RSS

Episode 10 : Kartini (2)

07 Sep

sebuah komentar sangat menarik buat tulisanku yang berjudul “Episode 4 : Kartini” dan membuat semakin semangat menulis dan belajar. Terimakasih sebelumnya untuk saudari Nurul yang telah mengirimkan komentar ini :

“hari kartini?no way….sebelum kartini lahir banyak pahlawan yang berjuang melebihi kartini…perempuan berperang cut nya dien dll sudah ada, perempuan bukan hanya melahirkan sudah terhapus pada jaman pahlawan perempun islam…so jangan propaganda Indonesia kartini adalah sebagai titik peringatan majunya wanita indonesia..bullshit hanya tulis surat jadi pahlawan , kerjasama dan surat2an dengan orang asing yang notabene saat itu mungkin kartini dijadikan boneka dan dia saja yang tdk tau..dia itu wanita pejuang emansipasi..tapi liat dia diam saja ketika menikah dengan orang yang lebih ta..sehausnya dia bisa memilih pra gagah..yang pintar ..kalo memang dia pejuang>>>???so, apanya yang harus diperingati???so anda jangan merasa betul atau salah dalam komentar..jangan setengah2 ..tegaskan mana yang harus diperingati cut nya dien atau kartini…jangan bisa..secara ga lansgn anda pro kartini..saya pro cut nya dien..saya tdk bodoh..yang memperingati kartini yang bodoh…ga ada hikmah dan nilai ibadahnya memperingati hari kartini..yang ada hanya perlombaan kebaya ..aurat masih keliatan neng…please..pikir kalo mau ibadah…”

Dear Nurul,

Assalamu’alaikum, salam kenal. setelah membaca dengan seksama dan dalam tempo yang selambat-lambatnya (:P, hehe) ada beberapa hal yang ingin aku diskusikan lagi denganmu.

Pertama tentang CUT NYAK DIEN. apakah kamu tahu, membaca tulisanmu tentang perjuangan CUT NYAK DIEN versus KARTINI langsung membuat imaginasiku terdampar pada sebuah permainan “Street Figther” antara Kartini duel dengan Cut Nyak Dien, adu jotos memperebutkan gelar perjuangan siapa yang paling layak diakui secara Nasional. (fufufu maap, pikiran2ku memang suka ngelantur). Tapi coba deh kita pikirkan lagi, apa layak nama-nama besar mereka kita pertarungkan untuk mencapai sebuah penghargaan. Aku yakin, saat CUT NYAK DIEN berjuang dengan gagahnya melawan kumpeni… tak pernah terlintas di dalam benaknya bahwa suatu hari dia akan menjadi pahlawan dan perjuangannya akan selalu dikenang. Dia melakukannya dengan tekad dan ikhlas. Aku menghargai keberanian dan perjuangan CUT NYAK DIEN dalam peperangan melawan ‘penjajahan’. Begitupun bangsa kita Indonesia. Bagiku, itulah mengapa kita memperingati HARI PAHLAWAN.

Lalu Kartini? Disini aku sedang tidak memposisikan diriku sebagai fans berat Kartini. Karena idolaku hanya satu, Rasulullah. Lagipula pengetahuanku belum cukup mendalam tentang biografi perempuan ini. Tulisan terakhir yang kubaca yang menyiratkan riwayat Kartini adalah “Jejak Langkah”, serial ketiga dari tetralogi Buru milik Pram’s. Dalam buku ini, Pram menyebut Kartini sebagai Gadis Jepara. Dan dalam buku itupun diceritakan tentang pergulatan-pergulatan pemikiran Kartini dan apa yang telah dilakukan dan belum sempat ia lakukan. Mungkin persangkaan Nurul, jika Kartini hanyalah boneka bagi orang-orang barat memang benar adanya, atau mungkin ada rekayasa ‘bandit-politik’ yang menggunakan isu-isu Kartini dan emansipasi perempuan untuk sebuah kepentingan, dan sampai sekarang belum ada jawaban pasti dan terpercaya mengapa hari Kartini kita peringati… bagaimanpun Nurul, yang kita bicarakan ini adalah sejarah. Cerita orang-orang tua di masa lalu. Permasalahannya adalah, ada berapa orang tua di masa lalu? dan bagaimana bila cerita mereka berbeda-beda?

Namun Nurul, andaikata hari Kartini tidak pernah ada dan aku tetap memiliki wawasan yang terbatas ini tentang Kartini, ada satu hal yang aku hargai sebagai hikmah dalam kehidupannya. Tentang cultural discrimination. Aku sepakat denganmu, bahwa nilai-nilai penghargaan atas kedudukan perempuan telah lama diajarkan dalam budaya Islam, ketika Rasulullah membimbing sahabat-sahabatnya untuk memperlakukan perempuan sesuai dengan fitrahnya. Memanusiakan Perempuan. Namun Nurul, kita tidak boleh lupa bahwa di tanah tempat kita berpijak ini ada budaya yang lain, budaya Jawa. Membaca literatur-literatur tentang budaya Jawa, kita bisa mengerti bahwa budaya Jawa selain dikenal dengan kelemahlembutan serta toto kromo-nya, juga dikenal dengan budaya kasta dengan pingitan bagi perempuan. Bagiku, budaya pingitan merupakan simbol dari penekanan kehendak perempuan. Aku bukannya tidak setuju jika perempuan menjadi Istri dan Ibu Rumah Tangga, tapi aku tidak setuju jika perempuan harus melakukannya dengan tidak ikhlas, terpaksa.Mungkin keterpaksaan inilah yang dilalui Kartini dalam hidupnya, sehingga dia harus menikah dengan Bupati Rembang dan melahirkan seorang yang anak yang juga menjemput kematiannya. Mungkin benar pernikahannya menjadi simbol padamnya pemikiran-pemikiran pembaharuan Kartini. Namun sebelum meninggal ada satu pesan yang ia sampaikan pada saudarinya (kira-kira) : “Tolong anakku dididik, supaya  ia bisa menghargai perempuan”

Menurutmu Nurul, jika kamu menjadi Kartini, apa yang membuatmu mengutarakan pesan terakhir yang demikian? Akankah itu tentang penyesalan dan wujud kepedihan mendalam karena prinsip : AKU MAU ,yang membuatnya memiliki banyak impian tentang perempuan, harus tertahan dengan terjangan diskriminasi budaya dan keterbatasan waktu yang membuatnya BELUM SEMPAT TERCAPAI? Atau malah sebuah ungkapan dendam terhadap semua keterpaksaan dan ketidakadilan yang ia alami dan harapan agar perempuan lain tidak mengalami hal yang sama? Atau

Dan pemikiran inilah Nurul, yang menurutku seharusnya setiap perempuan bisa merenungkan. Apa selama ini aku yang menentukan jalan hidupku? Jika menikah nanti apakah aku akan menikah dengan orang yang aku mau? Atau bisakah aku tidak menikah selamanya jika memang aku tidak mau? Jika aku diposisi terhimpit seperti Kartini pilihan apa yang akan aku ambil? Apa aku mau memiliki pengalaman seperti Kartini?

Menurutku, inilah sebenarnya esensi dari sebuah PERINGATAN . Aku juga kurang setuju jika peringatan hari Kartini dirayakan hanya dengan pameran kebaya saja. Karena sesuai dengan asal katanya; INGAT, peringatan seharusnya dilalui dengan meng-ingat tentang masa lalu, sejarah. Pameran kebaya membawa kita mengingat tentang lagak fisik Kartini, tapi sudahkah kita ingat tentang kehidupannya? tentang penderitaannya? pemikirannya? ceritanya? sejarahnya?dan mengambil hikmah dari semua itu?

Hal yang kupelajari dari Kartini adalah, berpacu sekaligus berdamai dengan bayang-bayang waktu yang tidak kita ketahui sampai kapan. Selain itu, aku semakin yakin jika kita bisa belajar tidak hanya dari pengalaman -pengalaman baik,heroik,bahagia,indah tapi juga dari pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan hati, mengundang rasa sesal dan getir ,sehingga membuat hati kita melantangkan keras;

AKU MAU BISA MELAKUKAN YANG LEBIH BAIK DARI ITU

aku yakin, kemauan menjadi lebih baik adalah salah satu modal dasar dari tumbuhnya  peradaban dan tentu saja kemajuan bagi umat manusia, laki-laki dan perempuan. Dan inilah hikmah yang bisa aku petik, dan bukankah belajar dan mencari hikmah kehidupan juga salah satu dari Ibadah kita pada ALLAH, karena sesuai dengan perintah pertamanya, IQRA! ??

terima kasih Nurul, kali ini kau membantuku untuk membaca lebih dalam…aku tunggu pendapat-pendapat kritismu lagi, sering-sering main ke blog orang yang lagi belajar ini ya 😛 , btw ada blog juga ndak?? bagi links githu…. 🙂


Wassalamu’alaikum

Itu Sudah

(na)

Iklan
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Minggu, September 7, 2008 in Mind, Tentang Manusia

 

Tag: ,

3 responses to “Episode 10 : Kartini (2)

  1. emeld

    Sabtu, September 13, 2008 at 2:19 pm

    Na,,, beraattt…. hehehehe

     
  2. geknana

    Sabtu, September 13, 2008 at 4:09 pm

    kan kata kakek Einstein, berat ato ringan itu relatif Non 🙂

     
  3. -=aMiTa=-

    Sabtu, September 13, 2008 at 10:41 pm

    seruuuu…

    perempuan dicipta (memang) untuk dicinta..
    seperti geknana ini..
    hihihi.. 😉

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: