RSS

Episode 6 : Layang-Layang

01 Jun

 

kuambil buluh sebatang
kupotong sama panjang
kuraut dan kupintal dengan benang
kujadikan layang-layang
berlari… bermain…
bermain layang-layang
bermain kubawa ketanah lapang
hati gembira dan riang….

Kawan… musim layangan sudah tiba. Tak peduli harga BBM melambung tinggi menyaingi layangan, tetap saja senda gurau anak-anak bermain layang-layang masih sering kudengar setiap sore hari.

Meski aku bukan seorang pelayang (pemain layangan -red) tapi terkadang aku suka memperhatikan orang-orang bermain layangan. Ingat! Layang-layang tidak mengenal batas umur, jenis kelamin, ataupun status. dari anak kecil yang lagi ingusan sampai orang tua yang kumisan pernah aku lihat bermain layang-layang. Dan saat ini aku merasa tidak cukup jika hanya menjadi penonton atau penggembira saja, aku sedang ingin menulis tentang mainan yang satu ini!

Let’s talk about it dear folks!

Udah pada tahu kan bagaimana cara membuat layang-layang?? Ini aku kasi contekannya sedikit, tapi maap tidak disertai penjelasan detailnya, karena eh karena, panjaaaaaaaaaang, hehe. Kalo mau lihat klik aja di-sini

 

Cara membuat layang-layang

Dari sumber yang sangat bisa aku percaya, layang-layang bisa dibedakan menjadi dua. Layang-layang hias dan layang-layang untuk diadu. Dari penampilannya, layang-layang aduan memiliki bentuk yang sangat khas , segi-empat-polos atau bahasa matematikanya : ya, Layang-layang !!!(fufufu :P) sementara layang-layang hias biasanya lebih banyak improvisasi dalam bentuk, bisa berupa ikan, burung, naga, segi-empat-berekor atau mungkin bentuk topeng, de el el (sayang belum pernah aku melihat layang-layang bentuk binatang kesayanganku, pinguin! ) Menurutnya lagi, ada dua tipe pelayang. Yang pertama adalah mereka yang menerbangkan layang-layang dan hanya ingin menikmati sensasi seni membuatnya terbang dan menikmati pemandangan saja. Sementara tipe yang kedua adalah mereka yang ingin bersaing dengan pelayang lain dengan cara mengaitkan benang layang mereka dengan layang yang lain, menarik ulur, dan jika benangmu lebih kuat maka kamu akan bisa menjatuhkan layang-layang lawanmu dan kamu menang! Mungkin tipe yang kedua ini lebih mencari sensasi persaingan dalam bermain layang-layang.

Layang-layang itu ternyata juga memiliki kasta ya?

Kastanya diukur dari seberapa panjang ekor layang-layangmu dan seberapa tinggi kamu bisa menerbangkannya. Hal ini terjadi di desaku, Bajera (Kabupaten Tabanan, Bali). Dulu aku ingat banyak anak laki-laki memotong-motong tas plastik dan menempel-nempelkannya di layang-layang mereka. Berlomba-lomba mereka pun pergi ke tempat-tempat yang lapang hingga mereka bisa mengulur benang mereka sepanjang mungkin sehingga bisa mencapai ketinggian layang-layang yang maksimal. Jika ingatanku tidak salah, bahkan pemuda-pemudapun turut berpacu dalam kompetisi-siapa-paling-tinggi ini.

Layang-layang itu gak kalah seru dengan sepak bola!

Setahuku, dibeberapa tempat di Indonesia setiap tahunnya diadakan festival layang-layang. Di Bali misalnya, festival ini biasanya diadakan di daerah pesisir pantai. Mengapa gak kalah seru dengan Bola? karena aku mengukur ‘seru’ dengan indikator animo masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam acara ini. Seperti sepak bola, banyak pemain banyak pendukung, begitupun layang-layang. Bahkan warga satu desapun bisa saling bekerjasama untuk membuat layang-layang sebesar,seindah,semegah,seunik mungkin untuk ditampilkan di dalam festival. Beramai-ramai dan berdesak-desakan di atas truk mereka menggotong layang-layang kebanggaan mereka untuk diperagakan dengan warga desa yang lain. Kepuasan tertinggi mereka tentu saja bila layang-layang “ter—-” mereka itu bisa terbang tinggi melebihi yang lain. Take the positive side, tanpa sadar mereka telah bersatu dan bekerjasama dalam kesatuan visi-misi menciptakan layang-layang paling indah dan paling tinggi.BUkankah akan lebih baik kalau kita juga selalu bisa merasakan “feel” yang sama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita? Memiliki cita-cita yang sama, Pancasila!


Pengalamanku bermain layang-layang?

Yah,,, aku mengaku kalo aku belum pernah sekalipun berhasil menaikkan layang-layang melebihi tinggi pohon kelapa. Belum tahu tekniknya. Pengalaman terakhir bermain layang-layang,,, kira-kira beberapa minggu yang lalu. Saat itu, aku sedang senggang di kampus dan sedikit suntuk dengan rutinitas. Kuputuskan untuk bertandang ke kantin UPT Unit I UGM, kantin Ibu Halimah, tempat biasanya aku nongkrong. Salah satu comfort zone-ku dalam kesendirian. Seperti biasa, aku pesan makan, ngobrol dengan Ibu Halimah, dan menggoda Dewi (anaknya bu Halimah-red) gadis kecil kelas 2-3 SD (aku lupa) yang setiap kedatanganku selalu marah-marah tapi mau (hehehe), bikin aku tambah gemes buat godain dia. Tapi tumben, saat itu dia sedikit lebih bisa diajak ngobrol dari biasanya. Ya sudah, kuputuskan untuk mengajaknya bermain di lapangan-rumput-hijau-kecil di depan kantin perpus. Saat itu dia membawa layang-layang dan mengajakku untuk bermain bersama. WHAT??? Layang-layang??. Dalam hatiku, aku sedikit malu, takut ketahuan kalo gak bisa main layang-layang (:P fufufu). Tapi untung gak bisa dicegah, malang lagi gak berpihak (;)) dia-nya juga gak bisa main layang-layang (horayyy :d). Jadi,,, yaaa sesama bukan pelayang dilarang saling mengejek!

Sayangnya, benang layang-layang kita terserabut-seliweran-kusut-gak-karuan. Akhirnya kita menghabiskan 15 menit untuk menguraikan benang kusut itu. Tapi, benangnya ternyata tidak terlalu panjang, kalo coba kuukur-ukur mungkin tidak lebih dari 5 meter. Awalnya kita pakai cara konvensional, Dewi memegang layang-layangnya, aku pegang ujung talinya, dan ketika benangnya sudah tertarik kencang aku hitung sampai tiga, dan secara bersamaan aku menarik benangnya dan Dewi melepaskan layang-layangnya. Tadaaaaaaaaaaaaa. Layang-layang kami hanya mengudara selama 3 detik! gak kurang gak lebih. Kita coba tukar posisi, tapi hasilnya sama saja. Akhirnya, karena hasrat kita untuk bermain layang-layang sudah tak terkendali (ck ck ck bahasanya aneh ya!) akhirnya kita memakai metode kita sendiri. Menerbangkan layang-layang dengan tetap berlari. Jika aku lelah membawa terbang layang-layang kuserahkan benangnya ke Dewi, begitu terus , teruuuus, teruuuus, hingga kita lelah karena berlari. Meski sedikit tidak nyambung, tapi aku ingat sebuah dialog yang diucapkan Jenny pada Forrest Gump ” Run Forrest, runnnn…”

Sensasinya??

Narsis tak dapat dicegah, jari-jari ini tak berhenti menekan tuts tuts keyboard, sejenak aku merasa seperti bintang iklan sebuah produk body lotion yang sedang berlari dengan anak-anak di tepi pantai dan bermain layang-layang, tapi bintang iklan yang ini tidak memakai baju tipis yang merumbai-rumbai dan sesekali memperlihatkan bagian tubuh yang terlihat mulus….putih….mulus…putih… (kumat…kumat…. 😛). Tapi yang pasti saat itu aku berada di salah satu puncak tertinggi kenyamananku bisa tertawa lepas,,,, berlarian bebas,,, gak peduli dipandangin ‘aneh’ oleh orang-orang yang lewat,,,,, mengenal sebuah ungkapan ‘tak acuh’,,,,,dan lepas dari semua suntuk dan kepenatan dalam rutinitasku…. sensasinya, LUAR BIASA!! ^_______^

Ngomong-ngomong tentang layang-layang nie,
Ada sebuah kalimat bijak tentang layang-layang yang aku tahu dari seseorang yang kujuluki ATYPK…

“Layang-layang dimainkan dengan kepala tegak, bukan menunduk! Layang-layang diterbangkan bukan dengan wajah menatap ke bawah, tapi dengan menatapnya ke angkasa! Sama seperti hidup, layang-layang adalah tanda agar kita selalu percaya bahwa optimisme dimulai dengan membangun harapan, bukan dengan kesedihan…Terus Kepakkan sayapmu, biatkan cobaan itu membuatmu kuat, biarkan jiwa-jiwa sabar menjadi penyejuk bagimu, jangan putus asa dan lemah hati!”

…………..

………..

Nah Kawan, gantian nie…
Kalo kamu,,,,
apa ceritamu tentang layang-layang ?
adakah kata-kata bijak yang kau tahu tentang layang-layang?

Kawan,,,
saat kau pandangi langit beserta seluruh isinya…
saat kau pandangi layang-layang terbang di angkasa dengan gemulainya…
saat kau bisa tersenyum hanya dengan memandang itu semua
masih adakah nikmat Tuhan yang Engkau dustakan ???

—tetap memuji-Mu dalam setiap degup yang berdetak—

 

 

……………………………………………………………………………………………..

Kamu : apa kata-katamu tentang layang-layang, na?
Aku :” Cintailah ia seperti layang-layang, kau ulur dan biarkan ia bebas terbang bahagia menggapai cita-cita dan menjadi dirinya sendiri…namun tetap mengingatkan dan menariknya kuat bila ia kehilangan arah dan hampir terjatuh. BUkankah saat kau temukan dirinya, kau berharap dia bisa terbang setinggi mungkin dan hal itu membuatmu bahagia ???

Cinta seorang pelayang adalah Cinta yang Ikhlas…

……………………………………………………………………………………………….

 

Itu sudah.

(na)

Iklan
 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Minggu, Juni 1, 2008 in Mind, Tentang Berita Sekitar

 

8 responses to “Episode 6 : Layang-Layang

  1. alter-Udjo

    Selasa, Juni 10, 2008 at 9:14 pm

    wah sama na aku juga ga bisa maen.
    hehe
    kacau banget yak..

    tapi paling seneng pas ngejar layang2 yang kalah aduan..
    rebutan..
    kejar-kejaran..
    cepet-cepetan..
    sama seantero penduduk kampung (nampak hiperbolis sekali)
    haha…

    yah emang sih sebenernya harga layangan tu ga seberapa..
    bahkan banyak layangan yang sering mampir ga di undang datang di halaman rumah..
    tapi ada kepuasan yang tak terkira (hiperbolis lagi dahh) dari mendapatkan dan hasrat pengejaran..

    si situ seninya..

    Semangat Mengejar!!!

    haha

    😉

     
  2. geknana

    Selasa, Juni 10, 2008 at 10:56 pm

    hoho,, Udjo juga gak bisa maen layangan ya…. welcome to the CLub bung,,, walo belum bisa, yang penting masih bisa menikmati dengan cara masing2,, ya gak Djo??

     
  3. emeld

    Kamis, Juni 12, 2008 at 3:10 pm

    aku tau orang yang dijuluki itu siapa… (kumat juga jahilnya!) :p

    dan u know what, subahanallah….

    lagi2,,, kmrn aku juga nulis puisi ttg cinta,,, (tapi ga pkuposting karna agak pribadi, hehehehe) ya intinya cinta orang yg sedikit mengekang… aku membalasnya dengan tulisan,,, intinya: cinta itu memberi kebebasan,, bukan kebebasan seperti layang2 lepas, terbang tanpa arah… tapi layang2 yg dijaga, untuk bs terus terbang tinggi di angkasa….

    ga sama persis ma tulisanmu,,, tapi ada beberapa bait yg mirip…

    yaampun Na…. kita emang punya kontak batin… hehehehe

    shilatun,,, mungkin ‘rasa’ kita telah disambungkan atas izin Allah SWT, subahanallah…

    I love U Na, becoz of Allah 🙂

     
  4. johan

    Sabtu, April 3, 2010 at 7:40 am

    “untuk membuat layang-layang kau butuh kerangka, lem, dan kertas yang kuat agar kau tak terberai,
    Dan itu kau peroleh dari orang-orang hebat di sekelilingmu.”

     
  5. yan's

    Kamis, Juli 7, 2011 at 10:03 am

    layang-layang
    dibuat dengan penuh upaya, dipilih dari bambu/kayu yang baik dan lentur,dibentuk dan diserut agar menghasilkan keseimbangan pada saat terbang diangkasa,ditempeli dengan bahan yang tipis namun kuat,agar tidak terbebani pada saat mengangkasa,sehingga menjadi perhiasan yang menawan di langit yang biru

    Demikian juga dengan kehidupan kita,yang dibentuk dan diasah dengan berbagai keadaan dan masalah yang ada. Keseimbangan pada setiap batang kerangka layang-layang,seperti halnya keseimbangan emosi duniawi dan spiritual kita yang terasah dari berbagai keadaan yang pernah kita alami,apabila kita bisa menyikapinya dengan dengan baik,kita bakal bisa “mengangkasa dengan tenang” dalam kehidupan dan akan menjadi perhiasan yang indah dalam kehidupan kita

     
  6. rizky

    Rabu, Mei 30, 2012 at 2:00 pm

    enak ya membuat layang layang ya aku lihat cara ini aku layangaku langsung bagus sekali memang oke

     
  7. rizky

    Rabu, Mei 30, 2012 at 2:01 pm

    layang yang dibuat pasti bagus sekali ya kalo mau coba silakan ya semua

     
  8. rizky

    Rabu, Mei 30, 2012 at 2:03 pm

    sapayang mau yangku buatkan ya bls

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: