belum ada jawaban. Tujuh menit, keseimbanganku terusik lagi. Sabar,, aku mencoba menenangkan hatiku. Saat seperti ini, hatiku refleks mengulang kalimat dzikir. Semoga semua baik-baik saja. Sepuluh menit kemudian handphoneku bergetar

” ini baru aja keluar kantor, see you soon pumpkin 🙂 ”

Hatiku makin berdegup. Entah mengapa, menunggu selalu membuatku rindu. Padahal kami telah bersama selama sepuluh tahun, tapi tetap saja saat aku mengantarnya berangkat ke kantor di pagi hari, saat itulah hatiku memulai menunggu saat kami akan bertemu kembali. Sesungguhnya bukan karena aku terlalu mencintai dia, karena menurutku cinta itu adalah rasa yang hilang timbul. Jangan pernah menunggu cinta, bila tak ingin kecewa. Tapi menunggulah dengan cinta karena engkau ingin menghargai setiap detik dalam prosesnya.

Bagiku hidup ini adalah menunggu. Menunggu untuk tidak hidup lagi. Menunggu untuk rahasia hidup selanjutnya. Ada banyak sikap yang bisa kita lakukan saat menunggu. Dan setelah bertahun-tahun berlatih menunggu aku belajar untuk mengisi waktu dan berdamai saat menunggu. Dan dia, suamiku, adalah pasanganku dalam menunggu kejutan-kejutan yang diberikan hidup. Menunggu ketetapan Tuhan bersamanya adalah anugerahku.

tok..tok..

Itu dia. Aku berlari kecil ke depan cermin mematut diriku sebentar. Senyumku mengembang, perlahan membuka pintu. Mencium tangannya, mengecup ringan pipinya, dan berbisik ditelinganya.

Selamat datang, telah lama aku menunggumu… kekasihku”

————-

Itu Sudah

(na)

source gambar : http://redragonfly.files.wordpress.com/2010/05/waiting-for.jpg


 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Senin, September 26, 2011 in Heart, Prosa

 

Tag:

Episode 48 : Ibn Batutta & Globalisasi

Dear Readers,

Sudah punya nutrisi otak untuk bulan ramadhan? ada banyak buku-buku dan majalah yang baru terbit yang layak untuk dibaca dan mengisi bulan Ramadhan kita kawan 🙂 salah satunya majalah TIME yang aku beli beberapa hari yang lalu ini.

Seperti judulnya topik utama yang diangkat dalam majalah ini tentang ISLAM. dan ada satu artikel menarik di 32 mengenai Ibn Batutta -The World Wanderer. Siapa lagi yang belum pernah mendengar namanya, penjelajah dunia di abad ke13. Wilayah yang dikelilingi hampir separo dunia.

Ada satu bagian dari artikel ini yang menarik karena bercerita bahwa globalisasi sudah dimulai sejak berabad-abad lalu. Ibn Batutta mengalamai globalisasi itu. Pengertian globalisasi adalah adanya intensifikasi hubungan di bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya yang melewati batas negara. Perjalanan Ibn Batutta yang melintasi Dar al-Islam membuat dia tercengang dengan perbedaan yang ada. Menurutnya di daerah Turkey dia menemukan beberapa istri yang mendominasi suaminya, terbalik pada budaya yang ia kenal. Di Maldives dia dipojokkan dengan cara berpakaian yang berbeda dengan penduduk asli. Ada banyak perbedaan yang ia temui meski dia berada di wilayah yang penduduknya sama-sama beragama Islam.

Dan adapun sekarang, bukankah kenyataannya juga demikian adanya? ada banyak budaya pada masyarakat Muslim di seluruh dunia. Ada kecenderungan gerakan Islam baru seperti yang sekarang sedang terjadi di jazirah arab atau lebih dikenal dengan Arab Spring. Gerakan ini lebih didasari pada isu yang universal seperti kemiskinan, lapangan pekerjaan dan kesejahteraan.

Hmm..membaca saja mungkin tidak cukup untuk bisa meresapi keindahan perbedaan dan persatuan Dar Al-Islam ini. Begitu indah pelajaran yang ia dapat dari perjalanannya hingga membuat Ibn Batutta berkata “Saya bukan penduduk Maroko, tapi Dar Al-Islam”

Bagaimana dengan kita?

Itu Sudah

(na)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Kamis, Agustus 4, 2011 in Coretan Saja

 

Tag: ,

Episode 47 : Uncertainty

Dear reader,

Sudah menginjak hari ketiga di bulan Ramadhan,seperti janjiku aku ingin bercerita lebih produktif lagi. Tapi aku tidak tahu apakah pengalamanku ini akan memberi manfaat bagi kalian. Yang pasti tiga hari ini aku belajar dalam hidup ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan di dunia, satu-satunya cara adalah tetap berencana karena rencana hidup itu adalah harapan, tetap berusaha karena usaha itu adalah ikhtiar dan ikhlas pada akhirnya karena apapun itu adalah anugerah Tuhan yang paling tepat untuk kita.

Malam pertama tarawih Alhamdulillah aku lalui dengan lancar di masjid kampus UGM. Semangatku sudah diubun-ubun, aku ingin Ramadhan yang optimal dan lebih baik tahun ini! Sehabis tarawih bergegas aku pulang dan bersiap tidur untuk sahur. Aku minta mama untuk menelpon sahur esoknya.

03.00

Aku terbangun, shalat tahajjud dan bergegas ke warung makan Flamboyan. Sudah penuh sesak mahasiswa-mahasiswi dengan mata-mata panda menyantap sahur. Warung ini spesial prasmanan, saat itu perutku belum terlalu lapar, jadi aku mengambil sup yang banyak dan buah berharap tercukupi kebutuhan gizi sepanjang hari.

04.20

Waktu imsak tinggal 5 menit lagi. Berdiam sejenak, berpikir akan shalat subuh dimana. Tiba-tiba aku merasa rindu, rindu dengan Ramadhanku tiga tahun lalu. Tanpa pikir panjang, bergegas aku ambil motor vario biruku dan melawan dinginnya angin subuh pergi ke Mushalla dekat kostku yang dulu, Primasari.

Sampai disana, mushalla masih sepi. Aku heran, tiga tahun lalu biasanya penghuni-penghuni kost putri itu sudah keluar lengkap dengan mukena mereka jam segini. Tiga tahun lalu, biasanya penghuni-penghunin kost putra di sebelah kami akan datang dengan sarung dan sajadah mereka yang terlipat rapi di pundak. Hmmm..aku menghela napas, ada banyak hal yang telah berubah dan tentu saja semua berubah di luar dugaan. Semua menjadi serba tak pasti, akankah Ramadhan aku bisa menjalaninya dengan lebih baik? Akankah Barakah itu hadir dan menerangi jalanku? tak apalah.. apapun ketidakpastian itu, aku hanya ingin selalu treasuring the moments.. dan kali ini niatku kesini untuk bertemu mereka, bidadari-bidadari Ramadhan.

satu halaman Quran sudah kubaca sekaligus maknanya saat adzan subuh berkumandang. Aku tersenyum, aku rindu adzan oleh bapak muadzin ini. Adzan yang pernah membangunkanku 3 tahun lalu. Dan Imam yang tak pernah berubah, selalu melantunkan surat Ad-Dhuha di rakaat kedua shalat subuh. Sekali lagi ,selalu. Imam inilah yang 3 tahun lalu membantuku menghafal surat ini. Mungkin dalam semua ketidakpastian di dunia ini,masih ada beberapa hal yang tidak berubah..mungkin karena keindahannya? Entahlah.. yang pasti aku bersyukur karena aku memilih untuk datang di mushalla ini.

Setelah shalat subuh, aku bersalaman ke kanan-kiriku dan berusaha mencari sosok anak-anak tapi tak kutemukan. Namun ada sosok gadis remaja satu shaf denganku yang wajahnya familiar dan diapun menatapku. Lalu aku coba untuk menyapa;

“Maemunah ya? “

“Iya,, mbak…..?”

“Wahh, masak udah lupa..” sedikit kecewa dia sudah lupa aku

“hehe,, maaf inget wajahnya tapi lupa namanya”

Hahahaha… tak apalah, sudah lebih dari dua tahun aku tak pernah kembali, pasti sudah banyak wajah baru dan nama baru yang ia tahu hingga wajah dan namaku tertumpuk di sudut ingatannya bagian kabur. Lalu aku mengobrol sebentar dengannya, menanyakan kakaknya Salma yang sekarang sudah kelas tiga smp. Dan aku berpamitan, “salam buat Ummi dan Abi ya”. Dan begitulah, rinduku terobati.

Sampai kos, semangatku masih membara dan aku lanjutkan dengan mencoba menambah hapalanku. Alhamdulillah 30 ayat An-Naba sudah lancar,, sedikit lagi.. sedikit lagi.. Entah sudah berapa lama aku mengulang-ulang surat An-Naba hingga aku tertidur dan terbangun..

07.00

Aku melepas mukena yang masih menempel saat aku tidur dan mencetak dahiku jadi mengkerut. Badanku terasa agak panas, mungkin karena semalam aku bersin dan meriang, mataku terasa berat.Aku berlalu ke kamar mandi, mungkin mandi akan membuatku lebih segar dan tanpa sadar aku akhirnya tahu, hari itu aku haid dan puasaku batal…La haula wala quwwata illa billah..

Cukup lama aku membutuhkan waktu untuk menenangkan diriku dari rasa kecewa karena aku tidak puasa dan beribadah di hari-hari pertama ramadhan. Hmm..meski aku telah berencana sematang apapun, Tuhan lah yang paling tahu apa yang terbaik. Tapi, semangat itu tidak mau pudar, aku malu, malu sama diriku sendiri jika karena kondisi tubuhku aku menyerah untuk meraih semua kebaikan di bulan ini. Segera aku list ibadah-ibadah yang masih bisa aku lakukan.. toh aku masih bisa belajar tentang Islam, menambah hafalanku dengan Quran digital, sedekah, silaturrahmi dan berdzikir,, dan tentu saja aku masih bisa menulis blog kan 😀

Hari itu aku belajar, dalam berencana kita harus selalu siap dengan ketidakpastian. Karena sesuatu yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian. Tetap berusaha adalah cara terbaik untuk berdamai dengan ketidakpastian. Dan harapan adalah tanda terkuat Cinta kita padaNYA.

Aku berharap, walau aku tidak bisa berpuasa cintaku masih tetap engkau ridhoi Rabb. Amiin

Itu Sudah

(na)

source gambar : http://noisywatersquietmind.files.wordpress.com/2011/02/mainpic4_uncertainty.jpg

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Kamis, Agustus 4, 2011 in Coretan Saja

 

Tag: , ,

Episode 46 : Resolusi Ramadhan

Dear Reader,

Alhamdulillah, bulan yang dinanti itu tiba dan alhamdulillah saya masih diberi waktu untuk kembali meluruskan niat, memohon ampun dan berdoa untuk hidup yang lebih baik dan diridhoi.. Marhaban Ya Ramadhan, izinkan hamba untuk memperoleh ridho dan barokahMU tahun ini ya Rabb.. amiin

seperti yang dulu,saya menyiapkan resolusi untuk memaksimalkan ibadah dan aktivitas selama bulan suci ini. buat yang belum menyiapkan resolusi, yuk kita siapin yuuk biar lebih semangat dan ceria ngejalaninnya insyaallah 🙂

ada beberapa cerita saya yang ingin saya bagi tentang bagaimana membuat resolusi ramadhan. moga bisa bermanfaat, dan kalau ada yang ingin memberikan masukan saya akan senang sekali kalau kita bisa saling berbagi ^^

1. Niat

segalanya berasal dari niat. termasuk juga membuat resolusi. sebelum kita membuat target-target apa saja yang ingin kita lakukan selama bulan ramadhan, baiknnya kita mulai dari meluruskan niat dulu. what do i want in Ramadhan? tentu jawaban dari pertanyaan bisa sangat subjektif tergantung dari kawan-kawan sendiri. tapi, kalau saya boleh kasi saran seperti iklan sebuah merek teh botol “apapun resolusinya, niatnya harus karena ALLAH” 😀

untuk ramadhan ini saya ingin lebih menjaga kesehatan, produktif dengan waktu, kontributif pada sesama, bertambah smart dan sholehah.. amiin

2. Breaking Down the Target

nah, kalau niatnya sudah ada saatnya kita breakdown menjadi target-target yang lebih jelas dan lebih baik lagi kalau bisa kita kategorikan menjadi beberapa aspek, kalau boleh saya memberi contoh ;

Habluminallah

1. Shalat lima waktu tepat waktu

2. Shalat sunnah rawatib dan dhuha

3. Shalat Tarawih di masjid

4. Khatam Al-Quran

5. Hafal surat An-Naba’ dan 1 surat jus 30 lainnya

6. Shalat Tahajjud

Habluminanaas

1. Sedekah minimal …………. (saya kosongin, monggo diisi sendiri sesuai kemampuan 🙂  )

2. Telpon mama setiap hari

3. No Gossip!

4. Silaturrahmi ke 20 kerabat/sahabat

5. Kenalan dengan minimal 5 kawan baru seminggu

6. Kajian/diskusi minimal 2 hari sekali

Menjaga Kesehatan

1. Strechting badan minimal 15 menit abis subuh

2. Yoga dan relaksasi pernapasan sebelum tidur

3. Makan Buah tiap hari

4. Minum air minimal 1 liter/hari

5. Makan secukupnya dan bergizi

6.  Perawatan kulit dan tubuh tiap hari giliran. (masker wajah, masker rambut, luluran, kebersihan kuku, dll)

Menambah kecerdasan

1. Baca 1 bahan tiap hari

2. Posting blog minimal 2 hari sekali

3. Mencerna dan mencatat ceramah di masjid

4. Update berita dalam dan luar negeri terbaru

5. Ask the expert! minimal 2 kali seminggu

Nah kalau saya kira-kira begitu resolusi ramadhan yang ingin saya jalani insyaallah.. biasanya kalau di kertas saya akan menggambarnya seperti diagram ven agar lebih eye catchy dan mudah diingat.

3. Pendisiplinan

yak! menurut saya sebuah resolusi yang hebat tidak akan menjadi hebat bila tidak dibarengi dengan disiplin diri yang tinggi. disinilah kita berbicara dengan komitmen..setelah menulis rencana, mari kita laksanakan dengan penuh komitmen dan semangat! ^^ dan karena ini resolusi pribadi, maka hasilnya kita pertanggung jawabkan pada diri sendiri dan ALLAH.

untuk lebih membantu pendisiplinan diri, boleh juga kita membuat sanksi kalau ada resolusi yang tidak kita kerjakan. misalnya saja : sedekah minimal ……. (tentukan sendiri ^^ ) kalau tidak shalat tepat waktu atau tidak mengerjakan shalat sunnah. kalau bisa kita menetapkan sanksi yang tinggi jadi akan berat rasanya kalau kita melanggar.

tapi kembali lagi, semuanya tidak akan berjalan tanpa adanya. komitmen.

Bismillaah..

4. Sharing

nah, untuk lebih menguatkan lagi ga ada salahnya kalau kita sharing resolusi kita dengan orang-orang terdekat. keluarga, sahabat.  Di satu sisi kita bisa saling mengingatkan dan disisi lain ga ada salahnya lho kalau resolusi sahabat/keluarga ada yang lebih bagus kita ikuti.karena menurut saya hanya satu perlombaan yang siapapun BISA jadi PEMENANG, ialah

berlomba-lomba dalam kebaikan 🙂

Alhamdulillah, kiranya segitu dulu sharing saya tentang membuat resolusi ramadhan, semoga bermanfaat dan menambah semangat menyambut bulan yang penuh barokah ini. Mohon maaf kalau tulisan ini masih belum sempurna, saya tunggu masukannya atau resolusi anda yang ingin sharing. Tentu akan dengan senang hati saya terima ^^

Semoga ramadhan ini kita bisa memaksimalkan semua kebaikan ALLAH berikan, semoga ALLAH mengampuni dosa-dosa kita. dan semoga kita termasuk orang-orang beruntung dan diridhoi ALLAH dunia dan akhirat.. amiin Ya Rabbal’alamin..

Bismillahirrahmanirrohim.. Semangat! 😉

tips :  buatlah resolusi yang jelas dan sesuai kemampuan. dan itu hanya kita dan ALLAH yang tahu 🙂

Itu Sudah

(na)

resource gambar: https://geknana.files.wordpress.com/2011/07/victory.jpg?w=300

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Minggu, Juli 31, 2011 in Coretan Saja

 

Tag: ,

Mungkin Begini

Ini hatiku,
Mungkin begini lebih baik
Berjarak dan menyepi
Memaksa diri berlomba dengan waktu
Hidup dari target demi target

Mungkin begini lebih baik
Usah pusingkan masa depan
Tak perlu lagi menyalahkan diri
Menghadapi harapan dengan bijak

Mungkin begini lebih baik
Terpisah namun tetap berlomba dlm kebaikan
Karna aku telah bertobat dgn kesalahan masa lalu
Dan aku lawan semua setan yg berusaha menggoda

Mungkin begini lebih baik
Walau sering rindu itu hadir menyiksa
Namun kini aku telah belajar
Bagaimana menghadapinya dengan senyum

Mungkin begini lebih baik
Caraku mengeja I.k.h.l.a.s
Dan sungguh! Kali ini, hanya untukMU

Itu sudah
(na)

Posted with WordPress for BlackBerry.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Rabu, Juli 27, 2011 in Puisi

 

Prosa : Secret Admirer

Untukmu,

Hai, kita pernah bertemu dua kali, di bulan Agustus dan Juni. Tapi aku yakin engkau tak pernah tahu bahwa aku sudah memikirkanmu setahun sebelum pertama kita bertemu. Ajaib ya! sejak pertama aku mendengar cerita tentangmu aku tahu engkau adalah orang hebat yang aku kagumi. Iya, kamu hebat dengan kebiasaanmu dan apa yang telah engkau arungi. Sudah aku katakan padamu? Iya, aku kagum padamu, kagum setahun sebelum kita bertemu…

Agustus

Ini adalah hari yang paling aku tunggu selama setahun. Tiga bulan sebelumnya aku pernah mendengar suaramu dalam telepon, hanya 5 detik. Iya, 5 detik yang berarti untukku karena akhirnya aku bisa mendengar suara orang yang kagumi. Sedari pagi aku coba mematut diri lama di depan cermin, aku bukan orang yang pintar berpenampilan tapi hari itu aku ingin memberikan penampilanku yang terbaik. Aku pakai baju pinjaman dari saudaraku karena tak ada satupun bajuku yang bagus di lemari. Dalam setiap langkah menuju tempat kita bertemu aku hanya bisa berdoa, kakiku gemetar tak karuan. Aku memang orang yang berani bertemu dengan siapa saja, tapi kalau sudah bertemu orang yang aku kagumi penyakit bekuku keluar. Tuhan, mengapa rasanya harus seperti ini…

11.15

Iya itu dirimu dibawah pohon , sedang bersama dia kesayanganmu. Dari jauh aku tersenyum, tidak ada rasa cemburu dalam hatiku karena bagiku kesayanganmu, kesayanganku pula. Aku coba dekati dirimu dengan langkah malu-malu, gemetar tanganku bersalaman dengan tanganmu. Dan dari puluhan paragraf yang sudah aku siapkan untuk bersamamu aku hanya bisa berucap “se..nang..bisa..bertemu dengan..mu” lalu aku kehilangan akal dan merasa kepalaku sangat nyeri dan aku berbalik arah menjauhi mu. Sekilas aku lihat ada senyum kecewa di matamu dan aku tahu saat itu aku telah gagal.. iya aku gagal…aku telah gagal menyampaikan perasaan kagumku padamu, justru malah berlaku tak sopan mengecewakan perasaanmu. Adakah pencinta yang lebih buruk dariku?

Aku pulang tanpa akal. Dan seperti yang aku duga engkau tak mau bertemu denganku lagi. Engkau bahkan menolak keberadaanku dalam hidupmu. Engkau menganggapku penganggu. Iya penganggu.

Kau tahu, tak ada sehari pun aku lewatkan tanpa mendoakan kesehatanmu, kebaikanmu. Aku masih mengagumi dan kerap mendengar cerita tentangmu saja itu tak mengapa bagiku, meski selalu ada yg menyayat bila mendengar namamu.

Juni

Aku bertemu lagi denganmu dan kesayanganmu. Kali ini aku berpenampilan lebih rapi dan berusaha lebih tenang. Aku senang akhirnya aku bisa berbicara denganmu, meski aku tahu senyummu itu bukan untukku tapi untuk menyenangkan dia tak mengapa. Aku bersyukur telah bertemu denganmu. Tapi, aku masih melihat guratan kecewa itu di matamu, sungguh! bagaimana caraku menghilangkannya?

Kini

Telah setahun semenjak pertemuan kita terakhir. Aku dengar engkau telah menutup pintu untukku.benar-benar menutupnya. Apa lagi yang harus aku lakukan. Aku tahu engkau menutupnya bukan karena engkau dendam, sungguh engkau adalah orang berhati tulus yang pernah aku tahu. Tapi engkau hanya ingin menjaga dunia kecilmu bersama dia, kehadiranku bisa mengganggu kalian.

Selama setahun aku tertidur dan terbangun dengan air mata. Berharap rasa bersalah yang menyiksaku menguap. Aku adalah pencinta terburuk. Mengecewakan orang yang paling dikagumi. Bodoh!

Kau tahu, doa-doaku tak pernah berubah untukmu. Selalu sama, untuk kesehatanmu dan kebahagianmu. Hanya sebulan ini aku meminta padaNYA, kalau boleh aku mengetuk hatimu sekali lagi, izinkan aku meminta maaf. Saat itu aku masih belum bijak melihat hidup dan terlalu mementingkan perasaanku. Sejak pertama aku mengagumi hingga sekarang ada banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan dari kebisuanmu. Kalau boleh aku mengetuk, aku hanya ingin meminta maaf dan berkata “semoga engkau selalu berbahagia dengan dia kesayanganmu”. Kalau memang aku hanya pengganggu dalam dunia kecilmu, tak mengapa aku akan pergi walau sesungguhnya hatiku selalu ingin bersamamu.

Kamu,

Mungkin engkau tak kan pernah membaca suratku ini, karena aku hanyalah pencinta buruk yang pengecut. Aku hanya punya Tuhanku dan meminta agar suratku ini dia hembuskan dalam relung hatimu. Bersama angin musim panas dan lantunan ayat suci.

Dari,

Pengagum Rahasia

(anak yg tak kau inginkan)

source gambar : https://geknana.files.wordpress.com/2011/06/secret-admirer.jpg?w=261

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Kamis, Juni 2, 2011 in Prosa

 

Tag: