RSS

Chapter 1 : SD TI

26 Apr

Februari 2009, 07.00

Yogyakarta

Aku melangkahkan kakiku melewati gerbang setinggi bahu berwarna kuning. Hari ini cuacanya sedikit mendung, bulan januari baru saja berakhir menyisakan banyak kenangan, pendadaran yang menghebohkan teman-teman satu kosan, pertanyaan-pertanyaan keluarga tentang masa depan, pertemuan pertamaku dengan sekolah inklusi yang begitu berkesan, pontang-panting menyusun arsip-arsip lamaran guru bahasa inggris dan sampailah aku disini sekarang.

Di depanku berdiri kompleks 3 gedung yang salah satunya berlantai dua dan terbuat dari  bambu. Bangunan depan adalah rumah mungil warna-warni penuh gambar anak-anak tempat administrasi dan play group. Di ujung atas temboknya ada satu speaker yang setiap pagi melantangkan lagu-lagu gembira. Bangunan tengah berbentuk memanjang terdiri dari tiga ruang. Dua ruang untuk TK dan satu ruang untuk Laboratorium Komputer. Bangunan belakang adalah gedung bambu dengan 7 ruang kelas, 1 ruang guru dan 1 hall serba guna. Itulah kampus kehidupanku berikutnya, Sekolah Inklusi SD Tegar Insani. Sekolah Inklusi adalah sekolah yang diprogram untuk anak-anak normal dan berkebutuhan khusus (ABK) , dengan tujuan memperluas sosialisasi anak-anak ABK dan meningkatkan empati anak-anak normal.

Tahukah teman, aku percaya bahwa rencana Tuhan adalah yang terbaik. Begitupun dengan pekerjaanku sekarang. Mulanya aku hanya sering diminta berdiskusi tentang skripsi Sari, sahabat saya, yang menulis tentang metode mengajar anak berkebutuhan khusus. Lama-lama aku malah tertarik sendiri mendengar ceritanya, dengan sedikit memaksa aku bujuk Sari untuk mengajakku melihat sekolah tempat ia meneliti, SD TI.

“Tapi kamu ga boleh kaget lho liat sekolahnya, soalnya ini bukan sekolah bonafif kayak SD BM yang terkenal itu” ujar Sari.

Tanpa pikir panjang lagi akupun mengangguk-angguk dan tersenyum lebar. Entah mengapa aku merasa begitu penasaran dengan sekolah ini. Memang, sejak dulu khayalanku tidak pernah lepas dari dua kata, pendidikan dan anak-anak. Mungkin karena pengaruh kakekku mantan kepala sekolah sebuah SD di Bali, begitu pula ‘uwak’ (kakak dari ibu) pertamaku yang seorang guru matematika SMP. Seolah-olah pendidikan itu its in my blood…

Teng..teng..teng..

Aku tersentak! Khayalan tentang bulan januari membuatku lupa untuk menemui Ibu Yulia, kepala yayasan. Bergegas aku menuju gedung depan dan mengetuk pintunya, “Assalamu’alaikum, saya Listia ingin bertemu dengan Ibu Yulia” sapa saya pada seorang akhwat berjilbab biru muda. “Wa’alaikumsallam, ooo Listia njiih saya Ina.. jenengan sudah ditunggu Ibu di ruangannya, mari silahkan masuk..”

Aku mengikuti mbak Ina menuju sebuah ruangan kecil sederhana dengan 2 rak buku berjejer dan satu meja kerja. Dibelakang meja itulah duduk seorang perempuan paruh baya tapi berwajah tegas dan menurutku jarang tersenyum, Ibu Yulia. “Selamat pagi mbak Listia, kedatangan anda sudah saya tunggu, silahkan duduk. Ina, tolong panggilkan Ibu Yeni”. Mbak Ina mengangguk dan beranjak keluar dari ruangan. Tinggal aku dan Ibu Yulia.

Aku tarik nafas dalam dan mencoba mulai pembicaraan ” Sebelumnya saya berterimakasih pada Bu Yulia, karena ibu sudah memberikan saya kesempatan sebagai guu….”

Omonganku disela Bu Yulia “To the poin saja ya mbak Listia, ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, menjadi guru bahasa inggris dan membuat anak-anak menyukai bahasa inggris itu tidak gampang, apalagi anda harus menghadapi bukan hanya anak normal tapi juga ABK dalam satu ruangan yang sama! Anda dituntut untuk kreatif, peka dan tidak membeda-bedakan perhatian. Keputusan saya menerima anda, karena saya melihat anda sangat antusias saat interview dan micro-teaching tapi kita lihat saja apakah anda masih tetap antusias setelah terjun langsung ke lapangan.. ”

“saya akan melakukan semampu saya, Bu” jawabku memantapkan hati.

Ibu Yulia menurunkan kepala sejenak dan selama 5 detik menatapku lamat tanpa suara, aku jadi semakin tegang. “Kedua, seperti yang sudah saya tekankan saat interview, sekolah ini bukanlah tempat yang tepat untuk mencari harta dan hidup yang mewah. Saya tidak mengharapkan Mbak Listia akan berdiskusi tentang honor setelah anda menandatangani kontrak. Lebih baik jika anda keberatan dengan anda bisa resign sekarang, tapi jika tidak silahkan tandatangan di bawah ini” Lanjut Bu Yulia sambil menyodorkan selembar kertas dengan tulisan hitam tebal di atas Surat Kontrak.

Sambil menelan ludah, aku memejamkan mataku dan bergumam Bismillah.. tanganku bergerak mantap di atas kertas menulis namaku Listia.

Tok..tok..tok

“Assalamu’alakum Bu Yulia, jenengan memanggil saya?” Sapa seorang perempuan semampai berkacamata yang tiba-tiba sudah hadir di belakangku. “Oya bu Yeni, perkenalkan ini mbak Listia guru bahasa Inggris kita yang baru. Dia memang mulai mengajar besok tapi saya minta tolong Bu Yeni untuk mengenalkan mbak Listia ke anak-anak dan staff guru” Permintaan Bu Yulia itu langsung disambut dengan anggukan hormat Bu Yeni dan dia langsung menjabat hangat tanganku sambil tersenyum “Mari mbak Listia, saya sudah mengumpulkan anak-anak di hall, mereka pasti senang ada guru baru”

Selama perjalanan menuju hall kami banyak mengobrol dan saling mengenal.Bu Yeni ternyata orang Yogya asli, masih tinggal dekat dengan lingkungan keraton. Mungkin itu mengapa tutur katanya lemah lembut sekali.

“Mbak Listia, jika tidak keberatan bagaimana kalo selama di sekolah jenengan dipanggil Miss Listia, supaya anak-anak terbiasa dengan bahasa inggris”

“hmm boleh juga Bu, ide yang bagus…” dalam hati aku mencoba untuk meresapkan panggilan baruku, Miss Listia..

.Di hall.

“Assalamu’alaikum, selamat pagi anak-anak” sapa Bu Yeni penuh senyum pada gerombolan anak-anak berseragam merah putih yang sedang membentuk lingkaran dan ditemani beberapa guru yang ikut duduk melingkar.

” Wa’alaaaaaikuumsallaaaam,, Bu Yeniiiiiiiiiiiiiiiiiiii..” sapa mereka kompak dan khas anak-anak.

“Hari ini Ibu Yeni, ingin memperkenalkan guru baru, langsung saja kita sambut ya..” lalu sambil mendekat ke arahku Bu Yeni berbisik ” Silahkan mbak perkenalkan diri anda”

Aku menarik napas dalam sambil bergumam, Bismillah, “Assalamu’alaikum, Good Moooorzzning everyoneeee, let me introduce my self ,my name is Miss Listia and from tomorrow I will be your English Teacher” teriakku lantang yang diikuti dengan wajah melongo sebagian besar murid-murid itu. duh gustii… >.<

Akhirnya ada satu anak laki-laki kecil dengan permen lolipop di tangan kirinya berkata “Ora mudeng , bu!” dan yang lainnyapun langsung tertawa terbahak-bahak sambil mengangguk “Iyoooo..iyoooo”.

Hehe…aku hanya bisa nyengir sambil memperbaiki kesan pertamaku ” oo maafkan saya ya, yang barusan itu bahasa Inggris, yang artinya Selamat pagi, perkenalkan nama saya  Miss Listia dan mulai besok saya akan menjadi guru Bahasa Inggris”  jawabanku ini langsung disambut dengan

” oooooooooooooooooooo……” 😀

Prok.

Bu Yeni menepuk tangannya sekali “Baiklah anak-anak, sekarang saatnya kalian masuk kelas dan belajar. Perkenalan dengan Miss Listia bisa dilanjutkan besok saat pelajaran Bahasa Inggris. Sekarang kalian maju satu-satu dan perkenalkan diri kalian dengan rapi”

Bak anak ayam yang dilempar beras, anak-anak itu berhamburan dan berusaha meraih tanganku dan menyebutkan nama mereka satu-satu. Terus terang, tak ada nama yang bisa kuingat, karena anak-anak itu sangat ramai. Hingga tersisa satu bocah laki-laki, rambut cepak, sawo matang dengan pipi agak tembem. Matanya mengarah kemana-mana seakan sedang memikirkan sesuatu, dia meraih tanganku

“Aku Wafi, kamu siapa? kamu autis ga?”

Aku kaget! sampai tidak bisa berkata-kata lalu Bu Yeni dengan sigap memberitahuku dengan lirih “Wafi adalah salah satu murid ABK disini..”, mendengar itu aku mulai paham perlahan dan menatap Wafi

” Aku Miss Listia, aku tidak autis kalau kamu? ”

Sambil tersenyum riang dan dengan mata menatap kemana-mana dan tidak pernah menatapku dia menjawab

“Aku autis lho. Aku ga boleh makan tepung sama cokelat. Miss Listia darimana?”

Masih takjub dengan jawabannya yang lugu akupun menjawab ” hmm..Miss Listia dari Bali”

“Bali ya…yang ada pantai Kuta itu kan??” tanyanya dengan mata masih menerawang “iya benar..kamu pintar ya Wafi” Senyum bocah itu langsung tambah lebar dan cepat ia berlalu menuju kelas.

Dalam hati aku berpikir, mengapa dia ABK ya? Selain karena matanya yang selalu menerawang menurutku dari cara dia bertanya dan membuat obrolan tak ubahnya seperti anak biasa. Sampai beberapa detik kemudian, aku dikagetkan karena anak itu kembali, masih dengan senyum riangnya.

” Miss Listia kamu autis ga? kamu darimana?” mataku membesar kaget campur bingung, “Wafi, bukannya tadi sudah Miss Listia jawab ya? ” anak itu hanya nyengir dan menunggu jawabanku ” hehe….”

Bagai ruang gelap yang dihidupkan lampu, pemahaman itu seolah-olah langsung ada di depan anakku. Wafi memang anak berkebutuhan khusus, itu karena dia istimewa dan tidak seperti yang lainnya.

Aku tersenyum dan mengarahkan wajahnya dengan pelan hingga matanya menatap ke arahku ” Wafi, coba diingat ya, Miss Listia dari Bali dan tidak autis..Wafi bisa kan mengingatnya?”

“Iya Miss Listia yang dari Bali dan tidak autiiiiis..”

Itulah hari pertamaku di kampus kehidupanku yang baru, dan baru saja aku bertemu dengan salah satu gurunya,

Wafi.

*****


.:geknana:.

Iklan
 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Senin, April 26, 2010 in Serial Miss Li

 

Tag: , , , ,

4 responses to “Chapter 1 : SD TI

  1. Listia

    Senin, April 26, 2010 at 2:01 am

    wow…it makes me so curious…it’s a great beginning Gek Na…am I like that???xixixixi

     
  2. geknana

    Senin, April 26, 2010 at 6:17 am

    makasi komentarnya sayaang…abis klo nana tutup mata dan ngebayangin siapa nama si tokoh gurunya, paling mantap emang Miss Listia… 😀

     
  3. sa

    Rabu, April 28, 2010 at 5:47 pm

    Subhannallah..seperti jadi listia aku mbacanya. kapan ya..aku belajar di kampusmu itu? *tag sabar*

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: