RSS

Arsip Kategori: Kutipan

Quote : Don’t settle

Don’t settle!

Never stop improving yourself

..

*inspired by uncle Steve (RIP)

Itu sudah

(na)

 
Leave a comment

Posted by pada Minggu, Januari 29, 2012 in Kutipan

 

Quote : Happy for other

If you are unhappy on other’s happiness,

and happy on other’s sadness,

then its time to ask ourselves

“am I a good person?”

If they are happy when you are sad,

they sad when you happy,

they don’t deserve to be your closefriend

:)

Itu sudah

(na)

 
Leave a comment

Posted by pada Minggu, Januari 29, 2012 in Kutipan

 

Journey

JOURNEY
-Angela Zhang-
.
.
It’s a long long journey
‘Till I know where I’m supposed to be
It’s a long long journey
And I don’t know if I can believe
When shadows fall and block my eyes
I am lost and know that I must hide
It’s a long long journey
‘Till I find my way home to you
.
.
Many days I’ve spent
Drifting on through empty shores
Wondering what’s my purpose
Wondering how to make me strong
.
.
I know I will falter I know I will cry
I know you’ll be standing by my side
It’s a long long journey
And I need to be close to you
.
.
Sometimes it feels no one understands
I don’t even know why
I do the things I do
When pride builds me up till I can’t see my soul
Will you break down these walls and pull me through
.
.
‘Cause It’s a long long journey
‘Till I feel that I am worth the price
You paid for me on calvary
Beneath those stormy skies
.
.
When Satan mocks and friends turn to foes
It feel like everything is out to make me lose control
It’s a long long journey
‘Till I find my way home to you
To you
.
.
Notes :
Tuhan, Ini hatiku. Engkau yg Maha Membolak-Balikan Hati, hamba berserah dan belajar bersabar hanya untuk RidhoMU. Bimbing hamba untuk berpulang padaMU, Rabb… (Stasiun Kereta Bandung, 21 Juli 2011 20.00)

Posted with WordPress for BlackBerry.

 
1 Comment

Posted by pada Jumat, Juli 22, 2011 in Kutipan

 

Kaitkata: ,

Kamu Cantik Sekali

Saya dapat message ini dr kakak saya di @hijabiYK , mbak Rahma @amhatoon semoga bermanfaat :

Ukhti, kamu cantik sekali…
Tapi sayang mungkin hanya di mata manusia. Sedangkan yang Maha Kuasa tak pernah memandang rupa atau pun bentuk tubuh kita. Namun Ia melihat pada hati dan amal-amal yang dilakukan hamba-Nya.

Ukhti, kamu cantik sekali…
Tapi cantik fisik tak akan pernah abadi. Saat ini para pesolek bisa berbangga dengan kemolekan wajah ataupun bentuk tubuhnya. Namun beberapa saat nanti, saat wajah telah keriput, rambut pun kusut dan berubah warna putih semua, tubuh tak lagi tegak, membungkuk termakan usia, tak akan ada lagi yang bisa dibanggakan. Lebih-lebih jika telah memasuki liang lahat, tentu tak akan ada manusia yang mau mendekat.

Ukhti, kamu cantik sekali…
Tapi kecantikan hanyalah pemberian dan untuk apa dibangga-banggakan? Sepantasnya kecantikan disyukuri dengan cara yang benar. Mensyukuri kecantikan bukanlah dengan cara memamerkan, memajang gambar atau mengikuti bermacam ajang lomba guna membandingkan rupa dengan yang lain, sedangkan hakekatnya wajah itu bukan miliknya. Tidakkah engkau jengah bila banyak mata lelaki Ajnabi (bukan muhrim) yang memandangi berhari-hari? Tidakkah engkau malu ketika wajahmu dinikmati tanpa permisi karena engkau sendiri yang memajang tanpa sungkan. Ataukah rasa malu itu telah punah, musnah? Betapa sayangnya jika demikian sedangkan ia adalah sebagian dari keimanan.

Maka tampillah cantik di hadapan penciptamu karena itu lebih berarti dari pada menampilkan kecantikan pada manusia yang bukan muhrimmu Tampillah cantik di hadapan suamimu, karena itu adalah bagian dari Jihadmu. Mengabdi pada manusia yang kamu kasihi demi keridhoan Ilahi. Tampillah cantik, cantik iman, cantik batin, cantik hati, karena itu lebih abadi….!!!

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad-jasad kalian dan tidak juga kepada rupa-rupa kalian akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian (dan amalan-amalan kalian)” (HR. Muslim)

Posted with WordPress for BlackBerry.

 
Leave a comment

Posted by pada Kamis, Mei 12, 2011 in Kutipan

 

Kaitkata: ,

Kutipan : Pesan Rasul

Saya dapat info ini dan ingin berbagi untuk semua. Wallahualam, semoga memberi ilmu tambahan dan masukan.

kepada Ahlul Bait yang disebutkan dalam surat Al-Ahzab ayat 33. Ia bersabda: “Aku tinggalkan bagi kamu dua pusaka yang jika kamu berpegang teguh kepadanya kamu tidak akan sesat selama-lamanya: Kitab Allah dan Ahli Baitku.” Mazhab Ahlul Bait adalah mazhab yang ditegakkan di atas tawhid murni -kecintaan sejati hanya dipersembahkan kepada Allah swt! Dari Kepongahan Ras kepada Persamaan Karena suku-suku bangsa ini terasing di sahara, mereka mengembangkan kecintaan kepada suku sebagai cara agar mereka bertahan hidup. Kesetian kepada suku kemudian berkembang menjadi kebanggaan rasial. Mereka senang menghitung prestasi-prestasi sejarah yang diukir oleh nenek-moyangnya. Dari keturunan siapa mereka berasal dijadikan ukuran derajat mereka. Karena itu, dalam bahasa Arab keturunan disebut juga sebagai hasab (berasal dari hasiba, menghitung). Nabi saw menghapuskan kebanggaan ras atau etnis. Satu-satunya ukuran kemuliaan adalah amal salih.

..

.

Ia menyampaikan firman Tuhan: Bagi setiap orang derajat berdasarkan amal yang dilakukannya (QS. Al-An’am; 132). Hakikat kemanusiaan tidak terletak dalam darah tetapi pada akhlaknya. Secara perlahan-lahan, Nabi saw memotong satu demi satu tonggak kepongahan ras. Ia memotong kebiasaan pernikahan yang didasarkan kepada kesederajatan dalam keturunan. Ia menikahkan budak-budak belian dengan perempuan bangsawan. Ia bersabda, “Aku menikahkan Zaid bin Haritsah kepada Zainab binti Jahasy dan aku menikahkan Miqdad kepada Dhiba’ah binti Zubair bin Abdil Muthallib supaya mereka mengetahui bahwa kemuliaan yang paling tinggi adalah Islam dan bahwa yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bagus keislamannya.” (Kanz Al-Umm?l 313; Mak?rim Al-Akhl?q 1:452-1546)

..

.

Ia memotong kebiasaan orang Arab untuk merendahkan orang ‘Ajam dengan memberikan penghormatan kepada para sahabat yang berasal dari luar Arab, seperti Salman al-Farisi. “Pada suatu hari Salman sedang duduk bersama orang-orang Quraisy di Mesjid. Mereka sedang membangga-banggakan keturunan mereka secara bergiliran. Ketika sampai kepada Salman, Umar bin Khatab bertanya kepadanya, ‘Katakan kepadaku siapa kamu? Siapa bapakmu? Apa asal-usulmu?’ Salman menjawab, ‘Aku Salman anak hamba Allah. Dahulu aku tersesat, lalu Allah memberikan petunjuk kepadaku melalui Muhammad saw. Dahulu aku miskin, lalu Allah memperkaya aku dengan Muhammad. Dahulu aku budak, lalu Allah membebaskan aku dengan Muhammad. Inilah nasabku dan inilah hasab-ku.’ “Ketika Nabi keluar dan menemukan Salman berbicara kepada mereka, Salman berkata kepada Nabi, ‘Ya Rasulullah ingin aku adukan apa yang aku dapatkan dari mereka. Aku duduk bersama mereka dan mereka mulai menjelaskan nasab mereka dan membangga-banggakannya. Ketika sampai kepadaku, Umar bin Khaththab berkata kepadaku: Katakan kepadaku siapa kamu? Siapa bapakmu? Apa asal-usulmu? Aku menjawab aku Salman anak hamba Allah. Dahulu aku tersesat, lalu Allah memberikan petunjuk kepadaku dengani Muhammad saw.Dahulu aku miskin, lalu Allah memperkaya aku dengan Muhammad. Dahulu aku budak, lalu Allah membebaskan aku dengan Muhammad. Inilah nasabku dan inilah hasabku.’

..

.

“Rasulullah saw bersabda, ‘Hai orang-orang Quraisy sesungguhnya hasab manusia itu adalah agamamu, jati dirinya adalah akhlaknya, dan asal-usulnya adalah akalnya. Allah swt berfirman: Sesungguhnya Kami menciptakan kamu laki-laki dan perempuan dan kami menjadikan kamu berbagai suku bangsa dan golongan supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling takwa.’ (QS. Al-Hujurat; 13)’

..

.

Selanjutnya Nabi saw berkata kepada Salman: ‘Tidak ada seorangpun di antara mereka yang lebih utama dari kamu kecuali karena ketakwaan kepada Allah. Jika kamu lebih takwa maka kamu lebih utama di atas mereka.’” (Bih?r Al-Anw?r 22:511) Kepada Salman, Nabi saw juga menyampaikan sabdanya yang terkenal, “Salman dari kami Ahlul Bait”. Pada zaman Imam Ja’far al-Shadiq, Al-Fadhl dengan bapaknya Isa dari keturunan Bani Hasyim menemui Imam Ja’far. Isa bertanya, “Betulkah ucapan Rasulullah saw bahwa Salman seseorang dari kami Ahlul Bait?” Imam menjawab, “Betul.” Ia bertanya, “Jadi dari keturunan Abdul Muthallib?” Imam menjawab, “Dari kami Ahlul Bait.” Ia bertanya lagi, “Jadi dari keturunan Abu Thalib?” Imam menjawab, “Dari kami Ahlul Bait.” Isa berkata kepada Imam: “Aku tidak mengenal (silsilah) dia.” Imam Ja’far berkata, “Ketahuilah, hai Isa, bahwa Salman dari kami Ahlul Bait.”

..

.

Kemudian Imam merapatkan tangannya ke dadanya seraya berkata, “Hubungan itu tidaklah seperti anggapan kalian. Sesungguhnya Allah menciptakan tanah kami dari tempat yang tinggi dan menciptakan tanah untuk golongan kami di bawah itu. Mereka termasuk golongan kami. Tuhan menciptakan tanah untuk penciptaan musuh kami dari Sijjin, tempat yang paling rendah dan menciptakan golongan mereka di bawah itu. Mereka termasuk golongan mereka. Salman lebih baik dari Luqman.” (Bih?r Al- Anw?r 22:481) Salman termasuk di antara tonggak-tonggak yang meperkokoh mazhab Ahlul Bait.

..

.

Tonggak-tonggak lainnya adalah Miqdad, Ammar bin Yasir, dan Abu Dzar. Semuanya tidak berasal dari Bani Hasyim, tetapi mereka semua diciptakan dari bahan tanah yang sama. Pada suatu hari terjadilah perdebatan antara Abu Dzar dengan salah seorang budak yang berkulit hitam. Abu Dzar melontarkan kalimat, “Hai anak perempuan hitam.”

..

Mendengar itu Nabi saw menepuk bahu Abu Dzar, “Thaf? sh?’. Keterlaluan kamu Abu Dzar. Tidak ada kelebihan orang putih di atas orang hitam, tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang ‘Ajam kecuali karena amal salihnya.”
Mendengar itu, Abu Dzar merapatkan kepalanya ke tanah. Ia meminta kawannya itu menginjak kepalanya sebagai tebusan atas kepongahan ras yang secara tidak sengaja tampak keluar dari mulutnya. Misi Rasulullah saw itu dilanjutkan oleh para pengikutnya sepanjang sejarah. Sekali-kali kebiasaan jahiliah muncul, tetapi para mukmin yang salih mengembalikannya lagi pada Sunnah Nabi.

..

.

Pada zaman Umayyah, misalnya, dibedakan antara orang Arab dengan bukan Arab. Tetapi tradisi Umawiyyin ini tidak berbekas banyak pada kaum Muslimin. Suatu saat para budak berhasil merebut kekuasaan dan mendirikan kerajaan Islam dengan nama Dinasti Budak (Maml?k).

..

.

Ketika Declaration of Human Rights dikumandangkan, umat Islam disadarkan kembali pada warisan mulia dari Nabi mereka. Warisan yang terkadang kita onggokkan dalam puing-puing sejarah keemasan Islam. Simaklah bagaimana Syaikh Ja’far Subhani menulis pada kalimat-kalimat terakhir bukunya, Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah saw:

..

.

“Beliau menegakkan hak-hak manusia ketika hak-hak itu sedang diserobot; beliau melaksanakan keadilan ketika kezaliman merajalela dimana-mana; beliau memperkenalkan kesamaan ketika diskriminasi yang tak semestinya sedang lumrah; beliau memberikan kebebasan ketika manusia sedang berkeluh kesah dalam penindasan, kekejaman dan ketidak-adilan. “Beliau membawa risalah yang mengajarkan manusia untuk taat dan bertakwa kepada Allah saja, memohon pertolongan dari Dia saja. Risalahnya yang universal meliputi semua aspek kehidupan manusia, termasuk hak-hak, keadilan, persamaan, dan kebebasan.

..

.

“Inilah risalah yang manusia, sekali lagi, telah kehilangan bimbingannya. Maka, mengapakah kita tidak datang lagi ke bawah naungannya agar umat manusia terselamatkan dari kehancuran dan dapat mencapai kedamaian, kemajuan dan kebahagiaan….”
 
Leave a comment

Posted by pada Selasa, April 19, 2011 in Kutipan

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.477 pengikut lainnya.