RSS

Serial Miss Li Chapter 2 : Sabar Iku…

24 Sep

Pertama

Banyak orang memiliki kesan kuat pada pertama. Pertama kali jatuh cinta, pertama bertemu, hari pertama di sekolah, pertama kali bekerja, uang pertama yang didapat dari keringat sendiri, kado pertama, ciuman pertama, cinta pertama. Ahh. Di dunia orang akan selalu ingat siapa yang pertama kali pergi ke bulan, tapi ingatkah mereka dengan yang kedua? Pertama, Pertama, Pertama. Begitu pula dengan yang kurasa pada hari pertamaku di SD Tegar Insani, perkenalanku dengan anak-anak. Aku merasa, luapan semangat memuncak hingga ke ubun-ubun, perutku sedikit mual menahan gejolak keyakinan bahwa, Aku bisa menjadi guru terbaik! Aku punya ilmu, bakat dan semangat. Aku sangat optimis dengan hari-hariku kedua, ketiga dan selanjutnya di sekolah ini. Hingga kenyataan di esok hari mengaburkan semangat itu dan bila engkau bertanya hari keberapa yang menurutku paling berkesan di SD Tegar Insani. Dengan mantap aku akan menjawab;

Kedua

05.00

Aku telah berpakaian rapi! Celana kain cokelat, kemeja krem dan jilbab senada dan kacamata. Ku buka lagi bahan ajar yang sudah kususun rapi semalam dalam map plastik berwarna biru. Aku tahu, masih ada satu setengah jam lagi waktuku untuk berangkat. Matahari pun belum bangun dari peraduan. Tapi pikiranku tak bisa lepas dari sekolah itu. Bahkan aku bermimpi bertandang ke sekolah itu, membersihkan papan tulis dan menyiapkan meja-meja. Dalam mimpiku datang seorang anak perempuan mungil ” Miss Li, kenapa Miss Li pake piyama?” . Waityaaa,,, untung hanya mimpi! fiuuuh… Sambil tersenyum mengingat mimpi anehku semalam, aku baca-baca lagi Lesson Plan yang sudah kusiapkan untuk kelas hari ini. Hari ini aku akan mengajar di kelas dua. Setelah ku-cek buku pelajaran mereka, seharusnya materinya tentang Fruits. Aha! aku bisa memakai games who am i untuk kelas ini. Sudah kusiapkan kertas warna-warni dengan nama buah tertulis satu-satu yang rencananya nanti akan kutempel di dahi masing-masing murid dan meminta teman-temannya untuk memberi kata-kata kunci, lalu si murid ini menebak apa yang tertulis di dahinya. Anak-anak akan duduk melingkar agar lebih interaktif, karena memang aku ingin mementingkan metode belajar aktif dalam menggunakan bahasa inggris. Jadi speaking dan komunikasi dalam bahasa asing adalah target utamaku untuk mereka. Toh buat apa hapal rumus grammar dan ribuan vocabulary jika tidak bisa digunakan kan?

06.30

Voilaaa… this is it! saatnya berangkat ke sekolah yg jaraknya 10 menit dari kostku. Motor listrik warna merahku sudah menunggu di garasi. Aku pastikan chargenya penuh dan memeriksa pedalnya di bagasi. Sampai sekolah aku langsung menuju ruang administrasi guru dan mengisi presensi. Aku sapa Mbak Ina, yang ternyata staff administrasi di sekolah ini dengan senyum.

Good Morning Miss Listia, sampun siap mengajar hari ini? ” serunya dengan logat jawa yang kental

Good Morning mbak Ina. insyaallah, saya coba yang terbaik hari ini. Ibu Yulia dan Ibu Yeni ada?”

— dia beranjak ke pesawat telepon sejenak dan seolah berbicara dengan suara perempuan di seberang, lalu mbak Ina kembali ke arahku.

“Ibu Yulia sedang ada urusan di Magelang dengan pengurus Yayasan yang lain, Ibu Yeni mengikuti rapat kepala sekolah di Dinas kabupaten. Ibu Yeni berpesan,  Miss Listia silahkan langsung ke kelas dua saja dan mulai mengajar. alat-alat sudah disiapkan di kelas… hmm, oya! untuk kelas dua ini ada dua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), Wafi dan Kiki, tapi karena Kiki baru saja kena cacar jadi dia izin selama seminggu. Bu Yeni bilang, tolong berikan perhatian khusus ke Wafi dan jangan lupa untuk memperhatkan murid yang lain juga”

hmmm… satu kelas dengan satu anak ABK dan murid lainnya.. not a big deal batinku.. “Baiklah mbak, terima kasih ya. saya akan ke kelas sekarang”

07.00

Teng..teng..teng..

Langkah pertamaku di kelas langsung disambut desisan murid-murid yang berbisik “guru baru..guru baru”. Aku mencoba tersenyum lebar dan menyapa mereka semua seramah mungkin

“Assalamu’alaikuum, good morning everyone”

Waaaalaikumumsalaaaaaammm…. good morniiiiiiiiing” jawab mereka serempak layaknya anak anak seusia mereka.

Pandanganku menyapu seluruh ruangan kelas. Ruangan ini dindingnya terbuat dari bambu yang dicat cokelat mengkilat. Ada banyak gambar warna-warni anak-anak menempel di dinding. Ada sebuah tulisan berbahasa jawa yang menempel dan menarik perhatianku sejenak

“Sabar iku ingaran mustikaning laku”

Cukup lama aku termangu menatap dan mencoba mengartikan tulisan itu, karna bahasa Jawaku masih amatir, sampai akhirnya sebuah suara mungil mengagetkanku ;

” Bu Guruuuuuu,,, jadi mau belajar ndaaaaaak??”

Ehiya! aku jadi malu dan nyengir sendiri hehe.

“Maaf anak-anak, ibu sedang kagum dengan tulisan yang ditempel di belakang kalian itu. Kalian tahu siapa yang menulis? “

Semua anak-anak menunjuk sesosok bocah laki-laki yang duduk di bangku tengah paling belakang,, bocah itu sedang tertunduk dan memainkan sesuatu di bawah bangkunya.. aku tersenyum melihat bocah itu, dia Wafi..

Aku dekati dan berlutut di depan mejanya agar kami setara ” Wafii, kamu yang menulis tulisan itu? bagus sekalii..kalau boleh tahu mengapa kamu menulisnya??”

Wafi “eeh ada miss Listia,, dari Bali kan..? hehe…” *nyengir

Aku “iya, pintar kamu masih ingat dengan ibu..Wafi,bisa tolong ibu menjelaskan apa maksud dari tulisan itu? “

Wafi – *nyengir lagi….

Aku : diam menunggu

Wafi – *nyengir tak berhenti…… *krik!

Suara anak perempuan : “Kata Wafi, itu kalimat ibunya setiap malam jam 3 pagi bu..Wafi sering kebangun dan suka nguping ibunya hahahaha… “

————————–

Aku kembali ke depan kelas, aku sadar kami belum sempat berkenalan. Sekitar 15 menit kami menghabiskan waktu untuk bermain game berkenalan dalam bahasa inggris.. Anak-anak suka dengan permainan itu, dan semangatku semakin bertambah.. Mungkin ini akan menjadi kelas yang menyenangkan hari ini, yay!! 😉

Tiba saatnya aku menjalankan Lesson Plan yang telah aku persiapkan semalam. Bismillaaah…aku menatap murid-muridku satu persatu, ada 10 anak di kelas ini. Arif dan Rudy si chubby, Fauzan yang kurus bermata cokelat, Intan berkerudung dan berkacamata , Devi si rambut kuncir kuda, Aisya si mata bulat dan kulit putih, Eko si “jagoan” dan baju yg lepas dan tidak dimasukkan celana, Abid kaki tangan Eko, Wafi si unik dan Latifa si pendiam.

“hayoo anak2, siapa yang hari ini mau main game lagi??”

Segera semuanya serempak berteriak dan mengacungkan tangan “akuuuu miss, akuuuuu miss, akuuuuuuuuuuu”

“baiklah kalau begitu, kita akan bermain games “siapakah aku?” nanti miss Listia akan menempelkan nama buah di dahi kalian, lalu kalian bertugas untuk bertanya pada teman kalian “who am i?” dan nanti teman kalian akan memberi ciri-ciri buahnya. misalnya kalau teman kalian bilang “yellow, long, sweet, monkey food” itu buah apa hayoooo???”

“pisaaaaaaaaaaaaaaaaaaang miss”…semua menjawab, tentu saja suara Eko yang paling dominan dan lantang diantara semuanya, diikuti suara Intan yang tidak mau kalah.. 😀

“bahasa Inggrisnya??”

“bananaaaaaaa…” kali ini suara Eko kalah dengan Intan karna dia berteriak hingga suaranya melengking dan membuat yang lain harus menutup telinga.. aku hanya nyengir melihat kelakuan mereka ini..

“Oke, sekarang kita pindahkan meja dan kursinya dulu ya, supaya kita bisa duduk di bawah dan membuat lingkaran.. ayo, ,1,2,3”

————————————-

10 menit berlalu, dan bukannya bagian tengah kelas menjadi kosong malah menjadi berantakan. ada meja dan kursi berhamburan, kertas dan krayon berjatuhan dimana-mana. Aku Panik. Saat aku berusaha membujuk Wafi yang tidak mau duduk di lantai karena dia trauma dengan cacing, Eko dan Abid mulai membuat ulah. Mereka mulai mengerjai Latifa yang pendiam, kuncirnya ditarik-tarik dan dahinya ditempel dengan “kertas nama buah” yang aku taruh di meja guru di depan kelas. Intan dan Devi terpanggil rasa solidaritas keperempuanan mereka membela Latifa, mereka mulai berusaha meninju Eko dan Abid. Eko dan Abid kabur mengelilingi kelas, menghamburkan meja, kursi dan barang-barang di atas meja.

Saat aku berusaha melerai keempat bocah ini, Wafi histeris.. dia teriak karna habis diledek Fauzan “autiss..autis”.. Aisya berusaha memarahi Fauzan. 2 anak menangis dan histeris, 6 bocah berantem dan dua lainnya saling berpandangan dan ngobrol “kita jadi main game ga ya? “

Aku mulai kehilangan semangat dan kebingungan. Entah apa yang harus aku lakukan. Seharusnya ini menjadi momen yang indah, saat mereka semua belajar nama-nama buah dalam bahasa Inggris dan aku menjelaskan apa manfaat penting buah dalam kesehatan, dan keanekaragaman buah yang ada di dunia. Ini tidak seperti yang kuinginkan.. duh Gustiiiii… 😦

————————————–

Tiba-tiba dari luar kelas ada suara berdehem yang berat. Aku menoleh dan melihat Bu Yulia sedang memandang kami. Tangannya berlipat di depan dada, dan sebilah penggaris kayu panjang sudah bertengger di tangan kanannya.

Anak-anak tiba-tiba terdiam dan kembali ke tempat duduknya. Tinggal Wafi yang masih menangis histeris.

Bu Yulia mulai mendekati meja Wafi dan dengan suara yang agak keras berkata

“Wafi! kenapa kamu menangis? “

“Saya dibilang autis bu…”

“Lalu, apa itu benar? “

“iyaaaaa…” suara tangisnya mulai melemah. jujur aku mulai merasa iba saat itu

“Wafi, walau kamu autis,bukan berarti kamu tidak bisa menjadi anak pintar dan orang yang sukses di masa depan kan?”

…..

tiba-tiba wajah sedihnya menghilang dan dia kembali nyengir “hehe..iyaa Bu Yulia.. Wafi mau jadi anak pintar dan pengusaha yang sukses nanti…”

“bagus!” jawab Bu Yulia singkat

“anak-anak, ayo lanjutkan belajar walau Miss Listia masih baru disini..kalian harus tetap menghormati beliau sebagai guru dan mengikuti apa yang beliau ajarkan…mengerti? “

‘iyaa bu’ semua anak menunduk takut… akupun ikut menunduk memandang beliau dan berkata lirih “matur suwun bu Yulia” yg dibalasnya dengan singkat

“hemm”

—————————

Pukul 9 kurang lima menit…

Kelas hari itu berjalan sungguh di luar rencanaku. Games “who am i” tetap berjalan, tapi semangat anak-anak sudah menurun. Semangatku pun mulai turun, dan membuatku kebanyakan melongo di kelas. Anak-anak mulai menguap dan mengerjakan hal-hal sendiri.

Bel tanda akhir pelajaran berbunyi. Dengan lunglai aku berjalan menuju ruang administrasi untuk mengisi presensi kehadiran dan pulang ke kos. Entah kenapa, aku sedang tak ingin berada di sekolah ini. Saat aku mendekati pintu keluar aku bersitatap dengan Ibu Yulia, aku gugup… tak tahu harus berkata apa. Aku khawatir beliau menganggapku sudah gagal dan memecatku dari sekolah. Padahal ini masih hari pertama aku mengajar di sekolah inklusi ini.Aku mendekati beliau

“Bu Yulia, saya mohon maaf..di kelas hari ini saya gagal menjadi guru dan memberikan pelajaran untuk siswa…” saya tertunduk,, air mata mulai menggenang dipelupuk mataku.

Bu Yulia menarik nafas sejenak dan berkata “Miss Listia, anda merasa gagal karena anda memandang diri anda sebagai guru yang memiliki  lebih banyak ilmu dari siswanya. Pandangan itu keliru Miss, seharusnya kita tidak melihat diri kita sebagai guru karena itu akan menutup keinginan kita untuk belajar dan menyerap ilmu darimana saja. Kalau seandainya kita memposisikan diri kita sebagai murid dalam kehidupan tentu kita akan bisa belajar dari mana saja dan siapa saja bukan? termasuk belajar dari siswa-siswa anda di kelas. Mungkin sebagai guru anda belum berhasil hari ini tapi sebagai pelajar anda baru saja memulai petualangan belajar yang saya yakin akan anda ingat selamanya. Saya yakin Miss Listia sudah belajar banyak hal di kelas hari ini kan, Mereka (murid-murid di kelas) adalah guru-guru yang istimewa walau sedikit kelebihan energi.. sayapun dulu begitu..”

Aku mengangkat wajahku. Aku melihat Bu Yulia tersenyum sekilas dan kembali pada wajah tegasnya. Aku menarik nafas. Aku merasa sedikit lega, walau masih merasa kecewa dengan diri sendiri. Tapi, kata-kata Bu Yulia barusan benar-benar meresap dalam hati. Ya, di sekolah ini siapapun bisa jadi guru dan aku ingin belajar dari mereka semua….

“Baik bu, terima kasih atas nasihatnya.. akan selalu saya ingat.. Saya akan berusaha dan belajar lebih baik lagi”

Bu Yulia ” yang sabar ya Miss… sabar itu adalah perilaku yang indah..” . Beliau berlalu kembali ke kantornya. Tinggal aku berjalan pelan ke arah parkir motor listrikku. Ku ambil helmku dan menatap sekolah itu sejenak… Ini adalah hari keduaku di sekolah. Hari yang tak akan pernah kulupa. Hari ini dimata aku sadar dan mengubah mindsetku selama ini. Aku datang bukanlah sebagai guru, tapi aku datang sebagai pelajar yang siap menyerap ilmu dan hikmah dari siapa saja.Termasuk murid-muridku. Tentu akan ada banyak tantangan untukku dalam belajar “kehidupan” di sekolah ini, tapi semangatku bangkit kembali. Aku tersenyum mengingat tulisan yang tertempel di dinding belakang kelas 2 tadi.

Sabar iku ingaran mustikaning laku/

bertingkah laku dengan mengedepankan kesabaran itu ibaratkan sebuah hal yg sangat indah dalam sebuah kehidupan

**************

.:geknana:.

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Sabtu, September 24, 2011 in Serial Miss Li

 

Tag: , , , ,

2 responses to “Serial Miss Li Chapter 2 : Sabar Iku…

  1. yulia usmadi

    Sabtu, Februari 25, 2012 at 9:32 pm

    bagus na,,

    kapan lanjutannya terbit lagi? 😀

     
  2. geknana

    Jumat, April 27, 2012 at 12:30 am

    hehe,,makasi udh baca mbak Yul sayaang, jadi timbul semangat buat ngelanjutin serialnya lagii ^^

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: