Episode 2 : Puji Lestari

Sabtu, Maret 22, 2008

“Banyak orang yang panjang pengalaman tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalaman yang pendek mencerahkan seumur hidup”
(Andrea Hirata, Edensor hal-1)

Ada yang ingin tahu apa itu bersahaja? Maka lihatlah gadis 14 tahun ini. Sungguh! pertemuan tak lebih dari sehari yang begitu singkat dengannya telah mengajarkanku banyak hal tentang ke-sahaja-an.

Begini ceritanya,

Minggu pagi ketika ada perlombaan permainan tradisional di Museum Anak Kolong Tangga aku melihatnya pertama kali. Ia disana, di depan gerbang Taman Budaya mengendap-endap, tengok kiri dan kanan bagai anak itik kehilangan induknya. Segera kusapa dan kutanya namanya. “Puji mbak…” Dan kutawari ia ikut bergabung bermain bersama anak-anak yang lain, namun dengan halus ia menolak. “saya cuma mau cari adik saya mbak…”. Maka kuantarkan ia menemui adiknya dan menonton perlombaan.

Perlombaanpun selesai, aku bersiap-siap untuk pulang. Dan masih kulihat ia disana, disudut pintu masuk museum. Gadis ini sebenarnya banyak dikenal oleh teman-teman sukarelawan di museum. Namun hari itu, aku terdorong untuk ingin mengenalnya lebih dekat. Maka sambil istirahat kuajak dia bercakap-cakap sejenak. Aku bersyukur, ternyata ia masih duduk di bangku sekolah, meski tampaknya dia sedikit mengalami ‘kesulitan’. Aku sempat terkejut mengetahui umurnya telah 14 tahun, tak cocok menjadi seorang bocah lagi bukan? Ia banyak bercerita tentang kehidupannya di sekolah, pelajaran yang ia sukai “pelajaran hari Sabtu, karena esoknya libur”, teman-teman yang sering mengejek-ngejek dirinya. (bersabarlah sayangku….). Dan disini, di Taman Budaya ini, ia setiap hari membantu ibunya berjualan rokok. Ayahnya telah tiada dan ia memiliki banyak saudara (aku lupa jumlahnya…), namun syukurlah beberapa diantaranya telah mandiri dan berkeluarga.

Waktu makan siang. Aku tawari ia makan bersama dan ia mengusulkan sebuah kantin di lantai 2 Pertokoan Buku Shopping. Setelah berpamitan dengan ibundanya kita berangkat menuju kantin. Sepanjang perjalanan ke kantin, aku tahu ada banyak sekali pasang mata yang memandang ‘aneh’ ke arah kami. Entah apa yang ada dibenak mereka, aku tak peduli. Namun tak jarang para penjaga toko, tukang parkir, tukang angkut barang memanggil-manggil namanya “Puji, sopo iku,,, mbakmu po?” ” Puji……….”

Pelajaran 1 : ia terkenal !

sungguh! ia telah menunjukkan sosok ‘penguasa’ rimba Pertokoan Buku Shopping. pikiranku melayang pada pengembaraannya sendiri di pertokoan ini, bertemu dan berkenalan dengan orang-orang yang berbeda setiap hari,berbagi cerita, menambah teman. berkelana! Gadis ini,,,, ia dikenal bukan karena cacat yang ada pada tubuhnya (menurut keterangannya, bentuk tubuh gemuk yang tidak biasa pada dirinya disebabkan oleh kesalahan obat ketika dia masih kecil), tapi ia dikenal karena sifatnya yang polos dan bersahaja.

kita bercerita banyak tentang buku. Syukurlah dia suka membaca buku. Aku tanya apa dia suka membaca dongeng-dongeng rakyat sambil melihat-lihat buku di sebuah pertokoan. Ia katakan “Ya mbak, aku suka sekali”. Lalu aku beli sebuah buku dongeng yang ia sukai yang sebenarnya kuperuntukkan sebagai motivasi supaya dia lebih giat untuk membaca, tapi sebersit hatiku mendorong untuk menunda memberikan buku itu dan melihat reaksinya. Seolah-olah aku membeli untukku sendiri, bukan untuk dia. Dan dia hanya diam, tersenyum seolah-oleh ikut senang membantuku membeli buku.

Pelajaran 2 : Puji, kau gadis yang Ikhlas…

Perjalanan kamipun berlanjut ke Taman Pintar yang sangat dekat dengan Shopping. Bersama kita menikmati pemandangan halaman Taman Pintar, memasuki gedung Oval dan mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan baru. Ia sangat senang mencoba simulasi gaya listrik statis yang membuat rambut ikalnya berdiri bagai tersambar petir. Pemandangan yang sangat menggembirakan. Sementara, aku senang ketika kita mencoba simulasi rumah gempa yang di setting berskala 4.00 skala Richter. Bergoyang-goyang. Namun tentu saja, pengalaman kami yang paling mengasyikkan hari itu adalah bermain motor-motoran (aku lupa namanya). Dan lagi-lagi, hampir seluruh petugas disana mengenal Puji. Bahkan tak jarang mereka ‘membantu’ Puji bermain disana. Ketika saatnya aku mengantarnya kembali pada ibunya, aku teringat akan niatku untuk memberikan sebuah buku, dan kukatakan “bacalah buku ini, dan ceritakan isinya padaku suatu saat nanti”. Dengan halus ia mengucapkan terima kasih dan berjanji untuk membaca buku itu.

Pelajaran 3 : Puji, kau gadis yang santun.

Akupun pulang dengan sejuta rasa yang sulit untuk diuraikan dalam kata. Satu hal yang kutahu, aku belajar banyak hal dari gadis 14 tahun penjual rokok yang bernama Puji ini.

……………………………………………………………………………………………………..

nana : nanti kamu mau kuliah ga?

Puji : yaaa kalo bisa, mau banget mbak..

nana : bagus! yang penting niatmu dulu, InsyaAllah akan ada jalannya

……………………………………………………………………………………………………………

sampai bertemu lagi sayang, terimakasih telah mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan.

semoga Rahmat Allah selalu menyertaimu.

Itu sudah…

(na) 

Episode 1 : Karena satu alasan

Kamis, Maret 20, 2008

Pramoedya Ananta Toer

-KARENA SATU ALASAN-

Menulis.

Banyak orang yang suka menulis. menulis cerita, menulis buah pemikiran, menulis diary, menulis ungkapan hati, menulis kritik, menulis propaganda atau hanya sekedar menulis uneg-uneg. Yang penting menulis! Lebih banyak lagi yang “ingin” menulis. Tapi biasanya masih suka terhambat dengan pemilihan kata-kata, semangat menulis dan dorongan hati.

Bagaimana denganku??

Belakangan ini aku belajar untuk menulis lebih dari sekedar tulisan-tulisan yang ada di “diary”ku. Peningkatan proses pembelajaran, itulah sebutanku. Aku ingin merangkaikan kata demi kata yang lebih menggambarkan ‘rasa’ yang ada di dalam jiwa. Tulisan yang menyiratkan jati diri si penulis. Bagiku, tulisan adalah salah satu media Ta’aruf (berkenalan) antara si penulis dengan jati dirinya, juga antara si penulis dan si pembaca.

Akhir-akhir ini aku sangat kagum dengan seorang penulis, Pramoedya Ananta Toer. Guru dalam perlawanan dan perombak peradaban. Aku sepakat dengan pemikirannya tentang menulis ” Apapun bisa kau tulis, Menulislah, tulislah apapun itu, tulislah semuanya, menulislah tak peduli tulisanmu ditolak editor atau penerbit, tak peduli tulisanmu di larang atau dibakar, tetap menulis!!!” Bagiku, sosok Pram’s menggambarkan jelas apa yang disebut dengan “Ikhtiar dalam menulis”. Buku-bukunya yang dulu dibakar dan dilarang hingga menjebloskan dia bertahun-tahun dalam penjara, kini bisa menjadi pelita dan saksi perjuangan melawan penjajahan dan ketidakadilan. Tulisannya telah di alihbahasakan ke sekitar 40 bahasa di dunia dan beliau menjadi satu-satunya orang Indonesia yang menjadi nominator penerima penghargaan Nobel Sastra. Satu hal yang beliau perlihatkan padaku

Pramoedya Ananta Toer

MERDEKA DALAM MENULIS!!!!
meski raga terkukung dalam jeruji besi
namun tidak jiwa dan rasa di dalam dada…

Dan kini, di awal lembar tulisanku di blog ini ada satu jawaban yang menjadi penyemangatku yang kupelajari dari Semangat seorang Pram’s

……………………………………………………………………………………………………………

Kamu : “Na, mengapa kamu menulis?”

Aku : “Sayang, itu karena satu alasan……… CINTA!”

“Kalau kamu ???”

…………………………………………………………………………………………………………

Itu sudah….
(na)