Episode 3 : Syukur ada film AAC
Minggu, April 6, 2008

Syukur ada Film Ayat-Ayat Cinta
“Jika niatan untuk menulis itu sudah tiba, maka bersegeralah kau tulis sebelum ia menghantuimu….”
(geknana)
Mungkin itu yang bisa aku jadikan sebuah kata pembuka dalam postingku kali ini. Sungguh, hampir satu bulan menyimpan ide-ide untuk menulis tentang AAC ini membuatku merasa tak enak makan, tak enak tidur, tak enak apapun ( overexagerrating
) Tapi aku bersyukur ada banyak orang yang memicuku untuk bersegera menulis tentang film Ayat-Ayat Cinta ini. Diskusi singkat dengan Kak Aini membuatku semakin mantap untuk menulis dan mengidamkan kebenaran. Dan membaca posting sahabatku Emeldah, melecut niatku untuk segera menulis lagi tentang Ayat-Ayat CInta seperti yang sudah pernah kuceritakan padanya.Dia berhasil menjadi seorang motivator yang baik ^____^
Ide ini berawal dari sebuah review yang kutulis untuk memberikan komentar pribadiku tentang novel bestseller Kang Abik, Ayat-Ayat Cinta. saat itu ada banyak tanggapan berbeda yang ada di sekelilingku. Mencoba untuk mencari jembatan diantara perbedaan itu, maka aku menarik kesimpulan bahwa yang membuat novel ini menarik adalah nuansa keyakinan dan interkoneksi manusia dengan Tuhannya yang begitu kental. Tapi setelah menyimpulkan itupun, masih ada keraguan dalam hatiku, apa iya? semua orang memang menangkap pemaknaan yang sama sepertiku atau mereka memiliki ketertarikan pada sesuatu yang lebih konkret adanya? Pertanyaan selanjutnyapun mengarah pada isu-isu novel ini akan difilmkan. Apa iya, nuansa keyakinan yang kental itu akan tersirat dalam setiap adegan yang akan ditampilkan atau hanya sebuah ajang komersialisasi gaya hidup Islami di Timur Tengah???
Selama dua bulan ini, aku telah membaca puluhan komentar di media cetak, internet, televisi (yang paling jarang
) yang membahas tentang Ayat-Ayat Cinta. Banyak sekali pujian yang menurutku terlalu melambung tinggi (bahasa gaulnya = lebay!) dan malah tidak memberikan suatu kebaikan bagi aktor maupun tim pendukung yang ada didalamnya. Banyak pula yang hanya memberikan kritik dan menurutku cenderung tidak solutif, hanya berupa guratan kekecewaan akan hilangnya figur Sang Idola (Fahri & Aisyah) yang begitu sempurna digambarkan dalam novelnya. Banyak yang bilang, Fahri di film jauuuuh berbeda
dengan Fahri di novel, banyak yang kecewa figur seorang Aisyah dalam film jauh dari kedewasaan, dll. Bagiku, aku sepakat dengan mereka yang mengatakan bahwa antara Novel dan Film Ayat-Ayat Cinta itu adalah dua hal yang berbeda. Yang menjadi benang merah hanyalah nama tokoh dan alur cerita secara general.
Bagaimana denganku?
Suatu Jumat, aku bersama mbak kosku (Yulia, Meta, Nicole dan temannya Nicole) akhirnya bisa pergi menonton film ini bersama di studio 21. Meski kita terlambat 20 menit dan tertinggal banyak adegan seru di awal film, tapi tak menurunkan kenyamanan kita untuk menonton. Adegan-adegan yang terkesan
terputus-putus mengesankan seolah-olah film ini belum digarap secara matang. Hal ini bisa berdampak ketidakpahaman tentang alur cerita bagi mereka yang belum membaca novelnya. Mengapa tiba-tiba Nurul menangis sedemikian getirnya ketika Fahri menikah? Selain itu setting pernikahan Fahri-Aisyah yang
lebih terkesan membawa nuansa India daripada Mesir, dengan taburan bunga-bunga oleh gadis-gadis di atas tangga, ataupun tempat Ijab Qobul mereka yang ada di atas kolam berbentuk lingkaran, ataupun soundtrack adegan Maria memeluk Aisyah yang akhirnya memutuskan kembali dan tinggal bersama (criiing)
melihatnya aku hanya bisa tersenyum dan secara tiba-tiba memori tentang film India lawas “Kuch-Kuch Hotahai” menelusup dibenakku. Lain halnya dengan mbak kosku yang melakukan tarian “gedubrak” saat adegan-adegan yang menurut kita “unexpectable”. :p lucu sekali.
Tapi yang ingin kujadikan fokus tulisanku kali ini adalah, perbedaan karakter tokoh utama Fahri, Aisyah yang digambarkan dalam film ini. Masih ingat? Fahri dalam novel adalah seorang figur yang sempurna untuk dijadikan calon suami bagi setiap perempuan (^___^). Bersahaja, supel, sopan-santun, dewasa dan
mampu bersikap. Sedangkan Fahri yang diperankan oleh rekan kita Ferdi Nuril ini jauh dari kesan dewasa, masak merasakan adanya ketertarikan seorang perempuan padanya saja ia gak ngerti? atau merasakan kecemburuan seorang istri saja ia harus bertanya pada temannya? atau ketika menangis begitu nelangsanya di penjara seolah-olah Fahri adalah jiwa yang lemah dan jauh dari kedewasaan.
Gak heran seandainya mbak kosku paling banyak melakukan tarian “gedubrak” pada adegan-adegan yang seperti ini.
Begitupun bidadari semua lelaki, Aisyah. Aisyah dalam novel yang begitu menjaga ‘harta’nya untuk kebahagiaan Fahri, dewasa tapi manja, cerdas dan bersahaja. Jauh dari kesan kekanak-kanakan yang kutangkap dari karakter Aisyah yang diperankan oleh Rianti Cartwright. Dengan suara kecil dan sedikit melengking serta nada bicara yang masih terkesan manja dan ‘gaul’nya VJ MTV masih terasa. Masih ingat adegan ketika Fahri merasa keberatan tinggal di apartemen mewah? (kira-kira) ” Kalo mau tinggal di apartemen yang sempit dan kumuhpun gak papa!, kalo gak mau pake mobil juga gak papa” (perhatian! seingetku dialog ini diucapkan dengan nada setengah ‘memancing kemarahan’ persis seperti anak perempuan yang ngambek karena gak jadi dibeliin boneka Barbie. Nah untukyang satu ini, jujur, akupun ikut menari tarian ‘gedubrak!’ fu-fu-fu
Oleh karena semua itu, setelah menonton film ini dan bersiap keluar studio
aku hanya bisa menghela napas dan terdiam sejenak.Mbak Yulia-pun memperhatikan
dan bertanya (kira-kira) ‘kenapa na,kamu kecewa dengan filmnya???’. Cukup
lama aku baru bisa menjawab pertanyaan mbak kosku yang cantik dan baik hatinya
dengan status belum menikah ini (hehe ini bukan ajang promosi lho). Beberapa
menit kemudian aku mencapai sebuah jawaban versi aku sendiri (baca : opini).
Jika dilihat dari nuansa yang diusung, Film ini memang jauh berbeda dari nuansa novel aslinya. Menurutku novel Ayat-Ayat Cinta lebih mendekati sebuah media dakwah yang menyebarkan nilai-nilai dan budaya kehidupan Islami sehari-hari, sementara itu Film Ayat-Ayat Cinta lebih merupakan sebuah media hiburan bagi para konsumen. Yang tentu saja, sesuai dengan prinsip ekonominya, harus menyesuaikan ‘produk’ dengan kondisi permintaan di pasar. Meski mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam masih sedikit yang menyukai program-program dakwah di media massa. Terbukti melalui kekalahan telak program-program berbau agama/dakwah dengan program hiburan seperti Sinetron, Gosip, Reality Show, dll dalam ajang rating program pertelevisian. Menurutku, konsumen perfilman Indonesia cenderung menyukai sesuatu yang bersifat konkret seperti lika-liku kisah romantika sepasang sejoli daripada sesuatu yang lebih bersifat maknawi semisal pencarian jati diri, pencapaian mimpi, dll.
Jika novel Ayat-Ayat Cinta menurutku lebih condong diperuntukkan untuk golongan tertentu maka Film Ayat-Ayat Cinta diperuntukkan untuk golongan yang lebih luas.Sehingga dapat kuterima bila ada banyak sekali pemotongan skenario disana-sini dan penambahan ‘bumbu’ adegan disana-sini. Menghadapi masyarakat umum dengan karakter dan prinsip berbeda-beda, tentu jauh lebih menyulitkan daripada segolongan orang dengan pemikiran dan keyakinan yang serupa.Dalam layar lebar yang hanya berdurasi + 2 jam, tidak banyak keyakinan yang bisa kau uraikan secara mendalam. Sehingga cukuplah adanya bila dalam film ini digambarkan Islam sebagai keyakinan yang harus dijalani dengan sabar dan ikhlas. Ataupun keyakinan tentang Cinta yang sangat berbeda dengan rasa ingin memiliki.
Tapi menurutku yang menjadi kesalahan fatal dari film ini adalah satu hal. Kegagalan memvisualisasikan tokoh-tokoh novel ke dalam sosok aktor dan aktrisnya. Meski memang sosok Fahri dan Aisyah dalam novel begitu sempurna bagai bidadari sehingga sangat susah untuk di’manusia’kan. Tapi menurutku pengembangan karakter yang dilakukan oleh para pemeran sangat tidak maksimal. Akting mereka kurasakan sangat kaku dan tidak luwes. Seolah ‘takut-takut’ akan ketidaksempurnaan hasilnya. Maaf,aku memang tidak punya pengetahuan dan pengalaman yang banyak di bidang seni peran tapi melalui hati ini aku bisa merasakan bahwa para pemeran film ini masih berakting menggunakan otak daripada hati mereka. Karena, jujur, hatiku tidak tersentuh sama sekali dengan akting mereka.
Namun kawan, ada satu hal yang meresap dalam pusar pemikiranku tentang film ini. Aku bersyukur film ini dibuat. Sebelum ada film ini, aku termasuk salah satu dari sekian banyak yang mengidamkan sosok Fahri sebagai pendamping hidupku. Sempurna. Impian ini membuatku buta pada kenyataan bahwa setiap orang memiliki kekurangan. Begitupun Aisyah, banyak perempuan berlomba mengikuti penampilan (kebanyakan) serta perilakunya demi mencapai sebuah image ‘calon istri idaman’. Yang kurasakan lebih banyak menyiksa kebebasan untuk berekspresi dan menjadi diri sendiri. Namun, setelah film ini ada, aku langsung disadarkan bahwa memiliki impian itu harus dijembatani dengan kedewasaan menghadapi realita. Ada proses panjang dibalik kesempurnaan Fahri dan Aisyah. Ada tekad, usaha dan pengorbanan. Ferdi Nuril dan Rianti Cartwright menunjukkan padaku, bahwa inilah adanya Fahri dan Aisyah apabila mereka di’manusia’kan. Tidak sempurna. Dan untuk itu, sekali lagi, aku bersyukur. Karena kini aku sadar, untuk mencari pasangan hidup janganlah karena syarat-syarat kesempurnaan yang kita pahat dengan pemikiran kita sendiri saja, tapi harusnya karena harmonisasi yang timbul dari rasa menerima dan kenyamanan, kesesuaian tujuan hidup serta keikhlasan untuk saling berbagi, mengingatkan, menyemangati dan saling menCinta hanya karena satu alasan. Sang Maha Cinta. Bukan Mr. Perfect tapi Mr. Right .
Goodbye Fahri…!
kini saatnya aku kembali pada keseimbangan, antara impian dan kenyataan.

………………………………………………………………………………………………..
Kamu : Na, siapa yang kau nanti sebagai pasangan hidupmu?
Aku : Dia,,, Imam yang memberikan kesetiaan sang Arkeolog.
………………………………………………………………………………………………..
Itu sudah
(na)