RSS

Prosa : TU Delft

14 Mei

Fatimah

Akhirnya, sampai juga aku disini. Di menara tonggak pengetahuan berbentuk kerucut, TU Delft Library. Tersenyum aku membayangkan bagaimana aku harus membujuk keras Kak Toni, Presiden PPI London untuk mengijinkanku ke Den Haag menjadi perwakilan di konferensi PPI sedunia. “Tapi kamu kan sedang thesis Imah…bagaimana kalau nanti Prof. Anderson menagih progres thesismu??” sergah Kak Toni saat aku mengajukan diri di tengah rapat pengurus. “Tak apa kak, konferensi ini tidak akan mengganggu proses thesisku InsyaAllah” jawabku mantap. “.. dan kakak lah yang paling tahu, ada sesuatu yang membuatku harus ke Netherland” aku berusaha memandangnya tajam sebelumnya akhirnya dia mengangguk dengan pelan “kamu tahu yang terbaik untukmu, jaga dirimu Imah..”

Brrr…

Angin musim gugur mulai bertiup kencang..sayup-sayup suara daun-daun cokelat kemerahan mengusik keheningan kampus bersejarah ini. Aku merapatkan jaket ungu tuaku dan menatap langit yang penuh daun-daun berguguran itu “Tuhan, aku dan dia sedang menginjak kota yang sama…” Aku melangkah mengitari TU Delft Library, mengambil gambar kerucut nan eksotis itu dan memutuskan diri untuk duduk di atas rumput dekat kerucut itu.

Kini Davy Jones diary telah ada di pangkuanku, terinspirasi dari kisah bajak laut Davy Jones yang mengunci jantungnya di sebuah kotak, aku pun mencurahkan semua hati dan jiwaku pada diary ini. Diary ini mulai terlihat lusuh, mungkin karena terlampau sabar menemani Fatimah kecilku dan mimpi-mimpinya. Saat ini, Fatimah kecil ingin mengungkapkan lagi mimpinya;

***

” Tuhan, ini aku.

Sedang berada di sebelah gedung kerucut kampus impiannya dulu. Berada disini membuatku ingat akan obrolan-obrolan kami tentang mimpi dulu. Ia dengan matanya yg menyala bagai kilat menceritakan mimpinya untuk mengambil program MoT disini. Ia yang aku yakin, meski kenyataan selalu terlalu berat untuknya, tidak pernah sekalipun ia memadamkan mimpi-mimpinya. Ia yang bermimpi meraup selaksa ilmu disini dan mengamalkannya di kampung halaman kami. Mimpi-mimpi yang dulu pernah membakar semangat kami, meski akhirnya kenyataan tidak mengijinkan kami untuk bersama.

Tak sedetikpun pernah kulupa tautan waktu yang kami jalani bersama. Dukungannya saat aku harus menyelesaikan skripsiku, senyum bahagianya saat menemani sidangku dan menyambut diriku dengan toga. Tawa kerasnya saat iapun mengenakan toga dan menunjukkan pada dunia AKU BISA. Keteguhan akan pilihan hidupnya untuk berdiri di atas kaki sendiri. Senyum letihnya saat cobaan datang bertubi-tubi dalam hidupnya. Dan kesetiannya pada diriMU dan rasulMU,walau itu kepahitan yang harus ia telan…

Dulu, aku selalu meminta padaMU, ijinkan aku menemaninya di saat senang maupun susah. Ijinkan aku merawatnya di saat sakit dan mengingatkan untuk selalu tawaqal di saat sehat dan bahagia. Namun, aku dan ENGKAU tahu, aku telah melakukan kesalahan yang membuatMU berpaling dariku dan memisahkan kami karena saat itu bagiMU ini yang terbaik dan ENGKAU menagih janji taubatku untuk memperbaiki diri. Kini, saat seluruh hidup ini untukMU, masih bolehkah aku menyimpan rasa ini untuknya, dan tentu dengan seijinMU ya Rabb? Aku telah berusaha membuka hati dan memberi kesempatan laki-laki lain untuk masuk di dalam hidupku. Namun, sampai sekarang, ruang hatiku masih belum bertemu si pembawa kuncinya. Sudah adakah perempuan lain menghiasi ruang hatinya Rabb??

Astagfirullah..apapun itu, bantu hamba untuk menjaga ketulusan ini Tuhan. Hanya karena aku tahu, ENGKAU tak suka hambamu yang dirajai emosi. Hanya karenaMU Tuhan.

Pagi tadi, aku membuka lagi email-email yang ia kirimkan tentang berita diterimanya ia di sini, tentang bisnisnya yang kini sudah mulai berkembang, klien-klien yang menyenangkan dari luar negeri, bahkan ia berhasil membuka kantor cabang di ibukota dengan nama perusahaanya sendiri, tentang rencana belajarnya untuk mengembangkan usaha dan menyerahkan manajemen perusahaanya pada seorang yang ia percayai dan ia akan tetap mengontrolnya dari luar negeri. Sungguh air mataku tak dapat tertahan, sujud syukur padaMU Tuhan, ia berhasil melompat lebih tinggi. Mulanya tak kuasa, aku ingin membalas dan menceritakan bagaimana aku begitu bahagia dengan kesuksesannya. Bagaimana aku begitu bangga melihat fotonya di bandara yang didampingi oleh Ibunya tersayang. Senyum lebarnya tak pernah berubah..tapi saat jari-jariku hendak menekan tuts-tuts keyboard hatiku seolah berteriak “Jangan Imah! Jangan biarkan harapanmu menghalangi langkahnya lagi. Ia sudah sangat bahagia, jangan kau kurangi dengan harapan-harapan semumu lagi. Doakan saja dan lakukan tanpa ada harapan”

Tuhan, ini aku

Memilih untuk datang ke kampus impiannya, sebagai tanda syukur dan kebahagiaanku untuknya. Tolong jaga dia Rabb, moga ia mendapat teman-teman yang baik, guru-guru yang perhatian dan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Moga ia selalu menjadi anak yang berbakti dan membahagiakan Ibunya.  Jika rasa ini sudah ENGKAU ijinkan untuk hadir menghangatkan dirinya, tolong sampaikan padanya “I always feel you..”

Itu sudah.

***

Aku tutup Davy Jones diary dan beranjak pergi menuju Den Haag. Seorang laki-laki kulit putih, tinggi dan berambut kecokelatan menyapaku ” Hallo, are you a student here?” aku tersenyum ” Hallo, I’m not a student, I just sightseeing here. You got very artistic library building here. I took lots of pictures around” . Sesaat dia menatapku dan bertanya ” Are you from Indonesia?? you look a lot like my Indonesian friend” , ” Yes, I am Indonesian what’s your friend name”. Dengan mata yang berbinar ia meraih tanganku dan mengajakku masuk ke dalam gedung ” His name is Ali, we have an appointment here. He must be glad to meet Indonesian people here!!, I’m James by the way” Aku kaget, dan hatiku berdegup kencang. Nama itu. Nama yang meraung-raung di relung ini. Tidak! Hatiku bingung, di satu sisi aku ingin sekali bertemu dengan orang Indonesia itu, tapi di satu sisi aku tak ingin air mata ini tumpah dan melukai hatinya lagi. Lalu aku tarik tanganku dan berusaha menjelaskan pada James “James, sorry I know your friend Ali and I really want to meet him. But I can’t meet him now… please tell him, Congratulations I am happy for him” Lalu aku berpaling dan melangkah terburu-buru. “Hey wait!! at least tell me your name….” teriak James, yang aku balas hanya dengan senyuman..

Sore itu, angin musim gugur menemani langkahku menyisiri kampus impiannya. Kali ini tak ingin ada air mata, cukup dalam hati saja. Aku tersenyum.

*******************************************

Ali

Haaah….aku lepas kacamata dan menggosok-gosok mataku. Capek juga rasanya harus di depan komputer seharian, chatting bareng mama yang selalu khawatir apakah aku cukup makan disini, bagaimana dengan cuaca, etc. membalas email tangankananku, mengontrol cash-flow perusahaan, membaca laporan bulanan dan mengirim proposal-proposal proyek. Namun, mataku tak luput dari reply email darinya, gadis itu. balasan yang sangat singkat

From : Fatimah

To : Ali

Subject : Alhamdulillah

Alhamdulillah, I always know you can make it. Meet you on the top and never give up Ali.

Salam buat mama.

Fatimah

Meet you on the TOP. kata-kata yang seolah-olah berbusa karena terlalu sering ia katakan. Seharusnya aku bersyukur ia masih mau membalas emailku. Tapi sesungguhnya aku rindu dengan email-email panjangnya, cerita-ceritanya, humor-humor jayusnya, manjannya, perhatiannya dan semangatnya yang kadang aku ejek dengan bawel lalu ia akan mengerutkan bibirnya kedepan dan membentuk raut muka yang lucu itu… Fatimah

Mungkin ini memang yang terbaik, tapi setiap namanya melintas di pikiranku, hati ini seolah tersayat perih hanya karena mengingatnya. Rabb, dimanapun ia berada tolong jaga dan sayangi dia, melebihi aku yang selalu ingin melindungi dan tak rela melihat air matanya jatuh…

Huff!.. Aku harus kuat, inilah jalan yang kupilih. Kalau memang kami berjodoh biarlah Tuhan yang mengatur jalannya, aku hanya bisa melakukan yang terbaik. Menjadi anak yang berbakti, menjaga silaturrahmi dan tetap tawaqal.

Aku bergegas turun tangga menuju lobi, menunggu James sahabat belanda totokku. Hari ini kami akan mendiskusikan laporan tugas proyek yang kami kerjakan bersama. Belum 10 menit aku duduk, datanglah ia laki-laki kulit putih itu dengan napas yang tersengal-sengal ia memborongku “Ali!! You know what, i met a girl outside and she said she know you. I asked her to come and meet you but she said No. She just said, congatulations and she is happy for you..hahh hahh.. do you know who is she?? ” ..sambil mengajaknya duduk aku berusaha membuat sohibku ini tenang “calm down James, tell me how is she looks like, did she tell her name? ” “no unfortunately, she didn’t. she’s shorter than me, and looks just like you with veil dan dark purple jacket with white feathers around her neck just like a rabbit”

Jaket ungu tua dengan bulu putih?? Deg!! bagai kilat yang datang di siang bolong, aku kaget dan berdiri. Tak ada nama lain selain namanya yang terlintas sekarang. James mengamit tanganku ” hey, what happend Ali. Do you know her? “

“Not just know James, I feel her …. she is Fatimah”

************************

*Tetaplah menjadi bintang di langit,Agar cinta kita akan abadi,Biarlah sinarmu tetap, menyinari alam ini,Agar menjadi saksi cinta kita,
berdua… berdua…

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Jumat, Mei 14, 2010 in Prosa

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: