Episode 21 : Sesaat dia hadir
Jumat, Oktober 31, 2008

Boleh aku bercerita tentang perkenalan singkatku dengan seorang Bocah? Namanya Riki 12 tahun dari daerah Lampung. Aku mengenalnya ketika sedang menunggu lampu merah di perempatan Jakal. Ada seorang anak kecil yang tiba-tiba datang ke arahku dan bertanya “Mbak, saya bisa menumpang sampai di Mirota Kampus? “. Aku sempat berpikir sejenak, “Tak apa kah?”. Kawan,,,, Can we trust trust? . Namun pengalaman mengajarkanku, bahwa percaya itu lahir setelah perbuatan. Maka aku terima permintaannya mengantar sampai ke Mirota Kampus.
Di perjalanan kami sempat mengobrol beberapa hal. “Ki, mengapa kamu jauh-jauh dari Lampung ke Jogja?”. “Aku kabur dari rumah mbak, bapakku kawin lagi soalnya…” Itu jawabnya. Lalu aku bertanya lagi ” Kamu gak kangen po sama Ibumu?”. “Ya kangen sie mbak…” . Dari obrolan singkat itu aku tahu kalo Riki bisa sampai ke Jogja lewat uang yang diterima hasil mengamen. Hmmm… Dan sebelum akhirnya berpisah aku katakan “Jangan lupa pulang ya, Ibu pasti kangen di rumah..” Dan dia hanya diam dan tersenyum datar.
Setelah itu
Pemikiran orang sok serius dan sentimental ini (:D) jadi kemana-mana….
1. terus terang ketika mendengar alasannya kabur dari rumah , perasaanku tiba-tiba menjadi pilu. Adakah setiap orang tua dalam mengambil keputusan pasti akan mempertimbangkan perasaan dan nasib anak-anaknya, atau hanya mengikuti nafsu belaka? Astagfirullah… Ah Sudahlah, aku tidak suka menilai orang lain. Paling tidak, aku harus mengambil pelajaran…jika berkeluarga nanti, sebisa mungkin aku akan selalu melibatkan anak-anak sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan, bila perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan tersebut.
2. tiba-tiba aku terbayang-bayang kehidupannya di jalanan. Anak sekecil itu. sementara aku berselimut di malam-malam yang akhir-akhir ini diguyur hujan, bocah itu harus tidur di emper-emper toko berbekal busana yang hanya melekat di badan. Di satu sisi aku bersyukur atas kenikmatan yang bisa aku nikmati, namun di sisi lain aku malu , sangat malu. Tuhan….
maaf kawan, saat ini sejujurnya aku sedang tidak bisa mengontrol emosi. tulisan inipun seolah-olah menjadi kehilangan arah dan nurani. sesaat kehadirannya, seolah-olah telah menyetrum syaraf-syaraf egoku.
…………
Aku hanya bisa percaya bahwa dia mampu menjadi lebih baik
dan Aku yakin Tuhan punya rencana manis di balik semua ini
Mungkin DIA ingin mengingatkanku untuk tetap bersyukur
dan syukur diwujudkan dengan ketaatan
termasuk semakin menCinta sesama saudara
….
Kawan,,, sungguh! saat ini, hatiku sedang kalut dan sedih
Itu Sudah
(na)
Episode 11 : Bidadari2 Ramadhan
Selasa, September 16, 2008
Hari ini, tiba-tiba aku teringat kenangan perkenalanku dengan mereka. Di Mushalla Al-Hidayah Ramadhan tahun lalu. Saat itu aku sedang sibuk mencatat isi kuliah subuh yang dibawakan ta’mir masjid. Tiba-tiba jari-jariku terhenti menulis, ketika aku sadari beberapa pasang mata sedang mengamatiku dari depan shaf tempatku duduk. Aku balas memandang mereka, dan mereka tersenyum. Damai rasanya. Mereka bertanya ” Mbak, kowe ono’ tugas dari Pak Guru juga po?” Mendengarnya, aku hanya bisa tersenyum dan menjawab, ” Iya dik, tugas dari GURUKU”. Setelah selesai, kamipun berkenalan. Mereka menuturkan nama-nama yang terdengar merdu di telinga. Salma dan Munah. Selamat dan Yang diberkahi ALLAH. Dan itulah awal perkenalanku dengan bidadari-bidadari ini.
Semenjak saat itu, ramadhanku terasa lebih berwarna dan bersemangat. GURUKU mengirimkan bidadari-bidadari untuk menemaniku belajar tentang dunia akhirat. Setiap aku menginjakkan kakiku di Mushalla itu, langkah ini terasa ringan untuk berjalan ke arah mereka, dan waktu terasa begitu cepat berlalu di tengah kegembiraan beribadah bersama. Bergabung menjadi Jama’ah dengan yang lain. Terharu rasanya, mengingat merekalah yang mengajarkanku untuk peduli. Ketika shalat berakhir dan tikar-tikar bekas makmum masih terbengkalai di lapangan, dengan lugas mereka menegurku ” Ayo mbak, tikarnya kita gulung”.
Pertemanan kamipun tak cukup berlalu di Mushalla saja, lambat laun kamipun memutuskan untuk jalan-jalan bersama. Ke wilayah sekitar UGM, ke Musum Mainan Anak, Pameran Mainan, menonton film depan kompi, dll. Ada-ada saja tingkah mereka yang mengetuk-ngetuk pintu ketakjubanku. Siang itu misalnya, matahari tengah menyengat panas di sekitar pasar Bringharjo, saat itu kita baru saja pulang dari Pameran Mainan dan rasanya lelah, haus gak ketulungan. Saat itu kami berlima, dan beberapa dari kami mulai mengeluh kehausan. Namun dengan tegas Salma mengingatkan teman2nya ” Sabar dong, masih puasa nie,,, tunggu magrib dulu. Mending kita shalat dulu yuk biar segar…” Subhanallah. Adakah yang masih memandang bahwa semua anak-anak hanya bisa manja dan cengeng? Mungkin selama ini kita masih terperangkap dalam kacamata stereotype kita. Dan kawan, saat itu aku langsung memutuskan untuk mengganti kacamataku terhadap anak-anak.
Salma , Munah, anak ketiga dan keempat dari 7 bersaudara keluarga Abi dan Umi yang tinggal dibelakang pondokanku. Keluarga yang hangat dan sederhana. Aku ingat saat pertama kali bertandang ke rumah mereka, saat itu Umi sedang menggendok Faudzan si bungsu, sementara tangan lainnya sibuk dengan gunting dan kain-kain yang siap dijahit sesuai pesanan. Dari tutur katanya, aku tahu Umi adalah ibu yang cerdas, lembut dan kuat. Meski harus mengasuh ketujuh anaknya, Umi masih bisa meladeni pelanggan-pelanggan yang suka akan jahitannya, mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengajar anak-anak tentang ilmu dan agama. Ketujuh anaknya adalah anak-anak yang berprestasi di sekolah. Sungguh! Beliau bagai Mahadewi2 yang dicipta untuk memperindah dunia dengan kelembutan, kecerdasan, ketabahan, ketangguhan dan Cinta.
Kini, setahun telah berlalu.
Satu tahun bagiku telah membawa berbagai dinamika tentang kehidupan. Aku akui tahun ini, aku kurang mempersiapkan kedatangan tamu agung, Ramadhan. Muncul kekhawatiran, akankah tamu tahun ini akan bertandang seindah tahun yang lalu?
Namun, kekhawatiran2 itu lenyap ketika kembali aku langkahkan kakiku ke Mushalla Al-Hidayah dan bertemu dengan wajah-wajah bidadari itu. Kejenuhanku selama beberapa waktu seolah-olah lenyap dengan sapa dan celotehan mereka. Seperti hari ini, ajakan mereka untuk menikmati suasana kota ba’da subuh dengan kaki telanjang membuatku melihat sisi lain dari kota yang selama 4 tahun ini aku tinggali. Suasana yang sejuk, banyak kicau burung2 di sekitar kampus kehutanan dan purnama yang pagi ini masih menyapa. Setelah pulang dengan kaki-kaki yang lelah aku hanya bisa bersyukur bahwa GURUKU mengirimkan mereka padaku.
Aku suka belajar dengan mereka, mereka itu polos dan lugas!. Tanpa segan mereka bertanya tentang kehidupan. Termasuk tentang Cinta yang mulanya membuatku sedikit kalang kabut. “Mbak, kowe wis nduwe bojo po? ” Tak apakah membicarakan Cinta pada mereka? Namun Cinta menunjukkan padaku bahwa tidak ada batas usia, agama, suku, ras, bangsa, status, jarak maupun kelamin. Jika Cinta bisa membuat kita menghormati, memahami, menyayangi, mengingatkan, membahagiakan manusia yang lain, memanusiakan manusia. Begitupun anak-anak. Cintalah yang menunjukkan padaku bagaimana memanusiakan anak-anak. Sungguh sangat disayangkan bila masih ada mereka yang sombong dan memandang anak-anak hanyalah makhluk yang manja, nakal, cengeng dan belbagai stereotype yang lain. Aku teringat akan tulisanku beberapa waktu yang lalu tentang anak-anak “Hantu Tengah Malam”
“Kelirulah mereka yang melarang anak-anak untuk belajar menCinta. Jika kau masih bertanya apa itu Cinta, matikan TV dan Radio yang penuh dengan roman picisan itu sejenak dan pandanglah bola matanya, di sana, ada sejuta Cinta yang akan kau mengerti bila kau mau berusaha untuk memahami. Dan masihkah kau mengira dirimulah yang lebih segalanya dari mereka? Ingat, yang membedakanmu hanyalah rentang waktu dalam umur, selain itu kita tidak tahu.”
Terima kasih bidadari-bidadariku, kalian pernah mewarnai hari-hariku di bulan yang suci. Egoku menginginkan kita tidak berpisah untuk selamanya, tapi saat ini aku tengah belajar mengerti tentang ketidakpastian dan takdir. Dan aku hanya bisa melakukan dua hal, menghargai setiap detik yang kita miliki bersama, dan berdo’a semoga kita berjodoh lebih lama. Amin
Rasanya sedih bila harus memikirkan saat Ramadhan tahun ini akan berakhir. Akan sulit lagi bagiku untuk pergi ke Mushalla di waktu subuh dan isya’ mengingat kondisi yang gelap dan sepi selain bulan Ramadhan. Sudah tidak ada lagi pemudi-pemudi sepantaranku yang akan berjalan bersama menunaikan ibadah agung di Mushalla. Hahhh,,, aku akan sangat merindukan saat-saat ini. Kawan, ayo kita makmurkan masjid, mencapai kebahagian beribadah dengan berjama’ah, kita makmurkan tidak hanya pada bulan ini, tapi bulan-bulan selainnya. Karena kita tidak pernah tahu, berapa lama waktu yang masih tersedia untuk kita…..
Itu Sudah
(na)
Episode 2 : Puji Lestari
Sabtu, Maret 22, 2008
“Banyak orang yang panjang pengalaman tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalaman yang pendek mencerahkan seumur hidup”
(Andrea Hirata, Edensor hal-1)
Ada yang ingin tahu apa itu bersahaja? Maka lihatlah gadis 14 tahun ini. Sungguh! pertemuan tak lebih dari sehari yang begitu singkat dengannya telah mengajarkanku banyak hal tentang ke-sahaja-an.
Begini ceritanya,
Minggu pagi ketika ada perlombaan permainan tradisional di Museum Anak Kolong Tangga aku melihatnya pertama kali. Ia disana, di depan gerbang Taman Budaya mengendap-endap, tengok kiri dan kanan bagai anak itik kehilangan induknya. Segera kusapa dan kutanya namanya. “Puji mbak…” Dan kutawari ia ikut bergabung bermain bersama anak-anak yang lain, namun dengan halus ia menolak. “saya cuma mau cari adik saya mbak…”. Maka kuantarkan ia menemui adiknya dan menonton perlombaan.
Perlombaanpun selesai, aku bersiap-siap untuk pulang. Dan masih kulihat ia disana, disudut pintu masuk museum. Gadis ini sebenarnya banyak dikenal oleh teman-teman sukarelawan di museum. Namun hari itu, aku terdorong untuk ingin mengenalnya lebih dekat. Maka sambil istirahat kuajak dia bercakap-cakap sejenak. Aku bersyukur, ternyata ia masih duduk di bangku sekolah, meski tampaknya dia sedikit mengalami ‘kesulitan’. Aku sempat terkejut mengetahui umurnya telah 14 tahun, tak cocok menjadi seorang bocah lagi bukan? Ia banyak bercerita tentang kehidupannya di sekolah, pelajaran yang ia sukai “pelajaran hari Sabtu, karena esoknya libur”, teman-teman yang sering mengejek-ngejek dirinya. (bersabarlah sayangku….). Dan disini, di Taman Budaya ini, ia setiap hari membantu ibunya berjualan rokok. Ayahnya telah tiada dan ia memiliki banyak saudara (aku lupa jumlahnya…), namun syukurlah beberapa diantaranya telah mandiri dan berkeluarga.
Waktu makan siang. Aku tawari ia makan bersama dan ia mengusulkan sebuah kantin di lantai 2 Pertokoan Buku Shopping. Setelah berpamitan dengan ibundanya kita berangkat menuju kantin. Sepanjang perjalanan ke kantin, aku tahu ada banyak sekali pasang mata yang memandang ‘aneh’ ke arah kami. Entah apa yang ada dibenak mereka, aku tak peduli. Namun tak jarang para penjaga toko, tukang parkir, tukang angkut barang memanggil-manggil namanya “Puji, sopo iku,,, mbakmu po?” ” Puji……….”
Pelajaran 1 : ia terkenal !
sungguh! ia telah menunjukkan sosok ‘penguasa’ rimba Pertokoan Buku Shopping. pikiranku melayang pada pengembaraannya sendiri di pertokoan ini, bertemu dan berkenalan dengan orang-orang yang berbeda setiap hari,berbagi cerita, menambah teman. berkelana! Gadis ini,,,, ia dikenal bukan karena cacat yang ada pada tubuhnya (menurut keterangannya, bentuk tubuh gemuk yang tidak biasa pada dirinya disebabkan oleh kesalahan obat ketika dia masih kecil), tapi ia dikenal karena sifatnya yang polos dan bersahaja.
kita bercerita banyak tentang buku. Syukurlah dia suka membaca buku. Aku tanya apa dia suka membaca dongeng-dongeng rakyat sambil melihat-lihat buku di sebuah pertokoan. Ia katakan “Ya mbak, aku suka sekali”. Lalu aku beli sebuah buku dongeng yang ia sukai yang sebenarnya kuperuntukkan sebagai motivasi supaya dia lebih giat untuk membaca, tapi sebersit hatiku mendorong untuk menunda memberikan buku itu dan melihat reaksinya. Seolah-olah aku membeli untukku sendiri, bukan untuk dia. Dan dia hanya diam, tersenyum seolah-oleh ikut senang membantuku membeli buku.
Pelajaran 2 : Puji, kau gadis yang Ikhlas…
Perjalanan kamipun berlanjut ke Taman Pintar yang sangat dekat dengan Shopping. Bersama kita menikmati pemandangan halaman Taman Pintar, memasuki gedung Oval dan mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan baru. Ia sangat senang mencoba simulasi gaya listrik statis yang membuat rambut ikalnya berdiri bagai tersambar petir. Pemandangan yang sangat menggembirakan. Sementara, aku senang ketika kita mencoba simulasi rumah gempa yang di setting berskala 4.00 skala Richter. Bergoyang-goyang. Namun tentu saja, pengalaman kami yang paling mengasyikkan hari itu adalah bermain motor-motoran (aku lupa namanya). Dan lagi-lagi, hampir seluruh petugas disana mengenal Puji. Bahkan tak jarang mereka ‘membantu’ Puji bermain disana. Ketika saatnya aku mengantarnya kembali pada ibunya, aku teringat akan niatku untuk memberikan sebuah buku, dan kukatakan “bacalah buku ini, dan ceritakan isinya padaku suatu saat nanti”. Dengan halus ia mengucapkan terima kasih dan berjanji untuk membaca buku itu.
Pelajaran 3 : Puji, kau gadis yang santun.
Akupun pulang dengan sejuta rasa yang sulit untuk diuraikan dalam kata. Satu hal yang kutahu, aku belajar banyak hal dari gadis 14 tahun penjual rokok yang bernama Puji ini.
……………………………………………………………………………………………………..
nana : nanti kamu mau kuliah ga?
Puji : yaaa kalo bisa, mau banget mbak..
nana : bagus! yang penting niatmu dulu, InsyaAllah akan ada jalannya
……………………………………………………………………………………………………………
sampai bertemu lagi sayang, terimakasih telah mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan.
semoga Rahmat Allah selalu menyertaimu.
Itu sudah…
(na)


