Episode 41 : Cemburu dan Roller coaster
Senin, November 23, 2009

Cemburu dan Rollercoaster
Episode 38 : Berdamai (3)
Selasa, Januari 27, 2009

MenCintai itu, Berdamai dengan kelebihan dan kekurangannya
…
.
Lagi-lagi nana memikirkan tentang satu aktivitas, Berdamai. Kalo di tulisan nana sebelumnya (Berdamai 2), nana menggambarkan berdamai sebagai aktivitas untuk diri sendiri, maka kali ini nana ingin mengutarakan aktivitas berdamai kita ke orang lain. Tapi ingat! ini adalah pendapat nana pribadi semata.
Awalnya nana teringat tentang sebuah tulisan di wikipedia.org tentang relationship. Tulisannya nyeritain kalo biasanya ada kecenderungan tentang hubungan asmara cowok dengan cewek. Biasanya ketika masa PeDeKaTe yang lebih aktif dan inisiatif itu cowok..sementara yg jual2 mahal tapi he-eh yang ceweknya :p.
Lalu setelah akhirnya mereka jadian, ada kecendrungan kalo si cowok merasa, karna dia udah capek2 ngejar, saatnya dia yg harus dikejar ato dimanja.. (bener gak yaaaa?? fufufu) sementara si cewek mikir, ya gak ada yg harus berubah dong, berubah berarti udah gak sayang lagi. well,kadang2 menurut nana ini bisa menjadi miskomunikasi no 1 dalam hubungan.
kecendrungan yang kedua, (masih menurut artikel itu) biasanya ketika baru menjalani hubungan si cewek masih setengah2 dengan perasaannya, tapi seiring berjalannya waktu, si cewek biasanya akan semakin sayang dengan pasangannya, dan menerima kekurangan pasangannya. beda banget ma cowok, sebelum memulai hubungan, biasanya si cowok termabuk kepayangi oleh kelebihan dan kepintaran si cewek. she is the best of the best lah. namun setelah menjalani hubungan, makin lama si cowok mulai melihat kekurangan ceweknya, dan mulai merasa kecewa dan ujung2nya merasa telah salah mengambil keputusan. dan menurut nana ini juga miskomunikasi no 2
well, dari artikel itu diberikan saran yang solutif. Dalam hubunagn, hendaknya dilandasi oleh komitmen dan kontribusi seimbang dari keduanya. tidak berat sebelah. penulisnya menganjurkan bagi si cewek untuk lebih menekan ego dan manjanya, dan lebih menyayangi dan memanjakan pasangannya. sementara si cowok dianjurkan untuk lebih belajar menyayangi si cewek apa adanya. menerima kekurangannya. well, to stay in Love is not by choice fellows, but by WORK.
dan akhirnya dari artikel ini nana mengambil kesimpulan tentang aktivitas berdamai. Bagaimana caranya berdamai dengan orang/pihak lain? Ialah dengan menerima dirinya apa adanya, terutama kekurangannya.
Jadi teringat tulisan teman Pahlawan nana tentang beda sayang, cinta dan suka. well, sebenarnya tulisan ini gak berhubungan2an banget ma tema tulisan itu. karena menurut nana antara suka, sayang dan Cinta itu sangat absurb untuk dibedakan dengan kata2. tapi ada dua hal yang saat ini nana tahu dengan jelas bedanya. Kagum dan Sayang
Menurut nana perbedaan yang paling jelas diantaranya keduanya adalah terletak pada ‘area penerimaanya’. Seberapa jauh kita bisa menerimanya atau hal tertentu.
Ayo kita mulai dari bahasan yang paling sederhana. Hubungan antara cowok dan cewek. menurut nana, jika kita menerima kelebihan seseorang di dalam hati, melihat kelebihan2nya itu sebagai sesuatu yang istimewa dan mulai mengalami kekecewaan ketika kita tahu kekurangannya, itulah kagum. Dulu, nana pernah mengagumi seseorang. Tentu karna kelebihannya. dan karna terpaku dengan kelebihannya itu, nana jadi membutakan mata untuk melihat kekurangannya. Hingga sahabat nana mengingatkan “kok bisa kamu kagum dengan orang macam githu!”. tapi,biasanya selalu nana tepis dengan jawaban “dimataku dia istimewa”. Dan skrg nana paham, itulah kagum.
Sementara Sayang, memiliki area penerimaan yang lebih luas. sayang itu adalah ketika kita bisa menerima kelebihannya, ikut senang dan tidak iri dengan keberhasilannya, menerima kekurangannya, ada disampingnya di saat-saat sulit dan mengharapkan yang terbaik untuknya. dan ketika orang lainpun harus bertanya “kok bisa sayang dengan orang macam itu!” maka jawabannya adl “dimataku, meski dia banyak kekurangannya tapi aku bisa menerimanya..” dan itulah sayang.
Berdamai
dan berdamai dengan orang lain, adl (lagi-lagi) menerima kelebihan dan kekurangan orang lain. Tidak ada manusia yang sempurna. Lalu, untuk apa kita harus kecewa dengan sisi ketidaksempurnaan seseorang? dan dalam berdamai masih ada satu kata kunci selain area penerimaan, Empowering. Iya, menurut nana jika kita memutuskan untuk berdamai dengan orang lain, maka kita tidak cukup dengan menerima dia apa adanya, namun bersama-sama meningkatkan kualitas diri untuk bersama-sama menjadi lebih baik. karena jalan damai adl jalan kebaikan.
Dan itulah jiwa sang Arkeolog, tetap menemukan keistimewaan dikedalaman tanah yang kotor meski telah usang dimakan waktu…
Sekarang, mari kita menuju pembahasan yang lebih serius…
Berdamai dengan kehidupan
Menurut nana, orang yang bahagia adalah mereka yang bisa berdamai dengan kehidupannya. Mereka yang hanya mau menerima kelebihan/kesenangan/kemewahan dalam kehidupannya berarti hanya mengagumi kehidupan/dirinya sendiri. Dan ketika mereka mulai menemukan titik lemah pada dirinya, ketidakbahagian pada kehidupannya maka mereka menjadi kecewa, sedih, marah, menentang hidup! Di lain sisi, mereka yang mau menerima sisi keistimewaan hidup mereka dengan penuh terima-kasih, dan menerima sisi kekurangan dalam hidup mereka dengan penuh sabar, maka akan merasakan makna hidup yang sebenarnya. Karena ia sayang dengan hidupnya. Dan karena ia menikmati setiap proses, episode dalam kehidupannya, tak peduli entah itu yang bersinar maupun yang gelap. Dan mereka yang berdamai dengan kehidupannya, adalah mereka yang tidak hanya cukup menerima kelebihan dan kekurangan hidupnya, tapi juga membuatnya menjadi lebih baik.
Karna itulah hidup, beruntunglah bagi siapa yang mensucikannya, merugilah bagi siapa yang mengotorinya…
Kamu : apa kabarmu, Na?
Aku : aku sedang berdamai dengan hidupku, hidupmu, hidupnya dan hidup mereka.
Itu Sudah
(na)
Quote 22 : Hadapi Ketakutan Cinta
Kamis, Januari 22, 2009

Harus lebih berani menghadapi setiap ketakutan
karena setiap Cinta pasti diuji
…
.
catatan :
Ketakutan pasti akan selalu datang untuk melemahkan Cinta. Takut akan kehilangan, takut akan berpisah, takut tidak tercapai, takut takut dan takut… Tapi bukankah menCintai itu berarti memberi? maka kebersamaan bukan tujuan utamanya. Tapi kebersamaan adalah anugerahnya.
Lalu untuk apa kita menCintai? karena satu alasan tentunya
Episode 31 : Aku akan terus membopongmu
Kamis, Desember 18, 2008

“Sometimes we don’t need to find Love, but to FEEL it…”
Pada hari pernikahan, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti di depan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia. Dan ia sangat tahu itu.
Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu. Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening: Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. setiap pagi kami berangkat kerja bersama dan sampai di rumah juga pada waktu yang bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka…
Dewi hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon. dengan Dewii yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. ini adalah apartemen yang kubelikan untuknya. Dewi berkata, “Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis.” Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata, “Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis.” Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalau aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dewi dan berkata, “Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.? Aku ada sedikit urusan di kantor.” Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas di pikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun kujelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya, ia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai di depan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV bersama. Atau, aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dewi. Ini adalah hiburan bagiku.
Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan?” Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh darinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius. ketika istriku mengunjungi kantorku, Dewi baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengannya. Ia kelihatan sedikit curiga. Ia berusaha tersenyum pada bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya. Sekali lagi, Dewi berkata padaku, “Hei Ning, ceraikan ia, O.K? Lalu kita akan hidup bersama.” Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, kupegang tangannya, ”Adasesuatu yang harus kukatakan” Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara.
Sekali lagi aku melihat ada luka di matanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalau aku terus berpikir. “Aku ingin bercerai,” kuungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara lembut, “Kenapa?” ”Aku serius.” Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku, “Kamu bukan laki-laki!” Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dewi.
Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surai perceraian di mana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras di depanku, hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh telah terjadi…
Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat dari perceraiannya: ia tidak menginginkan apa pun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami. Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya, “Hei Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita?” Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku di lenganmu”, katanya, “jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongkuku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu .” Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.
Aku memberitahukan Dewi soal syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini,” ia mencemooh. Kata-katanya membuatku merasa tidak enak. Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya di hari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami, “Wah, papa membopong mama, mesra sekali.” Kata-katanya membuatku merasa sakit… Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut, “Mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan pada anak kita.” Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor. Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku, kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi di bajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.
Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “kebun dil uar sedang dibongkar, hati-hati kalau kamu lewat sana.” Hari keempat, ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku di lenganku. Bayangan Dewi menjadi samar. Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, di mana ia telah menyimpan bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak, dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dewi tentang ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya, “Kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang” Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar.
Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat, “Semua pakaianku kebesaran”. Aku tersenyum. Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus. Itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan sakit Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. “Pa, sudah waktunya membopong Mama keluar.” Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia di lenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.
Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya di lenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. ia berkata, “Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua” Aku memeluknya dengan kuat dan berkata, “Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”.
Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dewi membuka pintu. Aku berkata padanya, “Maaf Dewi, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius”. Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. “Kamu tidak demam”. Kutepiskan tanganya dari dahiku, “Maaf Dewi, aku cuma bisa bilang maaf padamu, aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu.”
Dewi tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, kupesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum, dan menulis, “Aku akan membopongmu setiap pagi, sampai kita tua.”
“….. dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu , padahal ALLAH menjadikan padanya kebaikan yang banyak” Q.S An-Nisa (15) 19
catatan : cerita ini nana kutip dari email forwardan di milis tetangga, semoga bermanfaat…. Pahlawan, Cinta itu akan semakin indah dinikmati dengan penuh syukur bukan?? Dan nana bersyukur atas waktu yang masih dimiliki untuk belajar dan mempersiapkan diri untuk kehidupan berbagi denganmu nanti, arkeologku
Itu Sudah
(na)
Episode 30 : Nana memanggilmu Pahlawan
Senin, Desember 15, 2008

Ada dua hal yang berbeda mulai hari ini di blog www.geknana.wordpress.com. Karena beberapa hal yang sering terpikirkan akhir-akhir ini, akhirnya tersadar bahwa diri ini masih penuh banyak kekurangan yang perlu diperbaiki, banyak mimpi dan obsesi yang belum sempat terealisasikan. Dan tampaknya kata ‘aku’ yang sering terpakai hanya akan memberikan keterbatasan dalam ruang gerak ekspresi jari-jari ini. “aku” seolah-olah membuat image kaku yang sempurna pada seorang sosok yang sebenarnya masih banyak warna lain yang diluar ke’aku’an itu sendiri.
Jadi biarlah mulai hari ini, aku akan sering ditemani oleh saya, gue, kulo, abdi, tiang, me, dll. Dan akan lebih sering lagi dengan sebutan Nana. Karena itulah diri ini apa adanya, Nana.
…
Yang kedua, mulai hari ini nana akan memanggil semua pembaca blog ini yang budiman dengan panggilan kesayangan, Pahlawan.
Mengapa?
Nana jadi teringat cuplikan film “Freedom Writers” yang na tonton beberapa waktu lalu. Udah pada nonton belum? Direkomendasikan banget untuk menonton film ini karna ada banyak pesan-pesan penting tentang menghargai perbedaan. Dan lebih-lebih film ini diangkat dari kisah nyata kerusuhan etnis di LA lalu. Dalam film itu dikisahkan sekelompok remaja beserta gurunya mengundang Miep Gies yang merupakan penolong dari Anne Frank pada masa Holocoust. Ada dialog yang menjadi favorit nana saat itu. Ketika Miep Gies sedang menceritakan pengalamannya menyelamatkan Anne Frank, seorang laki-laki menunjuk tangan dan berkata ” I never have a hero before, but you are my hero”. Lalu setelah terdiam beberapa saat Miep Gies menjawab “No, no, don’t say that my dear. I’m not a hero. I just do what I have to do, because that is the RIGHT thing to do”. Saat itu semua anak hanya terdiam mendengarnya berbicara, bahwa sebenarnya kita hanyalah manusia biasa “ordinary people” dan setiap orang memiliki ceritanya masing-masing. Dalam cerita itu, pastilah setiap orang berjuang untuk sebuah kebenaran yang ada di hatinya. she said : you are a hero every day. Kata-kata ini sangat menyerap di pemikiran nana, seolah saat itu na juga ikut menjadi peserta diskusi itu.
Dan na ingin membagi rasa ini pada semua, saat ini na ingin menggunakan ‘kacamata’ yang dipake Miep Gies saat itu. Bahwa setiap orang memiliki ceritanya masing-masing dan setiap orang menjadi pahlawan paling tidak bagi dirinya juga. Karena Pahlawan adalah mereka yang melakukan hal-hal yang benar untuk dilakukan.
So, Pahlawan ayo kita selalu melakukan satu hal
Do the right things !
Semangat..!!!
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
And youll finally see the truth
That a hero lies in youMariah Carey – HERO
Itu sudah
(na)
Episode 25 : Lupa
Jumat, November 28, 2008
” Sometimes, the Biggest Enemy ever is our own Ego”
.
Merenung
Bagiku, lupa adalah sekeping mata uang.anugerah dan bencana.Bisa lupa terhadap kesalahan orang lain,bisa lupa terhadap kekurangannya adalah anugerah. Bisa lupa akan kelebihan diri sendiri, lupa akan kebaikan yang aku lakukan terhadap orang lain, semuanya anugerah. Anugerah lupa yang membuatku tidak akan lupa terhadap-Nya,Rabbku. Lupa terhadap kebaikan orang lain adalah bencana. Lupa terhadap kesalahan diri sendiri adalah bencana. Bencana yang membuatku lupa akan Rabbku.
Namun tidak semua hal bisa kita lupakan dengan mudah. Tidak semua kesalahan orang lain bisa aku lupakan begitu saja. Tidak semua kebaikanku yang bisa kulupakan. Begitupun sebaliknya, tidak mudah tidak lupa akan kebaikan orang lain, tidak mudah tidak lupa akan kesalahan diri sendiri. Karna ya namanya juga manusia, masih banyak egonya, masih banyak “aku”nya, dan ingin semuanya indah dan berjalan sesuai dengan apa yang “aku” inginkan, dan membuat “aku” bahagia. Namun sungguh, semoga aku tidak dipanggil dalam ke”aku”an yang seperti ini.
Melupakan …
Akhir-akhir ini aku menyorot banyak hal tentang satu kata “melupakan” Aku mengakui, melupakan adalah satu aktivitas jiwa yang berat. Bagaimana kita mengontrol impuls-impuls syaraf otak memori kita untuk tidak memunculkan memori-memori yang membuat kita ingat akan hal-hal tidak manfaat. Ingat akan kelebihan diri sendiri-lah (yang membuat kita terlalu narsis), Ingat akan kesalahan orang lain-lah (yang membuat kita terlalu pendendam). Padahal kedua hal itu yang nantinya akan mendorong kita untuk lupa bersyukur dan bersabar. Naudzubillah.
Saat ini bagiku, melupakan kedua hal itu cukup sulit kawan. Tapi bagaimanapun kita harus mampu melakukannya khan? Ada satu hal yang aku lakukan untuk mencoba melupakan hal-hal yang sia-sia itu. I believe in the second chances. Saat-saat aku sedang berada di puncak prestasiku aku akan selalu berusaha mengingatkan otakku “Ingat, masih akan ada kompetisi yang kedua atau yang lain, masih akan ada perhelatan yang lain, di atas langit masih ada langit” Atau saat-saat perasaan sakit karna kesalahan orang lain mulai mengganggu maka otakku memaksa berkata “Ingat, hidup masih panjang, mungkin dia tidak sadar, tidak sengaja. Sesungguhnya Tidak ada manusia yang mampu menyakiti manusia yang lain. Habis gelap terbitlah terang…”
Innocent kah? Naif kah? Manusia bodohkah?
Ah apapun pendapatmu kawan, inilah aku. Hanya manusia yang ingin bahagia dunia dan akhirat.
Jika manusia begitu buruk dengan semua kekurangannya, aku mau melupakannya dan melihat kebaikannya saja karna itulah titipan rasa Rabbku, Cinta
Jika mata ini terlalu silau dengan semua kelebihan dan kebahagiaanku, aku mau melupakannya dan melihat kekurangan-kekuranganku yang harus segera diperbaiki karna itulah titipan rasa Rabbku, takut
Jika dunia begitu jahat dan menyakitkan maka aku mau melupakannya dan menunjukkanmu suasana di dalam hatiku yang dititipkan Rabbku, harap.
Yakinlah hanya pada-Nya!
Rabb, ini hambamu.
Jika ego itu masih terlalu mendominasi, tuntunlah hamba untuk melawannya dengan melupakan
Jika kegelapan dunia membuatku lupa akan cahaya surga-Mu , tuntunlah hamba untuk melupakan kegelapan itu
Terimakasih untuk semua lupa yang membuatku ingat pada-Mu
dan terimakasih untuk semua lupa yang tetap membuatku hidup dan melangkah
dan semoga hamba terlindung dari lupa akan keburukan diri dan kebaikan orang lain.
“….. dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu , padahal ALLAH menjadikan padanya kebaikan yang banyak” Q.S An-Nisa (15) 19
PS : walking the talk is never easy…but we have to choose to walk or left behind. And that’s life, a choice.
Itu Sudah
(na)
Episode 24 : Make a Difference
Senin, November 24, 2008

“There are good people, who are in politics, in both major parties, who hold this at arms’ length,because if they acknowledge it, if they recognize it, then the moral imperative to do big changes would be unescapable.” Al Gore
Lagi pingin berbagi ilmu yang kudapat di kelas Pak Mochtar Mas’oed hari ini nie. Seperti biasa, setiap kelas beliau pasti menuntun mahasiswa untuk melihat arti sebuah ungkapan dari asal katanya. Misalnya, dulu beliau pernah mengungkapkan arti kata dari “Development”. Secara harfiah Develop berarti “enlarge on something” atau dalam Bahasa, berkembang. Lawan katanya adalah Envelope atau berarti “Enclose”, semakin tertutup. Beliau menggambarkan dalam envelope/amplop; merupakan selembar kertas yang dilipat sedemikian rupa sehingga bentuknya semakin menyempit dan setiap sisinya saling menutupi. Maka, develop seharusnya kebalikan dari analogi tersebut, selembar kertas yang semakin dibuka dan dibuat semakin lebar/luas. Apa hubungannya dengan ilmu HI? Menurutku secara cerdas, Pak MM menjelaskan konsep Development di dalam negara-negara berkembang. Beliau tidak setuju dengan paradigma Development di negara yang miskin dimana distribusi kekayaan dan sumber daya semakin menyempit hanya bermuara pada satu golongan, seharusnya bila memang Development, kesejahteraan itu akan semakin melebar menyentuh golongan-golongan yang lebih luas, rakyat. Lebih cerdasnya lagi, Pak MM juga menyambungkan konsep Development dalam unsur kejiwaan manusia. Menurutnya, manusia yang develop atau dewasa adalah manusia yang semakin bertambah umur, semakin luas pemikirannya tentang dunia, semakin terbuka terhadap perbedaan. Bukannya malah semakin menyempit dan menjadi kaku serta memiliki pemikiran yang tertutup. Saya setuju dengan yang ini Pak!
Nah, balik ke kelas hari ini
Ditengah-tengah kelas Pengantar Ilmu HI tadi, tiba-tiba Pak MM membahas sebuah ungkapan “Makes a Difference”. Kali ini beliau menjelaskan pendapatnya, bahwa yang dimaksud Difference disini bukan hanya sesuatu yang berbeda dari yang lain. Tapi lebih dari itu. Perbedaan yang signifikan, yang solutif, yang manfaat. Makanya, kalo kita cuma mengganti penampilan (misal warna rambut) itu kemungkinan besar hanya menjadi berbeda. Bukan membuat perbedaan. Kecuali jika kita memilih untuk botak dan mengajak yang lain dengan alasan menghemat shampoo dan sebagai bentuk penolakan terhadap produk-produk korporat. Dan akhirnya 220 juta orang Indonesia menjadi botak dan membuat Korporat2 asing bangkrut karna kehilangan konsumen. Well, that’s probably makes a differences
Intinya, makes a differences bukanlah sesuatu yang sepele hanya dengan menjadi berbeda. Beliau mencontohkan mantan calon presiden Amerika, Al-Gore. Dia adalah salah satu tokoh yang mau berkeliling dunia mengkoar-koarkan tentang sebuah kenyataan yang tidak menyenangkan di masa depan (An Inconvinienth Truth) awalnya hanya dari state ke state untuk menyadarkan masyarakatnya yang menjadi bagian dari Negara yang paling bebal menolak isu global warming, Amerika. Kini, telah banyak pihak yang mengembangkan teknologi dan tatanan kebijakan yang lebih ramah lingkungan. Satu hal yang menarik adalah perkataanya : Ultimately, this is really not a political issue so much as a moral issue. If we allow that to happen, it’d be deeply unethical. Ya, Al Gore telah membuat perbedaan bahwa isu lingkungan hidup sebenarnya bukan hanya isu politik dan perebutan kekuasaan, ini adalah isu moral dan tanggung jawab kemanusiaan.
Nah sekarang, sudah jelaskan perbedaan antara Be Different and Make a Difference? Yang satu mencoba menjadi berbeda di segala hal dan bahkan kadang-kadang dengan alasan yang kurang masuk akal. Misal, seorang laki-laki yang berhias ala perempuan dengan alasan ingin lebih memahami perempuan (duweeengg!!! apa gak cukup dengan membaca dan berkomunikasi tuh? ) atau seorang anak kecil yang memilih untuk merokok supaya terlihat lebih keren dan gaul (istigfar dik…) atau sekelompok orang di Amerika yang membentuk pedesaan tanpa busana dengan alasan kebebasan berekspresi, (mau balik jadi primitif lagi kayaknya
) dll. Makes a differences bukanlah hal yang seperti itu. Tidak ada kemanfaatan yang bisa dipetik dari hal-hal seperti itu bukan? Sia-sia (Naudzubillah)
Makes a Difference adalah “membuat” perbedaan yang signifikan. Dan bahkan sebenarnya tantangannya lebih besar. Misal nie, di sebuah kantor tempat kita bekerja sudah ada kebiasaan untuk membawa pulang properti-properti kantor yang kecil (misal pensil, bolpoin, stopmap, dll) seandainya giliran kita yang memperoleh kesempatan itu, apa yang akan kita lakukan? membawa pulang saja karna toh juga itu hal yang wajar dan biasa dilakukan, atau tidak membawa pulang dan menjadi ejekan rekanan karna kita berbeda dengan mereka? Itu hanya contoh kecil, masih banyak tantangan-tantangan yang harus dihadapi untuk makes a Differences. Jika saat ini semua orang terbiasa dengan baju yang ketat dan kurang bahan, maka akan menjadi sangat aneh bagi mereka yang memilih untuk menutupi tubuhnya dengan kain yang lebar dan longgar. Jika saat ini semua orang terbiasa membawa dan membaca buku-buku ilmiah, novel yang tebal-tebal, maka menjadi sangat aneh bagi mereka yang membawa dan membaca kitab suci kemana-mana. Jika saat ini sudah tidak ada batasan lagi bagi pergaulan laki-laki dan perempuan, maka…
Seseorang pernah mengungkapkan “Differentiate or Die”. Menurutku itu sebuah ungkapan optimis dengan kekuatan jiwa yang positif. Ya, bagiku yang penting adalah bukan menjadi berbedanya yang harus ditekankan, tapi kemanfaatan dan kebaikan yang dibawanyalah yang harusnya diperjuangkan. Karna itulah hidup, membuat perbedaan atau hanya mengikuti arus dan menjadi apa yang diungkapkan Pink Floyd “Another brick in the wall”
So, ready to makes a Difference?
Tetap Semangat!
Itu sudah
(na)
Episode 23 : Bau Hujan
Senin, November 24, 2008

Curcolan.
UPT I UGM, 241108-1532
Ehm… sore-sore gini di perpustakaan, otak sedang logout dari keseriusannya, mata sedang malas membaca, dan membaca lagi..akhirnya cuma bisa bengong, mandangin hujan…tiba-tiba aku teringat pengalaman-pengalamanku dengan hujan. Aku suka hujan. Kalo boleh dan bisa, aku mau hujan-hujanan selama sebulan non-stop
Lama aku berpikir, kenapa ya aku suka hujan? hmmm, mungkin karna baunya. Pernah ngalamin gak? beberapa saat setelah hujan reda, kalo kita keluar dan menghirup udara maka akan tercium bau yang khas.. campuran antara tanah, air dan entah partikel-partikel alam yang lain. Yang pasti, setiap hirupannya membuatku merasa, hmm apa ya? susah untuk digambarkan. Mungkin nyaman. apalagi kalo abis hujan semalaman trus paginya kita jalan-jalan dengan kaki telanjang, deuuuu rasanya adem, ayem, damai…
Trus, aku juga suka hujan-hujanan. Kata mama, gak papa kok yang penting jangan hujan-hujanan pas gerimis, itu akan membuat kepala kita pusing (perlu diteliti lebih lanjut nie kebenarannya
). Dan jangan lupa setelah hujan-hujanan, jangan lupa untuk keramas dan mandi air anget, pake minyak kayu putih dan vikcs dan minum yang anget2..hmm mantabnya…
Trus kalo udah hujan seharian lebih seneng lagi, bisa diem di kos, nonton pelm, baca buku, nulis, nyeneck, kalo dingin pake slimut..hehehe nyante bener deh
yahh tapi jangan keseringan deh melakukan hal yang kayak gini, bisa kena penyakit malas akut.
Yang pasti, aku suka hujan. Aku suka memandang rintik-rintik hujan dari jendela. Aku suka jalan-jalan setelah hujan reda. Aku suka pake motor trus hujan-hujanan. Aku suka berlari-lari kecil ke perpus di tengah hujan gak pake payung (makasi buat Cecep-kuw yang tetep bisa idup meski sering kubawa hujan2an
). Aku suka pake jas hujan, nembus hujan deres nyusurin jalan-jalan di kota. Aku suka menyembunyikan tangisku dengan hujan-hujanan biar gak dibilang cengeng
. Aku suka mendengar ritme hujan (listen to the Rhythm of the falling rain). Aku suka bau hujan. Aku suka hujan karna dimanapun ia jatuh dia pasti akan selalu kembali pada awan. Rabb, Trimakasih untuk hujan yang selalu menyirami bumi dan hati dengan kehidupan.
” Ingatlah ketika ALLAH menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman dari-Nya, dan ALLAH menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan kamu dari gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan MEMPERTEGUH dengannya telapak kakimu” QS.Al-Anfal (8) : 9
Itu Sudah
(na)
Episode 19 : Diam juga Bahasa Cinta
Rabu, Oktober 22, 2008

Ini hatiku,
Seperti telaga, meski dengan selaksa riak-riak kehidupan di dalamnya
aku harus tetap menghadapi dan memberi pantulan keindahan Cinta
(penCinta)
.
.
Kawan, setujukah bila Cinta tidak cukup hanya diucapkan dengan kata? Cinta seorang ibu telah termanifestasikan melalui pengorbanan dan dukungan tanpa henti bagi anaknya. Cinta seorang ayah terwujud dalam perlindungan dan bimbingan yang diberikan menuju jalan yang benar. Dan adakah sosok-sosok penCinta itu hanya berucap dengan janji-janji? Jelaslah bagi mereka bahwa Cinta merupakan kata kerja.
Standing in…
Aku teringat dengan salah satu diskusi menarik di kampus dengan kawan-kawan. Saat itu kita sedang seru mendiskusikan tentang bagaimana caranya menunjukkan Cinta, atau mengubah Cinta menjadi sebuah aktivitas. Saat itu sebagian besar dari kita menyatakan setuju bila menCintai lebih membahagiakan daripada diCintai. Itu karena ketika menCintai kita tidak perlu menunggu waktu kapan, you can do it whenever you want! Kita menjadi subjek yang aktif bukan objek yang pasif. Sementara diCintai kita menjadi objek yang tergantung/menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain.
Lalu aku berpikir tentang makna AKTIF. apakah maksud menCintai secara aktif? memberi terus-menerus? bagaimana jika yang kita beri tidak mau, atau tidak ikhlas? Maka, kitapun harus kembali pada tujuan menCinta itu sendiri. membahagiakan yang kita Cintai. Bagaimana caranya kita membahagiakan bila kita tidak tahu apa yang membuatnya bahagia? Maka, sebaiknya mulailah dengan mencari tahu apa yang membuat mereka bahagia, need assessment.
Diam…
Dan diam sesungguhnya juga bisa menjadi aktivitas AKTIF bagi penCinta. Diam yang dimaksud disini bukanlah diam karena merasa lelah untuk memberi, bukan pula karena bosan dan jenuh dengan yang kita beri, seolah-olah kita terpaksa untuk diam agar terhindar dari rasa sakit. Tapi Diam yang aku maksud disini adalah diam karena PILIHAN. Bukankah terkadang seseorang butuh waktu dan ruang untuk mencari jati diri? Atau kita MEMILIH diam karena diam merupakan alternatif lebih baik daripada aktivitas menCinta yang lain? Bayangkan seorang penCinta yang berkomitmen untuk menCinta seorang laki-laki/perempuan. Namun ternyata pilihannya itu memilih untuk menikah dengan orang lain. Lalu apakah si penCinta kita harus tetap menunjukkan Cintanya meski dengan konsekuensi merusak rumah tangga orang lain? Dalam bukunya Ust. Salim A. Fillah ; Jalan Cinta Para Pejuang menuliskan, karena Cinta harus bersujud di mihrab taat. Ya! Karena memberi-pun ada batasan-batasan benar dan salahnya. dan bagi si-penCinta yang aku ceritakan di atas, maka diam menjadi PILIHAN terbaik baginya bukan? Aku jadi ingin mengutip sebuah puisi seorang kawan blogger, Muhammad Rum. Puisi yang menggambarkan bagaimana aktivitas DIAM seorang penCinta sesunggunya menjadi aktifitas yang benar-benar super sibuk dan ramai di dalam hati. Karena DIAM bukan hanya aktifitas fisik tapi menjadi Aktifitas Spiritual bagi Cinta.
Ini Hatiku, Caverna!
Rum Muhammad
“Ini hatiku,
Juga pernah jadi stasiun keberangkatanmu
Di sini ada tawa dengan lebih banyak tangis
Orang meninggalkan tempat ini tanpa menengok lagi
Bertemu dan berpisah hal yang biasa
Saat pagi meninggalkan kita
Maukah kau hirup udara segarnya?
Sebelum deru siang yang sibuk datang
Sebelum ramai penumpang hilir mudik
Dalam laju gerbong keretamu
Juga kelak di tengah peristiwa bahagiaanmu
Adakah kau masih pemilik sapa itu?
Sudikah melambaikan tangan ke arahku?
Dan, ketika kubacakan kembali tentang kita
Maukah kau tersenyum lagi, maukah?”
(Rum)
Direkomendasikan untuk membaca postingan Ini Hatiku, Caverna. ada banyak penjelasan tentang perbedaan falling in dan standing in…
Lalu, menambah sedikit tentang DIAM sebagai bahasa AKTIF dalam menCinta ini. Pertanyaan selanjutnya adalah, sampai kapan? Apakah selamanya kita harus melulu DIAM demi kebahagian yang kita Cintai??? Tidak. Itulah yang membedakan DIAM karena PILIHAN dan karena terpaksa. Dan disinilah sebenarnya tantangan dari menCinta itu, merasakan saat yang tepat. Ya, saat yang TEPAT. Saat dimana dengan Cinta membuat yang kita Cintai lebih bahagia. Saat dimana dengan Cinta semakin mendekatkan kepada kebenaran dan SANG MAHA CINTA. Cintailah orang tua dengan membuat hidup mereka lebih bahagia, dan Cintailah orang tua dengan jalan-jalan yang membuat semakin dekat dengan-Nya. Bolehkah membuat kedua orang tua bahagia dengan kuseksesan yang didapat melalui kecurangan dan kebohongan? tentu tidak bukan? Dan Cintailah ia yang telah menjadi PILIHAN-mu di saat yang BENAR dan cara yang TEPAT.
………………………………………………..
Cinta dititipkan untuk dikembalikan lagi pada-Nya,
percantiklah Cinta dengan menyedekahkannya di jalan-jalan taat
karena sedekah menyucikan Cinta, dan itulah harta
.
Dan ketahuilah
pada dasarnya kebutuhan setiap orang adalah sama;
berdamai dengan Tuhan-Nya, maka
Kebahagian sejati adalah saat bisa dekat dengan Sang Maha Cinta.
.
Dan setiap Cinta pasti diuji…
……………………………………………
ps : Alhamdulillah, untuk semua yang telah menginspirasiku menulis tulisan ini, Jazakumullah
Itu Sudah
(na)
Quote 15 : Surfer Philosophy
Jumat, Oktober 17, 2008

No one FALLS IN LOVE by CHOICE, it is by CHANCE.
No one STAYS IN LOVE by CHANCE, it is by WORK.
And no one FALLS OUT OF LOVE by CHANCE, it is by CHOICE
After all,,,, just STAND IN LOVE
…
.
catatan :sebuah pesan dari Glenn melantun untuk semua..
Habis sudah…
Airmata sang kekasih…
Meratapi kekasihnya tak berubahKarna cinta tak mungkin terbagi-bagi
Juga cinta tak mau dikhianati
Itu sebabnya…Dan habislah…
Rasa di dada yang menyiksa…
Akhirnya… Jawabannya…KETULUSAN
Ini aku, bukankah sebelum lahir setiap kita telah bersaksi Tiada TUHAN selain ALLAH ? Dan ALLAH tidak akan membiarkan janji untuk tetap setia itu tanpa bukti. Dan itulah salah satu cara-Nya menCINTAI, Yaa Dhoorru wa Naafi’. Karena Cinta yang sejati hanya pantas untuk-NYA.
Tuhan, terima kasih atas rasa yang ENGKAU hadirkan detik ini, “berdamai dengan ketetapan-MU”. Duhai ENGKAU yang Maha menguasai Hati, Duhai ENGKAU Yang Maha Memberi Petunjuk, jagalah keteguhan rasa itu pada jiwa yang lemah ini, Rabb. Amin
Episode 16 : Kisah Ramadhan
Kamis, September 25, 2008

BOCAH MISTERIUS!
.
*** Kisah ini merupakan saduran dari email seorang sahabat, Sani. Ketika membacanya, terus terang aku merasa sedang disentil dan diingatkan. Semoga cerita ini juga memberikan manfaat buat kawan-kawanku semuanya. Selamat menunaikan ibadah di bulan Suci Ramadhan, sudah 25 hari kita lalui, mari kita maksimalkan hari-hari yang masih ada,,, tetap semangat semua!;)
****************************************************************************
.
Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.
Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya. Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.
Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.
************ ********* *
Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!
Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi, bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. “Bismillah.. .” ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu. Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah.
Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya. “Ada apa
Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang
kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman. “Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu..”
Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi. “Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa?
Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?! Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian…!?”
Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. “Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.
Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?
Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami…!
Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan…, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak….”
************ ********* *
Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.
Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman!
Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.
Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan. Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar. Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.
Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan
kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang. Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.
Selamat menjalankan ibadah puasa…..
*************************************************************************

Sudahkah bersedekah hari ini kawan???
…
Itu Sudah
(na)
Episode 10 : Kartini (2)
Minggu, September 7, 2008
![]()
sebuah komentar sangat menarik buat tulisanku yang berjudul “Episode 4 : Kartini” dan membuat semakin semangat menulis dan belajar. Terimakasih sebelumnya untuk saudari Nurul yang telah mengirimkan komentar ini :
“hari kartini?no way….sebelum kartini lahir banyak pahlawan yang berjuang melebihi kartini…perempuan berperang cut nya dien dll sudah ada, perempuan bukan hanya melahirkan sudah terhapus pada jaman pahlawan perempun islam…so jangan propaganda Indonesia kartini adalah sebagai titik peringatan majunya wanita indonesia..bullshit hanya tulis surat jadi pahlawan , kerjasama dan surat2an dengan orang asing yang notabene saat itu mungkin kartini dijadikan boneka dan dia saja yang tdk tau..dia itu wanita pejuang emansipasi..tapi liat dia diam saja ketika menikah dengan orang yang lebih ta..sehausnya dia bisa memilih pra gagah..yang pintar ..kalo memang dia pejuang>>>???so, apanya yang harus diperingati???so anda jangan merasa betul atau salah dalam komentar..jangan setengah2 ..tegaskan mana yang harus diperingati cut nya dien atau kartini…jangan bisa..secara ga lansgn anda pro kartini..saya pro cut nya dien..saya tdk bodoh..yang memperingati kartini yang bodoh…ga ada hikmah dan nilai ibadahnya memperingati hari kartini..yang ada hanya perlombaan kebaya ..aurat masih keliatan neng…please..pikir kalo mau ibadah…”
Dear Nurul,
Assalamu’alaikum, salam kenal. setelah membaca dengan seksama dan dalam tempo yang selambat-lambatnya (:P, hehe) ada beberapa hal yang ingin aku diskusikan lagi denganmu.
Pertama tentang CUT NYAK DIEN. apakah kamu tahu, membaca tulisanmu tentang perjuangan CUT NYAK DIEN versus KARTINI langsung membuat imaginasiku terdampar pada sebuah permainan “Street Figther” antara Kartini duel dengan Cut Nyak Dien, adu jotos memperebutkan gelar perjuangan siapa yang paling layak diakui secara Nasional. (fufufu maap, pikiran2ku memang suka ngelantur). Tapi coba deh kita pikirkan lagi, apa layak nama-nama besar mereka kita pertarungkan untuk mencapai sebuah penghargaan. Aku yakin, saat CUT NYAK DIEN berjuang dengan gagahnya melawan kumpeni… tak pernah terlintas di dalam benaknya bahwa suatu hari dia akan menjadi pahlawan dan perjuangannya akan selalu dikenang. Dia melakukannya dengan tekad dan ikhlas. Aku menghargai keberanian dan perjuangan CUT NYAK DIEN dalam peperangan melawan ‘penjajahan’. Begitupun bangsa kita Indonesia. Bagiku, itulah mengapa kita memperingati HARI PAHLAWAN.
Lalu Kartini? Disini aku sedang tidak memposisikan diriku sebagai fans berat Kartini. Karena idolaku hanya satu, Rasulullah. Lagipula pengetahuanku belum cukup mendalam tentang biografi perempuan ini. Tulisan terakhir yang kubaca yang menyiratkan riwayat Kartini adalah “Jejak Langkah”, serial ketiga dari tetralogi Buru milik Pram’s. Dalam buku ini, Pram menyebut Kartini sebagai Gadis Jepara. Dan dalam buku itupun diceritakan tentang pergulatan-pergulatan pemikiran Kartini dan apa yang telah dilakukan dan belum sempat ia lakukan. Mungkin persangkaan Nurul, jika Kartini hanyalah boneka bagi orang-orang barat memang benar adanya, atau mungkin ada rekayasa ‘bandit-politik’ yang menggunakan isu-isu Kartini dan emansipasi perempuan untuk sebuah kepentingan, dan sampai sekarang belum ada jawaban pasti dan terpercaya mengapa hari Kartini kita peringati… bagaimanpun Nurul, yang kita bicarakan ini adalah sejarah. Cerita orang-orang tua di masa lalu. Permasalahannya adalah, ada berapa orang tua di masa lalu? dan bagaimana bila cerita mereka berbeda-beda?
Namun Nurul, andaikata hari Kartini tidak pernah ada dan aku tetap memiliki wawasan yang terbatas ini tentang Kartini, ada satu hal yang aku hargai sebagai hikmah dalam kehidupannya. Tentang cultural discrimination. Aku sepakat denganmu, bahwa nilai-nilai penghargaan atas kedudukan perempuan telah lama diajarkan dalam budaya Islam, ketika Rasulullah membimbing sahabat-sahabatnya untuk memperlakukan perempuan sesuai dengan fitrahnya. Memanusiakan Perempuan. Namun Nurul, kita tidak boleh lupa bahwa di tanah tempat kita berpijak ini ada budaya yang lain, budaya Jawa. Membaca literatur-literatur tentang budaya Jawa, kita bisa mengerti bahwa budaya Jawa selain dikenal dengan kelemahlembutan serta toto kromo-nya, juga dikenal dengan budaya kasta dengan pingitan bagi perempuan. Bagiku, budaya pingitan merupakan simbol dari penekanan kehendak perempuan. Aku bukannya tidak setuju jika perempuan menjadi Istri dan Ibu Rumah Tangga, tapi aku tidak setuju jika perempuan harus melakukannya dengan tidak ikhlas, terpaksa.Mungkin keterpaksaan inilah yang dilalui Kartini dalam hidupnya, sehingga dia harus menikah dengan Bupati Rembang dan melahirkan seorang yang anak yang juga menjemput kematiannya. Mungkin benar pernikahannya menjadi simbol padamnya pemikiran-pemikiran pembaharuan Kartini. Namun sebelum meninggal ada satu pesan yang ia sampaikan pada saudarinya (kira-kira) : “Tolong anakku dididik, supaya ia bisa menghargai perempuan”
Menurutmu Nurul, jika kamu menjadi Kartini, apa yang membuatmu mengutarakan pesan terakhir yang demikian? Akankah itu tentang penyesalan dan wujud kepedihan mendalam karena prinsip : AKU MAU ,yang membuatnya memiliki banyak impian tentang perempuan, harus tertahan dengan terjangan diskriminasi budaya dan keterbatasan waktu yang membuatnya BELUM SEMPAT TERCAPAI? Atau malah sebuah ungkapan dendam terhadap semua keterpaksaan dan ketidakadilan yang ia alami dan harapan agar perempuan lain tidak mengalami hal yang sama? Atau
Dan pemikiran inilah Nurul, yang menurutku seharusnya setiap perempuan bisa merenungkan. Apa selama ini aku yang menentukan jalan hidupku? Jika menikah nanti apakah aku akan menikah dengan orang yang aku mau? Atau bisakah aku tidak menikah selamanya jika memang aku tidak mau? Jika aku diposisi terhimpit seperti Kartini pilihan apa yang akan aku ambil? Apa aku mau memiliki pengalaman seperti Kartini?
Menurutku, inilah sebenarnya esensi dari sebuah PERINGATAN . Aku juga kurang setuju jika peringatan hari Kartini dirayakan hanya dengan pameran kebaya saja. Karena sesuai dengan asal katanya; INGAT, peringatan seharusnya dilalui dengan meng-ingat tentang masa lalu, sejarah. Pameran kebaya membawa kita mengingat tentang lagak fisik Kartini, tapi sudahkah kita ingat tentang kehidupannya? tentang penderitaannya? pemikirannya? ceritanya? sejarahnya?dan mengambil hikmah dari semua itu?
Hal yang kupelajari dari Kartini adalah, berpacu sekaligus berdamai dengan bayang-bayang waktu yang tidak kita ketahui sampai kapan. Selain itu, aku semakin yakin jika kita bisa belajar tidak hanya dari pengalaman -pengalaman baik,heroik,bahagia,indah tapi juga dari pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan hati, mengundang rasa sesal dan getir ,sehingga membuat hati kita melantangkan keras;
AKU MAU BISA MELAKUKAN YANG LEBIH BAIK DARI ITU
aku yakin, kemauan menjadi lebih baik adalah salah satu modal dasar dari tumbuhnya peradaban dan tentu saja kemajuan bagi umat manusia, laki-laki dan perempuan. Dan inilah hikmah yang bisa aku petik, dan bukankah belajar dan mencari hikmah kehidupan juga salah satu dari Ibadah kita pada ALLAH, karena sesuai dengan perintah pertamanya, IQRA! ??
terima kasih Nurul, kali ini kau membantuku untuk membaca lebih dalam…aku tunggu pendapat-pendapat kritismu lagi, sering-sering main ke blog orang yang lagi belajar ini ya
, btw ada blog juga ndak?? bagi links githu….
Wassalamu’alaikum
Itu Sudah
(na)
Episode 7 : 2 kata ajaib !
Minggu, Juni 15, 2008

Saat di Persimpangan
Kawan, pernahkah merasa menjadi orang yang lebih sibuk dari orang lain ? atau mungkin saat ini sedang mengalami masa-masa tersibuk sepanjang hidup ?
Sibuk. Seolah-olah setiap aktivitas saling tumpang tindih menggerogoti 24 x 7 yang kita miliki. Bahwa ada banyak tugas yang tidak cukup hanya dipikirkan, tapi juga harus dikerjakan dan waktu tak pernah menunggu mereka yang mengeluh dan malas.
Ada kenikmatan yang bisa aku rasakan apabila aku sedang mengalami ’sibuk’ ini. Merasa lebih produktif, lebih kontributif, dan lebih berkembang. Aku puas bila melihat agendaku dalam seminggu penuh dengan berbagai janji dan aktivitas yang harus dilakukan. Aku senang bila kehadiranku dan eksistensiku bisa berguna bagi orang lain. Aku gembira karena bisa terhindar dari kesepian dan kesunyian yang hanya akan menimbulkan kemalasan di atas kasur ataupun khayalan semu yang membuai mimpi. Sia-sia.
Namun ada kalanya, aku merasa hilang di tengah-tengah kesibukanku. Aku merasa hilang dalam waktu. Tak banyak waktu yang kupunya untuk diriku sendiri. Iri melihat mereka yang tertawa riang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, seolah-olah tanpa beban dan menjalani hidup penuh dengan kesantaian. Iri melihat mereka yang memiliki waktu libur yang panjang, berkunjung ke tempat-tempat hiburan di luar kota, menikmati kebersamaan dengan teman-teman sepermainan.
Sedang aku? Aku sempatkan diri ini berekreasi dengan teman-teman sejawat. Namun bukannya kegembiraan yang aku rasakan, tapi pikiran-pikiran yang tetap mengingatkan tentang tugas-tugas dan rencana-rencana yang belum sempat terselesaikan. Lebih-lebih apa yang bisa sedang aku lakukan saat ini tidak terbayar dalam hitungan rupiah.
Aku senang dengan tugasku. Ini adalah pilihanku. Aku menikmati setiap tetes keringat dan lelah yang kulakukan hanya demi sebuah tujuan. Menjadi lebih baik. Aku merasa lebih hidup di tengah-tengah lingkungan yang penuh semangat dan kerja keras. Tapi, sesekali rasa hampa itu datang menghampiri. Dan ketika ia datang aku hanya bisa terdiam dan bertanya,
Apa yang sedang aku lakukan…?
………………
Tahukah kawan, aku percaya Tuhan selalu menjawab semua kegelisahan dan pertanyaan makhluk-Nya. Adalah pilihan kita untuk menjadi lebih sensitif dan bersabar untuk menyadari bagaimana Tuhan menjawab doa kita.
………………
Begitupun pertanyaanku ini…
Aku ingat saat itu aku sedang mempersiapkan sebuah kunjungan untuk pasien anak-anak di sebuah rumah sakit swasta di kotaku. Sore itu, diri ini sudah merasa lelah dan penat dengan tugas seharian. Tapi tetap harus mempersiapkan kunjungan yang hanya berselang 3 hari. Saat-saat terakhir dari rapat itu, bosku di Yayasan memberikan 2 buah pertanyaan pada setiap kami. (catatan : Bosku adalah Rudy Correns salah satu pendiri Museum Mainan Anak Kolong Tangga, beliau kewarganegaraan Belgia dan menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris dan Indonesia dalam berkomunikasi dengan kami)
” Do you LIKE to do it or not”
” WHY ?”
Setiap kami menjawab dua pertanyaan itu masing-masing. Aku menjawab dengan jawabanku. Tapi bukan hanya pertanyaan itu yang mengetuk-ngetuk pintu hatiku. Melainkan kata-kata Pak Rudy setelahnya. Isinya kira-kira seperti berikut : Jawabanmu bukanlah hal yang utama, melainkan kesadaran hatimu ketika pertama kali mendengar pertanyaan itu. kesadaranmu itulah yang akan menjadi motivasimu untuk mengerjakan setiap tugas-tugasmu. karena tanpa kesadaran, apa yang akan kau lakukan hanya menjadi sia-sia.
Aku tertegun sejenak.
Ia benar. mungkin apa yang aku lakukan selama ini masih di luar kesadaranku sendiri. Aku masih sering tersenggolkan dari tujuan utamaku. Aku masih sering tergoda untuk mengejar hal-hal yang semu dalam kesibukanku. Popularitas, Pengakuan, Kedudukan dan Pelarian semata. Astagfirullah. Dan aku bersyukur, karena saat-saat itulah aku merasa Tuhan sedang menjawab pertanyaanku. Mengingatkanku.
Dan kini, perasaan-perasaan hampa dan tertelan oleh waktu itupun masih sering menyapa di tengah-tengah kesibukanku. Tapi, sekarang aku punya dua kata ajaib sebagai jawaban dari pertanyaan dan kegelisahanku itu. Bismillah… Dengan Menyebut nama Allah…
Luruskan Niat !
……….
….
.
……………………………………………..
Kamu : Mengapa kamu melakukan semua ini, na ?
Aku : Lillahita’ala, Karena Tuhan semata, sayang …
…………………………………………….
Tulisan ini aku peruntukkan untukmu yang sedang mengalami kebimbangan dan kejenuhan di tengah-tengah kesibukanmu. Kau mempertanyakannya sudah sejak beberapa waktu yang lalu. Maaf, jawabanku memang sering muncul dengan perlahan. Tapi ketahuilah, saat kau merasa kehilangan arah dan seolah-olah sendiri dan sunyi dalam keramaian, aku adalah orang yang akan tetap melihatmu. saat orang-orang mulai berhenti memandangmu, aku akan tetap bangga dengan dirimu apa adanya. Tetap berjuang dan semangat..!!!
Itu sudah
(na)






