Episode 21 : Sesaat dia hadir

Jumat, Oktober 31, 2008

 


Boleh aku bercerita tentang perkenalan singkatku dengan seorang Bocah? Namanya Riki 12 tahun dari daerah Lampung. Aku mengenalnya ketika sedang menunggu lampu merah di perempatan Jakal. Ada seorang anak kecil yang tiba-tiba datang ke arahku dan bertanya “Mbak, saya bisa menumpang sampai di Mirota Kampus? “. Aku sempat berpikir sejenak, “Tak apa kah?”. Kawan,,,, Can we trust trust? . Namun pengalaman mengajarkanku, bahwa percaya itu lahir setelah perbuatan. Maka aku terima permintaannya mengantar sampai ke Mirota Kampus. 

Di perjalanan kami sempat mengobrol beberapa hal. “Ki, mengapa kamu jauh-jauh dari Lampung ke Jogja?”. “Aku kabur dari rumah mbak, bapakku kawin lagi soalnya…” Itu jawabnya. Lalu aku bertanya lagi ” Kamu gak kangen po sama Ibumu?”. “Ya kangen sie mbak…” . Dari obrolan singkat itu aku tahu kalo Riki bisa sampai ke Jogja lewat uang yang diterima hasil mengamen. Hmmm… Dan sebelum akhirnya berpisah aku katakan “Jangan lupa pulang ya, Ibu pasti kangen di rumah..” Dan dia hanya diam dan tersenyum datar. 

Setelah itu

Pemikiran orang sok serius dan sentimental ini (:D) jadi kemana-mana….

1. terus terang ketika mendengar alasannya kabur dari rumah , perasaanku tiba-tiba menjadi pilu. Adakah setiap orang tua dalam mengambil keputusan pasti akan mempertimbangkan perasaan dan nasib anak-anaknya, atau hanya mengikuti nafsu belaka? Astagfirullah… Ah Sudahlah, aku tidak suka menilai orang lain. Paling tidak, aku harus mengambil pelajaran…jika berkeluarga nanti, sebisa mungkin aku akan selalu melibatkan anak-anak sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan, bila perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan tersebut. 

2. tiba-tiba aku terbayang-bayang kehidupannya di jalanan. Anak sekecil itu. sementara aku berselimut di malam-malam yang akhir-akhir ini diguyur hujan, bocah itu harus tidur di emper-emper toko berbekal busana yang hanya melekat di badan. Di satu sisi aku bersyukur atas kenikmatan yang bisa aku nikmati, namun di sisi lain aku malu , sangat malu. Tuhan….

maaf kawan, saat ini sejujurnya aku sedang tidak bisa mengontrol emosi. tulisan inipun seolah-olah menjadi kehilangan arah dan nurani. sesaat kehadirannya, seolah-olah telah menyetrum syaraf-syaraf egoku. 

…………

Aku hanya bisa percaya bahwa dia mampu menjadi lebih baik 

dan Aku yakin Tuhan punya rencana manis di balik semua ini

Mungkin DIA ingin mengingatkanku untuk tetap bersyukur

dan syukur diwujudkan dengan ketaatan

termasuk semakin menCinta sesama saudara

….

Kawan,,, sungguh! saat ini, hatiku sedang kalut dan sedih


Itu Sudah

(na) 

Episode 11 : Bidadari2 Ramadhan

Selasa, September 16, 2008

Salma

Salma

Maemunah

Maemunah

Hari ini, tiba-tiba aku teringat kenangan perkenalanku dengan mereka. Di Mushalla Al-Hidayah Ramadhan tahun lalu. Saat itu aku sedang sibuk mencatat isi kuliah subuh yang dibawakan ta’mir masjid. Tiba-tiba jari-jariku terhenti menulis, ketika aku sadari beberapa pasang mata sedang mengamatiku dari depan shaf tempatku duduk. Aku balas memandang mereka, dan mereka tersenyum. Damai rasanya. Mereka bertanya ” Mbak, kowe ono’ tugas dari Pak Guru juga po?” Mendengarnya, aku hanya bisa tersenyum dan menjawab, ” Iya dik, tugas dari GURUKU”. Setelah selesai, kamipun berkenalan. Mereka menuturkan nama-nama yang terdengar merdu di telinga. Salma dan Munah. Selamat dan Yang diberkahi ALLAH. Dan itulah awal perkenalanku dengan bidadari-bidadari ini.

Semenjak saat itu, ramadhanku terasa lebih berwarna dan bersemangat. GURUKU mengirimkan bidadari-bidadari untuk menemaniku belajar tentang dunia akhirat. Setiap aku menginjakkan kakiku di Mushalla itu, langkah ini terasa ringan untuk berjalan ke arah mereka, dan waktu terasa begitu cepat berlalu di tengah kegembiraan beribadah bersama. Bergabung menjadi Jama’ah dengan yang lain. Terharu rasanya, mengingat merekalah yang mengajarkanku untuk peduli. Ketika shalat berakhir dan tikar-tikar bekas makmum masih terbengkalai di lapangan, dengan lugas mereka menegurku ” Ayo mbak, tikarnya kita gulung”.

Pertemanan kamipun tak cukup berlalu di Mushalla saja, lambat laun kamipun memutuskan untuk jalan-jalan bersama. Ke wilayah sekitar UGM, ke Musum Mainan Anak, Pameran Mainan, menonton film depan kompi, dll. Ada-ada saja tingkah mereka yang mengetuk-ngetuk pintu ketakjubanku. Siang itu misalnya, matahari tengah menyengat panas di sekitar pasar Bringharjo, saat itu kita baru saja pulang dari Pameran Mainan dan rasanya lelah, haus gak ketulungan. Saat itu kami berlima, dan beberapa dari kami mulai mengeluh kehausan. Namun dengan tegas Salma mengingatkan teman2nya ” Sabar dong, masih puasa nie,,, tunggu magrib dulu. Mending kita shalat dulu yuk biar segar…” Subhanallah. Adakah yang masih memandang bahwa semua anak-anak hanya bisa manja dan cengeng? Mungkin selama ini kita masih terperangkap dalam kacamata stereotype kita. Dan kawan, saat itu aku langsung memutuskan untuk mengganti kacamataku terhadap anak-anak.

Salma , Munah, anak ketiga dan keempat dari 7 bersaudara keluarga Abi dan Umi yang tinggal dibelakang pondokanku. Keluarga yang hangat dan sederhana. Aku ingat saat pertama kali bertandang ke rumah mereka, saat itu Umi sedang menggendok Faudzan si bungsu, sementara tangan lainnya sibuk dengan gunting dan kain-kain yang siap dijahit sesuai pesanan. Dari tutur katanya, aku tahu Umi adalah ibu yang cerdas, lembut dan kuat. Meski harus mengasuh ketujuh anaknya, Umi masih bisa meladeni pelanggan-pelanggan yang suka akan jahitannya, mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengajar anak-anak tentang ilmu dan agama. Ketujuh anaknya adalah anak-anak yang berprestasi di sekolah. Sungguh! Beliau bagai Mahadewi2 yang dicipta untuk memperindah dunia dengan kelembutan, kecerdasan, ketabahan, ketangguhan dan Cinta.

Kini, setahun telah berlalu.

Satu tahun bagiku telah membawa berbagai dinamika tentang kehidupan. Aku akui tahun ini, aku kurang mempersiapkan kedatangan tamu agung, Ramadhan. Muncul kekhawatiran, akankah tamu tahun ini akan bertandang seindah tahun yang lalu?

Namun, kekhawatiran2 itu lenyap ketika kembali aku langkahkan kakiku ke Mushalla Al-Hidayah dan bertemu dengan wajah-wajah bidadari itu. Kejenuhanku selama beberapa waktu seolah-olah lenyap dengan sapa dan celotehan mereka. Seperti hari ini, ajakan mereka untuk menikmati suasana kota ba’da subuh dengan kaki telanjang membuatku melihat sisi lain dari kota yang selama 4 tahun ini aku tinggali. Suasana yang sejuk, banyak kicau burung2 di sekitar kampus kehutanan dan purnama yang pagi ini masih menyapa. Setelah pulang dengan kaki-kaki yang lelah aku hanya bisa bersyukur bahwa GURUKU mengirimkan mereka padaku.

Aku suka belajar dengan mereka, mereka itu polos dan lugas!. Tanpa segan mereka bertanya tentang kehidupan. Termasuk tentang Cinta yang mulanya membuatku sedikit kalang kabut. “Mbak, kowe wis nduwe bojo po? ” Tak apakah membicarakan Cinta pada mereka? Namun Cinta menunjukkan padaku bahwa tidak ada batas usia, agama, suku, ras, bangsa, status, jarak maupun kelamin. Jika Cinta bisa membuat kita menghormati, memahami, menyayangi, mengingatkan, membahagiakan manusia yang lain, memanusiakan manusia. Begitupun anak-anak. Cintalah yang menunjukkan padaku bagaimana memanusiakan anak-anak. Sungguh sangat disayangkan bila masih ada mereka yang sombong dan memandang anak-anak hanyalah makhluk yang manja, nakal, cengeng dan belbagai stereotype yang lain. Aku teringat akan tulisanku beberapa waktu yang lalu tentang anak-anak “Hantu Tengah Malam”

“Kelirulah mereka yang melarang anak-anak untuk belajar menCinta. Jika kau masih bertanya apa itu Cinta, matikan TV dan Radio yang penuh dengan roman picisan itu sejenak dan pandanglah bola matanya, di sana, ada sejuta Cinta yang akan kau mengerti bila kau mau berusaha untuk memahami. Dan masihkah kau mengira dirimulah yang lebih segalanya dari mereka? Ingat, yang membedakanmu hanyalah rentang waktu dalam umur, selain itu kita tidak tahu.”

Terima kasih bidadari-bidadariku, kalian pernah mewarnai hari-hariku di bulan yang suci. Egoku menginginkan kita tidak berpisah untuk selamanya, tapi saat ini aku tengah belajar mengerti tentang ketidakpastian dan takdir. Dan aku hanya bisa melakukan dua hal, menghargai setiap detik yang kita miliki bersama, dan berdo’a semoga kita berjodoh lebih lama. Amin

Rasanya sedih bila harus memikirkan saat Ramadhan tahun ini akan berakhir. Akan sulit lagi bagiku untuk pergi ke Mushalla di waktu subuh dan isya’ mengingat kondisi yang gelap dan sepi selain bulan Ramadhan.  Sudah tidak ada lagi pemudi-pemudi sepantaranku yang akan berjalan bersama menunaikan ibadah agung di Mushalla.  Hahhh,,, aku akan sangat merindukan saat-saat ini. Kawan, ayo kita makmurkan masjid, mencapai kebahagian beribadah dengan berjama’ah, kita makmurkan tidak hanya pada bulan ini, tapi bulan-bulan selainnya. Karena kita tidak pernah tahu, berapa lama waktu yang masih tersedia untuk kita…..

Kaki lelah, kotor dan senang!

Kaki lelah, kotor dan senang!

Itu Sudah

(na)

Episode 4 : Kartini

Senin, April 21, 2008

Motto Hidup Kartini : AKU MAU !

Seorang sahabat, tepatnya Bapak Ketua FOSMA 165 DIY, pernah berujar : “Kenapa sie kita merayakan Hari Kartini, kenapa tidak ada hari Cut-Nyak Dien, Cut Meutia, pahlawan-pahlawan yang lain,,,,lagipula bukannya yang membuat Kartini disebut pahlawan hanya karena surat-suratnya saja?? “

Bagaimana menurutmu?

Menurutku, kita juga memaknai perjuangan Cut Nyak Dien, Cut Muetia, dan pahlawan-pahlawan yang lain saat 10 November = hari pahlawan, dan juga saat 17 Agustus = hari kemerdekaan. Namun yang membuat kita memaknai hari Kartini, bukanlah karena ‘bentuk’ perjuangannya semata, tapi lebih sebagai ‘pengingat’ tentang APA sie yang beliau perjuangkan.

Masih ingat Ki Hajar Dewantoro?

Berkat jasa beliau kita bisa lepas dari jerataan kebodohan. Sekolah pertama yang beliau dirikan “Taman Siswa” menjadi pelita bagi golongan pribumi saat itu untuk bisa mengenal dunia lebih luas. Jika mengingat tulisannya Plato tentang kehidupan orang-orang di Goa yang hanya mengetahui dunia dari bayangan yang timbul di dinding Goa, maka Ki Hajar Dewantoro bisa kubayangkan sebagai seorang yang menarik para penghuni goa itu untuk keluar dan menikmati kenyataan dunia bebas, atau dia yang menghancurkan dinding goa itu sehingga para penghuninya bisa melihat cahaya yang sesungguhnya, bukan hanya bayangan saja.Dan atas jasanya itulah, kita memperingati hari kelahirannya sebagai hari Pendidikan nasional.

Seperti Patung Liberty yang merupakan simbol dan mengingatkan setiap warga Amerika tentang makna dari “freedom”/ kebebasan. Kebebasan yang mereka terima saat itu, merupakan impian-impian yang terakumulasi dari penderitaan dan kesengsaraan yang mereka alami selama masa pemerintahan yang otoriter oleh kekaisaran romawi saat itu. Maka, bagi mereka Liberty bukan hanya sebuah patung tapi simbol atau alarm tentang pentingnya menjaga kebebasan mereka sebagai manusia. Dan begitupun bagi kita, hari pendidikan seharusnya bukan hanya sekedar hari untuk Upacara Bendera bagi anak sekolahan, tapi juga seharusnya hari untuk bersujud syukur bagi setiap mereka yang masih bisa belajar. Adalah anugerah kita bisa lahir di saat ini, bukan 100 tahun yang lalu saat pendidikan masih dilarang bagi kebanyakan golongan pribumi. Kita kan tidak bisa meminta apalagi memutuskan kapan kita lahir bukan?

Begitupun Hari Kartini. terlepas dari semua kontroversi tentang keabsahan surat-surat Kartini. Namun bagiku, alasan utama mengapa hari kelahiran Kartini kita peringati sebagai Hari Kartini adalah sebagai simbol perombakan wanita pertama, terutama dalam bidang pemikiran. Saat itu, budaya mengharuskan perempuan untuk dipingit di rumah, membatasi kebebasan mereka untuk bergerak dan bersosialisasi. Dan lebih anehnya tidak ada yang berontak terhadap keadaan itu, paling ngak secara eksplisit. Maka Kartini, melalui surat-suratnya menyampaikan pemikiran yang mengkritik tentang perlakuan pada perempuan yang kurang manusiawi, uneg-uneg, itu kepada sahabat-sahabatnya.
She think out of the BOX !

Aku pernah mendengar tentang konsep Humanisme. Dimana pada dasarnya manusia ingin dihormati dan diakui harkatnya sebagai manusia, diperlakukan sebagai manusia. Dan juga pada dasarnya setiap manusia memiliki suara hati untuk memperlakukan manusia yang lain dengan penuh hormat dan kasih sayang. Memperlakukan orang lain sebaik dan seperhatian mereka memperhatikan diri mereka sendiri. Istilah gaulnya “menyayangi orang lain sesuai dengan kadar kenarsisanmu”. Atau, memanusiakan manusia. Lawannya adalah dehumanisme. Konsep dehumanisme tetap memandang manusia memiliki suara hati untuk tetap memanusiakan manusia yang lain. Manusia itu sama. Manusia tidak bisa merendahkan manusia lain. Dehumanisme adalah proses dimana seorang manusia yang ingin melampiaskan emosinya pada manusia lain (kebanyakan merendahkan) dengan cara mengubah image manusia tersebut menjadi makhluk bukan manusia dulu dalam pemikirannya, dan kebanyakannya melanjutkannya pada tingkah laku.

Jelasnya begini, sering denger kekerasan yang terjadi di rumah tangga ? Seorang suami yang tega menendang istrinya. Majikan yang tega menyetrika punggung pembantunya. Pernahkah berpikir, jika itu kamu, apa kamu sanggup?? Gak sanggup kan? Tapi nyatanya mereka bisa tuh. Mengapa? Menurutku karena sebelum mereka melakukan tindak kekerasan itu mereka melakukan proses dehumanisasi dulu dalam pemikiran mereka. Seorang suami yang sebal dengan istrinya yang bawel akan mengubah image istri sebagai manusia dalam pemikirannya, menjadi istri yang bawel seperti “bebek” (binatang, bukan manusia), dan setelah proses kognisi itu berhasil maka, keluarlah kata-kata kebun binatang itu “dasar istri bawel, kayak bebek, dasar anjing , ato kayak binatang lainnya…..” dan beranilah seorang suami menendang sang istri karena baginya, yang dia hadapi sekarang bukan lagi manusia tapi bebek. Begitupun seorang majikan yang sangat jarang melihat pembantunya tidak lebih dari seorang pembersih rumah (sapu, bukan manusia), pelicin baju (setrikaan, bukan manusia) dll, maka ketika si majikan dengan kejam menyetrika si pembantu maka dia hanya akan merasa seperti sedang menyetrika baju lusuh.

Andai kita semua selalu bisa menjaga hati dan pikiran untuk tetap me’manusia’kan manusia, memperlakukan orang lain seperti kita memperlakukan diri sendiri. Maka kita tak perlu penjara, hukum yang terkonstitusi, pengadilan.

Kembali ke Hari Kartini….

Maka hari Kartini menurutku sesungguhnya merupakan simbol dari kita untuk tetap memanusiakan manusia. Memanusiakan perempuan. Budaya, adat istiadat jaman kolonial telah membagi status perempuan dan laki-laki. Banyak praktek yang membuat perempuan seolah-olah bukan lagi manusia. Di Eropa pada abad 13an perempuan dikenal dengan istilan “blue stocking” ato dalam bahasa Indonesia serupa dengan “pabrik keturunan”. Bayangkan! sebagai Pabrik! atau perempuan hanyalah “alat yang mengeluarkan makanan, membuat baju tetap bersih” atau “boneka yang hanya perlu dihias dengan pakaian mewah dan perhiasan”. Begitulah image seorang perempuan pada zaman dulu. Dan hal-hal inilah yang diperjuangkan seorang Kartini. Sekali lagi, bukan untuk meninggikan derajat seorang perempuan (karena Allah-pun hanya akan menilai tinggi rendahnya derajat manusia nanti ketika di padang Mashar) , tapi untuk lebih memberikan ruang negosiasi dalam perbedaan. Lebih meminta perluasan kesempatan untuk setiap manusia lebih saling mengenal. Laki-laki lebih mengenal perempuan apa adanya. Perempuan lebih mengenal laki-laki apa adanya. Bukan hanya mengenal dari ’standar-standar’ yang sudah ditetapkan budaya. Misal : perempuan itu tugasnya di dapur, perempuan itu cengeng, laki-laki itu basi kalo nangis.

Bukankah setiap manusia itu unik? gak ada yang sama. Yang kembarpun bisa memiliki sifat yang berbeda bukan. Lalu mengapa kita dengan mudah percaya dengan ‘judgement-judgement’ di luar, tanpa kita coba untuk analisa dan rasakan sendiri? Kalo kata orang perempuan itu cengeng, gak semua dan gak slamanya kaleee. Kalo kata orang laki-laki itu rasional, gak semua dan gak slamanya kaleee. Selalu ada kasus anomali kan? seperti kata kakek Einstein ; Relatif!

Jadi, menurutku Hari Kartini kita peringati untuk menyuarakan suara hati manusia terutama perempuan

“Kenallah aku dari apa yang kau rasakan, bukan dari apa yang mereka katakan.

Perlakukanlah aku dari apa yang ingin kau rasakan, bukan dari apa yang mereka katakan!!! “

Mungkin, pendapatku ini tidak sepenuhnya benar dimatamu. Jadi, sangat aku harapkan kamu bisa menguraikan pendapatmu pula untuk membuatnya lebih baik. Dan bersama-sama, marilah kita pasrahkan seluruh benar dan salah hanya pada-Nya, Sang Maha Mengetahui Kebenaran. Karena, jika kita sama-sama tahu tentang kebenaran itu, akankah kita tetap mau belajar dan mencari? Dan akankah saat itu hidup kita akan bermakna ???

Wahai Ibu Kita Kartini, Putri Yang Mulia…

Sungguh besar CITA-CITAnya

bagi Indonesia…

………………………………………………………………………

Kartini : Na, apa cita-citamu?

Aku : Indonesia Emas !

………………………………………………………………………

Itu sudah.

(na)

Episode 2 : Puji Lestari

Sabtu, Maret 22, 2008

“Banyak orang yang panjang pengalaman tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalaman yang pendek mencerahkan seumur hidup”
(Andrea Hirata, Edensor hal-1)

Ada yang ingin tahu apa itu bersahaja? Maka lihatlah gadis 14 tahun ini. Sungguh! pertemuan tak lebih dari sehari yang begitu singkat dengannya telah mengajarkanku banyak hal tentang ke-sahaja-an.

Begini ceritanya,

Minggu pagi ketika ada perlombaan permainan tradisional di Museum Anak Kolong Tangga aku melihatnya pertama kali. Ia disana, di depan gerbang Taman Budaya mengendap-endap, tengok kiri dan kanan bagai anak itik kehilangan induknya. Segera kusapa dan kutanya namanya. “Puji mbak…” Dan kutawari ia ikut bergabung bermain bersama anak-anak yang lain, namun dengan halus ia menolak. “saya cuma mau cari adik saya mbak…”. Maka kuantarkan ia menemui adiknya dan menonton perlombaan.

Perlombaanpun selesai, aku bersiap-siap untuk pulang. Dan masih kulihat ia disana, disudut pintu masuk museum. Gadis ini sebenarnya banyak dikenal oleh teman-teman sukarelawan di museum. Namun hari itu, aku terdorong untuk ingin mengenalnya lebih dekat. Maka sambil istirahat kuajak dia bercakap-cakap sejenak. Aku bersyukur, ternyata ia masih duduk di bangku sekolah, meski tampaknya dia sedikit mengalami ‘kesulitan’. Aku sempat terkejut mengetahui umurnya telah 14 tahun, tak cocok menjadi seorang bocah lagi bukan? Ia banyak bercerita tentang kehidupannya di sekolah, pelajaran yang ia sukai “pelajaran hari Sabtu, karena esoknya libur”, teman-teman yang sering mengejek-ngejek dirinya. (bersabarlah sayangku….). Dan disini, di Taman Budaya ini, ia setiap hari membantu ibunya berjualan rokok. Ayahnya telah tiada dan ia memiliki banyak saudara (aku lupa jumlahnya…), namun syukurlah beberapa diantaranya telah mandiri dan berkeluarga.

Waktu makan siang. Aku tawari ia makan bersama dan ia mengusulkan sebuah kantin di lantai 2 Pertokoan Buku Shopping. Setelah berpamitan dengan ibundanya kita berangkat menuju kantin. Sepanjang perjalanan ke kantin, aku tahu ada banyak sekali pasang mata yang memandang ‘aneh’ ke arah kami. Entah apa yang ada dibenak mereka, aku tak peduli. Namun tak jarang para penjaga toko, tukang parkir, tukang angkut barang memanggil-manggil namanya “Puji, sopo iku,,, mbakmu po?” ” Puji……….”

Pelajaran 1 : ia terkenal !

sungguh! ia telah menunjukkan sosok ‘penguasa’ rimba Pertokoan Buku Shopping. pikiranku melayang pada pengembaraannya sendiri di pertokoan ini, bertemu dan berkenalan dengan orang-orang yang berbeda setiap hari,berbagi cerita, menambah teman. berkelana! Gadis ini,,,, ia dikenal bukan karena cacat yang ada pada tubuhnya (menurut keterangannya, bentuk tubuh gemuk yang tidak biasa pada dirinya disebabkan oleh kesalahan obat ketika dia masih kecil), tapi ia dikenal karena sifatnya yang polos dan bersahaja.

kita bercerita banyak tentang buku. Syukurlah dia suka membaca buku. Aku tanya apa dia suka membaca dongeng-dongeng rakyat sambil melihat-lihat buku di sebuah pertokoan. Ia katakan “Ya mbak, aku suka sekali”. Lalu aku beli sebuah buku dongeng yang ia sukai yang sebenarnya kuperuntukkan sebagai motivasi supaya dia lebih giat untuk membaca, tapi sebersit hatiku mendorong untuk menunda memberikan buku itu dan melihat reaksinya. Seolah-olah aku membeli untukku sendiri, bukan untuk dia. Dan dia hanya diam, tersenyum seolah-oleh ikut senang membantuku membeli buku.

Pelajaran 2 : Puji, kau gadis yang Ikhlas…

Perjalanan kamipun berlanjut ke Taman Pintar yang sangat dekat dengan Shopping. Bersama kita menikmati pemandangan halaman Taman Pintar, memasuki gedung Oval dan mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan baru. Ia sangat senang mencoba simulasi gaya listrik statis yang membuat rambut ikalnya berdiri bagai tersambar petir. Pemandangan yang sangat menggembirakan. Sementara, aku senang ketika kita mencoba simulasi rumah gempa yang di setting berskala 4.00 skala Richter. Bergoyang-goyang. Namun tentu saja, pengalaman kami yang paling mengasyikkan hari itu adalah bermain motor-motoran (aku lupa namanya). Dan lagi-lagi, hampir seluruh petugas disana mengenal Puji. Bahkan tak jarang mereka ‘membantu’ Puji bermain disana. Ketika saatnya aku mengantarnya kembali pada ibunya, aku teringat akan niatku untuk memberikan sebuah buku, dan kukatakan “bacalah buku ini, dan ceritakan isinya padaku suatu saat nanti”. Dengan halus ia mengucapkan terima kasih dan berjanji untuk membaca buku itu.

Pelajaran 3 : Puji, kau gadis yang santun.

Akupun pulang dengan sejuta rasa yang sulit untuk diuraikan dalam kata. Satu hal yang kutahu, aku belajar banyak hal dari gadis 14 tahun penjual rokok yang bernama Puji ini.

……………………………………………………………………………………………………..

nana : nanti kamu mau kuliah ga?

Puji : yaaa kalo bisa, mau banget mbak..

nana : bagus! yang penting niatmu dulu, InsyaAllah akan ada jalannya

……………………………………………………………………………………………………………

sampai bertemu lagi sayang, terimakasih telah mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan.

semoga Rahmat Allah selalu menyertaimu.

Itu sudah…

(na) 

Episode 1 : Karena satu alasan

Kamis, Maret 20, 2008

Pramoedya Ananta Toer

-KARENA SATU ALASAN-

Menulis.

Banyak orang yang suka menulis. menulis cerita, menulis buah pemikiran, menulis diary, menulis ungkapan hati, menulis kritik, menulis propaganda atau hanya sekedar menulis uneg-uneg. Yang penting menulis! Lebih banyak lagi yang “ingin” menulis. Tapi biasanya masih suka terhambat dengan pemilihan kata-kata, semangat menulis dan dorongan hati.

Bagaimana denganku??

Belakangan ini aku belajar untuk menulis lebih dari sekedar tulisan-tulisan yang ada di “diary”ku. Peningkatan proses pembelajaran, itulah sebutanku. Aku ingin merangkaikan kata demi kata yang lebih menggambarkan ‘rasa’ yang ada di dalam jiwa. Tulisan yang menyiratkan jati diri si penulis. Bagiku, tulisan adalah salah satu media Ta’aruf (berkenalan) antara si penulis dengan jati dirinya, juga antara si penulis dan si pembaca.

Akhir-akhir ini aku sangat kagum dengan seorang penulis, Pramoedya Ananta Toer. Guru dalam perlawanan dan perombak peradaban. Aku sepakat dengan pemikirannya tentang menulis ” Apapun bisa kau tulis, Menulislah, tulislah apapun itu, tulislah semuanya, menulislah tak peduli tulisanmu ditolak editor atau penerbit, tak peduli tulisanmu di larang atau dibakar, tetap menulis!!!” Bagiku, sosok Pram’s menggambarkan jelas apa yang disebut dengan “Ikhtiar dalam menulis”. Buku-bukunya yang dulu dibakar dan dilarang hingga menjebloskan dia bertahun-tahun dalam penjara, kini bisa menjadi pelita dan saksi perjuangan melawan penjajahan dan ketidakadilan. Tulisannya telah di alihbahasakan ke sekitar 40 bahasa di dunia dan beliau menjadi satu-satunya orang Indonesia yang menjadi nominator penerima penghargaan Nobel Sastra. Satu hal yang beliau perlihatkan padaku

Pramoedya Ananta Toer

MERDEKA DALAM MENULIS!!!!
meski raga terkukung dalam jeruji besi
namun tidak jiwa dan rasa di dalam dada…

Dan kini, di awal lembar tulisanku di blog ini ada satu jawaban yang menjadi penyemangatku yang kupelajari dari Semangat seorang Pram’s

……………………………………………………………………………………………………………

Kamu : “Na, mengapa kamu menulis?”

Aku : “Sayang, itu karena satu alasan……… CINTA!”

“Kalau kamu ???”

…………………………………………………………………………………………………………

Itu sudah….
(na)