Episode 4 : Kartini

Senin, April 21, 2008

Motto Hidup Kartini : AKU MAU !

Seorang sahabat, tepatnya Bapak Ketua FOSMA 165 DIY, pernah berujar : “Kenapa sie kita merayakan Hari Kartini, kenapa tidak ada hari Cut-Nyak Dien, Cut Meutia, pahlawan-pahlawan yang lain,,,,lagipula bukannya yang membuat Kartini disebut pahlawan hanya karena surat-suratnya saja?? “

Bagaimana menurutmu?

Menurutku, kita juga memaknai perjuangan Cut Nyak Dien, Cut Muetia, dan pahlawan-pahlawan yang lain saat 10 November = hari pahlawan, dan juga saat 17 Agustus = hari kemerdekaan. Namun yang membuat kita memaknai hari Kartini, bukanlah karena ‘bentuk’ perjuangannya semata, tapi lebih sebagai ‘pengingat’ tentang APA sie yang beliau perjuangkan.

Masih ingat Ki Hajar Dewantoro?

Berkat jasa beliau kita bisa lepas dari jerataan kebodohan. Sekolah pertama yang beliau dirikan “Taman Siswa” menjadi pelita bagi golongan pribumi saat itu untuk bisa mengenal dunia lebih luas. Jika mengingat tulisannya Plato tentang kehidupan orang-orang di Goa yang hanya mengetahui dunia dari bayangan yang timbul di dinding Goa, maka Ki Hajar Dewantoro bisa kubayangkan sebagai seorang yang menarik para penghuni goa itu untuk keluar dan menikmati kenyataan dunia bebas, atau dia yang menghancurkan dinding goa itu sehingga para penghuninya bisa melihat cahaya yang sesungguhnya, bukan hanya bayangan saja.Dan atas jasanya itulah, kita memperingati hari kelahirannya sebagai hari Pendidikan nasional.

Seperti Patung Liberty yang merupakan simbol dan mengingatkan setiap warga Amerika tentang makna dari “freedom”/ kebebasan. Kebebasan yang mereka terima saat itu, merupakan impian-impian yang terakumulasi dari penderitaan dan kesengsaraan yang mereka alami selama masa pemerintahan yang otoriter oleh kekaisaran romawi saat itu. Maka, bagi mereka Liberty bukan hanya sebuah patung tapi simbol atau alarm tentang pentingnya menjaga kebebasan mereka sebagai manusia. Dan begitupun bagi kita, hari pendidikan seharusnya bukan hanya sekedar hari untuk Upacara Bendera bagi anak sekolahan, tapi juga seharusnya hari untuk bersujud syukur bagi setiap mereka yang masih bisa belajar. Adalah anugerah kita bisa lahir di saat ini, bukan 100 tahun yang lalu saat pendidikan masih dilarang bagi kebanyakan golongan pribumi. Kita kan tidak bisa meminta apalagi memutuskan kapan kita lahir bukan?

Begitupun Hari Kartini. terlepas dari semua kontroversi tentang keabsahan surat-surat Kartini. Namun bagiku, alasan utama mengapa hari kelahiran Kartini kita peringati sebagai Hari Kartini adalah sebagai simbol perombakan wanita pertama, terutama dalam bidang pemikiran. Saat itu, budaya mengharuskan perempuan untuk dipingit di rumah, membatasi kebebasan mereka untuk bergerak dan bersosialisasi. Dan lebih anehnya tidak ada yang berontak terhadap keadaan itu, paling ngak secara eksplisit. Maka Kartini, melalui surat-suratnya menyampaikan pemikiran yang mengkritik tentang perlakuan pada perempuan yang kurang manusiawi, uneg-uneg, itu kepada sahabat-sahabatnya.
She think out of the BOX !

Aku pernah mendengar tentang konsep Humanisme. Dimana pada dasarnya manusia ingin dihormati dan diakui harkatnya sebagai manusia, diperlakukan sebagai manusia. Dan juga pada dasarnya setiap manusia memiliki suara hati untuk memperlakukan manusia yang lain dengan penuh hormat dan kasih sayang. Memperlakukan orang lain sebaik dan seperhatian mereka memperhatikan diri mereka sendiri. Istilah gaulnya “menyayangi orang lain sesuai dengan kadar kenarsisanmu”. Atau, memanusiakan manusia. Lawannya adalah dehumanisme. Konsep dehumanisme tetap memandang manusia memiliki suara hati untuk tetap memanusiakan manusia yang lain. Manusia itu sama. Manusia tidak bisa merendahkan manusia lain. Dehumanisme adalah proses dimana seorang manusia yang ingin melampiaskan emosinya pada manusia lain (kebanyakan merendahkan) dengan cara mengubah image manusia tersebut menjadi makhluk bukan manusia dulu dalam pemikirannya, dan kebanyakannya melanjutkannya pada tingkah laku.

Jelasnya begini, sering denger kekerasan yang terjadi di rumah tangga ? Seorang suami yang tega menendang istrinya. Majikan yang tega menyetrika punggung pembantunya. Pernahkah berpikir, jika itu kamu, apa kamu sanggup?? Gak sanggup kan? Tapi nyatanya mereka bisa tuh. Mengapa? Menurutku karena sebelum mereka melakukan tindak kekerasan itu mereka melakukan proses dehumanisasi dulu dalam pemikiran mereka. Seorang suami yang sebal dengan istrinya yang bawel akan mengubah image istri sebagai manusia dalam pemikirannya, menjadi istri yang bawel seperti “bebek” (binatang, bukan manusia), dan setelah proses kognisi itu berhasil maka, keluarlah kata-kata kebun binatang itu “dasar istri bawel, kayak bebek, dasar anjing , ato kayak binatang lainnya…..” dan beranilah seorang suami menendang sang istri karena baginya, yang dia hadapi sekarang bukan lagi manusia tapi bebek. Begitupun seorang majikan yang sangat jarang melihat pembantunya tidak lebih dari seorang pembersih rumah (sapu, bukan manusia), pelicin baju (setrikaan, bukan manusia) dll, maka ketika si majikan dengan kejam menyetrika si pembantu maka dia hanya akan merasa seperti sedang menyetrika baju lusuh.

Andai kita semua selalu bisa menjaga hati dan pikiran untuk tetap me’manusia’kan manusia, memperlakukan orang lain seperti kita memperlakukan diri sendiri. Maka kita tak perlu penjara, hukum yang terkonstitusi, pengadilan.

Kembali ke Hari Kartini….

Maka hari Kartini menurutku sesungguhnya merupakan simbol dari kita untuk tetap memanusiakan manusia. Memanusiakan perempuan. Budaya, adat istiadat jaman kolonial telah membagi status perempuan dan laki-laki. Banyak praktek yang membuat perempuan seolah-olah bukan lagi manusia. Di Eropa pada abad 13an perempuan dikenal dengan istilan “blue stocking” ato dalam bahasa Indonesia serupa dengan “pabrik keturunan”. Bayangkan! sebagai Pabrik! atau perempuan hanyalah “alat yang mengeluarkan makanan, membuat baju tetap bersih” atau “boneka yang hanya perlu dihias dengan pakaian mewah dan perhiasan”. Begitulah image seorang perempuan pada zaman dulu. Dan hal-hal inilah yang diperjuangkan seorang Kartini. Sekali lagi, bukan untuk meninggikan derajat seorang perempuan (karena Allah-pun hanya akan menilai tinggi rendahnya derajat manusia nanti ketika di padang Mashar) , tapi untuk lebih memberikan ruang negosiasi dalam perbedaan. Lebih meminta perluasan kesempatan untuk setiap manusia lebih saling mengenal. Laki-laki lebih mengenal perempuan apa adanya. Perempuan lebih mengenal laki-laki apa adanya. Bukan hanya mengenal dari ’standar-standar’ yang sudah ditetapkan budaya. Misal : perempuan itu tugasnya di dapur, perempuan itu cengeng, laki-laki itu basi kalo nangis.

Bukankah setiap manusia itu unik? gak ada yang sama. Yang kembarpun bisa memiliki sifat yang berbeda bukan. Lalu mengapa kita dengan mudah percaya dengan ‘judgement-judgement’ di luar, tanpa kita coba untuk analisa dan rasakan sendiri? Kalo kata orang perempuan itu cengeng, gak semua dan gak slamanya kaleee. Kalo kata orang laki-laki itu rasional, gak semua dan gak slamanya kaleee. Selalu ada kasus anomali kan? seperti kata kakek Einstein ; Relatif!

Jadi, menurutku Hari Kartini kita peringati untuk menyuarakan suara hati manusia terutama perempuan

“Kenallah aku dari apa yang kau rasakan, bukan dari apa yang mereka katakan.

Perlakukanlah aku dari apa yang ingin kau rasakan, bukan dari apa yang mereka katakan!!! “

Mungkin, pendapatku ini tidak sepenuhnya benar dimatamu. Jadi, sangat aku harapkan kamu bisa menguraikan pendapatmu pula untuk membuatnya lebih baik. Dan bersama-sama, marilah kita pasrahkan seluruh benar dan salah hanya pada-Nya, Sang Maha Mengetahui Kebenaran. Karena, jika kita sama-sama tahu tentang kebenaran itu, akankah kita tetap mau belajar dan mencari? Dan akankah saat itu hidup kita akan bermakna ???

Wahai Ibu Kita Kartini, Putri Yang Mulia…

Sungguh besar CITA-CITAnya

bagi Indonesia…

………………………………………………………………………

Kartini : Na, apa cita-citamu?

Aku : Indonesia Emas !

………………………………………………………………………

Itu sudah.

(na)