RSS

Arsip Kategori: Belajar HI

Me and Philanthropy

Dear readers,

Its been ages since my last post! Gosh!! ūüėÄ

Now, since I have no idea what to post, I just wanna share my introduction in one of my fave class this semester “New Philanthropy”. Feel free if you have insights for my personal research ūüėČ

——

Personal Profile :

I am Suci Lestari Yuana (Nana). I was born and raised in Bali, Indonesia. I must said I am (might be) one example of philanthropy project. I got scholarship from TOTAL E&P Indonesia for my master study in Sciences Po Paris. I don’t really know why they chosed me while there are so many other students who are more intellegent than me. I guess maybe because they saw a potential contribution that I can do after I graduate and return to Indonesia. During the final interview in Jakarta, I told them that my passion and future plan is in education.

In 2006, I was lucky I got one year student exchange experiences in South Korea. During my stay I learned Korean language, social and culture. I did two part time job as well; one month internship in Korean Nuclear Foundation and three months English teacher in Korean elementary school. I also volunteered once in a week in Korean Orphanage.

The experiences I got in Korea makes me realize that I have big passion in social work. After return in University of Gadjah Mada, Yogyakarta I continue my bachelor study in International Relations and took several volunteering and part time job. The three most insightful jobs for me was; 1. Curator Assistant for the first Children Museum in Indonesia, 2. English teacher in inclusive school which integrate normal kids and kids in special needs, 3. Motivation trainer for orphan children in Yogyakarta.

After finishing my bachelor degree, I took a job in University as lecturer assistant for 1,5 years and then I apply for a scholarship in TOTAL E&P. Currently, along with Indonesian students in France I create a social community which assist other Indonesian student to get scholarship and study abroad.

Change Vision

I‚Äôve been attracted by the question ‚Äúwho can change the world?‚ÄĚ I think the philanthropy projects used to be an exclusive topics among those who already gain a prosper life and want to get a social pleasure or existence. The rich help the poor; the developed country help the developing country, the educated person help the uneducated person. ¬†Does philanthropy a linear cycle? What is actually the final goal of philanthropy, is it better quality of life or engagement?

For my individual research, I would like to look deeper on philanthropy project which came from ordinary citizens. Is there such a thing so called “Grass-root¬†Philanthropy”? ¬†Since I stayed in Paris, I have been attached closely with Indonesian women organization which works to spread Balinese culture in France and Europe, at the same time contributes to social charity in Indonesia. I want to know deeper the challenge and opportunity to create this organization, is it replicable or not? Moreover, I think I also can analyze on better study of women empowerment. What does it takes to makes women happier and get a better life?

.

Itu sudah

(na)

image sources : http://www.vecohio.com/corporate/wp-content/uploads/2012/10/got-philanthropy.jpg

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Rabu, Maret 13, 2013 in Belajar HI

 

Merayakan Perdamaian dengan Jejaring Sosial

Merayakan Perdamaian dengan Jejaring Sosial

Suci Lestari Yuana*

 

Jejaring sosial dalam internet atau Social Media seperti; Friendster, Facebook, Twitter, Koprol, dll sangat populer di kalangan masyarakat dekade ini. Jejaring sosial ini telah berhasil menyentuh hampir seluruh kalangan masyarakat, tua-muda, pelajar-karyawan, lebih-lebih dengan adanya persaingan ketat provider selular untuk memberikan layanan internet tanpa batas dengan biaya yang cukup murah, sosial mediapun bisa dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke bawah.

 

Mulanya banyak yang beranggapan bila sosial media ini hanyalah ajang untuk pertemanan dan narsis. Tapi, fenomena-fenomena belakangan ini menunjukkan peran yang lebih besar dari sosial media. Akhir-akhir ini banyak yang menggunakan sosial media sebagai alat untuk kampanye politik, membentuk komunitas-komunitas sosial bahkan untuk protes via dunia maya. Tidak terkecuali isu perdamaian, ada banyak fenomena tentang isu perdamaian yang telah diangkat oleh sosial media.

 

Insiden Freedom Flotilla akhir Mei lalu adalah salah contoh terjadinya komunitas sosial di dunia maya. Twitter merupakan salah satu media tercepat yang memberitakan terjadinya insiden penyerangan kapal Mavi Marmara oleh tentara Israel secara mendetail. Bahkan Twitter menghadapi protes besar-besaran ketika menghilangkan kata ‚ÄúFlotilla‚ÄĚ dan ‚ÄúGaza‚ÄĚ dalam¬†Trending Topics¬†sementara kata ‚ÄúIsrael‚ÄĚ tetap disebutkan dalam¬†Trending Topics. Hal ini menunjukkan dukungan pengguna sosial media terhadap korban relawan yang terluka dan terbunuh saat insiden itu. Di Facebook juga gencar di buat fan-page, profile atau diskusi tentang isu kekerasan terhadap kelompok Freedom Flotilla ini. Ada dua manfaat yang bisa dilihat dari fenomena ini, pertama; akses informasi yang lebih cepat dan multiperspektif, kedua; mempermudah akses bantuan, donasi dan atau dukungan sikap anti-kekerasan.

 

Twitter, sebagai layanan¬†microblogging¬†yg meskipun terbatas 140 karakter tapi mampu berperan untuk menyebarkan pesan-pesan perdamaian. 19 Mei 2009 lalu misalnya, Deepak Chopra (@Deepak_chopra) menulis via Twitter¬†“Please take the vow of non-violence with me today:¬†http://www.itakethevow.com/¬†Please RT!”¬†Pesan ini mengajak semua orang berikrar (take the vow) untuk mendukung gaya hidup nir-kekerasan. Komitmen berlaku seumur hidup. Layaknya¬†multilevel marketing¬†ikrar ini juga menganjurkan anggotanya untuk mengajak dua orang baru, sehingga pesan ini cepat tersebar dan mencapai target minimal 100 juta orang. Diharapkan semakin banyak orang yang berikrar, dapat mencegah eskalasi insiden kekerasan. Saat ini jumlah anggotanya telah mencapai lebih dari 270 ribu. Selain itu, pesan-pesan perdamaian juga sering dicetuskan oleh Dalailama yang sejak Maret 2010 lalu membuka account baru di Twitter (@Dalailama) dan saat ini telah memiliki lebih dari 800 ribu¬†followers.Selain pesan-pesan perdamaian, Dalailama juga berbagi tentang aktivitasnya menyebarkan perdamaian.

 

Bila kita mengetik kata peace, perdamaian, non-violence pada search engine di setiap halaman jejaring sosial, maka akan ada banyak sekali profil, diskusi, halaman, komunitas atau aksi perdamaian. Perdamaian tidak hanya mengenai ketiadaan perang, tapi perdamaian menyangkut ketiadaan kekerasan baik itu fisik, struktural dan kultural. Aksi Koin Prita yang mulanya berasal dari mailing list dan Facebook pada Desember tahun lalu merupakan salah satu contoh gerakan anti kekerasan struktural. Penggiat sosial media kecewa akan ketidakadilan yang harus dialami oleh Prita Mulyasari, beberapa membuat komunitas pendukung Prita dengan cara mengumpulkan koin keadilan untuk membantu proses pengadilan Prita. Komunitas ini yang berawal dari mailing list, semakin berkembang cepat melalui Facebook dan Twitter.

 

Teknologi yang ada saat ini semakin mempersempit ruang dan waktu. Informasi sangat mudah didapat dan setiap orang bisa lebih mudah menyampaikan apresiasi. Keunggulan ini sebaiknya disadari dan dimanfaatkan dengan optimal untuk hal-hal yang positif. Perdamaian adalah keinginan universal dan setiap orang berusaha untuk hidup damai, namun tidak semua pihak menyadari kontribusi yang bisa dikerjakan untuk menciptakan perdamaian. Jejaring sosial sesungguhnya bisa menjadi sarana untuk menyebarkan budaya perdamaian dan menjadikan perdamaian itu sebagai gaya hidup.

Inti dari budaya damai adalah menolak kekerasan dan mengedepankan dialog. Menurut UNESCO, budaya perdamaian adalah nilai-nilai, sikap, tingkah laku dan gaya hidup yang <span>menolak kekerasan</span> dan mencegah konflik dengan cara menangani akar permasalahan ¬†serta mencari solusi yang tepat melalui dialog dan negosiasi baik individu, kelompok maupun negara. Sesuai dengan tagline UNESCO¬†‚ÄĚPeace is in our hands‚ÄĚ,¬†keterlibatan semua pihak merupakan kunci utama untuk mencapai perdamaian.

 

Menyambut momentum hari Perdamaian Internasional, berbagai pihak telah menyiapkan program dan acara-acara. Saat ini Facebook telah tergabung dalam program Peace Innovation yang dirancang oleh Stanford University. Program ini berusaha membuat database perdamaian negara-negara di seluruh dunia sehingga mempermudah penyebaran informasi perdamaian dan meningkatkan sikap saling pengertian. Jika anda membuka www.peace.facebook.com maka anda akan bisa mengetahui kontribusi apa saja yang telah dilakukan Facebook untuk mempromosikan perdamaian. Selain organisasi, individu atau komunitas apa saja bisa berkontribusi dalam Peace Innovation ini dengan cara menambah subdomain peace dot pada website anda.

 

Perdamaian mungkin akan terlihat muluk-muluk jika dipandang sebagai suatu keadaan tenang, sejahtera dan gemah ripahloh jinawi. Namun bila perdamaian dipandang sebagai gaya hidup anti-kekerasan dan mengutamakan dialog, maka setiap orang pasti bisa melakukannya. There is no way to peace, peace is the way (A.J Muste). Jejaring sosial adalah salah satu sarana yang mampu mempromosikan budaya perdamaian. Akses yang luas dan cepat bisa menjadi sarana belajar untuk memahami perdamaian dan juga menyampaikan pesan perdamaian. Jika anda mengimpikan perdamaian, sampaikanlah pesan perdamaian anda hari ini, esok dan seterusnya serta jadikan anti-kekerasan dan dialog sebagai gaya hidup anda. Mari kita rayakan dan promosikan perdamaian melalui jejaring sosial!

 

Selamat Hari Perdamaian Internasional.

 

*Penulis adalah Asisten Peneliti di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UGM, anggota Divisi Riset Institute of International Studies UGM dan salah satu penggiat jejaring sosial Twitter ( @geknana )

 

Tulisan ini dimuat di KOMPAS segmen Yogyakarta –> FORUM Selasa, 21 September 2010


 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Selasa, Oktober 19, 2010 in Belajar HI, Isu Perdamaian

 

Tag: ,

Episode 13 : Conversation about Peace

” There is no way to peace, peace is the way

.

Hmmm.. beberapa hari yang lalu (akulupa tepatnya tanggal berapa)aku melihat sebuah status di YM seorang sahabatku (Mas Dodi, peneliti di Pusat Studi Perdamaian dan Keamanan UGM) dengan tulisan sebagai berikut¬†¬†¬† ada yang lebih penting dr sekedar kata Cinta…” Tertarik dengan shoutout yang berhubungan dengan Cinta tersebut, akhirnya aku memulai dialog singkat membicarakan tentang Cinta dan Perdamaian. Aku ingin sekali membagi dialog ini dengan kawan-kawan pembaca semua, dengan tujuan membuka dialog yang lebih luas lagi tentang Cinta dan Perdamaian… Selamat menikmati ūüėČ

………………………………………………………..

geknana: halo mas Dodi….
geknana: jadi curious nie,,, emang yang lebih penting dr sekedar kata Cinta itu apa??

dody wibowo: halo…
dody wibowo: duuuuhhh banyak banged yang nanyain itu
dody wibowo: hahhaha

geknana: iya,,, pinter bikin status yang kontroversi nie
dody wibowo: sebenernya itu aku ambil dari lirik lagunya maliq n d’essential
dody wibowo: tapi kalo aku artiin sih.. yang lebih perbuatan atau bukti ya
dody wibowo: daripada hanya kata cinta

geknana: ooo itu  toh maksudnya
geknana: nana pikir yang lebih penting dr Cinta itu Perdamaian
geknana: hehehe

dody wibowo: cinta kan bagian dari perdamaian
dody wibowo: damai = cinta
dody wibowo: heheheheh

geknana: cieeeee,,, hehehe boleh … boleh…
dody wibowo: lho, iya kan… ketika kita hidup damai, disana ada cinta
dody wibowo: cinta membuat orang hidup damai
dody wibowo:

geknana: kalo damai dengan ambisi untuk memimpin/berkuasa bisa harmonis gak mas??
dody wibowo: ya tentu engga
dody wibowo: pasti ada yang tertindas disitu

geknana: berarti damai itu sesuatu yang anarkis??
dody wibowo: lho?
dody wibowo: kalo anarkis, gak damai dong

geknana: anarkis itu bukannya kondisi yang tanpa hierarki githu??
geknana: maksudnya gak ada kepemimpinan yang terpusat??

dody wibowo: anarkis kan lebih kepada situasi yang tanpa hierarki tapi kacau
dody wibowo: kalo dalam damai, ada komunikasi dan kesepahaman

geknana: oooo….
geknana: trus,, dalam damai gimana cara orang memandang perbedaan ?

dody wibowo: dalam situasi damai bisa ada pemimpin
dody wibowo: tapi kepemimpinan itu adalah hasil kesepakatan semua pihak
dody wibowo: tanpa ada pemaksaan
dody wibowo: kalo aku bilang, kunci dari perdamaian itu adalah komunikasi yang baik. dan komunikasi yang baik itu adalah ketika pihak2 mau berdialog, mau mendengar, dan mau memahami satu sama lain
dody wibowo: seperti halnya konflik.. konflik bisa menjadi sesuatu yang buruk, tapi bisa juga menjadi sesuatu yang baik
dody wibowo: konflik selalu ada dalam hidup kita, kita gak bisa menghindari
dody wibowo: tapi kemudian yang menjadi penting adalah bagaimana kita menangani konflik itu agar menjadi sesuatu yang baik, yang membangun, dan menjadi bahan pembelajaran menjadi manusia yang lebih baik

geknana: berarti mas Dodi setuju gak kalo pemimpin itu seharusnya dipilih/dicalonkan,, bukan mencalonkan diri (mengutip kata2nya Sultan nie )
dody wibowo: ya, aku setuju
dody wibowo: untuk memimpin, diperlukan dukungan dari yang dipimpin
dody wibowo: jadi nanti bisa ada kerjasama yang baik
dody wibowo: kalo tiba2 seorang mencalonkan karena dia merasa mampu, padahal yang bakal dipimpinnya melihat yang sebaliknya
dody wibowo: ya susah

geknana: hmmm…bener sie….
geknana: tapi mas kalo kita liat keadaan skrg,,, apa ada capres yang seperti itu cocok maju ke pemilu 2009 besok?

dody wibowo: jelas gak ada ya… hehehe…
geknana: hehehehe
geknana: berarti Indonesia masih belum deket dngan perdamaian ya??

dody wibowo: bukan hanya indonesia
dody wibowo: dunia juga
dody wibowo: heheheh
dody wibowo: tapi yang penting sekarang adalah
dody wibowo: bukan pada apa kita udah dekat ama perdamaian atau belum
dody wibowo: karena kalau mau mencapai keadaan yang bener2 damai 100 persen bisa dikatakan hampir gak mungkin
dody wibowo: tapi yang perlu kita perhatikan adalah prosesnya
dody wibowo: ketika kita berubah, maka berubahlah dengan cara yang damai
dody wibowo: bukan dengan kekerasan
dody wibowo: ada tokoh yang bilang: there is no way to peace, peace is the way
geknana: berarti kalo boleh dibilang,,,,
geknana: keinginan menjadi pemimpin itu bagus,,, lebih bagus lagi jika bisa memimpin dengan damai?

dody wibowo: tentu

…………………………………………………………..

Begitulah dialog singkat kami tentang Cinta dan Perdamaian. Aku mengundang kawan-kawan pembaca untuk memberikan komentar atau opini lebih lanjut tentang topik ini. Kalo ingin berdiskusi secara personal tentang topik ini, silahkan undang aku di YM dengan account : nana_qy . Aku tunggu opini cerdas dan seksimu ūüėõ (huehehehe) Dialog Yukzzzzzzzzzzzzz !!!!!!!


nb : buat mas Dodi,,, terimakasih sharingnya yaaaaaaaaaa….. salam damai ūüôā


Itu Sudah

(na)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Jumat, September 19, 2008 in Belajar HI, Isu Perdamaian

 

Tag: , , ,