RSS

Emak

05 Jul

Ibu itu,

perwujudan dari Ketulusan, Kecerdasan, Kerja keras,

Pendidikan dan Kasih Sayang-NYA

yang abadi…

(geknana-01 Juli 2010)

Dear Readers,

Kalimat itu terlintas setelah membaca novel inspiratif karya Daoed JOESOEF, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayan (1978-1983) . Mungkin kalo misalnya sahabat semua searching di Google.com sudah banyak yang mengulas tentang novel ini dengan komprehensif, karena memang novel ini diibaratkan seperti makanan, kaya dengan nutrisi. 😀 Dilatar belakangi dengan era kolonisasi Belanda, novel ini mengisahkan kehidupan keluarga Daoed di Sumatera Utara. Pada masa itu pendidikan masih menjadi hal yang eksklusif, namun suasana keluarga yang disajikan “Emak” (Ibu Daoed) tidak kalah kualitasnya dengan pendidikan yang akhirnya bisa Daoed kecap di Sorbonne, Prancis.

Sekarang, ijinkan nana untuk menceritakan pelajaran apa yang bisa saya terima dari novel ini. Tentang kualitas Emak sebagai seorang perempuan dan Ibu.

1. Ketulusan

Ketulusan, yak! itulah modal utama Emak membina keluarganya. Tak hanya untuk suami dan anak-anak, ketulusan Emak ini juga ia turutkan untuk orang lain bahkan orang yang baru dikenalnya. Misalnya ketulusan Emak menerima seorang pelajar yang indekos di rumahnya. Meski pelajar itu adalah orang yang tak dikenal, bahkan akhirnya tidak punya cukup uang untuk membayar kos, Emak tetap dengan tulus menyediakan makanan dan minuman meski pelajar itu tidak memintanya.

2.  Kecerdasan

Untuk yang satu ini, sungguh! nana paling bingung bagaimana harus menguraikannya, karena karakter Emak ini sarat dengan kecerdasan dan ide-ide yang briliant. Emaklah yang secara mengejutkan ingin belajar naik sepeda, yang pada zaman itu tidak ada perempuan di kampung yang mau menggunakan kendaraan kompeni ini. Tapi justru ketika Emak berhasil menggunakan sepeda banyak perempuan yang akhirnya ikut-ikutan. Belum lagi kisah Emak yang mendorong Daoed untuk belajar melukis kata Emak “keindahan itu bisa dinikmati dengan dua cara, dimiliki dan membiarkan keindahan itu mati atau dibiarkan saja apa adanya dan menikmati keindahan yang hidup itu”  Dan yang paling nana kagumi tentu saja kecerdasan Emak menata taman dan pekarangan rumah, dan mengajak seluruh keluarga untuk ikut merawat. Briliant!

3.  Kerja Keras

Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal, Emak adalah pelajar yang tekun. Dia tidak pernah menutup kesempatan untuk selalu belajar dan mendorong anak-anaknya untuk melakukan hal yang sama. Cerita yang menarik saat Emak bertemu dengan Bang Akib si calon perantau. Saat bang Akib menyerah dengan kehidupan, dengan penuh kebijakan Emak menasehati ” Berdoa itu, bukan hanya menengadahkan tangan dan meminta-minta dengan air mata tapi melakukan yang terbaik yang kita lakukan, bekerja keras dan pantang menyerah juga termasuk doa”

4. Pendidikan

Urusan pendidikan, saya harus acung jempol pada Emak. Kita bisa belajar dari apapun, siapapun dan dimanapun. Emak yang mendorong Daoed untuk belajar melukis dari lidi dan tanah, mencatat semua obrolan-obrolan penuh nutrisi otak dengan Mas Singgih si pelajar indekos, dan yang terpenting mendorong Daoed untuk membaca, membaca dan membaca. Emak juga mendorong anak-anaknya untuk tidak membatasi diri dalam pergaulan, memilih sekolah dan sahaabat. waahhh banyak deh, pembelajaran tentang pendidikan dari Emak satu ini 😉

5. Kasih Sayang

Untuk yang satu ini, meski selalu tersirat di setiap bab novel saya paling tertarik dengan bab terakhir. “Emak dan Cahaya” karena memang begitulah kasih sayang seorang ibu, seperti Cahaya yang akan selalu kita cari dan rindukan 🙂

Ibu,

Meski  ribuan tulisan mungkin sudah mengupas tentang sosok satu ini, mungkin tidak akan pernah memudarkan pesona kelembutan di balik kekokohannya, kesantunan dibalik kesungguhannya.  Bila setiap orang bisa berpikir dan melihat pesona Ibu seperti Daoed, mungkin saat ini sudah ada hampir 6 Triliun kisah tentang Ibu. 🙂

Dan cita-cita saya, semoga nanti saya bisa menjadi seorang Ibu yang saya sebutkan di atas, mewakili kasih sayang Tuhan untuk manusia. amiin

Itu Sudah

(na)

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Senin, Juli 5, 2010 in Tentang Buku

 

Tag: ,

2 responses to “Emak

  1. kolomkiri

    Senin, Juli 5, 2010 at 9:08 pm

    jadi pengen punya bukunya……kunjungan pertama salam kenal dari kaum kiri…

     
  2. wiwien apriliani

    Senin, Agustus 23, 2010 at 9:32 am

    tulisan ttg ibu memang selalu menyentuh, terakhir baca juga punya mbak isti di note FB 🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: