Episode 5 : Cileuleus vs Edensor

Minggu, Juni 1, 2008

“Bila Edensor menggelayut mimpi-mimpi Ikal tentang keindahan, maka Cileuleus dimataku mengindahkan sebuah makna Tanah Air…”



Diawali dengan sebuah terowongan pertemuan antara jalan darat dan kereta api di sebuah daerah di kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Perjalanan ini dituntun oleh jalan tanah berkerikil yang berliku bagai ular naga, merangkak, menjunjung bukit-bukit kecil yang menanti dengan pesona ciptaan Tuannya. Tengokkan kerlinganmu ke kanan dan kekiri kan kau temui rumah-rumah mungil penuh warna yang menawarkan sebuah kehangatan yang didamba oleh mereka yang mengidamkan ‘kesahajaan’. Aku sepakat dengan kata seseorang-yang-kusayang ” Tuhan menciptakan Jawa Barat dengan tersenyum…”


Jarak antar rumah-rumah mungil itu tidaklah terlalu sempit seperti di kota-kota hutan beton. Cukuplah untuk setiap bunda menghias halaman dengan bunga, tanaman hias, menanam sayuran, tanaman obat-obatan yang kan selalu menjaga kesehatan setiap anggota keluarga. Sebuah pola hidup mandiri yang sangat kusuka. Menjadi manusia produktif. Manusia yang tidak hanya bisa mengkonsumsi hasil-hasil jerih payah sang Bumi dan menelantarkannya dalam tempat sampah atau lebih buruk membuang sembarangan!


Andai bumi itu adalah ibu pertiwi, betapa durhakanya manusia yang hanya bisa mengeksploitasi bahkan merongrong tubuh sang ibu demi mencapai sebuah titik kepuasan tanpa ujung. Tidaklah mengherankan bila acapkali sang ibu menghardik manusia dengan angin topan, banjir, badai, tsunami dan segala jenis bencana untuk memanggil kesadaran si manusia agar kembali memerhatikannya. Rentetan kejadian pemanasan global dan melelehnya daratan es di kutub telah menjadi bukti nyata dari sebuah titik menuju ketidakharmonisan bahkan kehancuran.Yang tidak bisa dipercaya adalah , si manusia yang katanya menjadi khalifah/pemimpin itu, masih belum juga terpanggil untuk menyayangi sang Ibu. Sebegitu lemahkah kita hingga tidak sanggup terlepas dari jerat iblis “ketolol-kolotan”???

Saat-saat skeptis pemikiranku inipun dibuyarkan oleh senandung kidung yang dilantunkan Cileuleus…

Sebuah kursi bambu tampak reyot namun kokoh membuatku merindu dengan tawa dan kebersamaan masa lalu. Ada padepokan bambu kecil kombinasi biru dan kuning bertengger di tengah sawah menghijau Duduk leha di atasnya, ditemani angin pedesaan yang sepoi-sepoi. Bila kau tengok ke depan, hamparan sawah akan menyapamu dengan harapan-harapan panen raya bagi para petani di setiap bulir padinya. Dan bila kau tengok ke belakang, barisan bukit kecil seolah menghadang dengan kemaskulinan tenggeran pohon-pohon hijau. Rasakanlah, di dunia ini kau tidak pernah sendiri. Ada angin sepoi-sepoi bernyanyi merdu menemanimu menikmati suasana, atau membaca novel kesayangan. Ada sinar Mentari menjadi penerang hingga matamu bisa melihat huruf demi huruf dengan jelas di bawah cahayanya. Ada gumpalan awan berarak sesekali menutupi sinar mentari dan menyajikan keteduhan di antara temaram sinarnya yang meredup. Dan saat kau rasakan kehadiran mereka, ketahuilah bahwa merekapun sesungguhnya selalu menemanimu. Selalu…

Dulu,,,

setiap orang selalu berbagi cerita tentang suka, duka, rahasia, Cinta dalam suasana yang penuh keterbukaan dan kehangatan. Orang tua bercerita dengan anak-anaknya. tetangga dengan tetangga, para sahabat, para mantri, tokoh-tokoh pemimpin duduk sama tinggi dengan masyarakat. Semua menuju pada sebuah nuansa musyawarah yang berlandaskan gotong-royong dan kekeluargaan. Duka satu orang ditanggung dan diselesaikan bersama. Suka bersama bisa dirasakan oleh setiap orang, setiap makhluk. Bahkan alampun ikut bernyanyi dengan senandung tawa anak-anak dan ikut bergoyang dengan langkah-langkah penuh semangat para petani dan keluarganya. Semua mengajarkan kita tentang budaya kearifan lokal. Saat-saat seperti ini, apalah artinya TeVe yang hanya memanjakan kepuasan tiap individu dan mematikan komunikasi dua arah. TeVe hanya berbicara padamu, dan kau tak kan bisa berbicara dengan TeVe apalagi Curhat!

Siapakah manusia desainer eksterior dan interior terhebat di dunia? Aku ucapkan permohonan maafku padamu, karena aku tidak sepakat memanggilmu desainer terhebat. Hanya sepetak pemandangan Cileuleus inipun tak kan bisa ditandingi oleh desain-desain bangunan maupuan tempat hiburan termegah di dunia ini. Adakah penempatan setiap item di bangunanmu itu saling bersinergi dan menghadirkan sebuah harmonisasi tanpa cacat dan abadi dengan item-item yang lain? Jutaan cat-cat paling berkualitas yang kau gunakan pun tak kan mampu menandingi kemilau warna-warna yang mencetak kata MENAKJUBKAN di matamu dan menyenandungkan pujian-pujian dalam setiap detak jantungmu. Ialah Sang Maha Pemberi Keindahan. Maestro bagi semua desainer terhebat di muka bumi ini.

Begitulah catatan perjalanan ini kutulis..

Setapak demi setapak kuresap keindahan Cileuleus, iapun mulai menyenandungkan sebuah melodi tentang rayuan tanah.

Tanah yang menumbuhkan setiap biji dan bibit menjadi sumber energi dan kehidupan bagi kita. Tanah yang telah menjadi saksi tangisan kehadiran setiap manusia selama ratusan tahun. Tanah yang diperjuangkan oleh para pahlawan untuk membebaskan manusia dari kolonialisme. Tanah yang dibanjiri darah dan air mata mereka yang merindukan kebebasan dari kekejaman. Tanah yang menjadi saksi kelalaian dan kesombongan manusia yang berdiri di atasnya. Namun tetap,,, tetap ikhlas menunaikan ibadahnya. Tanah yang sering kita lupakan dan lebih mengagungkan tanah-tanah orang lain, kita injak-injak dan eksploitasi hutannya, tambangnya dan semua hasil alamnya hingga ia rusak. Tanah yang meski kita perlakukan dengan sekejam apapun, selalu akan menyenandungkan melodi kidung yang sama…. hanya karena satu alasan, pengabdian pada-Nya.

Di akhir bait senandungnya, Cileuleuspun bertanya,,,,
tidakkah kau ingin bergabung denganku?
mengabdi untuk mencapai Cinta-Nya?
memimpinku dalam keharmonisan?

Aku takjub!
Ternganga dengan keanggunanya yang angkuh-angkuh namun memesona…
Meski kukerjap-kerjapkan mataku, pesonanya tetap disana dan tak memudar
dan ketika saatnya aku berpamit dari senandung Cileuleus
ku tengok kebelakang dan mencoba bertanya
“Apa judul senandung ini …?”

Dia menyindirku !!!
Dia hanya tetap bersenandung meski semakin sayup
Dia hanya berisyarat seolah-olah menyarankan
“Jangan hanya kau lihat dengan mata, hanya kau dengar dengan telinga, tapi rasakanlah dengan hatimu…”

…………………

Cileuleus : sudah kau temukan judul senandungnya na?
Aku : sudah, “Tanah Air Yang Ku-Cinta…!”

…………………

I LOVE INDONESIA !!!

Itu sudah.
(na)

5 Tanggapan ke “Episode 5 : Cileuleus vs Edensor”

  1. geknana Berkata

    oya lupa! menikmati pemandangan kayak gini lebih enak lagi kalo bareng2 dengan orang-orang yang kita
    sayang. Dijamin dapet salam dari Sheila on 7 “Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan” atau salam dari
    Ace of Base ” Beautiful Life” ^______________^

  2. agus Berkata

    kula nuwun…
    blog-nya manis… minta ijin untuk nge-link ke blog saya
    nuhun

  3. katara Berkata

    assalamu;alaikum.wr.wb. sungguh indah sekali apa yang kau tulis.. sampai-sampai air mataku tak terasa mengalir. subhanallah atas segala keagungan-Nya yang telah menciptakan tanah air kita dengan begitu indah-Nya, dan terima kasih kuucapkan padamu yang telah membukakan hatiku.

  4. danny Berkata

    Keindahan alam yang terukir dalam rangkaian kata yang indah tersebut mengingatkan saya akan kampung halaman,
    “lembur matuh, banjar karang pamidangan”
    Apakah kita mempunyai asal tempat yang sama?
    sayapun dari Cileuleus, tapi yg ada di kec Cisayong, tepatnya, belok kanan dari pintu rel Cibodas.


Tinggalkan Balasan