RSS

Episode 3 : Syukur ada film AAC

06 Apr

Syukur ada Film Ayat-Ayat Cinta


“Jika niatan untuk menulis itu sudah tiba, maka bersegeralah kau tulis sebelum ia menghantuimu….”

(geknana)

Mungkin itu yang bisa aku jadikan sebuah kata pembuka dalam postingku kali ini. Sungguh, hampir satu bulan menyimpan ide-ide untuk menulis tentang AAC ini membuatku merasa tak enak makan, tak enak tidur, tak enak apapun ( overexagerrating :P) Tapi aku bersyukur ada banyak orang yang memicuku untuk bersegera menulis tentang film Ayat-Ayat Cinta ini. Diskusi singkat dengan Kak Aini membuatku semakin mantap untuk menulis dan mengidamkan kebenaran. Dan membaca posting sahabatku Emeldah, melecut niatku untuk segera menulis lagi tentang Ayat-Ayat CInta seperti yang sudah pernah kuceritakan padanya.Dia berhasil menjadi seorang motivator yang baik ^____^

Ide ini berawal dari sebuah review yang kutulis untuk memberikan komentar pribadiku tentang novel bestseller Kang Abik, Ayat-Ayat Cinta. saat itu ada banyak tanggapan berbeda yang ada di sekelilingku. Mencoba untuk mencari jembatan diantara perbedaan itu, maka aku menarik kesimpulan bahwa yang membuat novel ini menarik adalah nuansa keyakinan dan interkoneksi manusia dengan Tuhannya yang begitu kental. Tapi setelah menyimpulkan itupun, masih ada keraguan dalam hatiku, apa iya? semua orang memang menangkap pemaknaan yang sama sepertiku atau mereka memiliki ketertarikan pada sesuatu yang lebih konkret adanya? Pertanyaan selanjutnyapun mengarah pada isu-isu novel ini akan difilmkan. Apa iya, nuansa keyakinan yang kental itu akan tersirat dalam setiap adegan yang akan ditampilkan atau hanya sebuah ajang komersialisasi gaya hidup Islami di Timur Tengah???

Selama dua bulan ini, aku telah membaca puluhan komentar di media cetak, internet, televisi (yang paling jarang :P) yang membahas tentang Ayat-Ayat Cinta. Banyak sekali pujian yang menurutku terlalu melambung tinggi (bahasa gaulnya = lebay!) dan malah tidak memberikan suatu kebaikan bagi aktor maupun tim pendukung yang ada didalamnya. Banyak pula yang hanya memberikan kritik dan menurutku cenderung tidak solutif, hanya berupa guratan kekecewaan akan hilangnya figur Sang Idola (Fahri & Aisyah) yang begitu sempurna digambarkan dalam novelnya. Banyak yang bilang, Fahri di film jauuuuh berbeda
dengan Fahri di novel, banyak yang kecewa figur seorang Aisyah dalam film jauh dari kedewasaan, dll. Bagiku, aku sepakat dengan mereka yang mengatakan bahwa antara Novel dan Film Ayat-Ayat Cinta itu adalah dua hal yang berbeda. Yang menjadi benang merah hanyalah nama tokoh dan alur cerita secara general.

Bagaimana denganku?

Suatu Jumat, aku bersama mbak kosku (Yulia, Meta, Nicole dan temannya Nicole) akhirnya bisa pergi menonton film ini bersama di studio 21. Meski kita terlambat 20 menit dan tertinggal banyak adegan seru di awal film, tapi tak menurunkan kenyamanan kita untuk menonton. Adegan-adegan yang terkesan
terputus-putus mengesankan seolah-olah film ini belum digarap secara matang. Hal ini bisa berdampak ketidakpahaman tentang alur cerita bagi mereka yang belum membaca novelnya. Mengapa tiba-tiba Nurul menangis sedemikian getirnya ketika Fahri menikah? Selain itu setting pernikahan Fahri-Aisyah yang
lebih terkesan membawa nuansa India daripada Mesir, dengan taburan bunga-bunga oleh gadis-gadis di atas tangga, ataupun tempat Ijab Qobul mereka yang ada di atas kolam berbentuk lingkaran, ataupun soundtrack adegan Maria memeluk Aisyah yang akhirnya memutuskan kembali dan tinggal bersama (criiing)
melihatnya aku hanya bisa tersenyum dan secara tiba-tiba memori tentang film India lawas “Kuch-Kuch Hotahai” menelusup dibenakku. Lain halnya dengan mbak kosku yang melakukan tarian “gedubrak” saat adegan-adegan yang menurut kita “unexpectable”. :p lucu sekali.


Tapi yang ingin kujadikan fokus tulisanku kali ini adalah, perbedaan karakter tokoh utama Fahri, Aisyah yang digambarkan dalam film ini. Masih ingat? Fahri dalam novel adalah seorang figur yang sempurna untuk dijadikan calon suami bagi setiap perempuan (^___^). Bersahaja, supel, sopan-santun, dewasa dan
mampu bersikap. Sedangkan Fahri yang diperankan oleh rekan kita Ferdi Nuril ini jauh dari kesan dewasa, masak merasakan adanya ketertarikan seorang perempuan padanya saja ia gak ngerti? atau merasakan kecemburuan seorang istri saja ia harus bertanya pada temannya? atau ketika menangis begitu nelangsanya di penjara seolah-olah Fahri adalah jiwa yang lemah dan jauh dari kedewasaan.
Gak heran seandainya mbak kosku paling banyak melakukan tarian “gedubrak” pada adegan-adegan yang seperti ini.


Begitupun bidadari semua lelaki, Aisyah. Aisyah dalam novel yang begitu menjaga ‘harta’nya untuk kebahagiaan Fahri, dewasa tapi manja, cerdas dan bersahaja. Jauh dari kesan kekanak-kanakan yang kutangkap dari karakter Aisyah yang diperankan oleh Rianti Cartwright. Dengan suara kecil dan sedikit melengking serta nada bicara yang masih terkesan manja dan ‘gaul’nya VJ MTV masih terasa. Masih ingat adegan ketika Fahri merasa keberatan tinggal di apartemen mewah? (kira-kira) ” Kalo mau tinggal di apartemen yang sempit dan kumuhpun gak papa!, kalo gak mau pake mobil juga gak papa” (perhatian! seingetku dialog ini diucapkan dengan nada setengah ‘memancing kemarahan’ persis seperti anak perempuan yang ngambek karena gak jadi dibeliin boneka Barbie. Nah untukyang satu ini, jujur, akupun ikut menari tarian ‘gedubrak!’ fu-fu-fu

Oleh karena semua itu, setelah menonton film ini dan bersiap keluar studio
aku hanya bisa menghela napas dan terdiam sejenak.Mbak Yulia-pun memperhatikan
dan bertanya (kira-kira) ‘kenapa na,kamu kecewa dengan filmnya???’. Cukup
lama aku baru bisa menjawab pertanyaan mbak kosku yang cantik dan baik hatinya
dengan status belum menikah ini (hehe ini bukan ajang promosi lho). Beberapa
menit kemudian aku mencapai sebuah jawaban versi aku sendiri (baca : opini).

Jika dilihat dari nuansa yang diusung, Film ini memang jauh berbeda dari nuansa novel aslinya. Menurutku novel Ayat-Ayat Cinta lebih mendekati sebuah media dakwah yang menyebarkan nilai-nilai dan budaya kehidupan Islami sehari-hari, sementara itu Film Ayat-Ayat Cinta lebih merupakan sebuah media hiburan bagi para konsumen. Yang tentu saja, sesuai dengan prinsip ekonominya, harus menyesuaikan ‘produk’ dengan kondisi permintaan di pasar. Meski mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam masih sedikit yang menyukai program-program dakwah di media massa. Terbukti melalui kekalahan telak program-program berbau agama/dakwah dengan program hiburan seperti Sinetron, Gosip, Reality Show, dll dalam ajang rating program pertelevisian. Menurutku, konsumen perfilman Indonesia cenderung menyukai sesuatu yang bersifat konkret seperti lika-liku kisah romantika sepasang sejoli daripada sesuatu yang lebih bersifat maknawi semisal pencarian jati diri, pencapaian mimpi, dll.

Jika novel Ayat-Ayat Cinta menurutku lebih condong diperuntukkan untuk golongan tertentu maka Film Ayat-Ayat Cinta diperuntukkan untuk golongan yang lebih luas.Sehingga dapat kuterima bila ada banyak sekali pemotongan skenario disana-sini dan penambahan ‘bumbu’ adegan disana-sini. Menghadapi masyarakat umum dengan karakter dan prinsip berbeda-beda, tentu jauh lebih menyulitkan daripada segolongan orang dengan pemikiran dan keyakinan yang serupa.Dalam layar lebar yang hanya berdurasi + 2 jam, tidak banyak keyakinan yang bisa kau uraikan secara mendalam. Sehingga cukuplah adanya bila dalam film ini digambarkan Islam sebagai keyakinan yang harus dijalani dengan sabar dan ikhlas. Ataupun keyakinan tentang Cinta yang sangat berbeda dengan rasa ingin memiliki.

Tapi menurutku yang menjadi kesalahan fatal dari film ini adalah satu hal. Kegagalan memvisualisasikan tokoh-tokoh novel ke dalam sosok aktor dan aktrisnya. Meski memang sosok Fahri dan Aisyah dalam novel begitu sempurna bagai bidadari sehingga sangat susah untuk di’manusia’kan. Tapi menurutku pengembangan karakter yang dilakukan oleh para pemeran sangat tidak maksimal. Akting mereka kurasakan sangat kaku dan tidak luwes. Seolah ‘takut-takut’ akan ketidaksempurnaan hasilnya. Maaf,aku memang tidak punya pengetahuan dan pengalaman yang banyak di bidang seni peran tapi melalui hati ini aku bisa merasakan bahwa para pemeran film ini masih berakting menggunakan otak daripada hati mereka. Karena, jujur, hatiku tidak tersentuh sama sekali dengan akting mereka.

Namun kawan, ada satu hal yang meresap dalam pusar pemikiranku tentang film ini. Aku bersyukur film ini dibuat. Sebelum ada film ini, aku termasuk salah satu dari sekian banyak yang mengidamkan sosok Fahri sebagai pendamping hidupku. Sempurna. Impian ini membuatku buta pada kenyataan bahwa setiap orang memiliki kekurangan. Begitupun Aisyah, banyak perempuan berlomba mengikuti penampilan (kebanyakan) serta perilakunya demi mencapai sebuah image ‘calon istri idaman’. Yang kurasakan lebih banyak menyiksa kebebasan untuk berekspresi dan menjadi diri sendiri. Namun, setelah film ini ada, aku langsung disadarkan bahwa memiliki impian itu harus dijembatani dengan kedewasaan menghadapi realita. Ada proses panjang dibalik kesempurnaan Fahri dan Aisyah. Ada tekad, usaha dan pengorbanan. Ferdi Nuril dan Rianti Cartwright menunjukkan padaku, bahwa inilah adanya Fahri dan Aisyah apabila mereka di’manusia’kan. Tidak sempurna. Dan untuk itu, sekali lagi, aku bersyukur. Karena kini aku sadar, untuk mencari pasangan hidup janganlah karena syarat-syarat kesempurnaan yang kita pahat dengan pemikiran kita sendiri saja, tapi harusnya karena harmonisasi yang timbul dari rasa menerima dan kenyamanan, kesesuaian tujuan hidup serta keikhlasan untuk saling berbagi, mengingatkan, menyemangati dan saling menCinta hanya karena satu alasan. Sang Maha Cinta. Bukan Mr. Perfect tapi Mr. Right .

Goodbye Fahri…!

kini saatnya aku kembali pada keseimbangan, antara impian dan kenyataan.

………………………………………………………………………………………………..
Kamu : Na, siapa yang kau nanti sebagai pasangan hidupmu?
Aku : Dia,,, Imam yang memberikan kesetiaan sang Arkeolog.
………………………………………………………………………………………………..

Itu sudah

(na)

Iklan
 
16 Komentar

Ditulis oleh pada Minggu, April 6, 2008 in Mind, Tentang Film

 

16 responses to “Episode 3 : Syukur ada film AAC

  1. nyamukbingung

    Minggu, April 6, 2008 at 12:08 pm

    nobody’s perfect..

    emang beda banget nuansa dan spirit yang diusung oleh novel dan film-nya, biasanya yang udah baca novelnya pasti akan kecewa pas liat filmnya

    tapi at least film ini ngasi pelajaran, kalo Islam itu adalah sabar dan ikhlas, dan ngasi perbedaan, antara Cinta dan rasa ingin memiliki..

    begitulah..

     
  2. geknana

    Minggu, April 6, 2008 at 7:52 pm

    kalo dulu na tahunya seorang muslim itu punya hanya punya dua pilihan ; sabar dan syukur. kalo sekarang bolehlah tambah ma Ikhlas ^_____^. Kalo besok tambah apa lagi ya??

    curious…

     
  3. emeld

    Minggu, April 6, 2008 at 8:00 pm

    Na,,, thx ya adA namaku… hehehe ga penting ya comment-nya…
    ya, seperti biasa, tulisanmu membuka pemahaman baru di otakku,,,
    ada yg dulunya ga kepikir jd kepikir…
    dulunya cm sabar dan syukur, sekarang tambah ikhlas… hehehe ga nyambung ya? maaf2… otakku penuh dgn jurnal2 yg harus di review… hiks…

    bnyak yg bilang, filmnya mengecewakan dsb.. tapi jujur ya, emel lebih suka filmnya. lebih real. ya pendapat… ga selalu sama,,, tapi itu yg buat dunia ini mjd lebih indah 🙂

    salam penuh cinta,

    emel(d).

     
  4. geknana

    Minggu, April 6, 2008 at 8:07 pm

    sepakat! kalo kata nana sie Mel, filmnya lebih ‘manusiawi’ fufufu

    Kembali salam penuh Cinta ^_____^
    NaNa, si penCinta

    nb : selamat bergabung di klub penCinta, Mel ^___^

     
  5. aris khomeini

    Senin, April 7, 2008 at 8:38 am

    selalu ada pro dan kontra dalam pembuatan film apalagi yang bertemakan religi….tergantung gimana kta mengambil sisi positifnya aja….yg aku dapetin dari film ini cuman “sabar n ikhlasnya aja”…selebihnya hanya sisi percintaan dan poligami yg lebih ditonjolkan.

     
  6. geknana

    Senin, April 7, 2008 at 9:07 am

    na setuju kalo yang lebih ditonjolkan di filmnya hanya bagian romantis2 dan poligaminya… mungkin karena memang itu yang lebih men’jual’ di masyarakat….

    yaahh. na cuma berharap aja, setiap yang nonton bisa memberikan sudut pandang yang menyeluruh tentang poligami, gak cuma berakhir dengan kesimpulan.. aku ingin seperti Fahri yang bisa punya istri2 yang cantik kayak Aisyah dan Maria. Atau,, mengingat euforia lagu Sheila on 7 yang Shepia yang menurut pendapat na pribadi, menjustifikasi dan mempopulerkan ‘perselingkuhan’ . Sekarang jangan2 malah nanti ada euforia baru dalam hubungan pacaran/perCintaan “kamu Aisyah-ku, dia Maria-ku” ck ck ck.
    na cuma bisa bilang, Na’udzubillah.

    bukannya gimana ya, menurut pendapat na pribadi;
    Poligami itu bukan cita-cita!
    nana kagum dan menghormati mereka yang tidak memiliki niat untuk berpoligami dan menjaga diri dari poligami.

    fiuhhh.. entah ini suara hati seorang gadis yang belum beranjak dewasa atau suara hati seorang Aeschylus ???

     
  7. Ariyo

    Senin, April 7, 2008 at 10:42 pm

    أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

    Allah SWT memberikan kefahaman bagi kita (manusia) sesuai dengan kesanggupan kita masing-masing. Coba amati komen sahabat2 disini, masing2 punya sudut pandang, opini boleh beda satu dgn yang lain, mo subyektif ato obyektif itu terserah asalkan gak melampaui batas. Ada yg mengkritisi romantisme percintaan & poligami, ada yg dapet kunci sabar & ikhlas, ada yg menambahkan syukur, dll. Alhamdulillah, inilah IQRA’, InsyaAllah masing-masing ditambahkan ilmunya. Amiiin..

    Tapi tunggu, sudahkah kita ‘MEMBACA’ dengan menyebut asma Allah ?? Bukan sekadar melafalkan di mulut, tapi benar-benar disambungkan ke Allah. Mintalah langsung sama Allah agar diberikan ilmu dan hikmah-Nya, mintalah sama Allah agar kita difahamkan oleh-Nya agar keingintahuan kita tidak melampaui batas.

    “Ya Allah, ampuni kami jika kami lalai pada-Mu, kami takut yg muncul dari kami hanyalah opini emosional, riya’, pengakuan diri, atopun keburukan lainnya yang akhirnya membuat kami melampaui batas dan lalai pada-Mu”

    “Ya Allah, tolong luruskanlah kami, sucikanlah niat kami, tunjukilah kami pada jalan-Mu yang lurus”

    Q.S Thaahaa 110 : Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya

    Sahabat, Please luruskanlah saya saat khilaf berbuat maupun keliru ucap. Thanks a lot! 🙂

    Wallahu’alam Bishawab

     
  8. geknana

    Senin, April 7, 2008 at 11:33 pm

    Mas Ariyo yang nana hormati,

    kita semua tahu,
    pengalaman, literatur, sudut pandang, persepsi bisa menjadi media untuk ‘memBACA’ suara hati, maupun sebagai belenggu suara hati.

    semua memang tergantung dari pilihan kita yang tentu akan diikuti dengan konsekuensinya.

    terima kasih banyak karena telah mengingatkan kita semua untuk tetap kembali pada-Nya… Thanks a bunch !

     
  9. Ariyo

    Selasa, April 8, 2008 at 6:04 pm

    Na’, itu pidato apa sambutannya pak erte? formal bgt serasa malem tujuhbelasan. Untung gak pake hormaaaaaaatt grak!! hueheheeee…becandaaa Na’. Keep smiling ya 🙂

    Masih sangat banyak ilmu & hikmah dari Allah SWT yg bisa kita pelajari bareng2. So, tetep ajari kami ‘MEMBACA’ lewat tulisan-tulisanmu ya. Semangatt sis 🙂

     
  10. geknana

    Rabu, April 9, 2008 at 7:35 am

    hehehe, mirip pidato ya???

    ok, deh besok-besok sekalian tak tambahin
    “kepada, Mas Ariyo hormaaaaaaat grak!”

    hihihi, ra genah iki :p

    sama2 mas! tetap semangat juga bro!

     
  11. rickisaputra

    Jumat, April 11, 2008 at 6:50 am

    woww… panjang banget ulasannya…
    comment singkat saya : cobalah brpuas diri untuk segala yang dimiliki baik sudah ataupun hendak dimiliki di dunia ini.. namun untuk urusan akhirat, jangan pernah brpuas diri.. [ini mah nggak singkat yah… hahahhaa..]

    and soal AAC, saya blum tonton malah.. berhubung film itu tidak mmberikan sesuatu yang menimbulkan ktertarikan bagi saya untuk menonton nya.. entah kenapa.. mungkin suatu saat nanti saya diberi kesempatan untuk bisa menonton nya..

    best regard

     
  12. geknana

    Senin, April 14, 2008 at 11:38 pm

    hehe, bener tuh mas kita harus tetap Ikhlas dan hanya haus akan ilmu-ilmu serta jalan-jalan yang di ridhoi Allah.. selalu hanya untuk satu alasan.. Cinta-Nya

    nonton ato ndak itu pilihan mas?
    tapi enaknya kalo udah nonton bisa ngasi comment lebih detail mpe ke tetekbengek nya ,, hehehe

    salam kenal

     
  13. escoret

    Rabu, April 16, 2008 at 1:51 pm

    lom nonton aku..

    *kuper*

     
  14. geknana

    Sabtu, April 19, 2008 at 12:09 pm

    nonton ato ndak itu pilihan mas ^______^

     
  15. vie_

    Jumat, Mei 30, 2008 at 3:56 pm

    tolong menolong
    memaafkan
    ikhlas
    jujur
    poligame
    setiap orang memaknai AAC dgn persepsinya masing2
    saling menghargai dan menghormati aja

    tapi,, sebagai penggemar novel AAC,,
    saya kecewa dgn contains film ini,, gak kena!

     
  16. geknana

    Minggu, Juni 1, 2008 at 7:01 pm

    “Vie”
    Iya, menurutku juga isi filmnya gak kena…L sama tata bahasa yang baik dan benar,,, sebentar-sebentar pake bahasa Arab, terus pake bahasa Indonesia, trus bahasa gado-gado… hehe lucu yah??

    salam kenal!

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: