RSS

Episode 11 : Bidadari2 Ramadhan

16 Sep
Salma

Salma

Maemunah

Maemunah

Hari ini, tiba-tiba aku teringat kenangan perkenalanku dengan mereka. Di Mushalla Al-Hidayah Ramadhan tahun lalu. Saat itu aku sedang sibuk mencatat isi kuliah subuh yang dibawakan ta’mir masjid. Tiba-tiba jari-jariku terhenti menulis, ketika aku sadari beberapa pasang mata sedang mengamatiku dari depan shaf tempatku duduk. Aku balas memandang mereka, dan mereka tersenyum. Damai rasanya. Mereka bertanya ” Mbak, kowe ono’ tugas dari Pak Guru juga po?” Mendengarnya, aku hanya bisa tersenyum dan menjawab, ” Iya dik, tugas dari GURUKU”. Setelah selesai, kamipun berkenalan. Mereka menuturkan nama-nama yang terdengar merdu di telinga. Salma dan Munah. Selamat dan Yang diberkahi ALLAH. Dan itulah awal perkenalanku dengan bidadari-bidadari ini.

Semenjak saat itu, ramadhanku terasa lebih berwarna dan bersemangat. GURUKU mengirimkan bidadari-bidadari untuk menemaniku belajar tentang dunia akhirat. Setiap aku menginjakkan kakiku di Mushalla itu, langkah ini terasa ringan untuk berjalan ke arah mereka, dan waktu terasa begitu cepat berlalu di tengah kegembiraan beribadah bersama. Bergabung menjadi Jama’ah dengan yang lain. Terharu rasanya, mengingat merekalah yang mengajarkanku untuk peduli. Ketika shalat berakhir dan tikar-tikar bekas makmum masih terbengkalai di lapangan, dengan lugas mereka menegurku ” Ayo mbak, tikarnya kita gulung”.

Pertemanan kamipun tak cukup berlalu di Mushalla saja, lambat laun kamipun memutuskan untuk jalan-jalan bersama. Ke wilayah sekitar UGM, ke Musum Mainan Anak, Pameran Mainan, menonton film depan kompi, dll. Ada-ada saja tingkah mereka yang mengetuk-ngetuk pintu ketakjubanku. Siang itu misalnya, matahari tengah menyengat panas di sekitar pasar Bringharjo, saat itu kita baru saja pulang dari Pameran Mainan dan rasanya lelah, haus gak ketulungan. Saat itu kami berlima, dan beberapa dari kami mulai mengeluh kehausan. Namun dengan tegas Salma mengingatkan teman2nya ” Sabar dong, masih puasa nie,,, tunggu magrib dulu. Mending kita shalat dulu yuk biar segar…” Subhanallah. Adakah yang masih memandang bahwa semua anak-anak hanya bisa manja dan cengeng? Mungkin selama ini kita masih terperangkap dalam kacamata stereotype kita. Dan kawan, saat itu aku langsung memutuskan untuk mengganti kacamataku terhadap anak-anak.

Salma , Munah, anak ketiga dan keempat dari 7 bersaudara keluarga Abi dan Umi yang tinggal dibelakang pondokanku. Keluarga yang hangat dan sederhana. Aku ingat saat pertama kali bertandang ke rumah mereka, saat itu Umi sedang menggendok Faudzan si bungsu, sementara tangan lainnya sibuk dengan gunting dan kain-kain yang siap dijahit sesuai pesanan. Dari tutur katanya, aku tahu Umi adalah ibu yang cerdas, lembut dan kuat. Meski harus mengasuh ketujuh anaknya, Umi masih bisa meladeni pelanggan-pelanggan yang suka akan jahitannya, mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengajar anak-anak tentang ilmu dan agama. Ketujuh anaknya adalah anak-anak yang berprestasi di sekolah. Sungguh! Beliau bagai Mahadewi2 yang dicipta untuk memperindah dunia dengan kelembutan, kecerdasan, ketabahan, ketangguhan dan Cinta.

Kini, setahun telah berlalu.

Satu tahun bagiku telah membawa berbagai dinamika tentang kehidupan. Aku akui tahun ini, aku kurang mempersiapkan kedatangan tamu agung, Ramadhan. Muncul kekhawatiran, akankah tamu tahun ini akan bertandang seindah tahun yang lalu?

Namun, kekhawatiran2 itu lenyap ketika kembali aku langkahkan kakiku ke Mushalla Al-Hidayah dan bertemu dengan wajah-wajah bidadari itu. Kejenuhanku selama beberapa waktu seolah-olah lenyap dengan sapa dan celotehan mereka. Seperti hari ini, ajakan mereka untuk menikmati suasana kota ba’da subuh dengan kaki telanjang membuatku melihat sisi lain dari kota yang selama 4 tahun ini aku tinggali. Suasana yang sejuk, banyak kicau burung2 di sekitar kampus kehutanan dan purnama yang pagi ini masih menyapa. Setelah pulang dengan kaki-kaki yang lelah aku hanya bisa bersyukur bahwa GURUKU mengirimkan mereka padaku.

Aku suka belajar dengan mereka, mereka itu polos dan lugas!. Tanpa segan mereka bertanya tentang kehidupan. Termasuk tentang Cinta yang mulanya membuatku sedikit kalang kabut. “Mbak, kowe wis nduwe bojo po? ” Tak apakah membicarakan Cinta pada mereka? Namun Cinta menunjukkan padaku bahwa tidak ada batas usia, agama, suku, ras, bangsa, status, jarak maupun kelamin. Jika Cinta bisa membuat kita menghormati, memahami, menyayangi, mengingatkan, membahagiakan manusia yang lain, memanusiakan manusia. Begitupun anak-anak. Cintalah yang menunjukkan padaku bagaimana memanusiakan anak-anak. Sungguh sangat disayangkan bila masih ada mereka yang sombong dan memandang anak-anak hanyalah makhluk yang manja, nakal, cengeng dan belbagai stereotype yang lain. Aku teringat akan tulisanku beberapa waktu yang lalu tentang anak-anak “Hantu Tengah Malam”

“Kelirulah mereka yang melarang anak-anak untuk belajar menCinta. Jika kau masih bertanya apa itu Cinta, matikan TV dan Radio yang penuh dengan roman picisan itu sejenak dan pandanglah bola matanya, di sana, ada sejuta Cinta yang akan kau mengerti bila kau mau berusaha untuk memahami. Dan masihkah kau mengira dirimulah yang lebih segalanya dari mereka? Ingat, yang membedakanmu hanyalah rentang waktu dalam umur, selain itu kita tidak tahu.”

Terima kasih bidadari-bidadariku, kalian pernah mewarnai hari-hariku di bulan yang suci. Egoku menginginkan kita tidak berpisah untuk selamanya, tapi saat ini aku tengah belajar mengerti tentang ketidakpastian dan takdir. Dan aku hanya bisa melakukan dua hal, menghargai setiap detik yang kita miliki bersama, dan berdo’a semoga kita berjodoh lebih lama. Amin

Rasanya sedih bila harus memikirkan saat Ramadhan tahun ini akan berakhir. Akan sulit lagi bagiku untuk pergi ke Mushalla di waktu subuh dan isya’ mengingat kondisi yang gelap dan sepi selain bulan Ramadhan.  Sudah tidak ada lagi pemudi-pemudi sepantaranku yang akan berjalan bersama menunaikan ibadah agung di Mushalla.  Hahhh,,, aku akan sangat merindukan saat-saat ini. Kawan, ayo kita makmurkan masjid, mencapai kebahagian beribadah dengan berjama’ah, kita makmurkan tidak hanya pada bulan ini, tapi bulan-bulan selainnya. Karena kita tidak pernah tahu, berapa lama waktu yang masih tersedia untuk kita…..

Kaki lelah, kotor dan senang!

Kaki lelah, kotor dan senang!

Itu Sudah

(na)

Iklan
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Selasa, September 16, 2008 in Mind, Tentang Manusia

 

Tag: , ,

3 responses to “Episode 11 : Bidadari2 Ramadhan

  1. -=aMiTa=-

    Rabu, September 17, 2008 at 1:10 am

    anak2 itu sungguh luar biasa..
    😉

     
  2. achfaisol

    Rabu, September 17, 2008 at 3:30 pm

    selamat Berpuasa… semoga segala ibadah kita diterima oleh Allah SWT, amin…

    saya membuat tulisan tentang “Berdzikir Membuat Hati Tetram, Benarkah?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/berdzikir-membuat-hati-tentram-benarkah.html

    (link di atas adalah tulisan ke-1 dr 5 buah link berdzikir membuat hati tentram)

    semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: